NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31: Bayangan Gelap yang Belum Padam

Suara sorak sorai kemenangan masih bergema di seluruh sudut kota. Wajah Pak Surya sudah diborgol dan digiring keluar gedung besar itu, diiringi makian dan teriakan keadilan dari ribuan orang yang sudah lama menderita di bawah kekuasaannya. Raga berdiri tegak di tangga gedung, tangan erat menggenggam tangan Lira, napasnya terasa lega luar biasa—rasa beban berat yang menindas mereka bertahun-tahun seolah sudah terangkat seluruhnya.

“Kita berhasil, Raga… Dia sudah tertangkap, semuanya sudah selesai,” bisik Lira dengan suara bergetar bahagia, matanya berkaca-kaca memandang wajah suaminya.

Raga tersenyum lembut, membelai lembut pipi istrinya, namun di kedalaman matanya masih tersisa sedikit keraguan yang tak bisa ia sembunyikan.

“Kelihatannya begitu, sayang… Tapi hati kecilku bilang, ada sesuatu yang belum selesai. Pak Surya memang otak utamanya, tapi dia bukan satu-satunya orang yang tahu semua rahasia Lingkaran Emas. Organisasi ini sudah berjalan puluhan tahun, ada banyak orang di balik layar yang namanya tidak pernah terungkap, yang posisinya bahkan lebih tinggi dan lebih berkuasa darinya.”

Lira mengerutkan kening, rasa cemas kembali menyelinap di hatinya.

“Maksudmu… Masih ada orang lain di balik semua ini?”

Raga mengangguk pelan, matanya menatap tajam ke arah rombongan mobil polisi yang membawa Pak Surya pergi menjauh.

“Benar. Saat kami mengumpulkan dokumen bukti, ada beberapa nama yang sengaja dihapus, ada catatan transaksi yang tidak bisa dilacak asal tujuannya, ada perintah tertulis yang tanda tangannya disamarkan. Pak Surya hanyalah orang yang menjalankan perintah, ada ‘Tuan Besar’ yang tidak pernah menampakkan wajahnya, yang selama ini bekerja diam-diam di balik bayangan.”

Belum sempat Lira menjawab, Dani bergegas mendekat dengan wajah tegang, tangan memegang selembar kertas catatan yang baru saja ia dapatkan dari tim penyidik.

“Tuan Muda… Ada hal aneh yang baru kami temukan. Saat kami menggeledah ruang rahasia Pak Surya, kami menemukan brankas tersembunyi yang isinya sudah kosong melompong. Tidak ada dokumen penting, tidak ada uang, tidak ada barang berharga sama sekali. Seolah-olah semuanya sudah dipindahkan jauh-jauh beberapa hari sebelum kami datang.”

Mata Raga menyipit tajam, firasat buruknya semakin menjadi kenyataan.

“Dan satu hal lagi,” tambah Dani dengan suara pelan dan serius. “Saat kami melakukan interogasi pada anak buah Pak Surya yang ditangkap, ada satu kata yang sering mereka sebut saat ketakutan: ‘Roh Kuno’. Mereka bilang, kalau Pak Surya jatuh, ‘Roh Kuno’ yang akan bangkit dan membalaskan dendam, dan kali ini tidak akan ada yang selamat.”

Darah Lira terasa dingin seketika. Nama itu terdengar asing, tapi ada rasa ngeri yang samar-samar terasa di hatinya, seolah ia pernah mendengarnya di suatu tempat, jauh di sudut ingatan masa lalunya yang masih samar.

“Roh Kuno…?” gumam Lira pelan. “Kenapa nama itu terasa begitu menakutkan… seolah aku pernah mendengarnya dulu, saat aku masih kecil…”

Raga segera memeluk bahu Lira erat, berusaha menenangkan meskipun hatinya sendiri sudah penuh kewaspadaan tinggi.

“Jangan takut, sayang. Apapun itu, siapapun mereka, selama kita bersama, kita akan hadapi semuanya. Tapi ini membuktikan dugaanku benar: perjuangan kita belum selesai. Kita baru saja memotong kepala depan, tapi akar pohon kejahatan ini masih tertanam kuat di dalam tanah, dan bisa tumbuh lagi kapan saja kalau tidak kita cabut sampai habis.”

Malam itu, mereka kembali ke rumah besar keluarga Ardiansyah—rumah yang dulu penuh tawa dan kebahagiaan, yang sempat kosong dan sepi bertahun-tahun, kini kembali hangat dan hidup. Namun suasana di dalamnya masih terasa serius. Raga, Dani, dan beberapa orang kepercayaan duduk mengelilingi meja besar, meneliti peta dan dokumen yang tersisa, mencari petunjuk tentang siapa sebenarnya sosok di balik nama ‘Roh Kuno’ itu.

