NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JALANAN MENJADI PEMBIMBING DAN HARI HARI YANG DIISI KASIH SAYANG

Mentari pagi menyinari Sekolah Hadian Jakarta, yang sekarang telah menjadi pusat jaringan sekolah di seluruh Indonesia. Qinara, yang sekarang berusia delapan belas tahun, berdiri di teras sekolah, melihat sekelompok anak muda yang sedang melatih untuk menjadi sukarelawan. Mereka adalah alumni Sekolah Hadian yang telah lulus dan ingin memberikan kembali ke komunitas yang telah membantunya.

Laras mendekatinya dengan cangkir teh hijau yang dia sediakan. "Qinara, lihat mereka—anak-anak yang dulu kamu bantu, sekarang sedang membantu anak-anak lain. Ini adalah yang paling indah dari semua yang kita lakukan," ucapnya dengan senyum penuh kebahagiaan. Setelah lebih dari dua tahun bekerja sebagai guru, Laras telah menjadi bagian penting dari yayasan—dia mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia dan selalu memberikan dukungan emosional kepada anak-anak.

Qinara mengangguk, memegang kotak pemberian ayahnya yang kini semakin penuh. Di dalamnya, ada surat dari alumni Sekolah Hadian di seluruh Indonesia dan negara lain—semua menceritakan bagaimana pendidikan mereka telah merubah hidup. "Ya, Ibu. Ayahmu pasti senang melihat bahwa warisannya terus berkembang, dilewatkan dari satu generasi ke generasi berikutnya."

Pak Rio muncul dengan berita baik. "Qinara, PBB telah mengkonfirmasi dukungan untuk membangun 100 sekolah baru di negara berkembang. Mereka ingin kamu menjadi ketua tim penasihat untuk proyek ini. Kamu akan bekerja dengan delegasi dari berbagai negara untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan."

Qinara membaca dokumen yang diberikan Pak Rio dengan mata yang penuh kegembiraan. Ini adalah tanggung jawab besar, tapi dia merasa siap. "Aku akan terima, Pak Rio. Kita akan memastikan bahwa setiap sekolah itu dibangun dengan cinta dan perhatian, seperti yang kita lakukan di Indonesia."

Sore hari, mereka berjalan ke makam ayahnya. Qinara membawa bunga mawar putih—bunga favorit ayahnya—dan surat dari alumni Sekolah Hadian. Dia duduk di dekat makam, membaca surat-surat itu untuk ayahnya.

"Kak Qinara, aku sekarang menjadi guru di Sekolah Hadian Yogyakarta. Terima kasih telah memberiku kesempatan—aku ingin membantu anak-anak seperti yang kamu bantu aku," baca dia dari surat Sari, yang telah lulus dari sekolah dan kembali mengajar di Papua.

"Kak Qinara, aku sekarang menjadi dokter di Medan. Aku sedang bekerja di rumah sakit yang didirikan oleh yayasan. Terima kasih telah memberitahuku bahwa aku bisa mencapai impianku," baca dia dari surat Johan.

Qinara menangis dengan senang. "Ayah, mereka semua telah mencapai impian mereka. Kamu tidak salah dalam percaya pada mereka. Kita telah membangun lebih dari sekadar sekolah—kita telah membangun komunitas yang penuh kasih sayang."

Keesokan harinya, Qinara mulai bekerja sebagai ketua tim penasihat PBB. Dia menghabiskan hari-harinya dalam rapat dengan delegasi dari berbagai negara, merencanakan lokasi sekolah, menyusun kurikulum, dan mencari sumber dana. Dia juga sering melakukan kunjungan lapangan ke negara-negara yang akan membangun sekolah—Afrika Selatan, India, Brasil, dan Meksiko—untuk bertemu dengan warga dan memahami kebutuhan mereka.

Selama satu kunjungan ke Afrika Selatan, dia bertemu dengan sekelompok anak-anak yang tinggal di pemukiman miskin. Anak-anak itu telah mendengar cerita Qinara dan sangat ingin sekolah. "Kak Qinara, kapan sekolahnya akan dibangun? Aku mau belajar agar bisa menjadi pengacara untuk melindungi hak kita," tanya seorang anak laki-laki bernama Kabelo.

Qinara memeluk Kabelo. "Kita akan mulai pembangunan bulan depan. Kamu pasti bisa sekolah, dan aku akan membantu kamu mencapai impianmu."

Selama bulan-bulan berikutnya, pembangunan sekolah baru berjalan lancar. Qinara bekerja keras, tapi dia juga selalu menemukan waktu untuk berkunjung ke sekolah-sekolah yang sudah ada di Indonesia. Dia ingin memastikan bahwa operasionalnya tetap baik dan bahwa anak-anak mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan.

Pada hari ulang tahunnya yang ke-18, Qinara mengadakan pesta di Sekolah Hadian Jakarta. Lebih dari 2.000 orang hadir—alumni, anak-anak saat ini, guru, sukarelawan, dan teman-teman dari seluruh dunia. Pak Santoso, yang sekarang sudah sangat tua, memberikan pidato yang menyentuh hati.

