NovelToon NovelToon
Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:674.1k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.

Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.

"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."

"Dasar tidak waras!"

"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."

Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.

"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"

Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bocah Keramat

Raisa baru saja mematikan lampu tidur di nakas, membiarkan suasana kamar diselimuti pendar temaram yang menenangkan. Ia baru saja berniat untuk merebahkan tubuhnya yang terasa kaku setelah seharian mendampingi Zira. Namun, belum sempat kepalanya menyentuh bantal, pintu kamar terbuka perlahan. Sosok Xander muncul di ambang pintu dengan wajah lelah yang tampak begitu kentara.

Raisa segera mengurungkan niatnya untuk tidur. Ia beranjak berdiri, menghampiri suaminya yang tengah melepaskan jaket kulitnya dengan gerakan lambat.

"Baru pulang jam segini? Habis dari mana, Mas?" tanya Raisa lembut sembari mengambil jaket dari tangan suaminya untuk diletakkan di keranjang pakaian kotor.

"Ke makam Bang Abra," sahut Xander singkat.

Gerakan tangan Raisa seketika terhenti. Ia menoleh, menatap suaminya yang kini telah menjatuhkan tubuhnya di sofa sudut kamar, menyandarkan kepala sembari memejamkan mata seolah sedang melepas beban ribuan ton dari pundaknya.

"Untuk apa ke sana malam-malam begini?" tanya Raisa bingung. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di samping pria yang telah menemaninya melewati berbagai badai kehidupan itu.

Merasakan kehadiran istrinya, Xander perlahan membuka mata. Manik matanya yang biasanya tajam dan penuh wibawa, kini meredup, menatap Raisa dengan lekat dan penuh kasih sayang yang dalam.

"Untuk meminta maaf," bisik Xander dengan nada suara yang parau. Ada gurat kekecewaan yang ia tujukan pada dirinya sendiri di sana.

"Minta maaf?" kening Raisa berkerut, ia masih belum menangkap sepenuhnya apa yang dimaksud oleh suaminya.

Xander menghela napas panjang yang terasa sangat berat. Ia meraih jemari Raisa, mengelusnya dengan ibu jari dengan sangat lembut sebelum kembali menatap wajah wanita itu. "Meminta maaf karena telah gagal menjaga putrinya. Gagal memberikan kebahagiaan untuk Zira, dan gagal memilih suami yang tepat untuknya. Aku telah memberikan Zira pada orang yang salah, Raisa. Dan itu adalah kesalahanku, meski aku tahu aku tidak bisa sepenuhnya memegang kendali atas takdir," ucap Xander dengan nada penuh penyesalan yang membuat Raisa tertegun.

Raisa segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak pemikiran suaminya. "Bukan, Mas. Ini bukan salahmu. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kamu lihat sendiri bagaimana Raka saat awal mendekati Zira dulu? Dia tampak seperti seorang pria yang sangat baik, santun, dan sangat mencintai Zira. Tapi kenyataannya, dia justru mengkhianati kepercayaan itu. Ini bukan salah siapa-siapa, jadi tolong jangan salahkan dirimu sendiri."

Xander merasa Zira adalah amanah besar yang diberikan Abra, ayah kandung Zira kepadanya. Seorang putri yang pastinya sangat dicintai oleh mendiang pria itu, apalagi Zira adalah anak tunggal. Xander merasa telah menjaga Zira dengan segenap kemampuannya hingga hari pernikahan wanita itu. Namun, mendengar kabar kehancuran rumah tangga putrinya membuat egonya sebagai pelindung merasa gagal total.

"Kalau saja dulu aku tidak mengizinkan Zira menikahi Raka ... kalau saja aku lebih teliti ... semuanya mungkin tidak akan seburuk ini. Aku seharusnya menjaganya dari pria yang akhirnya memberikannya luka sedalam lautan. Mungkin sekarang Zira terlihat baik-baik saja di depan kita, tapi kita tidak tahu bagaimana hancurnya keadaan dia yang sebenarnya di dalam sana, Sayang," ucap Xander dengan tatapan yang menyiratkan rasa bersalah yang teramat dalam.

Raisa pun merapat, memeluk suaminya dengan erat. Ia mengelus dada bidang Xander dengan lembut, mencoba menyalurkan ketenangan. Meski usia mereka sudah paruh baya, Xander tetaplah Xander yang dulu, seorang pria yang memikul rasa tanggung jawab yang luar biasa besar atas orang-orang yang ia cintai. Padahal, secara biologis, Zira bukanlah putri kandungnya, namun cintanya jauh melampaui ikatan darah.

"Aku sudah bicarakan ini dengan Zira, dia sudah merelakan apa yang terjadi. Dia juga merasa bahwa ini adalah bagian dari perjalanan hidupnya. Aku pun pernah berada di posisi Zira dulu, Mas, walau tidak selama dia. Rasanya menunggu itu memang lelah. Tapi biarlah Zira menjalani hidup yang dia mau sekarang, kita cukup menjadi tempatnya pulang," ucap Raisa dengan senyuman tipis yang menguatkan.

Xander terdiam sejenak, memikirkan sesuatu sebelum bersuara lagi. "Kayden ... dia masih sangat mencintai Zira, bukan? Aku takut kehadirannya justru membuat Zira merasa tidak nyaman dengan perasaannya yang belum sembuh."

