NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:844
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Seorang gadis berseragam rapi dengan balutan blazer berwarna biru tua berjalan menyusuri koridor lantai dua. Langkahnya tenang, teratur, seperti biasa namun hari ini ada yang berbeda.

Kepalanya terus menunduk.

Tidak seperti biasanya yang berjalan dengan dagu sedikit terangkat dan tatapan lurus ke depan, hari ini Nayla Arabella justru menghindari dunia.Atau lebih tepatnya menghindari tatapan dunia.

Sepasang kacamata hitam bertengger di wajahnya, menutupi sebagian besar area mata. Rambut panjangnya sengaja dibiarkan jatuh ke depan, menambah perlindungan yang sebenarnya rapuh.Namun tetap saja semua pasang mata tertuju padanya.

Bisik-bisik mulai terdengar.

Pelan.

Namun cukup untuk menusuk.

“Lihat deh… Nayla pakai kacamata hitam lagi.”

“Bukan pertama kali kan?”

“Iya, tapi biasanya nggak di dalam sekolah…”

“Apaan sih? Gaya banget.”

Langkah Nayla tidak berhenti. Ia sudah terbiasa.Atau setidaknya ia memaksa dirinya untuk terbiasa.

Di balik kacamata hitam itu, matanya terasa perih. Bengkak. Berat. Sisa-sisa tangis semalam belum sepenuhnya hilang, ditambah kurang tidur yang membuat pandangannya sedikit berkunang-kunang.

Ia tidak ingin orang lain melihat itu.

Tidak ingin mereka tahu bahwa Nayla Arabella gadis yang katanya sempurna itu bisa terlihat lemah. Karena jika mereka tahu, mereka tidak akan diam. Dan Nayla tidak punya tenaga lagi untuk menghadapi itu.

“Kalau mereka lihat… habis gue,” batinnya lirih.

Ia mengeratkan pegangan pada tasnya. Langkahnya sedikit dipercepat. Namun suara-suara itu tetap mengikuti. Seperti bayangan.

Tidak bisa dihindari.

Tidak bisa dihilangkan.

Semalam, Nayla tidak tidur.

Bukan karena ia ingin belajar.

Bukan karena ia ambisius.

Melainkan karena ia dipaksa.

Bagus Raharja, ayahnya tidak memberinya pilihan.

“Belajar sampai jam dua.”

Kalimat itu bukan perintah, melainkan kewajiban dan Nayla harus menaatinya.

Ia duduk di meja belajar, ditemani buku-buku tebal yang terasa seperti beban, bukan ilmu. Matanya berat. Kepalanya pusing. Tubuhnya lelah.

Namun ia tidak boleh berhenti. Karena di balik pintu ada seseorang yang mengawasinya. Bukan ayahnya langsung, melainkan ajudan yang ditugaskan khusus.Seolah Nayla adalah tahanan yang harus dijaga.

Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, suara ketukan di pintu akan terdengar.

“Masih belajar, Nona?”

Dan Nayla harus menjawab.

“Iya.”

Selalu begitu.

Sampai akhirnya jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari.

Dan tubuhnya nyaris roboh.

---

“Nayla.”

Suara itu memecah lamunannya.Nayla berhenti tepat di depan pintu kelas.

Ia menoleh perlahan.

Seorang guru laki-laki berdiri beberapa langkah darinya, membawa beberapa buku paket di tangan.

“Iya, Pak?” jawab Nayla dengan suara yang sudah ia latih agar terdengar normal.

Guru itu menatapnya sebentar, mungkin memperhatikan kacamata hitam yang ia pakai, tapi tidak berkomentar.

“Istirahat pertama nanti ke ruangan Bapak, ya.”

Deg.

Nayla sudah mendugan ayahnya pasti sudah menghubungi guru itu. Tentang ulangan harian yang ia lewatkan kemarin.

Tidak ada toleransi.

Tidak ada pengecualian.

Meskipun ia pingsan.

Meskipun ia tidak sarapan.

Meskipun tubuhnya tidak sanggup.

Ia tetap harus mengikuti.

Nayla mengangguk pelan.

“Iya, Pak.”

Senyum tipis ia tampilkan.

Palsu.

Namun cukup untuk menutupi segalanya.

Guru itu mengangguk, lalu berlalu.

Dan Nayla kembali berjalan.Namun belum sampai ia benar-benar masuk kelas, sebuah tangan tiba-tiba bergerak cepat. Kacamata hitamnya ditarik. Dilepas paksa dan dilempar sembarangan.

“UPS! Maaf… gue sengaja.”

Suara itu.

Nada itu.

Nayla tidak perlu melihat untuk tahu siapa pelakunya.Namun tetap saja, ia menoleh. Dan benar Deviana Agnesia, perempuan dengan senyum sinis yang seolah selalu siap menyulut masalah.

Ia menutup mulutnya pura-pura terkejut. Namun matanya penuh kepuasan.

Nayla menggeram pelan, tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Ia ingin, sungguh ingin menampar wajah itu.Namun ia menahan diri  karena ia tahu satu gerakan salah saja akan berakhir buruk.

“Hello semuanya! Sini deh!” seru Deviana dengan suara lantang. “Coba lihat matanya Nayla!”

