NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 – SMASH TERAKHIR

Istora Senayan, Jakarta — Final Kejuaraan Dunia BWF

“MATCH POINT UNTUK LIVIA LIANG!”

Istora Senayan meledak. Sorak-sorai membanjiri udara, menggetarkan tribun, dan merambat hingga ke tulang. Namun, tepat di detik yang paling menentukan itu, bagi Livia Liang, dunia justru mendadak hening.

Ia hanya mendengar deru napasnya sendiri—pendek, terukur, dan disiplin. Peluh mengalir dari pelipis, menyusuri rahang tegas yang selama ini menjadi simbol ketenangan sang juara. Kaus timnas yang melekat basah di tubuh atletisnya adalah bukti nyata dari harga sebuah kejayaan. Livia adalah definisi kesempurnaan keluarga Chindo terpandang: dingin, presisi, dan tak tersentuh.

Di seberang net, Zhang Yuwei tampak goyah. Dan bagi Livia, melihat ketakutan lawan adalah kepuasan tersendiri yang hampir terasa... sensual. Dominasi adalah candu yang paling mematikan.

Plakk!

Satu smash terakhir menghantam tajam, shuttlecock mendarat telak di garis belakang. Tanpa ampun.

“GAME! LIVIA LIANG JUARA DUNIA!”

Livia mengangkat tangan, menyunggingkan senyum porselen yang sempurna untuk bidikan kamera. Ikon bangsa telah lahir kembali. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik senyum itu, ada denyut pemberontakan yang menuntut untuk segera dilepaskan.

***

Apartemen Mateo — SCBD, 23:45 WIB

Livia menarik tudung hoodie hitamnya lebih dalam, melangkah cepat menyusuri lobi marmer apartemen mewah di kawasan SCBD. Di sini, di tengah hutan beton Jakarta, dia bukan lagi "Pahlawan Bangsa". Dia hanyalah seorang wanita yang haus akan distraksi.

Lift berhenti di lantai 28. Pintu unit terbuka bahkan sebelum Livia sempat menekan bel. Mateo de Vries berdiri di sana dengan gaya yang sangat provokatif—hanya mengenakan celana kain santai tanpa atasan, memamerkan otot perutnya yang terdefinisi sempurna dan tato tipis di tulang selangkanya.

"Juara dunia akhirnya mampir ke sarang," suara Mateo rendah, dengan aksen international school yang kental.

Livia melangkah masuk tanpa diundang, aroma maskulin yang bercampur dengan wangi room spray mahal langsung menyergap indranya. "Gue nggak punya banyak waktu, Mateo. I have, like, one hour tops sebelum Mami mulai spamming nanya posisi gue di mana."

Mateo menutup pintu, menguncinya dengan bunyi klik yang bergema di ruangan remang itu. Ia mendekat, jemarinya yang kasar menyentuh rahang Livia, memaksa gadis itu menatap matanya yang haus.

"Keluarga Liang pasti lagi party besar-besaran, ya? Mereka nggak bakal expect kalau putri kesayangan mereka lebih milih ada di sini, getting wild with me, daripada duduk manis dengerin rencana bisnis mami kamu yang boring itu," bisik Mateo.

Livia mendengus, namun jantungnya berpacu gila. Di luar sana, publik sedang sibuk memuja duetnya dengan Rangga Adiwinata. Rangga yang sopan, Rangga yang 'suci', Rangga yang selalu memperlakukan Livia seolah dia adalah porselen antik yang bakal pecah kalau disentuh terlalu keras. Gosh, Rangga is such a bore.

"Rangga itu too stiff," gumam Livia serak. "Dia nggak pernah tahu caranya bikin gue merasa... hidup."

Mateo menyeringai nakal. Ia tiba-tiba mengeluarkan ponsel, mengarahkannya tepat ke wajah Livia yang mulai menanggalkan hoodie-nya, menyisakan sport bra yang membungkus ketat tubuh indahnya.

"Ngapain, Mateo? Put your phone down, please!" desis Livia tajam, meski bibirnya tersenyum menantang.

"Relax, Babe. It's for my private collection only. Gue pengen punya record gimana sang Juara Dunia ini bener-bener lose control kalau udah gue sentuh," goda Mateo sembari terus membidikkan kamera, menangkap bayangan Livia di bawah lampu temaram apartemen.

