Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktunya Telah Tiba
Pemandangan matahari terbenam di balik hamparan pohon teh menjadi satu-satunya kemewahan yang ia miliki. Di sana, di tengah kesunyian pegunungan, ia sering berbicara pada perutnya.
"Nanti kalau kamu lahir, kamu akan jadi anak yang kuat, sayang. Kita akan tinggal di sini sampai hutang kakekmu lunas. Setelah itu, mama akan membawamu melihat dunia, tapi bukan dunia yang jahat itu." bisiknya pelan.
Ashela begitu lelah, seluruh energinya ia curahkan untuk bekerja dan menjaga kesehatan. Ia mulai belajar menjahit secara otodidak dari kain-kain perca yang diberikan warga, membuat selimut kecil dan kaos kaki untuk bayinya nanti. Setiap tusukan jarum adalah doa yang ia sematkan untuk masa depan anaknya.
Meski hidupnya terbatas secara materi, Ashela merasa lebih kaya daripada saat ia berada di Jakarta.
Di sini, ia memiliki harga diri yang ia bangun dengan keringatnya sendiri. Ia tidak lagi dipandang sebagai pelayan atau anak yatim piatu yang berhutang tapi di sini ia adalah mama Asha, wanita pejuang yang dicintai oleh warga desa karena keteguhannya.
Namun, di balik ketenangan itu, Ashela tahu bahwa waktu terus berjalan. Persalinan sudah di depan mata.
Dan ia tahu, suatu saat nanti, rahasia yang ia simpan rapat-rapat ini mungkin tidak akan selamanya terkunci di lereng Sukabumi.
Tapi untuk saat ini, selama kabut masih menyelimuti kebun teh setiap pagi, Ashela merasa aman.
Ia adalah pohon yang sedang menguatkan akarnya, bersiap menghadapi badai apa pun demi melindungi bunga yang sebentar lagi akan mekar di rahimnya.
...****************...
Malam itu, langit Sukabumi seolah tumpah. Hujan badai menghantam atap seng kontrakan kecil Ashela dengan bunyi yang memekakkan telinga. Angin kencang bersiul di celah-celah dinding papan, membawa uap dingin yang menembus hingga ke tulang.
Namun, dinginnya cuaca malam itu sama sekali tidak terasa bagi Ashela. Tubuhnya justru bersimbah keringat, dan wajahnya pucat pasi menahan gelombang rasa sakit yang datang semakin intens.
Ashela meremas pinggiran kasur lantainya hingga buku-buku jarinya memutih. Sejak sore tadi, perutnya terasa mulas yang luar biasa, namun ia pikir itu hanya kontraksi palsu seperti yang dialaminya beberapa hari lalu.
Namun, saat cairan hangat mulai merembes membasahi kain sarungnya diikuti rasa nyeri yang menjalar dari pinggang ke perut bagian bawah, ia sadar kalau waktunya telah tiba.
"Uh... shhh... Nak, sebentar ya... tahan..." rintih Ashela, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu.
Ia sendirian. Di tengah badai yang memutus aliran listrik desa hingga keadaan menjadi gelap gulita, Ashela harus berjuang untuk bangkit. Ia meraba-raba mencari lilin dan korek api yang sudah ia siapkan di samping bantal.
Dengan tangan gemetar, ia menyalakan api kecil yang menari-nari ditiup angin. Cahaya remang itu memperlihatkan wajah Ashela yang penuh peluh dan gurat penderitaan.
Rasa sakit itu kembali menghantam. Kali ini lebih kuat, seolah-olah rahimnya sedang diremas oleh tangan raksasa. Ashela mengerang, tubuhnya melengkung menahan beban yang tak tertahankan.
Ia mencoba merangkak menuju pintu, bermaksud memanggil Mak Esih yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter. Namun, setiap gerakan kecil terasa seperti sayatan pisau di perutnya.
"Ma-Mak... Mak Esih..." suaranya tertelan oleh bunyi guntur yang menggelegar.
Beruntung, insting seorang ibu tua memang tajam. Mak Esih yang khawatir karena lampu di kontrakan Ashela tidak kunjung menyala, datang menembus hujan dengan payung daun pisang.
Saat pintu kayu itu terbuka, Mak Esih terpekik melihat Ashela yang sudah terduduk lemas di lantai sambil memegangi perutnya.
