Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Merindu
Angkasa sudah berdiri di balkon kamarnya, menatap ke arah langit malam yang gelap. Setelah sebelas tahun berpisah, Nia tetap Nia yang sama seperti yang dia kenal saat masih anak-anak —ceria, hangat, dan disukai banyak orang.
"Bumi, Tirta, Bayu..." gumam Angkasa.
Ingatan Angkasa melayang ke masa empat belas tahun yang lalu, di minggu-minggu pertama dia tinggal di panti. Nia yang hampir setiap hari tak lepas dari kertas dan pensil, pagi itu —sebelum semua anak yang lain bangun— sudah duduk di tangga teras sambil menghadap timur. Angkasa, yang selalu tak bisa tidur nyenyak, sudah bangun lebih awal dari yang lain dan menemukan Nia sudah sibuk menggoreskan pensil di atas kertas di pangkuannya.
Angkasa masih mengingatnya dengan jelas, bagaimana mata Nia menatap obyek yang dia gambar —tajam, teliti, dan detail. Waktu itu, Angkasa berjalan perlahan mendekati Nia yang sedang fokus menggambar, agar tidak mengganggu konsentrasinya. Angkasa duduk di belakang Nia dalam diam. Nia sama sekali tak menyadari kehadirannya.
Angkasa melongok, mengintip apa yang sedang Nia gambar. Mata Angkasa membulat dalam takjub. Angkasa kembali melirik ke arah Nia. Masih fokus. Sisi wajahnya yang serius itu membuat Angkasa tertegun.
Lama keduanya duduk di teras, hingga anak-anak yang lain bangun. Suasana riuh tak membuat konsentrasi Nia pecah. Dia semakin kuat menggoreskan pensilnya pada kertas.
"Nia, ayo main!" ajak Lia, gadis sebayanya waktu itu. Nia hanya mendongak sebentar, menatap Lia sambil tersenyum.
"Sebentar lagi aku selesai," kata Nia. Lia lalu berlalu. Nia kembali fokus pada gambarnya.
"Nia, kamu lagi apa?" tanya Topan, anak laki-laki yang kelihatannya seusia mereka.
"Gambar," jawab Nia tanpa menghentikan tangannya menggerakkan pensil.
"Waaah.... Bagus banget!!" puji Topan.
"Apa? Apa yang bagus?" tanya Guntur —anak yang kelihatannya lebih tua satu atau dua tahun daripada mereka— sambil berlari mendekat.
"Itu... gambar Nia," kata Topan sambil menunjuk gambar Nia. Guntur melongok.
"Hmmm... Bagus sih," puji Guntur setengah-setengah.
Topan dan Guntur kemudian duduk di samping kanan dan kiri Nia, memperhatikan Nia yang masih sibuk menggambar. Sesekali Topan dan Guntur mengomentari betapa hebatnya cara Nia menggambar. Angkasa mengamati dalam diam.
Tak lama kemudian, Nia mengangkat kertasnya, lalu membandingkan dengan aslinya. Senyum puas terkembang di wajahnya. Nia kemudian menoleh ke arah Angkasa, masih dengan senyum lebar di wajahnya.
"Ini. Buat kamu. Makasih udah nemenin aku dari tadi," kata Nia pada Angkasa sambil menyerahkan gambarnya yang baru saja jadi. Angkasa menerima gambar Nia dengan perasaan bingung. Topan dan Guntur saling tatap.
"Topan, Guntur, ayok main!" ajak Nia sambil berlari ke halaman panti, bergabung dengan anak-anak yang lain meninggalkan Angkasa yang menatap gambar Nia dalam diam.
Kini, Angkasa kembali menatap gambar yang sama yang baru saja dia keluarkan dari kotak kayunya saat kenangan tentang masa kecilnya muncul. Gambar matahari terbit yang penuh kehangatan cahaya pagi menyimpan memori yang sama hangatnya dengan mentari pagi kala itu.
'Apa kabar Topan dan Guntur? Aku yakin, mereka masih inget kamu, Nia,'
***
Sejak kemunculan Angkasa yang tiba-tiba di gerbang utama kampus, Nia jadi terus memikirkan tentang Angkasa. Masih menjadi misteri bagi Nia mengapa Angkasa tiba-tiba muncul disana.
"Sejak kapan?" gumam Nia sambil menatap tugas Sketsa Aktivitas Kehidupan yang baru saja dia kerjakan di depan gerbang utama.
"Jangan-jangan... seperti waktu itu," gumam Nia lagi.
