NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17. Ruang antara dan makan kekosongan

Perjalanan kali ini tidak mengarah ke timur, barat, utara, maupun selatan. Berdasarkan petunjuk yang muncul dari halaman buku catatan yang mulai memancarkan cahaya samar, kami melangkah memasuki jalur yang tidak terlihat oleh mata biasa sebuah celah tipis yang terbuka di udara, persis di tengah jalan yang menghubungkan seluruh wilayah. Begitu melewatinya, suasana berubah secara total.

Di sekeliling kami tidak lagi ada tanah, pohon, atau langit. Kami berdiri di sebuah ruang luas berwarna abu-abu netral, tanpa sinar matahari maupun kegelapan, tanpa panas maupun dingin, dan sama sekali tanpa suara. Inilah Ruang Antara tempat yang berada di sela-sela segala sesuatu, tempat di mana kekosongan itu bersembunyi dan berusaha merasuki kembali dunia yang telah kami perbaiki.

“Rasanya seperti berdiri di dalam mimpi yang tidak memiliki awal maupun akhir,” gumam Zarek sambil memandangi sekeliling dengan waspada. “Kalau berdiam diri terlalu lama, rasanya pikiran sendiri bisa ikut menjadi kosong.”

Valgus mengangguk setuju, matanya mengamati setiap gerakan halus di udara. “Di sini aturan biasa tidak berlaku. Jarak tidak dapat diukur, waktu tidak berjalan. Segala sesuatu hanya ada jika kita menyadari keberadaannya. Di sinilah bagian terakhir dari kekosongan itu berdiam.”

Liora mengangkat tangannya, memancarkan cahaya lembut yang menyebar membentuk lingkaran pelindung di sekeliling kami. Cahayanya terlihat jelas, namun tidak memantul ke mana pun, ia hanya berada di tempatnya, seolah tidak ada ruang untuk memantulkan pantulan.

Tiba-tiba, dari segala arah muncul gumpalan-gumpalan kabut abu-abu yang jumlahnya jauh lebih banyak dan lebih padat dibandingkan yang kami temui di Pusat Dunia. Kabut itu berputar perlahan, lalu menyatu membentuk satu wujud besar yang menjulang tanpa batas. Suaranya terdengar seperti ribuan bisikan yang bergema bersamaan, datar dan tanpa emosi.

“Kalian kembali lagi… Namun untuk apa? Kalian telah memberikan tempat bagi segala sesuatu. Kalian telah mengisi setiap ruang dengan makna, tujuan, dan cerita. Lalu mengapa masih ada tempat untukku? Aku tidak memiliki nama, tidak memiliki wujud, dan tidak memiliki keindahan. Aku hanyalah sisa yang tidak dibutuhkan.”

Leon melangkah maju dengan tenang, tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia meletakkan buku catatannya di telapak tangan, lalu membukanya lebar-lebar untuk memperlihatkan halaman-halaman yang penuh tulisan dan sketsa.

“Kau salah mengira,” jawab Leon dengan suara yang jelas dan tegas, namun tetap lembut. “Kami tidak datang untuk mengusirmu, juga tidak datang untuk mengisi segalanya hingga tidak tersisa ruang sedikit pun. Kami datang untuk menjelaskan bahwa justru karena keberadaanmu, segala sesuatu yang lain dapat ada dan memiliki makna.”

Wujud itu berputar lebih cepat, seolah bingung mendengar kata-kata tersebut. “Apa maksudmu? Jika aku ada, maka tidak ada apa-apa. Jika ada apa-apa, maka aku tidak boleh ada. Bukankah itu aturannya?”

“Aturan itu hanya ada dalam pikiran kita yang terbatas,” jawab Leon. “Cobalah pahami: dalam sebuah lukisan, bukan hanya warna dan garis yang membuatnya indah. Ada ruang kosong di antaranya yang membuat mata dapat beristirahat dan memahami bentuknya. Dalam sebuah lagu, bukan hanya nada yang terdengar yang membentuk melodi , ada jeda hening di antaranya yang membuat nada itu terasa lebih hidup. Dalam sebuah cerita, ada bagian yang diceritakan, namun ada juga bagian yang tidak terucapkan, yang membuat pembaca dapat membayangkan dan menafsirkannya sendiri.”

