Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alkisah
"Jenderal. Kita telah di kepung!"
"Lapoooor! Jenderal, kita telah dikhianati. ratusan ribu pasukan musuh mengepung Kita. Kalau begini terus, kita akan kehabisan bahan perbekalan!"
"Jenderal. pasukan musuh mulai melancarkan serangan. pasukan hadapan kewalahan. Saat ini hanya pasukan inti yang tersisa. Kami akan melindungi anda sampai tetes darah penghabisan!"
"Lindungi Jenderal!"
"Minggir kalian semuanya! Aku yang membawa kalian ke dalam bahaya ini. Dan aku yang akan menyelesaikannya!"
"Jenderal, jangan!"
"Ingatlah. Setelah ini, andai aku tidak lagi bisa bertahan, cari tau siapa pengkhianat yang telah membocorkan posisi dan kelemahan kita kepada musuh. Andai aku masih selamat, tidak akan. aku biarkan pengkhianat itu hidup dengan tenang!"
"Jangan!"
"Harap Jenderal jangan mengorbankan hidup anda. Kami masih bisa melindungi anda!"
"Kalian mundur!"
"Jenderal jangan. Harap pikirkan kembali!"
"Setelah ini, Jangan kembali ke Dragon empire. Kalian sudah mati terkubur di medan laga ini. Jika masih ada kehidupan, kita pasti akan bertemu lagi!"
"Tidak bisa. Saudara-saudaraku, haruskah kita mengorbankan Jendral demi hidup kita?"
"Benar Jenderal. Kita hanya perlu membuka jalan. Lima ratus ribu saudara kita akan membalaskan dendam ini. Jenderal hanya perlu melepaskan diri dari pengepungan ini!"
"Mundur kataku!"
"Jenderal!"
"Ini Perintah!"
Duaaar...
Boom..!
"Jendraaaaaal... Oh tidak!"
*********
"Nak. Anak ku, bangun! Kau mengigau lagi!"
Seorang pemuda perlahan membuka matanya dengan paksa. Ada keringat mengalir dari setiap pori-porinya menetes membasahi kasur tempatnya tidur.
Dia bangkit dan duduk sambil memegangi kepalanya. Ada raut keluhan pada wajah tampan nya yang terlihat pucat.
"Ayah..,"
"Minum lah dulu air ini. tenangkan dirimu!" kata seorang lelaki paruh baya yang tampak memberikan segelas air kepada pemuda itu.
Pemuda itu bernama Jhon. hanya itu yang dapat dikenali oleh lelaki paruh baya itu ketika dia menyelamatkan seorang pemuda yang hanyut terbawa arus.
Tampaknya pemuda itu adalah seorang tentara yang mengalami kemalangan. Lelaki paruh baya itu hanya dapat melihat nama itu pada papan nama yang tertera di dada kiri pemuda itu.
Ketika di tanya, pemuda itu sama sekali tidak ingat siapa namanya, darimana asalnya dan apa pekerjaannya. Berpikir mungkin karena pemuda itu adalah seorang tentara yang berperang, kemungkinan dirinya memiliki banyak musuh. jadi, lelaki itu tidak mengungkit tentang apa yang dia lihat. dia hanya mengambil pakaian pemuda itu, menyimpan dompet, seutas kalung berlambang naga, serta cincin berkepala harimau.
Lelaki itu bermaksud untuk membiarkan saja masa lalu pemuda itu ikut hanyut bersama dengan arus sungai.
Kebetulan mereka memang tidak dikaruniai anak, jadi mereka menganggap pemuda bernama Jhon itu sebagai anak mereka. Walaupun pada akhirnya suatu saat nanti anak itu harus meninggalkan mereka setelah mengetahui identitasnya yang mungkin bukan sembarangan orang.
"Aku bermimpi lagi. Mimpi yang sama dan berulang-ulang!"
Jhon membuka bajunya yang basah oleh keringat. Terlihat banyak bekas luka di tubuhnya. Ada luka bakar, luka tusukan, luka sayatan dan itu sangat menakutkan untuk di bayangkan.
"Tenangkan dirimu. Mungkin sebelum kau kehilangan ingatan, kau pernah melihat sesuatu yang mengerikan atau kau telah mengalaminya sendiri,"
"Ayah. Tiga bulan yang lalu kau menemukan ku terbawa arus. Sebenarnya siapa aku? apakah ayah ada menemukan sesuatu dari ku, misalnya tanda pengenal atau apalah?"
Lelaki paruh baya itu menghela nafas lalu mengangguk.
