NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 10 Ingatan yang Kembali

Malam itu, Kael kembali terlelap jauh lebih cepat dari biasanya.

Tubuhnya memang sudah pulih hampir sepenuhnya, tetapi pikirannya justru terasa semakin lelah. Potongan-potongan ingatan yang terus bermunculan secara acak selama beberapa hari terakhir membuat tidurnya tidak pernah benar-benar tenang. Dan malam ini... semua tirai misteri itu akhirnya terbuka lebar. Semuanya kembali.

Dalam mimpinya, Kael mendapati dirinya sedang berdiri di tengah guyuran hujan deras yang lebat. Langit malam yang pekat dipenuhi oleh kilatan petir yang menyambar-nyambar.

Di hadapannya, berdiri sebuah gedung bertingkat berukuran besar yang sedang terbakar hebat. Api menjilat-jilat dinding beton dengan ganas, sementara suara rentetan tembakan senjata api bergema saling bersahutan dari segala arah.

Orang-orang berlarian tunggang-langgang, dan jeritan histeris memenuhi udara malam yang mencekam. Lalu, satu per satu wajah mulai bermunculan dengan sangat jelas di kepalanya. Sosok pria tua berambut putih yang berwibawa, barisan orang berpakaian hitam, lambang mahkota bersayap Shadow Crown, dan kemudian... dirinya sendiri.

Kael melihat pantulan dirinya yang sedang mengenakan pakaian tempur taktis berwarna hitam pekat. Tubuhnya penuh luka dan bersimbah darah, sementara tangan kanannya menggenggam erat sebuah pistol.

Ingatan yang selama ini terpecah-pecah dan buntu, mendadak menyatu dengan cepat seperti kepingan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya.

Namanya memang Kael. Nama itu bukan sekadar pemberian asal dari Rani, melainkan nama aslinya Kael Valmont.

Ia adalah salah satu anggota elit dari Shadow Crown, sebuah organisasi bayangan mematikan yang bergerak di dunia gelap.

Misi terakhir yang ia jalani, pengkhianatan dari orang dalam, ledakan kapal yang dahsyat, dan seseorang yang mencoba membunuhnya di tengah laut semuanya kembali terekam dengan sangat jelas.

Namun, di antara semua memori kelam dan berdarah itu, ada satu wajah yang paling sering muncul dan terasa sangat damai. Wajah seorang wanita berambut panjang yang memiliki senyum sangat hangat.

"Mama..." gumam Kael lirih di dalam tidurnya.

Di dalam mimpi itu, sang mama tampak sedang mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang saat ia masih kecil, mengajarinya membaca, dan memeluk tubuhnya erat-erat saat ia menangis. Wanita itu adalah satu-satunya cahaya suci dalam hidup Kael, sebelum dunia yang kejam mengubah dirinya menjadi sebuah senjata pembunuh yang dingin.

Kemudian, bayangan hangat itu perlahan mulai memudar, digantikan oleh suara ledakan mahadahsyat yang memekakkan telinga. Detik itu juga, Kael tersentak bangun.

"Hah... hah..."

Napas Kael memburu pendek-pendek dengan sangat berat. Seluruh tubuh kekarnya basah kuyup oleh cucuran keringat dingin. Matahari pagi bahkan belum terbit, dan ruangan kecil di Poskesdes masih dilingkupi kegelapan yang pekat.

Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Kael tidak lagi merasa bingung ataupun kehilangan arah seperti hari-hari sebelumnya. Labirin di otaknya telah runtuh, karena ia sudah mengingat semuanya setidaknya hampir seluruh lembaran hidupnya.

Ia tahu siapa dirinya yang sebenarnya, tahu dari mana ia berasal, tahu mengapa tubuhnya dipenuhi bekas luka mematikan, dan yang paling mengiris hatinya... ia tahu pasti bahwa dirinya bukanlah orang baik-baik.

Kael menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan tatapan mata yang kosong. Selama beberapa menit, ia hanya duduk diam membisu di tepi ranjang besi, mengingat kembali seluruh dosa dan jalan hidup kelam yang pernah dilaluinya selama ini.

✨✨✨✨

Pagi harinya, Hana langsung bisa menyadari adanya perubahan drastis pada sikap Kael. Pria itu endgame tetap keluar untuk membantu aktivitas warga desa seperti biasa; tetap bersikap sopan dan tetap tenang. Namun, ada sesuatu yang terasa sangat berbeda.

Itu terlihat dari tatapan matanya yang kini berubah menjadi sangat tajam, sikap tubuhnya yang waspada, dan cara bicaranya. Semuanya terasa jauh lebih dingin dan berjarak. Seolah-olah, ada sebuah tembok tebal tak terlihat yang mendadak muncul membentengi diri Kael hanya dalam waktu semalam.

Saat Hana melangkah mendekat untuk menyerahkan gelas berisi obat rutinnya, Kael hanya menerimanya dengan sebuah anggukan singkat yang kaku.

"Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Hana, mencoba mencairkan suasana.

"Baik," jawab Kael pendek.

Suaranya terdengar sangat datar dan terlalu singkat. Hana seketika mengernyitkan keningnya dengan heran. Biasanya, Kael akan membalas pertanyaannya dengan seulas senyum tipis atau candaan kecil untuk mencairkan suasana. Namun hari ini tidak ada sama sekali. Seolah-olah, pria di depannya ini telah kembali berubah menjadi orang asing yang dingin.

Menjelang siang, langit biru bersih membentang tanpa awan, memancarkan sinar matahari yang kian meninggi dan menghangatkan udara pesisir.