"Ya Allah, Neng Asha! Sudah mau lahir?!" Mak Esih segera mendekat, memapah tubuh Ashela kembali ke kasur.
"Sabar ya, Neng. Emak panggilkan Bi Ijah bidan desa sekarang juga!" seru Mak Esih dengan khawatir.
"Jangan, Mak... hujan lebat... bahaya..." cegah Ashela dengan napas tersengal.
"Tidak bisa, Neng! Kamu mau melahirkan sendirian? Tunggu di sini, jangan mengejan dulu!" Mak Esih berlari keluar dengan langkah seribu, mengabaikan dingin yang menusuk.
Ashela kembali ditinggal dalam kesunyian yang mencekam. Lilin di pojok ruangan mulai meleleh, menciptakan bayang-bayang panjang di dinding. Di saat itulah, pikiran Ashela melayang ke Jakarta.
Di ambang rasa sakit yang membuat nyawanya terasa di ujung tanduk, ia teringat wajah Elvano. Ia teringat betapa dinginnya pria itu, dan betapa hangatnya ia saat mendekapnya malam itu, semuanya menjadi satu dan rasa sakit ini adalah bukti hebatnya dulu Elvano menanamkan benih di dalam rahimnya.
"Ayahmu tidak di sini, Nak..." bisik Ashela sambil terisak. "Hanya ada mama. Kamu harus kuat, Ibu juga harus kuat." lirihnya mencoba tegar.
Satu jam berlalu seperti seribu tahun. Bi Ijah akhirnya datang dengan pakaian basah kuyup, membawa tas medis kecilnya. Keadaan Ashela sudah melemah.
Pembukaannya sudah hampir lengkap, namun posisinya sangat sulit karena Ashela sudah terlalu banyak membuang tenaga untuk menahan sakit sendirian tadi.
"Ayo, Neng Asha. Ikuti instruksi Bi Ijah. Tarik napas panjang... buang perlahan..." ucap Bi Ijah dengan tenang namun tegas.
"Sakit, Bi... tidak kuat..." keluh Ashela. Tubuhnya terasa seperti akan terbelah menjadi dua.
Rasa sakit itu bukan hanya fisik. Itu adalah akumulasi dari rasa lelah bekerja di kebun teh, beban hutang yang belum lunas, dan luka batin karena harus membesarkan anak tanpa sosok suami. Semua rasa itu seolah memuncak malam ini, menguji batas ketahanannya sebagai manusia.
"Neng, ingat bayinya. Dia ingin melihat dunia. Dia butuh ibunya yang kuat!" seru Mak Esih sambil terus menyeka keringat di dahi Ashela dengan kain basah.
Ashela memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan wajah ayahnya, wajah ibunya, dan masa depan bayi itu berputar di benaknya. Ia tidak boleh menyerah di sini. Jika ia mati, siapa yang akan melindungi anak ini? Siapa yang akan membayar hutang keluarganya?
"Sekarang, Neng! Mengejan yang kuat!" perintah Bi Ijah.
Ashela berteriak sekencang-kencangnya, suara teriakannya bersaing dengan gemuruh petir di luar sana. Ia mengerahkan seluruh sisa energi yang ia miliki. Rasa panas menyambar di seluruh tubuhnya. Matanya berkunang-kunang, dan kesadarannya mulai naik turun.
Di titik itu, Ashela benar-benar merasa sedang berdiri di antara garis hidup dan mati. Ia merasa seolah nyawanya ditarik keluar perlahan demi memberikan jalan bagi nyawa baru.
"Sekali lagi, Neng! Kepalanya sudah terlihat! Ayo sedikit lagi!" seru Bi Ijah.
Ashela mencengkeram kain sprei dengan kekuatan terakhirnya. Ia tidak lagi peduli pada rasa perih yang luar biasa atau tubuhnya yang terasa remuk.
Yang ada di pikirannya hanyalah satu yaitu bayinya harus lahir dengan selamat. Dengan satu hentakan napas yang panjang dan teriakan yang memecah kesunyian malam, ia memberikan segalanya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
karna biasanya perempuan menggunakan logika dari pada perasaan...
asyilla cobalah menggunakan hati mu untuk leo
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
next...