Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Senja di Bawah Kutukan
Dinding-dinding batu Kastil Elara terasa lebih dingin malam ini, seolah sihir yang melingkupinya ikut membeku bersama kecemasan. Putri Aethela Vaspera (Aethela) duduk di meja mahoninya, jemarinya yang ramping mengusap tepi peta kuno yang digambar tangan. Di luar jendela, matahari baru saja tenggelam, mewarnai langit dengan palet lembayung dan jingga yang, alih-alih menenangkan, justru terasa seperti luka memar yang besar.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-24.
Ia merasakan beban waktu yang terus berputar, menyeretnya semakin dekat ke hari ulang tahun ke-25—hari yang diramalkan akan membawa kehancuran pada Kerajaan Elara atau dirinya sendiri.
Satu tahun lagi. Tiga ratus enam puluh lima hari. Sebuah kutukan yang terasa seperti tali tebal yang melilit lehernya.
Aethela meneguk anggur dingin, merasakan rasa asamnya. Ia bukan merayakan, ia sedang menghitung mundur. Di istana yang penuh kemewahan, ia adalah anomali. Rambut peraknya—warisan langka dari leluhur penyihir Bulan—dan mata ungunya yang tajam membedakannya dari bangsawan Elara yang kebanyakan berambut gelap dan tenang. Ia membawa sihir, sihir Moon Magic yang kuat, tetapi sihir itu adalah pedang bermata dua.
Sejak ia remaja, Aethela telah berusaha mengendalikan kekuatannya. Setiap kali ia marah, takut, atau terlalu bersemangat, sihir itu akan memancar, terkadang menghancurkan vas kristal, terkadang membuat bunga di tamannya mekar di luar musim. Itu adalah bukti nyata dari kutukan yang hanya diketahui olehnya dan ayahnya, sang Raja.
Ia berdiri dan berjalan menuju perapian, di mana api berdansa lesu.
“Kau tidak seharusnya duduk sendirian, Yang Mulia.”
Suara itu adalah suara Lady Elara, dayang kepercayaannya, yang masuk membawa baki teh herbal.
“Aku tidak kesepian, Elara,” jawab Aethela, nadanya dingin, berusaha menyembunyikan badai di dalam dirinya. “Aku hanya... merenung.”
“Tahun baru, harapan baru, Putri. Tuan-tuan dari selatan mulai berdatangan besok. Pilihan suami yang akan mengamankan garis keturunan Anda.”
Mendengar kata-kata itu, Aethela merasakan gelombang kemarahan yang cepat dan panas. Ia bukan seorang wanita yang mencari cinta, ia adalah aset politik yang harus diamankan.
“Mereka datang mencari kekuatan, bukan aku,” balas Aethela, suaranya tajam. “Mereka datang untuk mencoba menjinakkan sihir ini.”
Elara meletakkan baki itu dengan hati-hati. “Dan Anda akan memilih yang terbaik. Anda harus. Demi Elara.”
Aethela memejamkan mata. Ya, demi Elara. Tugas adalah satu-satunya alasan ia masih bernapas.
Setelah Elara pergi, Aethela bergegas ke ruang belajarnya yang tersembunyi. Ruangan ini tidak mewah; rak-raknya dipenuhi buku-buku tebal yang baunya seperti kertas tua dan debu sihir. Di sana, tersembunyi di balik gulungan peta usang, ada peti kayu ek kecil.
Dengan hati-hati, Aethela membuka peti itu. Di dalamnya tersemat sebuah gulungan perkamen yang sangat rapuh. Gulungan itu berbicara tentang Kutukan Alar.
Ia membacanya lagi, seperti ritual yang menyakitkan:
...Ketika Bulan bersinar paling terang pada usia Dua Puluh Lima, sihirnya akan mencabik-cabik yang lemah dan memanggil kehancuran ke gerbang. Takdirnya hanya dapat diubah oleh Darah Tertua dari Pegunungan Batu atau, jika gagal, kehancuran akan menuntut Mahkota dan Kerajaan.