"Qinara, aku telah melihatmu tumbuh dari anak kecil yang menangis karena kehilangan ayah, menjadi orang yang mengubah hidup ribuan anak. Ayahmu pasti bangga padamu—kamu adalah warisan terbesar yang dia miliki. Aku bangga bisa menjadi bagian dari perjalananmu," ucap Pak Santoso, dan suara tepuk tangan meriah terdengar.

Setelah pidato, anak-anak menyanyikan lagu ulang tahun dan memberikan hadiah kepada Qinara. Yang paling spesial adalah lukisan besar yang dibuat oleh semua anak—lukisan tentang jaringan Sekolah Hadian yang menyebar ke seluruh dunia, dengan bintang terang di tengahnya yang melambangkan ayahnya.

Malam itu, Qinara menerima telepon dari Kabelo di Afrika Selatan. "Kak Qinara, sekolahnya sudah mulai dibangun! Kami semua sangat senang. Terima kasih banyak!" teriak dia dengan antusias.

Qinara tersenyum. "Senang mendengarnya, Kabelo. Jangan pernah menyerah pada impianmu."

Beberapa minggu kemudian, Qinara pergi ke Meksiko untuk memantau pembangunan sekolah pertama di sana. Dia bertemu dengan delegasi lokal dan warga, yang sangat senang dengan kehadirannya. Seorang kepala desa berkata, "Qinara, kamu telah memberikan harapan kepada kita. Sebelum ini, anak-anak kita tidak punya masa depan, tapi sekarang mereka punya kesempatan untuk merubah hidup."

Selama di Meksiko, Qinara juga bertemu dengan anak-anak yang akan bersekolah di sana. Dia mengajarkan mereka cara membuat mainan kayu, seperti yang ayahnya ajarkan padanya. Anak-anak senang belajar, dan mereka memberikan mainan yang dibuatnya kepada Qinara sebagai hadiah.

Malam itu, Qinara berdiri di teras hotel, memandang langit malam yang penuh bintang. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dan mainan kayu yang diberikan anak-anak Meksiko. Dia membaca surat ayahnya sekali lagi:

"Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain."

Dia menyenyum, menyadari bahwa dia telah melampaui harapan ayahnya. Jaringan Sekolah Hadian sekarang telah mencapai 30 sekolah di Indonesia dan 20 di negara lain, membantu lebih dari 10.000 anak. Dia telah menjadi pemimpin dan pembimbing bagi banyak orang, dan pesan ayahnya telah menyebar ke seluruh dunia.

Pak Rio mendekatinya dengan surat baru. "Qinara, pemerintah Indonesia ingin memberikan penghargaan 'Pahlawan Nasional' kepadamu untuk kontribusimu dalam bidang pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Upacara akan diadakan di Istana Merdeka bulan depan."

Qinara terkejut dan terharu. "Terima kasih, Pak Rio. Ini adalah kehormatan yang luar biasa. Tapi semua ini tidak bisa aku lakukan sendirian—ini adalah kerja sama semua orang."

Ketika mereka kembali ke Indonesia, Qinara mulai menyiapkan diri untuk upacara penghargaan. Dia mengenakan baju batik yang dibuat Laras, dan membawa kotak pemberian ayahnya. Pada hari upacara, dia berdiri di depan presiden dan para pejabat negara, merasa bangga menjadi warga Indonesia.

Presiden memberikan pidato tentang perjuangan Qinara dan kontribusinya. "Qinara adalah contoh bagi semua warga Indonesia. Dia telah menunjukkan bahwa keberanian, tekad, dan kasih sayang bisa mengubah dunia. Kita bangga padanya, dan dia layak mendapatkan penghargaan ini."

Setelah menerima medali "Pahlawan Nasional", Qinara memberikan pidato singkat. "Terima kasih kepada pemerintah dan semua orang yang telah mendukungku. Ini adalah penghargaan untuk ayahku, yang memberiku impian, dan untuk semua orang yang telah bekerja bersama-sama denganku. Kita akan terus membangun lebih banyak sekolah, membantu lebih banyak anak, dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik."

Mentari menyinari Istana Merdeka, memberikan cahaya pada masa depan yang semakin terang. Qinara tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang, tapi dia yakin bahwa dia akan mencapai semua impiannya. Dia memiliki keluarga yang dibangun dari hati, dukungan dari orang-orang yang mencintainya, dan warisan ayahnya yang abadi. Dia siap untuk menjadi pembimbing bagi generasi mendatang, menyebarkan kasih sayang dan harapan ke setiap sudut dunia.

Ayahnya selalu menyertainya, dan warisan ayahnya akan hidup selamanya di hatinya, di jaringan Sekolah Hadian, dan di setiap anak yang dia bantu. Masa depan menunggumu, dan dia siap untuk melangkah ke depannya dengan kepala tegak dan hati yang penuh kasih sayang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!