"Ya. Aku menemukan bukan hanya sesuatu padamu, tapi ada beberapa. Hanya saja, aku tidak akan memberikannya kepadamu. Aku khawatir kalau kau memiliki banyak musuh. Kelak kau bisa mencaritahu identitas mu secara perlahan. Yang aku ketahui adalah, kau bernama Jhon," Kata lelaki itu sembari menyerahkan dompet, Handphone yang memiliki bentuk yang unik, seuntai kalung dan cincin berkepala harimau kepada pemuda itu. "Hanya ini saja yang Ayah temukan pada dirimu,"
Jhon membuka dompet dan mengacak-acak isinya. Hanya saja tidak ada satupun catatan yang bisa dia jadikan patokan tentang identitasnya. Ada beberapa kartu yang tidak menarik perhatiannya. Hanya saja yang tidak dia ketahui adalah, andai salah satu kartu ini saja dia bawa ke bank, pasti akan mengguncang dunia perbankan.
Dengan raut wajah tidak tertarik, dia kembali menyerahkan dompet miliknya kepada lelaki paruh baya itu. hanya cincin berkepala harimau itu saja yang dia kenakan.
"Tiduran kembali. Pagi masih lama!" Kata lelaki paruh baya itu. kemudian dia pun keluar meninggalkan Jhon yang sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.
*********
Keesokan harinya Jhon yang tidak tertidur keluar dari kamarnya. Dia segera ke dapur, memasak makanan untuk keluarga itu.
Entah darimana kemampuannya ini dia peroleh, tiba-tiba saja dia merasa sangat mahir memasak. Dia juga sangat rajin membantu orang tua angkatnya di kebun. Bisa dikatakan, semenjak dirinya bersama dengan keluarga itu, penghasilan mereka meningkat, perkebunan menjadi bersih dan ini yang membuat kedua orang tua angkatnya sangat menyayangi Jhon.
Di sela-sela istirahat, terkadang orang tua angkatnya selalu mengatakan bahwa tinggal di kampung ini hanya akan menghambat masa depan Jhon. Karena bisa dikatakan sebagai kampung yang tidak begitu besar dan terpelosok, anak-anak muda di kampung tersebut memilih untuk merantau. Ada yang bekerja di kota, ada juga yang menempuh pendidikan.
Jhon hanya tersenyum. bagaimana dia bisa melanjut kan pendidikannya sedangkan identitas saja dia tidak tau.
"Jika kau benar-benar mau melanjutkan pendidikan, Ayah memiliki kenalan yang bisa mengurus semua itu. Kau tinggal terima bersih saja. Kau bisa memilih Universitas mana yang kau suka. Walaupun tinggal di kampung, Ayah mu ini masih memiliki koneksi yang luas," kata ayah angkatnya membanggakan diri.
"Ayah, sebenarnya dulu apa profesi mu? Karena, aku melihat kau tidak terlihat seorang petani?" Tanya Jhon. selama ini, dia sangat memperhatikan ayah angkatnya itu. biasanya, jika memang benar-benar petani, seharusnya hanya telapak tangannya saja yang memiliki kapalan. Tapi Ayah angkatnya ini berbeda, bukan hanya telapak tangannya saja yang kapalan, tapi buku-buku jarinya juga memiliki kapalan seperti seseorang yang terbiasa berlatih tinju.
"Ah. pertanyaan apa itu. jelas aku adalah seorang petani. Aku berada di kampung ini sejak lahir," Jawab sang Ayah berusaha menyembunyikan kegugupannya. Tapi sekuat apapun dia menyembunyikan kegugupannya, tetap saja Jhon dapat menangkap sesuatu. hanya saja dia tidak memaksa. Biarlah itu menjadi rahasia orang tua angkatnya ini. Hanya saja, nalurinya mengatakan bahwa kemungkinan Ayahnya ini mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Tapi sekali lagi itu hanyalah naluri. Biarkan waktu yang akan menjawab. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjalani kehidupannya yang sekarang. Mungkin ada hikmahnya. Karena, siapa tau setelah dirinya mengetahui identitasnya, entah tantangan apa yang akan dia hadapi kedepannya. Ini juga pemikirannya sendiri. Karena, mimpi itu begitu nyata. Jika dirinya tidak benar-benar mengalami, mana mungkin dirinya mengalami mimpi yang terus menerus dan meninggalkan trauma yang mendalam.
semangat author untuk terus berkarya..../Good/💪
itu adalah angka keramat 18+++