Leon melangkah lebih dekat, tanpa rasa takut meski kabut itu terasa semakin dingin dan mulai menyelimuti tubuhnya.

“Kau bukanlah ketiadaan yang menghancurkan,” lanjutnya. “Kau adalah ruang yang memungkinkan terjadinya perubahan. Jika segala sesuatu terisi penuh hingga tidak ada celah sedikit pun, tidak akan ada tempat untuk tumbuh, bergerak, atau memulai hal baru. Kau adalah tempat di mana kemungkinan lahir, tempat di mana sesuatu yang lama dapat pergi agar digantikan oleh yang baru. Kau memiliki peran yang setara dengan segala hal yang telah ada.”

Saat berbicara, Leon mulai membacakan satu per satu kisah yang tertulis di dalam bukunya. Ia menceritakan bagaimana Hutan Kosong berubah menjadi Hutan Kenangan, bagaimana kesunyian di Pegunungan Suara berubah menjadi alunan lagu, serta bagaimana kebosanan di Kota Permata berubah menjadi semangat berkarya. Namun ia juga menjelaskan bahwa perubahan itu hanya dapat terjadi karena ada ruang kosong yang siap menerima hal-hal baru.

“Tanpa ruang kosong, kita tidak dapat menulis kalimat baru. Tanpa ruang di antara bintang, langit tidak akan terlihat luas dan megah. Tanpa jeda di antara napas, kita tidak dapat terus hidup. Kau bukanlah lawan dari makna, kau adalah pendampingnya.”

Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, cahaya dari buku catatan itu menyebar perlahan, bukan untuk menghilangkan kabut abu-abu itu, melainkan untuk menyatu dengannya. Kabut itu tidak menyusut atau lenyap, melainkan berubah sifatnya. Warnanya yang semula kusam kini menjadi abu-abu yang lembut dan bersih, bergerak dengan tenang dan teratur, tidak lagi berputar dalam rasa hampa.

Wujud besar itu kini terasa lebih damai, dan suaranya berubah menjadi alunan yang lembut serta menenangkan.

“Baru sekarang aku mengerti… Selama ini aku merasa terbuang karena tidak memiliki wujud yang dapat dilihat atau dipegang. Namun ternyata keberadaanku tidak harus terlihat agar menjadi berharga. Aku adalah latar yang membuat segala sesuatu tampak jelas, dan tempat beristirahat bagi segala hal yang merasa lelah.”

“Benar sekali,” kata Liora sambil tersenyum lembut. “Kaulah kesunyian yang membuat suara menjadi lebih berarti, dan kaulah kegelapan yang membuat cahaya terasa lebih terang. Dunia ini membutuhkan keduanya isi dan ruang, ada dan tidak ada agar tetap seimbang selamanya.”

Kami pun tinggal di Ruang Antara itu selama beberapa hari, berbicara dan memahami hakikat kekosongan yang kini telah mengerti perannya. Ia memperlihatkan bahwa di dalam dirinya tersimpan segala kemungkinan yang belum terwujud: tempat-tempat baru yang dapat diciptakan, cerita yang belum dimulai, serta perasaan yang belum pernah dirasakan. Ia bukan lagi tempat yang kosong dan hampa, melainkan lautan luas yang menampung segala harapan masa depan.

Ketika kami memutuskan untuk kembali, wujud itu bergerak seolah melambaikan tubuhnya yang menyerupai asap dengan gerakan yang lembut.

“Terima kasih telah memandangku bukan sebagai masalah, melainkan sebagai bagian yang utuh. Mulai hari ini, aku akan menjaga keseimbangan. Aku akan memberikan ruang tanpa berusaha mengambil alih, dan akan menunggu tanpa merasa kesepian. Kapan pun kalian membutuhkan tempat untuk memulai sesuatu yang baru, ingatlah bahwa aku selalu ada di sela-sela segala sesuatu.”

