Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERANGKAP YANG TERBUKA DAN PERTARUNGAN YANG SULIT
Setelah mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang direncanakan oleh Hendra, mereka mencari tempat yang tersembunyi di bagian dalam bangunan untuk membahas apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Mereka duduk berkeliling, wajah mereka terlihat serius dan penuh pemikiran, karena mereka sadar bahwa apa yang akan mereka hadapi selanjutnya bukanlah hal yang mudah.
“Dari apa yang kita lihat dan dengar tadi, kita tahu bahwa ia berniat menyelesaikan segalanya besok malam saat bulan purnama,” ucap Raka sambil memikirkan segala kemungkinan yang ada. “Itu artinya kita masih punya waktu satu hari lebih sedikit untuk mencegah hal itu terjadi. Kalau kita sampai terlambat, maka akibatnya akan sangat buruk, bukan hanya bagi kita saja, tapi juga bagi seluruh rakyat dan negeri ini.”
“Tapi masalahnya, bagaimana kita bisa mendekati ruangan tempat ia melakukan persiapan itu?” tanya Rian.
“Dari apa yang aku lihat, ruangan itu dijaga sangat ketat, dikelilingi oleh pagar dan alat-alat yang membuat orang tidak bisa masuk dengan mudah. Dan di dalam sana juga pasti ada banyak hal yang bisa membahayakan nyawa kita.”
“Selain itu, kita juga harus berhati-hati, karena aku merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini,” sambung Alana sambil menatap sekeliling dengan pandangan yang waspada.
“Rasanya seperti kita sudah terlihat, dan semua yang kita lakukan dan katakan sudah diketahui oleh orang lain. Seolah-olah kita sedang digiring ke suatu tempat, dan semuanya ini sudah diatur sedemikian rupa.”
Kata-kata Alana itu membuat mereka semua terdiam dan berpikir sejenak. Apa yang dikatakannya itu ada benarnya juga. Mulai dari longsoran batu yang terjadi di lembah, sampai mereka bisa masuk ke dalam bangunan ini dengan relatif mudah, semuanya terasa berjalan terlalu lancar dan terlalu pas. Seolah-olah ada tangan yang mengatur semua kejadian itu.
Belum sempat mereka berbicara lagi, tiba-tiba lampu-lampu yang ada di sekeliling ruangan tempat mereka bersembunyi itu menyala terang benderang, membuat tempat yang tadinya remang-remang menjadi terang sepanjang masa. Dan dari segala arah, keluar banyak orang yang bersenjata lengkap, mengepung mereka dan membuat mereka tidak bisa bergerak ke mana-mana. Dan di tengah-tengah kerumunan itu, berjalanlah Hendra dengan langkah yang tegap dan wajah yang penuh senyum kemenangan.
“Selamat datang, tamu-tamuku yang terhormat,” katanya dengan nada yang terdengar sopan tapi penuh sindiran.
“Sudah lama sekali aku menunggu kedatangan kalian. Aku kira kalian tidak akan berani datang ke sini, tapi ternyata kalian benar-benar orang yang berani, atau mungkin lebih tepatnya orang yang tidak punya akal sehat.”
Melihat apa yang terjadi, mereka semua segera berdiri dan bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Raka dan yang lain berdiri di depan, melindungi orang-orang di belakang mereka, dan tatapan mereka tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, meski mereka tahu bahwa keadaan mereka saat ini sangat tidak menguntungkan.
“Ternyata benar apa yang aku rasakan,” ujar Alana dengan suara yang tenang.
“Kau sudah tahu kita akan datang, dan kau sengaja membiarkan kita masuk ke sini supaya kita bisa terperangkap seperti ini. Semua yang kita lalui di jalan itu, semuanya adalah bagian dari rencanamu, bukan?”
Hendra tertawa mendengarnya, senyumnya makin terlihat lebar.
“Kau memang gadis yang cerdas. Benar sekali. Aku sengaja membiarkan kalian datang ke sini, karena aku ingin kalian melihat dengan mata kepala sendiri apa yang akan aku capai. Aku ingin kalian tahu, bahwa apa yang aku miliki dan apa yang aku buat ini adalah sesuatu yang tidak bisa dikalahkan dan tidak bisa dihentikan oleh siapa pun juga. Aku ingin kalian melihatnya, dan kemudian mati dengan perasaan menyesal karena telah berani melawanku.”
“Kau pikir kau sudah menang ya, Hendra?” ucap Raka dengan suara yang tegas dan tidak goyah.
“Kau pikir dengan menjebak kita seperti ini, maka semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginanmu? Kau salah besar. Kemenangan itu bukan diukur dari seberapa banyak orang yang kau kendalikan atau seberapa banyak benda yang kau miliki. Kemenangan yang sejati adalah ketika kita bisa hidup dengan jujur, dengan benar, dan dengan hati yang bersih. Dan itu adalah hal-hal yang tidak pernah dan tidak akan pernah kau miliki selamanya.”
“Omongan kosong belaka!” bentak Hendra, senyum di wajahnya hilang berganti dengan ekspresi marah dan kesal.
“Kalian semua ini hanya orang-orang yang tidak tahu apa-apa! Kalian hidup dalam dunia yang penuh kepura-puraan, menyebut diri kalian orang yang baik dan benar, padahal kalian hanya hidup untuk memuaskan diri kalian sendiri saja! Dasar munafik!" lanjut Hendra mulai emosi.