NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:132
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memorable Love

Aku mengeratkan genggaman tanganku pada dres yang aku kenakan, setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh kekasihku. Rahangku mengeras, dan dadaku rasanya begitu sakit. Bahkan botol anggur yang ku genggam hampir saja terlepas dari genggamanku. Namun dengan cepat aku mengeratkan pegangannya tanganku. Mengetahui kebenaran yang baru aku tahu selama kami menjalani hubungan setelah 2 tahun bertunangan.

Sakit sekali hati ini. Pria yang selama ini aku pikir juga mencintaiku, nyatanya tidak pernah mencintaiku. Dia masih menunggu kedatangan wanita yang begitu sangat ia cintai.

Harisa, nama itu terasa tidak asing saat kekasihku menyebut nama wanita yang dicintainya sejak lama. Kini aku ingat, wanita itu memang cinta pertamanya yang telah meninggalkan kekasihku hanya untuk mengejar impiannya untuk berkuliah di luar negeri.

“Lalu bagaimana dengan Janice, Stendy?”

Pertanyaan itu keluar dari bibir Yohan, sahabat Stendy kekasihku. Di dalam ruangan itu ada Stendy dan ketiga sahabatnya. Kami berniat merayakan hari jadi hubungan kami berdua. Namun, tadi Stendy memintaku mengambilkan anggur di gudang menyimpan anggur yang terdapat di ruang bawah tanah villa. Aku pun menuruti keinginannya, karena aku tahu tidak sembarang orang yang masuk ke dalam ruangan anggur tersebut. Hanya Stendy, aku dan Rodez asisten Stendy yang sangat dipercaya oleh pria itu. Aku masih diam bersembunyi di balik pilar yang cukup menutupi tubuhku yang kecil dan langsing ini.

“Aku tidak peduli. Lagi pula Janice tidak akan pernah bisa marah padaku,” jawab Stendy dengan rasa tak pedulinya.

Aku meremas kembali botol anggur di tanganku, sementara tangan kananku mengusap dada kiriku yang terasa sakit. Jujur ini sangat menyakitkan. Dua tahun aku mencintai pria yang sama sekali tidak pernah mencintaiku. Selama dua tahun ini pula sikap Stendy selalu dingin terhadapku. Kini aku sudah sadar dan tahu mengapa Stendy bersikap dingin terhadapku. Aku pikir dulu akulah yang selalu membuat salah kepadanya, sampai aku memohon padanya untuk memaafkan kesalahanku. Karena saat itu aku sangat takut kehilangannya. Namun, setelah hari ini aku sadar ternyata memang dia tidak pernah mencintaiku dan tidak akan pernah peduli padaku.

Aku menghela nafasku dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Aku masih menunggu apa yang akan mereka bicarakan.

“Seharusnya kamu tidak bersikap seperti itu, Stendy.”

Kali ini suara Rodez terdengar seolah sedang menyalahkan sikap Stendy terhadap diriku. Aku merasa terharu saat mendengar asisten kekasihku nyatanya masih ada rasa peduli padaku. Berbeda dengan kedua sahabat Stendy yang tidak begitu peduli padaku. Sama seperti Stendy.

“Hei, hei, Rodez. Apa yang barusan kamu katakan, heh? Apakah kamu sedang membela Janice?”

Itu suara Owen, pria yang selalu menatap sinis padaku. Entah kesalahan apa yang telah kuperbuat di masa lalu. Hingga dirinya terlihat begitu membenciku.

“Aku tidak ada maksud membela Janice. Tapi, biar bagaimanapun juga Janice telah menemani Stendy selama dua tahun belakangan ini,” Rodez menjawab apa yang baru saja dikatakan oleh Owen.

“Bukankah seharusnya Stendy lebih menghargai usahanya selama dua tahun ini. Aku sangat tahu, kalau Janice begitu mencintainya. Bahkan dia rela melakukan apapun untuk kebahagiaanmu, Stendy.” Rodez kembali bersuara.

“Ingatlah, dia sudah menemanimu di masa terpurukmu setelah Herisa memutuskan untuk pergi meninggalkanmu, dan memilih untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. Bahkan dia mengabaikanmu saat kamu datang menemuinya di negara L waktu itu,” Rodez kembali mengingatkan masa-masa tersulit Stendy saat Herisa pergi dari kota ini.