Begitu kembali ke dunia biasa, kami segera melihat perubahannya. Noda hitam di buku catatan telah hilang sepenuhnya, berganti dengan halaman kosong yang bersih dan siap diisi kembali. Di kejauhan, alunan lagu dari Pegunungan Suara kembali terdengar indah, salju di Gunung Es turun dengan teratur, dan pasir di Kota Permata berhenti menimbun jalanan. Semua tempat kembali tenang, namun kali ini ketenangan itu bukan karena tidak ada yang bergerak, melainkan karena telah tercipta keseimbangan yang sempurna.

Malam itu, saat kami duduk bersama di taman istana, Leon menatap halaman kosong di bukunya dengan senyum lebar.

“Akhirnya semuanya benar-benar lengkap,” katanya. “Dulu aku berpikir tugasku hanyalah mengisi apa yang kurang. Namun ternyata tugas terbesarku adalah memahami bahwa segala sesuatu bahkan yang terasa paling tidak berharga sekalipun memiliki tempat dan maknanya masing-masing.”

Zarek menepuk pundaknya dengan riang. “Nah, kalau begitu sekarang kita bisa benar-benar bersantai, bukan? Tidak ada lagi tempat yang bermasalah, tidak ada lagi makhluk yang bingung. Kita tinggal menikmati hidup saja!”

Valgus tersenyum tipis, matanya menatap langit malam yang bertabur bintang. “Boleh bersantai, namun ingat! cerita tidak pernah benar-benar berakhir. Selama masih ada ruang kosong dan kemungkinan baru, akan selalu ada hal-hal menarik yang menanti untuk ditulis dan dijalani.”

Liora menggenggam tangan Leon erat, matanya bersinar penuh kebahagiaan. “Dan kali ini, kita tidak perlu khawatir menjalaninya sendirian. Kita saling memiliki, dan kita juga memahami tempat masing-masing dalam cerita yang lebih besar ini.”

Angin malam berhembus lembut, membawa alunan musik dari kota dan aroma bunga yang sedang mekar. Di halaman kosong buku catatan itu, meski belum ada tulisan apa pun, terasa sudah ada cerita yang siap tumbuh dengan kebebasan, keseimbangan, dan makna yang akan terjaga selamanya.

1
Sarah
Nah, lebih baik tentang masa mempelajari ilmu gaib dan sihir itu ditunjukkan, gimana asal-muasalnya dia tahu tentang hal itu, prosesnya gimana, pas dia masukin leon ke dunia ceritanya itu gimana... soalnya kalau gak ada flashback kerasa kurang aja dan sulit dibayangkan. Aku berharap author mempertimbangkan saranku ini.
Sarah
Ughh, dalem banget lagi pertanyaannya...
Sarah
Wah... rupanya dia masih memiliki seseorang di dunia asal. Ini pasti jadi akhir arc 1 nih. 😮
Sarah
Aku rasa... aku sepemikiran tentang, “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁
Sarah
Aku sering penasaran, apa dia gak punya siapa-siapa dan hidupnya hampa atau tersiksa banget yah di dunia modern sampai bisa gampang banget bilang iya untuk tinggal di sana tanpa pikir panjang.
Sarah
Udah mulai gak inget dunia modern kah?
Rafi Hafizh
bagus ceritanya 👍
Ananda Anggit
🤭🤭
Ananda Anggit
siap ka, terimakasih saran nya 😁🙏
Sarah
Ya kalau dateng... kalau gak ada yang dateng? Basi dong. /Sweat/
Sarah
Aku juga sudah menduganya. 😂
Sarah
Aduhhh, Leon dipuji mulu tiap bab sama heroine nya ini. 😁
Sarah
Ceritanya lucu banget. 😁
Sarah
Kalau nama awalannya harus huruf kapital yah, “Leon”
Sarah
Ketika catatan penulis yang biasa ada di dalam kurung di tengah-tengah cerita jalan... beneran masuk ke cerita. 😂
Sarah
Bagus, cuma... ini pov orang ketiga (narator) sama pov orang pertama (Leon alias MC) yang konsisten yah. Kalau mau ganti pov tandain dulu. Biar gak bikin bingung. Atau tandain kata kayak “Pikirnya”, “Batinnya”, “Ucapnya dalam hati” untuk nunjukkin apa yang ada di otak Leon.
Ananda Anggit: iya sekali lagi makasih ya kak 😁
total 3 replies
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author 😍
Ananda Anggit
🥳🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!