Nia jadi teringat saat-saat awal Angkasa datang di panti. Angkasa duduk dan menunggu Nia yang sedang asyik menggambar matahari terbit tanpa berisik hingga Nia menyelesaikan gambarnya. Nia tersenyum mengingatnya.
"Ternyata dia tidak berubah," gumam Nia sambil menutup buku sketsanya dan meletakkannya di atas meja belajar.
Nia kemudian berjalan ke arah kanvas yang bertengger di easel. Sketsa lukisan Keluarga Mahendra menunggu untuk dipoles. Nia menghela napas panjang lalu mengikat rambutnya sembarang.
"Baiklah..." gumamnya sambil mengikat rambut.
Diambilnya celemek lukis, palet, dan cat dari kompartemen khusus alat-alat lukisnya. Dalam hitungan detik, Nia sudah menggoreskan kuas di atas sketsa yang dibuatnya.
Berbagai warna dia sapukan di atas kanvas dengan sketsa gambar Keluarga Mahendra. Dari kuning keemasan, berbagai macam warna cokelat, ungu, abu, hingga hitam dan lebih banyak lagi warna yang Nia hasilkan dari mencampur warna catnya.
Sesekali Nia terlihat mundur beberapa langkah untuk melihat hasil sapuan kuasnya. Terkadang Nia terdengar berdecak karena warna yang kurang pas di beberapa bagian.
Nia melirik jam dinding di kamarnya. Jam 22.51. Nia baru ingat bahwa dia harus meminta bantuan Bayu untuk mengantarnya ke kediaman Keluarga Mahendra untuk mengantar lukisannya hari Minggu nanti.
Nia segera mengirim pesan singkat pada Bayu.
Hari Minggu ini Kak Bayu sibuk nggak?
Baru saja Nia meletakkan ponsel di atas meja, ponselnya sudah berdering.
"Hallo, Kak?"
"Hari Minggu mau ngapain?" tanya Bayu.
"Nia minta tolong anterin ke kediaman Nyonya Mahendra, bisa?" jawab Nia.
"Kediaman Nyonya Mahendra?" tanya Bayu, memastikan.
"Um. Nganter lukisan," kata Nia.
Hening.
"Mmm... Kalo kakak sibuk, aku bisa minta tolong..."
"Kakak anter," kata Bayu memotong kalimat Nia.
"Makasih, Kak," kata Nia.
"Sama-sama. Kamu belum tidur?" tanya Bayu.
"Belum. Abis ngasih warna sketsa kemarin," kata Nia.
"Jangan tidur terlalu malem. Besok ada kuliah kan?" kata Bayu mengingatkan.
"Iya, Kak. Bentar lagi. Nanggung. Selesai blocking warna lanjut besok," kata Nia menenangkan Bayu.
"Kamu kalo udah pegang kuas suka lupa waktu," kata Bayu. Nia tertawa kecil.
Hening.
"Nia..."
"Ya, Kak?"
"You've always been so dear to me," kata Bayu, nadanya begitu lembut, sehingga membuat Nia merasakan hal lain selain kasih sayang kakak kepada adiknya.
"Makasih, Kak," ucap Nia.
"Night,"
Sambungan telepon terputus. Nia terduduk di tepi tempat tidurnya. Ditatapnya layar ponselnya. Sejak kejadian empat tahun yang lalu, sikap Bayu terhadapnya begitu menjaga, begitu melindunginya, dan... begitu menyayanginya.
Nia menoleh, menatap sketsa lukisan Keluarga Mahendra yang sudah tertutup warna dasar.
"Kamu dulu... mirip Kak Bayu, Ang. Hangat, selalu menjaga, selalu melindungi... dan..." kalimat Nia menggantung.
Nia menatap gelang persahabatannya. Ada perasaan rindu yang tak bisa Nia jelaskan. Nia mengusap layar ponselnya, mencari sebuah nama yang membuatnya merasa begitu rindu.
Nia menekan tombol pesan singkat, mengetikkan sesuatu. Namun ibu jarinya menggantung saat akan menekan tombol kirim. Nia mengurungkannya, menghapus pesan singkatnya, dan meletakkan ponselnya di atas meja belajarnya.
Nia menatap kanvasnya yang sudah tertutup warna dasar sebagian. Dia kembali mengambil kuas dan paletnya, kembali menyapukan warna-warna ke atas kanvas seolah menutupi perasaan hatinya yang tak bisa dia jelaskan saat ini.
'Aku... rindu kamu yang dulu, Ang,'
***