Raisa tersenyum penuh arti, menatap kedua mata suaminya dengan jenaka. "Kayden itu sama denganmu, Mas."

"Sama denganku? Maksudmu?" tanya Xander bingung.

"Ya, sama-sama sangat suka dengan istri orang," goda Raisa.

"Hey! Aku tidak merebutmu dari suamimu ya! Aku ini memenangkanmu dengan cara jantan!" pekik Xander yang seketika membuat tawa Raisa pecah memenuhi kamar.

BRAK!

PRANG!

Raisa dan Xander tersentak kaget. Mereka menoleh secara serempak ke arah pintu kamar setelah mendengar suara benda jatuh yang cukup keras di luar sana. Tanpa membuang waktu, keduanya segera berlari ke arah pintu dan membukanya dengan cepat.

Sontak, keduanya berdiri terpaku melihat dua bocah perempuan yang tengah menunduk dalam, menatap sebuah toples kaca berisi biskuit yang sudah pecah berantakan di atas lantai.

"Sedang apa kalian di sini malam-malam?" tanya Xander berpura-pura marah. Ia berkacak pinggang dan menatap kedua bocah itu dengan mata yang disempitkan, mencoba mengintimidasi.

Zayra dan Raya mendongak pelan, menatap Xander yang sedang melototi mereka. Raya menyikut lengan Zayra, memberikan kode agar anak itu yang memberikan penjelasan.

"Begini loh o kakek belondong, Zayla cama Kak La ..."

"Kakek berondong?!" pekik Xander dengan tatapan tak percaya. Harga dirinya sebagai pria gagah seolah merosot seketika.

"Iya kan, Papa belondong ini kakek belondong, otak Zayla nda lagi muntabel kok," ucap Zayra dengan wajah polos tanpa dosa yang membuat Xander menganga lebar, sementara Raisa sudah tidak kuat lagi menahan tawa di belakangnya.

"Mana ada otak muntaber, Zayraaa! Kamu memungut istilah itu dari mana? Dari kentang rebus?!" pekik Xander dengan nada syok yang berlebihan.

Dengan gerakan polos, Zayra menggeleng perlahan. "Bukan, dali cingkong bakal."

"Hah?!" Raisa memegangi perutnya yang mulai sakit karena tertawa, sementara Raya hanya melongo melihat kelakuan teman barunya. Ternyata ada anak yang jauh lebih ajaib daripada dirinya sendiri.

"Punya saudala kelamat aku lupanya," gumam Raya pelan sambil geleng-geleng kepala.

Xander memijat pangkal hidungnya, berusaha memanggil sisa-sisa kesabarannya yang mulai menipis. "Raya, mana papamu? Kenapa kalian berkeliaran di sini?" tanya Xander pada cucunya itu.

"Lagi susuin adek Laya lah, kenapa? Opa mau di susuin juga?" celetuk Raya dengan wajah tanpa ekspresi yang membuat dunia Xander seakan runtuh seketika.

"ARGHHHH! Kenapa lagi-lagi aku dipertemukan dengan bocah keramat di dalam hidupkuuuuu!" pekik Xander frustrasi, sementara Raisa sudah terduduk lemas di lantai karena tertawa saking tidak tahannya dengan kelakuan cucu-cucunya.

_________________________

Hp ku mati seharian kemarin guys, untungnya bisa di servis😭 pake laptop kaku banget jariku😭 maap yah🥹 hari ini aku up agak banyakan ganti yang kemarin okay

1
bunda n3
aku pun berharap semoga ada keajaiban
Dcy Sukma
Vier udh sembuh dr anti bakterinya y..😄
udh ga segan lg gendong anak org..
Ita rahmawati
itulah keuntungannya nikah SM yg udah dewasa dn berpengalaman 😂
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 iya byk drama si zay
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aduuuhhhh si lebay
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Lilik Lailiyah
dikit amat thor
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ketus amat zay
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
reaksi zayra adalah reaksi ku ke suami ketika aku bilang enggak dan di anggap enggak beneran 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
hahaha xavier udah kayak suami aku, bukan modelan yg bakal begging gt bagi dia ya dia udah nanya atau nawarin kalo di jawab enggak ya bagi dia literally enggak 😆
Asri Indah Nur 'Aini
pliiissss lah Thor, Zira udah banyak sedihnya dari kecil, jangan dibikin sedih lagi hanya gegara masalalunya bang Kay yang ga jelas itu 😭
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: bukan sedih cuma lagi akting berdlama dia ditinggal bulan madu Papanya mantan berondong karatan🤣biasa jiwa anak-anak nya keluar pengen diperhatikan juga makanya caper dia kak🤣
total 1 replies
Hanima
👍👍
nuraeinieni
kenapa tdk jujur saja sih kay,ntar zira tau,jadi masalah.
Hasanah Purwokerto
Haish...kirain dilepas,,ternyata oh..ternyata...😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Zira malu malu harimau...😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Nessa
akhirnya si brondong g perjaka lagi 😆😆🤪
Nessa
jangan jadi pelakor y sop cinta g bisa di paksakan 😁🤭
Nessa
napa g jujur aja sih kay 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!