Aku menggigit bibir bawahku setelah mendengar ucapan Rodez. Namun, hatiku kembali merasakan sakit ketika Stendy kembali berbicara.

“Aku sudah menghargainya dengan membiarkannya untuk tinggal bersamaku. Apakah itu masih kurang menghargainya?” Stendy menjeda ucapannya, kemudian melanjutkannya lagi. “Untuk dia yang rela melakukan sesuatu untukku selama ini, itu bukan urusanku. Aku tidak pernah memintanya untuk melakukan sesuatu untuk diriku. Dan, mengenai Harisa, aku memilih untuk melupakan pengabaiannya saat itu. Karena bagaimanapun juga hatiku masih tertanam namanya,”

Sejak tadi air mataku sudah tidak bisa ditahan lagi. Sungguh ini luar biasa sakitnya, selama ini pengorbananku seakan sia-sia. Aku rela berhenti mengejar gelar S2 hanya untuk menemani dan merawat Stendy. Sampai kedua orang tuaku kesal dan tidak mau berhubungan denganku lagi. Kini aku menyesali semua itu, menyesali atas tindakanku yang ceroboh dan mementingkan orang lain daripada diriku sendiri.

Di sela pemikiranku itu, aku teringat dengan pertemuan terakhirku pada ayahku. Dia mengatakan akan memaafkanku, dan menerimaku kembali asalkan aku mau melanjutkan sekolahku.

“Hubungi Ayah jika kamu berubah pikiran. Ayah akan tetap menunggu telepon darimu,”

Kata-kata terakhir ayah kembali terngiang dalam ingatanku. Rasa penyesalan dan bersalah pada kedua orang tuaku kembali menyelimuti hatiku. Aku membekap mulutku, agar suara tangisku tidak begitu didengar oleh Stendy dan lainnya.

Setelah aku merasa tenang, aku pun mengambil ponselku yang ada di saku dres yang aku pakai. Aku menatap nanar pada nomor telepon ayahku, disana ada riwayat terakhir aku menghubunginya. Itu sudah sangat lama sekali, sekitar 6 bulan yang lalu. Itupun ayah yang menghubungi terlebih dahulu.

Semakin berdosalah aku terhadap kedua orang tuaku. Nyatanya memang cinta bisa membutakan semuanya. Bahkan hubungan kekeluargaan pun bisa renggang karena cinta yang salah. Aku menunggu sampai ayah menjawab telepon dariku.

“Halo, Nak.”

Aku kembali membekap mulutku dengan tanganku, menahan agar isakan tangisku tidak didengar olehnya. Aku memejamkan mataku dan menghela kembali nafasku dalam-dalam.

“Ayah,” aku berusaha menekan suaraku untuk tidak terdengar sedang menangis.

“Nak, ada apa denganmu? Kenapa suaramu seperti itu?”

“Aku tidak apa-apa, Yah. Hanya saja saat ini aku sedang flu,”

Aku terpaksa berbohong pada ayahku, karena aku tahu beliau sangat menyayangiku dan sangat peka jika aku sedang menutupi sesuatu darinya. Aku mendengar suara helaan nafas yang berat di seberang sana.

“Tolong jaga kesehatanmu. Apakah kekasihmu itu sudah membawamu ke dokter?”

Ada nada sindiran di setiap ucapan yang ayahku lontarkan. Aku tersenyum kelu mendengar ayahku berkata seperti itu.

“Stendy sudah memanggil dokter untukku, dan baru saja aku selesai diperiksa. Aku hanya butuh istirahat saja,” lagi-lagi aku harus membohongi ayahku sendiri.

“Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat dan jangan lupa minum obatnya.”

Aku tahu ayahku sudah tidak kuat berlama-lama bicara denganku. Karena aku tahu ayahku sangatlah merindukan putrinya ini.

“Ayah, aku ingin melanjutkan kuliah S2 sesuai dengan keinginan Ayah dan Ibu,”

Ya, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan Stendy. Biarlah kali ini aku bersikap egois.

“Benarkah? Kamu sedang tidak main-main dengan ucapanmu, kan?”

Aku menggeleng seolah ayah dapat melihat reaksiku. “Tidak, Yah. Kali ini keputusanku sudah bulat. Maafkan aku yang telah sempat mengecewakan Ayah dan Ibu. Kali ini biarkan aku menebus kesalahanku dengan melanjutkan sekolahku sampai mendapatkan gelar S2,” jawabku dengan sangat yakin.

