NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Klik.

Lampu merah di atas pintu ruang operasi mendadak berkedip, berubah menjadi hijau seiring dengan terbukanya pintu logam tebal tersebut.

Deacon seketika menutup laptop militernya dan bangkit berdiri.

Wajahnya menegang saat melihat dokter ahli bedah keluar dengan guratan kecemasan yang jelas di dahi, diikuti oleh seorang perawat yang membawa beberapa berkas medis tambahan.

"Bagaimana operasinya, Dokter? Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Deacon langsung, menyuarakan kekhawatiran yang sejak tadi ditahannya.

Dokter itu menghela napas panjang sembari melepas masker bedahnya.

"Situasinya mendadak menjadi sangat rumit, Tuan Deacon. Kami terpaksa menghentikan sementara tindakan pada patah tulang kaki Ibu Jihan karena kondisi fisiknya yang tidak stabil di atas meja operasi."

"Apa yang terjadi?" tuntut Deacon dengan suara baritonnya yang dalam dan mengintimidasi.

"Pasien mengalami lonjakan tekanan darah yang sangat tinggi akibat trauma psikologis dan fisik yang hebat sebelum kecelakaan," jelas dokter itu dengan tenang namun serius.

"Selain itu, karena Ibu Jihan memiliki postur tubuh yang subur, lapisan jaringan adiposa atau lemak di sekitar area paha dan betis yang terdampak benturan mengalami memar dalam (kontusi) yang parah. Ini menyumbat aliran darah dan memicu risiko emboli lemak yang bisa fatal bagi jantungnya."

Dokter itu menyodorkan sebuah papan klip berisi surat pernyataan darurat.

"Untuk menyelamatkan nyawanya dan melanjutkan reposisi tulang kakinya, tim medis harus melakukan tindakan darurat berupa operasi pengangkatan sebagian jaringan lemak yang rusak di area tersebut terlebih dahulu. Ini adalah situasi yang sulit dan berisiko, namun tidak ada pilihan lain."

Deacon sempat tertegun. Otak intelijennya dengan cepat menimbang segala risiko yang ada.

Keadaan ini benar-benar kritis; Jihan sedang bertaruh nyawa di dalam sana, terpisah belasan ribu kilometer dari suaminya yang sah. Namun, Deacon tahu ia tidak boleh ragu sedikit pun.

Jika ia menunda, nyawa wanita berhati malaikat itu akan melayang.

Tanpa ragu lagi, Deacon menganggukkan kepalanya dengan tegas.

"Lakukan apa pun yang terbaik untuk menyelamatkannya, Dokter. Saya bertanggung jawab penuh atas dirinya."

Dengan gerakan mantap, Deacon menyambar pena dan menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi darurat tersebut di atas baris penanggung jawab.

Setelah menerima berkas itu, dokter dan perawat segera berbalik dan kembali berlari masuk ke dalam ruang operasi untuk berpacu dengan waktu, meninggalkan Deacon yang kembali berdiri mematung sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat, berdoa demi keselamatan Jihan.

Sementara itu, jauh di belahan bumi lain di dalam kamar utamanya yang megah namun terasa sunyi, Darren terbaring lemah di atas tempat tidur.

Kamar yang biasanya menjadi saksi kehangatan rumah tangganya, kini terasa dingin bak ruang hampa.

Dengan tangan yang masih bergetar akibat sisa demam dan duka, Darren memandangi sebuah foto pernikahan berbingkai emas di atas nakas, menampilkan dirinya dan Jihan yang tengah tersenyum bahagia.

Air mata pria paruh baya itu kembali luruh, membasahi bantal sutranya.

"Maafkan aku, Jihan. Andai saja aku tidak cemburu seperti itu, pasti kamu saat ini masih ada di sini, di sampingku..." bisik Darren dengan suara parau penuh penyesalan terdalam.

Tok... Tok...

Pintu kamar terbuka perlahan. Angela masuk membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas air putih.

Langkah kaki gadis muda itu terasa berat melihat kondisi sang ayah yang tampak begitu hancur.

Di dalam lubuk hatinya, Angela sebenarnya tidak pernah tahu tentang rencana busuk dan kejam kedua kakak lakil-lakinya, Andre dan Riko, yang sengaja menyewa Albert untuk menghabisi Jihan di tebing itu.

Angela memang memiliki ego tersendiri; meskipun ia juga membenci Jihan sebagai ibu tirinya, ia tidak pernah menginginkan atau membayangkan sebuah tragedi sampai harus seperti ini.

Baginya, kematian atau hilangnya Jihan di dasar jurang adalah ketakutan yang teramat mengerikan.

"Pa, ayo makan dulu. Sejak kemarin Papa belum menelan makanan apa pun," ucap Angela lembut sambil meletakkan nampan di atas meja kecil di samping tempat tidur.

Darren memalingkan wajahnya lambat, menatap putrinya dengan pandangan kosong.

"Papa tidak lapar, Angela. Bawa saja keluar," tolak Darren dengan suara lemah, sama sekali tidak memiliki gairah untuk hidup.