Konflik Batin Aethela: Ia tahu "Pegunungan Batu" berarti Obsidiana, Kerajaan Naga di Utara, musuh bebuyutan mereka. Ras yang mereka sebut barbar dan buas. Jadi, ramalan itu menawarkan dua jalan: kematiannya, atau pernikahan dengan monster.
Apakah takdirku adalah menjadi istri naga?
Pikiran itu membuatnya ngeri, namun juga memicu rasa penasaran yang tersembunyi. Selama ini, ia hanya pernah berhadapan dengan bangsawan yang lemah dan pengecut. Ras Naga, dengan legenda kekuatan mereka yang gelap, terasa seperti tantangan yang menakutkan.
Aethela berjalan menuju jendela. Bulan sabit menggantung rendah, dan pada saat itu, sihirnya bereaksi. Sebuah cahaya perak tipis memancar dari telapak tangannya, hampir tidak terlihat. Ia buru-buru menekan telapak tangannya ke dinding, memaksanya berhenti. Jika ia tidak mengendalikannya, sihir itu akan menjadi liar. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahan itu.
Keesokan paginya, suasana Kastil berubah menjadi tegang. Sebuah dekrit resmi telah tiba dari Utara. Bukan tawaran perdamaian, melainkan perintah.
Raja memanggil Aethela ke ruang takhta, ekspresinya suram.
“Mereka menuntut sebuah kesepakatan,” kata Raja, suaranya bergetar. “Obsidiana tidak lagi meminta gencatan senjata. Mereka menuntut pengikat seumur hidup.”
Emosi Aethela: Dingin dan tegang. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi. Ini adalah takdir, bukan pilihan.
“Siapa yang mereka tuntut, Ayah?” tanya Aethela datar.
Raja memegang gagang takhta dengan erat. “Mereka menuntut agar kita menyerahkan Putri Mahkota Elara. Mereka menuntut Anda, Aethela.”
Dia menjelaskan bahwa Pangeran Valerius Nightshade, Pangeran Perang yang ditakuti, putra Raja Naga, akan datang ke Elara untuk "memperoleh" dirinya sebagai pengantin.
“Mereka tidak meminta izin,” lanjut Raja, matanya memancarkan rasa penghinaan yang mendalam. “Ini adalah penaklukan melalui pernikahan.”
Aethela tidak menunjukkan reaksi apa pun secara fisik, tetapi di dalam dirinya, kebencian membara. Kebencian pada Obsidiana, kebencian pada kutukannya, dan kebencian pada kelemahan Kerajaannya yang memaksanya menjadi bidak dalam permainan ini.
Pangeran Valerius Nightshade.
Ia mencoba mengingat legenda tentang Naga Bayangan itu. Kejam, tak kenal ampun, dan konon tidak pernah menunjukkan wujud manusia seutuhnya kecuali di hadapan keluarganya. Ia adalah simbol teror di Utara.
“Kapan dia tiba, Ayah?” tanya Aethela. Suaranya kini dipenuhi resolusi yang dingin.
“Dalam tiga hari.”
Aethela mengangguk pelan. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai seorang Putri, tetapi sebagai Penyihir yang terkutuk yang kini dipaksa menghadapi takdirnya di tangan seorang Naga. Jika ia harus menikah dengan monster, ia akan memastikan monster itu membayar mahal.
Ia tidak akan membawa cinta ke Istana Obsidiana. Ia akan membawa bara api kebencian yang akan membakar jembatan di antara mereka. Atau, mungkin, bara api itu akan menjadi satu-satunya yang tersisa untuknya.
Aethela keluar dari Ruang Takhta, diiringi bisikan ketakutan para bangsawan. Hari ulang tahun ke-24-nya baru saja berakhir, dan babak baru dalam hidupnya—sebagai jembatan damai dan tawanan takdir—telah dimulai.
...****************...
bersambung...
Terima kasih telah membaca📖
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️