NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — SERVIS DI LUAR BATAS

Ritz-Carlton Jakarta, Mega Kuningan — 20:30 WIB

Livia Liang menatap bayangannya di cermin Grand Ballroom dan hampir tidak mengenali perempuan yang menatap balik.

Gaun sutra hitam backless itu terasa seperti dosa yang dijahit dengan harga selangit. Kainnya tidak sekadar menempel; ia memeluk, mengikuti setiap lekuk tubuh Livia dengan niat yang jauh dari kata polos. Good, dia kerja keras untuk mendapatkan semua ini.

Di lehernya, berlian pemberian Mami melingkar dingin. Simbol keluarga Liang. Sebuah penanda bahwa ia “aman” dan “terjaga”.

Padahal, di bawah permukaan kulitnya, ada denyut panas yang tidak ada hubungannya dengan reputasi keluarga atau poin BWF.

“Kamu kelihatan berbahaya,” suara rendah Rangga memecah lamunannya.

Pria itu sudah berdiri di sampingnya. Tuksedo hitam yang dikenakan Rangga rapi sampai ke tahap menyebalkan. Saat Rangga melingkarkan tangannya di pinggang Livia, ia merasakan jari-jari itu hidup.

Dia hampir lupa ini hanya adalah sandiwara buta demi menyelamatkan reputasinya dari keterpurukan.

“Senyum,” bisik Rangga tepat di dekat telinganya. Napas pria itu menyentuh kulit lehernya, mengirimkan gelombang listrik yang asing. “Portal berita jam dua lagi fokus ke punggungmu. Mereka suka narasi seperti ini.”

Livia menahan napas. Dadanya naik perlahan saat ia mencoba menenangkan degup jantungnya. “Jadi, aku pajangan sekarang?” gumamnya ketus.

“Kamu narasi,” jawab Rangga datar, matanya menyapu kerumunan fotografer di depan mereka. “Dan malam ini, narasinya harus seksi, tapi aman.”

Kata seksi itu jatuh dari bibir Rangga tanpa ampun, membuat Livia terkesima. Dari mana keseksian ini berasal? Bertahun-tahun dia mengenal pria ini, dia jauh dari kata seksi atau dia terllau fokus dengan Hasrat terlarang-nya dengan Mateo.

Ia ingat bagaimana Mateo menyentuhnya tanpa ragu, memberikan gairah yang liar, lalu menghilang begitu saja saat badai skandal datang. Seolah tubuh Livia hanyalah sebuah jeda di antara petualangan Mateo, bukan sebuah pilihan.

“Tangan kamu terlalu lama di situ,” bisik Livia tajam. “Aku ke toilet.”

Rangga melepaskannya tanpa argumen, namun tatapan matanya membuat Livia … takut sekaligus penasaran.

***

Restroom Wanita

Livia baru saja ingin melangkah keluar dari bilik ketika suara-suara sepatu hak tinggi dan denting perhiasan masuk ke dalam ruangan. Ia membeku di balik pintu.

“Serius, drama Livia sama Mateo itu sudah ketebak,” suara seorang sosialita terdengar meremehkan di antara bunyi keran air. “Mateo memang begitu. Atlet-atlet cantik lewat sedikit langsung kena. Tapi ya… ditinggal juga. One night stand, klasik.”

Livia menutup matanya rapat. Rahangnya mengeras. Perkataan itu seperti silet yang mengiris harga dirinya.

Mereka tidak tahu Mateo bukan one-night stand. Mereka sudah berpacaran selama dua tahun. Ya, itu bukan hubungan yang disetujui orangtuanya tetapi hubungan mereka nyata dan didasari rasa saling sayang. Hatinya tercabi-cabik mendengar mereka seenaknya mengatakan hubunga mereka berdua sedangkal itu.

He was my first for everything.

“Padahal ada Rangga,” suara lain menimpali sambil mengoleskan lipstik. “Rangga Adiwinata itu beda kelas. Bukan cuma bersih penampilannya, tapi gosipnya… dia punya 'kapasitas' yang luar biasa di balik sikap santunnya itu.”

Cekikikan kecil menyusul, membicarakan hal-hal privat tentang Rangga yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik.

 Ada panas yang menjalar di perut Livia, bukan malu atau juga marah. Sesuatu yang lebih gelap dan jauh lebih provokatif.