Angela duduk di tepi ranjang, menatap ayahnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

Ia meraih jemari tangan Darren yang terasa dingin.

"Papa, tolong jangan begini. Kalau Papa jatuh sakit, siapa lagi yang akan menunggu kabar pencarian di tebing?" lirih Angela, mencoba membujuk.

"Papa. kasihan Mama Jihan. Kalau Mama Jihan melihat Papa seperti ini dari sana, dia pasti akan sangat sedih..."

Mendengar penuturan Angela yang menyebut nama Jihan dengan sebutan 'Mama', dada Darren serasa dihantam godam besar.

Rasa bersalahnya semakin menggunung, menyadari bahwa ketidaksabarannya telah menghancurkan wanita tulus yang kini entah berada di mana di dasar jurang maut tersebut.

Belum sempat Angela menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar utama itu mendadak terbuka kasar.

Andre dan Riko melangkah masuk dengan raut wajah yang sengaja dibuat layu dan penuh duka, sebuah akting yang telah mereka latih dengan sangat matang sejak dari luar.

Melihat nampan makanan yang dibawa Angela masih utuh, Andre menghela napas panjang dan mendekati sisi ranjang Darren.

"Papa, ada hal penting yang harus kami sampaikan dari lokasi tebing tadi," ucap Andre, membuka suara dengan nada yang berat seolah membawa kabar paling kelam.

Darren langsung menegakkan tubuhnya yang lemah, matanya melebar dipenuhi seberkas harapan yang rapuh.

"Bagaimana? Apa mereka, berhasil menemukan Jihan?" tanya Darren dengan suara gemetar.

Riko menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menatap sang ayah dengan tatapan penuh kepalsuan.

"Papa harus merelakan Mama Jihan sekarang. Tim SAR di lokasi sudah menghentikan pencarian fisik karena medan yang terlalu berbahaya dan tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi. Tim SAR sudah mengatakan kalau Mama meninggal dunia akibat benturan hebat dan terseret arus liar di bawah sana, Pa."

"Nggak! Itu nggak mungkin!" bentak Darren, meski suaranya terdengar pecah dan parau.

"Ini kenyataan, Pa," potong Andre, mencondongkan tubuhnya untuk mulai menyuntikkan racun provokasi.

"Lebih baik Papa segera mengurus surat kematian Mama Jihan ke pengadilan dan kepolisian sekarang juga. Kita harus realistis. Berita hilangnya istri seorang CEO Bramantyo Corporation sudah mulai diendus media. Demi stabilitas saham perusahaan dan ketenangan arwah Tante Jihan, surat kematiannya harus segera diterbitkan agar semua urusan hukum dan birokrasi selesai."

Mendengar kata 'surat kematian' yang diucapkan begitu enteng oleh kedua putranya, dada Darren seketika terasa sangat sesak seakan pasokan oksigen di kamar itu mendadak lenyap.

Jantungnya berdegup tidak beraturan, dihantam kenyataan pahit yang dipaksakan masuk ke dalam logikanya.

Ia mencengkeram dadanya yang nyeri, napasnya memburu kembung-kempis menahan sesak yang teramat sangat.

"Keluar...!" desis Darren di sela-sela napasnya yang tersedat.

"Tapi Pa, surat kematian ini—" Riko mencoba mendesak lagi.

"KUBILANG KELUAR!!" teriak Darren histeris dengan sisa tenaga yang dimilikinya, lalu melemparkan bantal ke arah kedua putranya.

Angela yang ketakutan melihat kondisi ayahnya yang semakin kritis langsung berdiri menengahi.

"Mas Andre, Mas Riko, keluar! Papa sedang sesak napas! Jangan bahas itu dulu!" usir Angela sambil mendorong kedua kakaknya keluar dari kamar.

Di luar pintu, Andre dan Riko hanya saling melirik dan tersenyum sinis.

Bagi mereka, sesak napasnya Darren adalah bonus yang bagus.

Semakin cepat mental pria tua itu hancur, semakin cepat mereka bisa mengambil alih kendali penuh atas takhta Bramantyo Corporation.

"Papa! Papa, dengarkan Angela! Tarik napas perlahan, Pa!" jerit Angela histeris melihat tubuh kekar ayahnya kini kejang menahan sesak.

Wajah Darren yang semula pucat pasi kini mulai berubah membiru di sekitar bibirnya.

Kedua tangannya mencengkeram sprei ranjang dengan sangat kuat, sementara dadanya naik turun dengan tidak beraturan.

Pria perkasa itu tampak seperti tenggelam di daratan, berjuang mati-matian hanya untuk menghirup secuil udara.

"Ji... Jihan..." parau Darren di sela-sela cekatannya, sebelum akhirnya kedua matanya berputar ke atas dan tubuhnya mendadak lemas tak berdaya.

Darren tidak sadarkan diri akibat pasokan oksigen yang terputus ke otaknya.