Livia tahu ini adalah permainan api yang bisa membakar seluruh reputasinya dalam sekejap. Namun, tensi panas yang ditawarkan Mateo jauh lebih menggoda daripada semua medali emas di dunia. Dengan gerakan impulsif, ia melemparkan bungkusan perak kecil—kondom—tepat ke arah Mateo.

"Stop the talk. Just get it done before I change my mind," perintah Livia dengan nada yang mendominasi.

***

Satu jam kemudian, Livia berdiri di depan cermin besar di kamar mandi Mateo, merapikan rambutnya yang berantakan total. Ia melirik bekas merah yang samar di ceruk lehernya. Dammit, dia butuh concealer yang bener-bener full coverage besok pagi.

Saat ia hendak meraih tasnya di ruang tengah, ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca bergetar hebat. Sebuah notifikasi dari nomor yang sangat ia kenal masuk. Itu dari Rangga.

Rangga:"Udah puas 'selebrasi' di apartemen Mateo? I’m literally downstairs, Livia. Turun sekarang atau gue yang naik ke atas dan bikin skandal ini jadi makin 'berantakan' buat lo."

Livia tertegun, ponselnya hampir merosot dari genggaman yang masih gemetar. Kalimat Rangga di layar bukan sekadar ancaman; itu adalah vonis. Rangga yang biasanya stiff dan selalu bicara soal etika, tiba-tiba terdengar seperti predator yang baru saja menemukan mangsanya di dalam jebakan.

"Mateo..." suara Livia tercekat, ia menoleh ke arah balkon. "Lo... lo kirim sesuatu ke Rangga?"

Mateo tidak langsung menjawab. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan ke udara malam SCBD yang dingin. Ia berbalik, menyeringai dengan tatapan yang sangat puas. "I didn't send anything, Liv. Gue cuma post satu foto di close friend IG gue. Well, mungkin ada salah satu 'temen' gue yang ternyata cepu ke si Pangeran Suci itu."

"Mateo, are you out of your mind?! Ini karier gue, bego!" Livia merangsek maju, mencoba merebut ponsel dari tangan Mateo, namun pria itu dengan mudah menangkap kedua pergelangan tangan Livia dan menariknya mendekat hingga dada mereka bersentuhan.

"Calm down, Babe. Lagipula, Rangga bukan siapa-siapa lo, kan?" Mateo berbisik tepat di depan bibir Livia, aroma nikotin dan gairah yang tersisa masih terasa pekat.

Tiba-tiba, suara bel apartemen berbunyi—bukan ketukan sopan, melainkan tekanan panjang yang menuntut. Jantung Livia serasa mau copot. Ia tahu itu siapa.

Livia buru-buru memakai hoodie-nya kembali, tangannya gemetar hebat saat mencoba merapikan rambut. Tanpa menunggu izin Mateo, ia melangkah ke pintu dan membukanya dengan satu sentakan.

Rangga Adiwinata berdiri di sana. Masih mengenakan jaket timnas yang sama dengan yang dipakainya di Istora tadi sore, namun auranya sangat berbeda. Matanya yang biasanya teduh kini sehitam jelaga, menatap tajam ke arah Livia, lalu beralih ke Mateo yang berdiri bertelanjang dada di belakangnya.

"Gue bilang apa, Liv? Turun sekarang atau gue yang bikin berantakan," suara Rangga sangat rendah, namun sarat akan ancaman.

"Rangga, I can explain—"

"Nggak perlu," potong Rangga cepat. Ia melangkah masuk, melewati Livia begitu saja dan menghampiri Mateo. Rangga mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik jaketnya dan melemparnya ke meja. "Berapa Mateo? Berapa harga yang lo mau supaya video asli di ponsel lo itu nggak pernah keluar ke publik?"

Livia membeku. Video asli? Ia menoleh ke arah Mateo dengan tatapan horor, menyadari bahwa pengkhianatan malam ini jauh lebih dalam dari sekadar satu foto di media sosial. Mateo hanya tertawa kecil, sementara Rangga menatap Livia dengan sorot mata yang menghancurkan.

"Dan lo, Livia," ucap Rangga dingin tanpa menoleh. "Mulai malam ini, lo resmi jadi tunangan gue di depan publik. Nggak ada tawar-menawar, atau lo bisa ucapkan selamat tinggal pada raket lo selamanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!