“Menurut catatan sejarah bisnis ayahku,” kata Raga sambil menunjuk satu bagian di buku tua tebal, “Organisasi Lingkaran Emas sudah ada sejak sebelum ayahku lahir. Awalnya hanya sekelompok pedagang kaya yang bersatu, tapi lama-kelamaan mereka berubah menjadi kekuatan gelap yang menguasai banyak hal. Ayahku pernah bilang, pendiri aslinya adalah orang-orang yang sangat licik dan punya koneksi sampai ke tingkat tertinggi, dan mereka punya aturan: tidak pernah menampakkan wajah asli pada orang luar.”

“Jadi selama ini kita hanya melawan ekor dan kakinya saja?” tanya Dani dengan nada kesal. “Sementara kepala yang sesungguhnya masih bersembunyi aman di tempat yang tidak terjangkau?”

“Tepat sekali,” jawab Raga tegas. “Dan sekarang, karena Pak Surya sudah tertangkap, sosok ‘Roh Kuno’ itu pasti sudah tahu bahaya yang mengancam. Dia tidak akan diam saja. Dia akan bergerak, mungkin lebih kejam, lebih licik, dan lebih berbahaya dari apa yang pernah kita hadapi selama ini.”

Saat jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam, tiba-tiba lampu di seluruh rumah besar itu berkedip-kedip beberapa kali, lalu padam seketika, meninggalkan mereka dalam kegelapan total.

“APA TERJADI?!” seru Dani cepat, tangan segera meraba mencari senter di meja.

Namun sebelum sempat ada yang bergerak, dari luar jendela yang besar, terdengar suara gesekan benda keras di kaca, disusul suara bisikan yang pelan, berat, dan seram, terdengar jelas masuk ke dalam ruangan yang sunyi itu.

“Raga Ardiansyah… Lira… Kalian pikir kalian sudah menang? Kalian baru saja membangunkan sesuatu yang sebaiknya tetap tidur selamanya… Sekarang, bayangan gelap akan menutupi hidup kalian, dan tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang cukup aman untuk kalian sembunyi…”

Suara itu lenyap secepat ia muncul, disusul suara tawa dingin yang menggigilkan tulang belakang, yang perlahan menghilang terbawa angin malam.

Lira yang duduk di samping Raga, langsung merapatkan tubuhnya erat pada suaminya, jantungnya berdegup kencang ketakutan. Raga sendiri mengepal tangannya erat, keringat dingin keluar di pelipisnya. Suara itu bukan suara Pak Surya, bukan suara orang yang pernah ia kenal. Suara itu terdengar tua, kasar, dan penuh kebencian yang sudah terpendam selama ratusan tahun.

Saat itu juga, lampu kembali menyala terang seperti semula, seolah tidak pernah padam sama sekali. Tapi di atas meja tengah, tepat di depan mata mereka semua, sudah tergeletak selembar kertas hitam dengan tulisan berwarna merah darah, yang tidak ada di sana sedetik yang lalu:

Permainan baru baru saja dimulai. Kalian pikir kalian bebas? Salah besar. Ini baru permulaan. — Roh Kuno

Raga mengangkat kertas itu dengan tangan gemetar, matanya menatap tulisan itu tajam penuh amarah dan kewaspadaan.

“Mereka sudah masuk ke sini… Di tengah rumah kita sendiri, di tengah penjagaan ketat… Mereka lebih dekat dari yang kita kira,” bisik Raga pelan.

Ia menoleh ke arah semua orang yang ada di sana, wajahnya kembali tegas dan dingin, tekadnya kembali membara.

“Dengar baik-baik! Mulai sekarang, jangan ada yang lengah sedetik pun! Musuh yang sebenarnya baru saja muncul. Dia cerdas, licik, dan tahu persis cara berpikir kita. Kita tidak boleh lagi bergerak sembarangan, kita harus lebih hati-hati, lebih cerdik, dan lebih kuat dari sebelumnya. Kita tidak hanya melawan satu orang, tapi melawan sejarah kejahatan yang sudah berakar puluhan tahun!”

Lira memegang tangan Raga erat, tatapannya tegas meskipun hatinya masih berdebar.

“Ada aku di sini, Raga. Kita hadapi mereka lagi, sampai akar terakhir mereka hancur.”

Raga mengangguk, mencium punggung tangan istrinya.

“Benar. Kali ini kita tidak akan berhenti, sampai nama Roh Kuno lenyap selamanya dari muka bumi.”

Di luar sana, bulan purnama tertutup awan hitam tebal, angin malam bertiup kencang menggoyangkan pepohonan, seolah alam pun tahu bahwa badai yang jauh lebih besar, jauh lebih gelap, dan jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya, baru saja mulai bergulir.

Perjuangan mereka belum selesai. Justru, perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

 

(Bersambung ke Episode 32)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!