"Papa!!" Tangisan Angela pecah seketika. Panik dan ketakutan menyelimuti benak gadis muda itu.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Angela merogoh ponselnya dari saku rok dan langsung menghubungi nomor dokter pribadi keluarga Bramantyo yang biasa menangani kesehatan Darren.

"Dokter! Tolong ke kamar Papa sekarang juga! Papa sesak napas parah dan sekarang pingsan, Dok! Cepat, aku mohon!" teriak Angela dalam tangisnya, mengabaikan segala formalitas.

Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit bagi Dokter gunawan—yang kebetulan sedang bersiap di klinik internal mansion—untuk berlari naik ke kamar utama bersama dua perawat.

Mereka langsung menerobos masuk, membawa tabung oksigen portabel dan tas peralatan medis darurat.

"Nona Angela, tolong mundur sebentar. Berikan ruang untuk kami bekerja," perintah Dokter Gunawan tegas seraya langsung menempelkan stetoskop ke dada Darren.

Dokter Gunawan memeriksa denyut nadi di leher Darren, lalu dengan cekatan memasangkan masker oksigen bertekanan tinggi ke wajah sang CEO.

"Tekanan darahnya melonjak drastis, ini serangan asma traumatik yang dipicu oleh syok berat pada jantungnya! Siapkan suntikan epinefrin sekarang!" instruksi dokter kepada perawat dengan cepat.

Angela berdiri mematung di sudut kamar, meremas kedua tangannya sendiri yang dingin sembari terus terisak.

Ia menatap nanar ke arah ayahnya yang dipasangi berbagai selang medis.

Di dalam hatinya, Angela merasa sangat hancur dan bersalah.

Ia tidak pernah tahu bahwa kebencian yang selama ini ia pelihara bersama kakak-kakaknya terhadap Jihan, justru akan berakhir dengan kehancuran fisik dan mental sang ayah kandung seperti ini.

Suasana di dalam kamar utama perlahan-lahan mulai mendingin setelah ketegangan yang mencekam selama hampir setengah jam.

Dokter Gunawan dengan telaten menyeka keringat yang bercucuran di dahi Darren, sementara mesin bedside monitor portabel yang dipasang mulai mengeluarkan bunyi detak jantung yang jauh lebih teratur.

Wajah Darren yang semula membiru akibat kekurangan oksigen kini berangsur-angsur kembali normal, meski matanya masih terpejam rapat di balik masker oksigen yang mengembun.

Pria paruh baya itu kini berada dalam pengaruh obat penenang dosis tinggi agar jantungnya bisa beristirahat.

Dokter Gunawan menghela napas panjang, merapikan kembali stetoskopnya, lalu berbalik menatap Angela yang masih berdiri gemetar di sudut ruangan dengan mata yang bengkak karena terus menangis.

"Nona Angela, mari kita bicara di luar sebentar," bisik Dokter Gunawan dengan nada suara yang sangat serius.

Angela mengangguk lemah, lalu mengikuti langkah kaki sang dokter keluar dari kamar utama menuju selasar koridor yang sepi, jauh dari jangkauan dengar Darren maupun kedua kakaknya.

Begitu pintu kamar tertutup rapat, Dokter Gunawan langsung menatap Angela dengan pandangan lurus.

"Kondisi Tuan Darren kali ini benar-benar berada di ambang batasnya, Nona. Saya berhasil menstabilkan detak jantung dan pernapasannya untuk saat ini, tetapi ini adalah peringatan terakhir dari tubuhnya."

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Papa, Dok?" tanya Angela dengan suara parau yang menyedihkan.

"Tuan Darren mengalami syok kardiogenik akut yang diperparah oleh serangan asma traumatik. Jantungnya melemah secara drastis karena tekanan batin yang luar biasa besar," jelas Dokter Gunawan tanpa tedeng aling-aling.

Dokter senior keluarga Bramantyo itu mencengkeram papan klip medisnya dengan erat sebelum melanjutkan dengan kalimat yang membuat seluruh sendi di tubuh Angela terasa lolos.

"Saya harus memperingatkan Anda dengan

sangat serius, Nona Angela. Mulai detik ini, jangan pernah memberikan tekanan psikologis apa pun lagi kepada Tuan Darren. Beliau tidak boleh mendengar kabar mengejutkan, berita duka, atau provokasi yang memancing emosinya. Jika sampai hal seperti tadi terulang kembali dalam waktu dekat, taruhannya adalah nyawa. Kalian akan kehilangan Tuan Darren selamanya."

Kata-kata 'kehilangan selamanya' bagai petir yang menyambar di siang bolong bagi Angela.

Penyesalan yang mendalam seketika merayap dan mencengkeram dadanya.

Angela tahu betul siapa yang baru saja memprovokasi ayahnya hingga seperti ini—siapa lagi kalau bukan Andre dan Riko dengan tuntutan surat kematian Jihan mereka.

Sambil mengepalkan jemarinya yang dingin, Angela bersumpah di dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan kedua kakaknya mendekati kamar sang ayah lagi untuk sementara waktu.

Ia tidak ingin kehilangan satu-satunya orang tua yang tersisa dalam hidupnya.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!