Namun, kehangatan cuaca itu tidak mampu meredakan kebingungan Hana yang semakin mendalam terhadap perubahan sikap Kael. Bahkan, Pak Syukur yang kebetulan lewat sempat ikut berkomentar.

"Anak muda itu kenapa? Mengapa hari ini dia lebih banyak diam?" tanya Pak Syukur berbisik.

"Aku juga tidak tahu, Pak," sahut Hana sambil menghela napas panjang.

Kael memang tidak melakukan kesalahan apa pun hari ini. Namun, atmosfer di sekitar tubuhnya telah berubah total. Ada gurat kesedihan mendalam yang tidak terlihat, dan ada beban berat yang seolah sedang ia pikul sendirian tanpa pernah ia ceritakan. Hal itu tak pelak membuat Hana merasa sangat khawatir.

Namun, suasana tegang itu mendadak mencair ketika seorang gadis kecil melangkah masuk ke halaman. Rani. Seperti biasa, bocah mungil itu muncul dengan mendekap erat buku gambar kesayangannya. Begitu matanya menangkap sosok Kael yang sedang duduk terdiam di depan teras Poskesdes, wajah Rani langsung berbinar gembira.

Ia berlari-lari kecil menghampiri, lalu tanpa ada rasa ragu sedikit pun, tangan mungilnya langsung menarik-narik ujung baju Kael. Kael perlahan menundukkan kepala, menatap lurus ke arah wajah polos anak yang telah menyelamatkan hidupnya itu. Dan untuk pertama kalinya sepanjang hari yang dingin itu, sorot mata Kael yang tajam tampak melunak.

Rani dengan cepat menuliskan sesuatu di atas lembaran bukunya, lalu menyodorkannya ke depan wajah Kael.

Jalan-jalan?

Kael menatap tulisan cakar ayam itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Baik," sahut Kael lembut.

Dari kejauhan di balik jendela, Hana memperhatikan seluruh interaksi tersebut. Dokter muda itu langsung menyadari satu hal penting. Meski Kael tampak sengaja menarik diri dan menjauh dari semua warga desa... pria itu tidak pernah bisa menjauh ataupun bersikap dingin kepada Rani.

Mereka berjalan menyusuri pantai saat hari mulai beranjak temaram.

Langit di ufuk barat perlahan berubah warna, melukis gradasi merah muda dan ungu yang syahdu di atas cakrawala. Air laut yang mulai pasang memantulkan sisa-sisa cahaya terakhir, berkilauan jernih setiap kali riak gelombang menyentuh bibir pantai. Suasana pesisir yang meneduhkan itu perlahan mengikis ketegangan yang sejak pagi menggelayuti pundak tegap Kael.

Rani tampak berlari-lari kecil dengan riang, sesekali berputar menghindari buih-buih putih ombak yang menyapu kakinya yang telanjang. Sementara Kael berjalan beberapa langkah di belakang, menjaga jarak protektif seraya mengedarkan pandangan ke laut lepas. Untuk pertama kalinya sejak seluruh memori kelamnya terkumpul, ia akhirnya bisa menghirup napas dengan lega.

Tiba-tiba, Rani menghentikan langkahnya dan berjongkok di dekat barisan rumput laut yang terdampar. Jemari mungilnya memungut sebuah cangkang kerang berukuran kecil dengan perpaduan warna putih kebiruan yang sangat cantik. Matanya langsung berbinar indah. Ia membersihkan sisa pasir yang menempel dengan hati-hati, lalu berbalik dan berlari kencang kembali ke arah Kael.

Dengan senyuman lebar yang sangat manis, Rani mengulurkan telapak tangan mungilnya, menyodorkan kerang tersebut. Kael meraih benda kecil itu dari tangan Rani.

"Untukku?" tanya Kael.

Rani mengangguk cepat dengan penuh semangat. Kael memandangi kerang putih kebiruan di telapak tangannya. Itu hanyalah sebuah benda pantai yang sederhana dan sama sekali tidak memiliki nilai berharga.

Namun, entah mengapa... dada Kael mendadak berdesir dan terasa sangat hangat sebuah perasaan tulus yang sudah teramat sangat lama tidak pernah ia rasakan di dunia kelamnya.

Perlahan, sebuah lengkungan senyum tipis yang tulus akhirnya kembali terukir di wajah tegas Kael. Sebuah senyuman hangat yang sempat menghilang sepenuhnya sejak ia mengingat masa lalunya yang berdarah. Melihat hal itu, Rani langsung tersenyum semakin lebar dan melonjak gembira.

Pada detik itulah, Kael menyadari satu kebenaran di dalam hatinya. Meskipun masa lalunya dipenuhi oleh lumuran darah, kekejaman, dan kegerangan malam yang gelap.

Desa Sekar dan orang-orang di dalamnya telah memberikan sesuatu yang belum pernah ia miliki seumur hidupnya: sebuah kehangatan, arti dari sebuah keluarga, dan sebuah alasan kuat untuk tetap bertahan hidup sebagai manusia.

Namun, jauh di lubuk batinnya yang paling dalam, Kael juga tahu sebuah konsekuensi nyata. Cepat atau lambat, orang-orang berbahaya dari masa lalunya pasti akan kembali datang mengejarnya. Dan ketika hari yang mengerikan itu tiba, ia harus membuat sebuah pilihan besar yang mutlak.

Apakah ia akan memilih kembali menjadi Kael yang dulu sebagai senjata pembunuh berdarah dingin... ataukah ia akan menggunakan seluruh kemampuan mematikannya demi melindungi orang-orang di desa ini yang telah memberinya sebuah kehidupan baru?

Bersambung...

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!