Ketika suara-suara itu akhirnya pergi, Livia keluar dengan langkah tenang. Namun, pikirannya sudah bergeser poros. Jika dunia ingin menilai tubuhnya, maka ia sendiri yang akan memilih siapa yang berhak menyentuhnya.

***

Grand Ballroom — 21:15 WIB

Rangga berdiri di dekat bar, sendirian. Ia tampak tegak, maskulin dengan cara yang tenang namun sangat mendominasi ruangan. Livia mendekat, kali ini dengan kesadaran penuh pada setiap gerakan pinggulnya di balik sutra hitam. Ia bisa merasakan mata-mata tamu undangan mengikuti langkahnya, namun hanya ada satu pasang mata yang ia tuju.

Rangga menatapnya dari ujung kaki hingga wajah. Tatapannya berhenti di mata Livia—menilai, menahan, dan mengunci.

“Kamu lama,” ucap Rangga pendek.

“Banyak gosip menarik di dalam,” jawab Livia ringan.

Ia berdiri terlalu dekat, melanggar batas zona nyaman pria itu. Jarak mereka kini begitu tipis hingga panas tubuh Rangga terasa merembas ke kulitnya. Livia meraih dasi kupu-kupu pria itu, jemarinya sengaja menyentuh kulit leher Rangga yang hangat.

Jakun Rangga bergerak turun-naik. Sebuah reaksi fisik yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Ngga,” bisik Livia, suaranya lebih rendah dan serak dari biasanya. “Awalnya aku pikir semua ini hanya sandiwara untuk menyelamatkan saham Papi.”

Rangga tidak bergerak menjauh. Tangannya naik ke punggung terbuka Livia, telapaknya yang besar dan mantap menempel langsung pada kulit polosnya. “Sekarang?” tanyanya pelan.

“Sekarang aku ingin ini kelihatan nyata. Sangat nyata.”

Keheningan di antara mereka mendadak terasa sangat berat dan penuh muatan. Tangan Rangga menguat di punggung Livia, menarik gadis itu lebih dekat sampai dada mereka bersentuhan. Gaun sutranya tertekan kuat ke kain tuksedo Rangga.

“Kamu sadar apa yang sedang kamu ajak, Livia?” suara Rangga berubah berat, nyaris bergetar oleh sesuatu yang ia tekan kuat-kuat.

“Aku sadar banget,” jawab Livia, matanya turun menatap bibir Rangga yang tegas. “Katanya kamu jauh lebih… meyakinkan daripada mantanku.”

Tantangan itu membuat Rangga tersenyum—bukan senyum untuk televisi atau sponsor. Itu adalah senyum gelap seorang pria yang baru saja melepaskan topeng kesantunannya.

“Kamu berbahaya kalau sedang emosional,” bisiknya di ceruk leher Livia, membuat Livia merinding hebat.

“Terus kenapa kamu belum lepaskan aku?”

Alih-alih menjawab, Rangga meremas pinggang Livia dengan satu gerakan posesif yang cukup keras untuk membuat napas Livia tersendat di kerongkongan.

“Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah,” katanya akhirnya. Datar, tegas, dan mutlak.

Livia terkesiap kecil, matanya membelalak. “Kamu serius mengatakan itu sekarang? Di tengah situasi seperti ini?”

“No sex before marriage,” ulang Rangga, matanya berkilat penuh gairah yang tertahan. “Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti.”

Livia terpaku.

Di saat yang sama, puluhan lampu blitz kamera meledak di sekitar mereka, mengabadikan kemesraan yang tampak begitu sempurna.

Rangga menunduk sedikit, bibirnya hampir menyentuh telinga Livia. “Pegang aku,” perintahnya pelan, otoriter namun penuh perlindungan.

Livia melingkarkan lengannya di leher Rangga, membiarkan tubuh mereka menempel erat dalam pelukan yang seharusnya hanya untuk konsumsi media. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia tidak tahu lagi apakah itu miliknya atau milik Rangga.

“Akting kamu keterlaluan, Ngga,” bisiknya dalam dekapan itu.

Tangan Rangga menekan pinggangnya lebih kuat.“Siapa bilang ini akting?”

"Kalau ini bukan akting," desis Livia, suaranya parau, "berarti kamu sudah menginginkan ini sejak lama?"

Rangga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menunduk, membiarkan hidungnya menyesap aroma di leher Livia, lalu memberikan kecupan singkat.

"Lebih dari yang bisa kamu bayangkan, Liv," bisik Rangga, suaranya kini terdengar sangat gelap dan lapar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!