“Baiklah, Ayah akan mengurusnya. Jujur Ayah sangat senang mendengar kabar ini darimu,”

Aku tersenyum menutupi luka yang tidak berdarah saat ini. Aku tidak ingin kembali merasakan sakit, karena cintaku bertepuk sebelah tangan.

Aku mengakhiri sambungan telepon dengan ayahku. Aku merapikan kembali rambutku, dan mengusap bagian mata yang masih basah akibat air mata yang sialnya tidak mau berhenti. Saat hendak melangkah masuk, aku kembali mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Ketika suara Yohan terdengar.

“Sudahlah, biarkan Stendy yang menentukannya. Tapi jujur saja aku lebih menyukai Stendy bersanding dengan Harisa. Dibandingkan dengan Janice,” kata Yohan.

Tanganku kembali meremas botol anggur di tanganku. Rasanya aku sangat ingin memecahkan kepala Yohan, Stendy dan Owen dengan botol anggur itu. Namun, aku sadar kalau hanya ada satu botol di tanganku.

Aku mendesah kasar dan harus berusaha bersikap sabar. Suatu saat nanti aku akan membalas mereka semua. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak seperti apa yang mereka pikirkan selama ini.

Aku sadar bahwa diriku yang dulu sangat menyebalkan. Aku merutuki diriku sendiri karena ulahku jugalah yang membuat mereka berdua memandangku remeh dan rendah. Bagaimana tidak, jika sebelum aku dan Stendy berpacaran. Aku lah yang selalu mengejar-ngejar Stendy. Bahkan aku rela menahan malu hanya untuk mengejar hatinya. Akan tetapi setelah ini aku tidak akan lagi mengejar atau mengemis cinta Stendy lagi.

Dua tahun sudah cukup bagiku untuk menyerahkan hidupku pada pria yang salah.

Aku melangkah masuk ke dalam ruangan dengan senyum yang selalu aku berikan pada mereka. Aku akan tetap bersikap seperti biasa, seolah aku tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.

“Maaf menunggu lama tadi aku pergi ke toilet dulu,” aku tersenyum menutupi rasa sakit dan juga kesal ketika melihat wajah Stendy, Yohan dan juga Owen.

Akan tetapi aku merasakan tatapan yang tajam sedang menatapku, aku melirik sekilas ke arah Owen. Ternyata pria itu sedang melihatku dengan tatapan memicing tajam. Aku pun segera menunduk, tidak ingin melihat tatapan mata Owen dan juga takut kalau pria itu menyadari kalau aku habis menangis.

Aku mengalihkan diriku dengan menuangkan anggur ke dalam gelas milik Stendy, lalu bergilir dari arah Yohan, Rodez dan terakhir Owen. Saat aku menuangkan anggur ke dalam gelas Owen, aku dapat mendengarkan pria itu mendesah kasar. Entah kesalahan apa lagi yang aku perbuat, sampai pria itu seolah sangat membenciku.

“Wah, anggur ini enak sekali. Pantas saja kamu mengeluarkan hanya di momen penting seperti ini.”

Aku hanya tersenyum kelu mendengar ucapan Yohan yang mengarah pada Stendy. Aku melirik sekilas ke arah Stendy. Pria itu hanya tersenyum dan mengangkat gelasnya sebagai tanda bersulang untuk perayaan malam ini.

Hatiku meringis jika harus kembali mengingat semua ucapan Stendy dan teman-temannya itu. Aku tersenyum masam melihat Yohan dan Owen berbicara pada Stendy.

Malam semakin larut, aku pun kembali ke dalam kamar. Tubuhku terasa sangat lelah sekali. Aku langsung mengunci pintu kamarku, biarlah kali ini aku kunci pintunya. Karena malam ini aku benar-benar lelah dan tidak ingin diganggu. Aku meringkuk di atas kasur, dan kembali menangis lagi. Malam ini aku benar-benar ingin meluapkan semuanya melalui tangisanku. Aku harap ini adalah tangisan terakhirku untuk kehidupanku yang buruk ini. Aku harap ini terakhir kalinya aku menangisi pria seperti Stendy.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!