Seolah mendapat undangan menarik, siswa-siswi yang berada di koridor langsung mendekat.

Rasa penasaran manusia memang tidak ada batasnya.

Satu per satu mereka mengerubungi.

Menatap.

Mengamati.

Menilai.

Seperti Nayla adalah tontonan.

Seperti ia bukan manusia.

Nayla menunduk.

Cepat-cepat menutup sebagian wajahnya dengan tangan. Namun terlambat, mata itu sudah terlihat bengkak, menghitam di bawahnya dan kusam tidak seperti biasanya.

“Wow… ternyata itu alasannya.”

“Oh, pantes pakai kacamata.”

“Mata panda banget, sumpah.”

Tawa mulai terdengar.

Bisik-bisik berubah menjadi komentar terang-terangan.

Tanpa filter.

Tanpa empati.

“Ambisi sih ambisi, tapi jangan sampai kayak gitu juga.”

“Kayaknya pengen banget dipuji ya sampai segitunya.”

“Nilai doang yang dikejar, diri sendiri nggak diurus.”

“Ih, serem deh lihatnya.”

Setiap kata seperti lemparan batu mengenai Nayla tanpa henti. Ia diam menerima semuanya tanpa perlawanan. Namun di dalam sesuatu mulai retak.

Azalea, yang berada di dalam kesadarannya, bisa merasakan semuanya.

Rasa malu.

Rasa sakit.

Rasa marah.

Dan rasa tidak berdaya.

“Kenapa mereka jahat banget…” batin Azalea.

Ia ingin berteriak.

Ingin menghentikan semuanya.

Namun ia tidak bisa.

Karena tubuh ini bukan miliknya. Namun kali ini, berbeda Nayla perlahan mengangkat kepala. Tangannya turun dari wajah, ia tidak lagi berusaha menutupi. Karena percuma, semua sudah melihat dan untuk pertama kalinya ia memilih untuk menghadapi. Tatapannya tajam langsung mengarah ke Deviana.

“Mau lo apa sih, Dev?” suaranya tegas, meski sedikit bergetar. “Cukup ya lo terus-terusan mempermalukan gue kayak gini.”

Kerumunan sedikit terdiam, tidak menyangka Nayla akan membalas.Padahal biasanya ia hanya diam.

“Padahal lo yang paling tahu tentang gue,” lanjut Nayla. “Tapi kenapa lo pura-pura nggak ngerti?”

Deviana tersenyum miring, seolah menikmati setiap detik ini.

Nayla menarik napas berusaha mengontrol emosinya. “Harusnya lo juga sadar,” katanya lagi, “selama ini lo yang selalu mulai. Tapi ujung-ujungnya lo juga yang ngadu ke nyokap lo. Seolah gue yang salah.”

Suasana mulai memanas, beberapa siswa saling pandang. Namun, tidak ada yang membela Nayla.

Tidak ada.

“Dan setelah ini,” suara Nayla mulai melemah, “gue lagi yang bakal dimarahin di rumah.”

“Dih,” cibir seseorang dari kerumunan. “Playing victim.”

Tawa kembali pecah. Seolah apa pun yang Nayla katakan tidak akan pernah benar.

Sejak kejadian beberapa bulan lalu, saat Nayla dituduh mendorong Deviana dari tangga , semuanya berubah.

Tidak ada yang percaya padanya.

Tidak ada yang mau mendengar.

Padahal itu bukan dia.

Namun siapa yang peduli?

Tidak ada bukti.

Tidak ada saksi yang membela.

Yang ada hanya cerita dari Deviana dan itu cukup.

Hari itu, hari ketika semua berubah Nayla pulang dengan tubuh gemetar. Dan di rumah ia tidak mendapat pembelaan, ia mendapat hukuman.

Dipukul.

Dihajar.

Sampai akhirnya ia masuk rumah sakit selama beberapa hari.

Sendirian.

Tanpa kunjungan.

Tanpa perhatian.

Tanpa kasih sayang.

Dan saat itu tidak ada yang peduli.

Tidak ada.

Kecuali Endra.

Hanya dia yang datang.

Hanya dia yang menjaga.

Hanya dia yang ada.

Dan mungkin itulah alasan kenapa Nayla tidak bisa melepaskannya. Meskipun Endra juga menyakitinya, meskipun Endra juga membuatnya menangis. Namun, di saat semua orang pergi, Endra tetap ada. Dan bagi Nayla itu sudah cukup. Meski sebenarnya itu tidak sehat, itu tidak benar. Namun Nayla tidak tahu lagi mana yang benar.Yang ia tahu, ia tidak ingin sendirian lagi.

Di koridor itu, di tengah tawa dan ejekan Nayla berdiri.

Sendirian.

Namun kali ini ia tidak menunduk lagi. Ia menatap semua orang satu per satu dengan mata yang masih bengkak, dengan hati yang masih luka. Namun dengan sesuatu yang berbeda, keberanian kecil yang akhirnya muncul. Dan di dalam dirinya Azalea merasakan itu. Untuk pertama kalinya Nayla tidak hanya bertahan. Ia mulai melawan, meski kecil, meski rapuh. Namun itu adalah awal.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!