Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Arga baru saja menyampirkan tas ranselnya di bahu saat sebuah lengan kokoh merangkul lehernya dengan paksa. Dia hampir saja terhuyung ke depan jika tidak segera menyeimbangkan pijakannya. Aroma parfum maskulin yang tajam bercampur bau keringat segera menyerbu indra penciumannya. Arga sudah tahu siapa pelakunya bahkan sebelum orang itu membuka mulut.
"Jangan berpikir untuk pulang lebih awal hari ini," ujar Dimas dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Arga mencoba melepaskan rangkulan itu, namun tenaga Dimas jauh lebih besar. Dia hanya ingin pulang, merebahkan diri di kamar, dan membiarkan rasa sesak di dadanya menguap perlahan. Kejadian di area logistik tadi benar-benar menguras energinya. Melihat Nala tertawa bersama Satria terasa lebih melelahkan daripada memindahkan tumpukan kardus dekorasi.
"Aku banyak tugas, Dim," dusta Arga dengan suara rendah.
Dimas mendengus kasar. Dia melepaskan rangkulannya namun tetap menghalangi jalan Arga menuju pintu kelas. Dia menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang seolah bisa menembus isi kepala Arga. Dimas tahu persis bahwa Arga hanya sedang berusaha melarikan diri dari kenyataan yang tidak menyenangkan.
"Tugas bisa dikerjakan nanti malam. Sekarang kita butuh asupan kafein dan suasana baru. Anak-anak lain sudah menunggu di Kedai Selaras. Ada Nala juga di sana," kata Dimas sambil menekankan nama terakhir.
Mendengar nama Nala disebut, pertahanan Arga goyah. Ada keinginan kuat untuk melihat gadis itu sekali lagi, meskipun dia tahu risiko melihat Satria di dekatnya juga sangat besar. Arga menghela napas panjang, sebuah tanda menyerah yang sangat disukai oleh Dimas.
Tanpa menunggu persetujuan kedua, Dimas segera menarik lengan Arga keluar dari kelas. Mereka berjalan menyusuri koridor SMA Cakrawala yang mulai sepi. Sinar matahari sore yang berwarna jingga keemasan masuk melalui celah-celah jendela, menciptakan bayangan panjang di lantai keramik yang dingin.
Kedai Selaras terletak tidak jauh dari sekolah. Tempat itu memiliki konsep terbuka dengan banyak tanaman hijau yang membuat suasana terasa sejuk. Saat mereka sampai, suara tawa yang sangat dikenal Arga sudah terdengar dari meja panjang di sudut ruangan.
Di sana, Nala duduk berdampingan dengan Rara. Di seberang mereka, Satria sedang asyik bercerita sambil menggerakkan tangannya dengan antusias. Satria memang selalu tahu cara menjadi pusat perhatian. Kehadirannya seolah membawa cahaya yang membuat orang di sekitarnya merasa nyaman.
"Nah, ini dia orang yang kita tunggu," seru Satria saat menyadari kedatangan Arga dan Dimas.
Nala menoleh ke arah pintu masuk. Matanya beradu dengan mata Arga selama beberapa detik. Ada pancaran kelegaan di sana, seolah dia memang mengharapkan kehadiran cowok itu. Namun, Arga segera memalingkan wajah dan memilih duduk di kursi paling ujung, tepat di sebelah Dimas.
Satu per satu pesanan minuman datang. Arga hanya memesan segelas kopi hitam dingin yang pahit, sangat cocok dengan suasana hatinya saat ini. Dia lebih banyak diam, mendengarkan percakapan mereka tentang rencana festival sekolah yang semakin padat.
Tania yang duduk tepat di depan Arga sesekali mencoba mengajaknya bicara. Dia mendorong sepiring camilan ke arah Arga dengan senyum manis yang tulus.
"Cobalah ini, Ga. Masih hangat," kata Tania dengan suara lembut.
Arga hanya mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih. Dia mengambil satu potong roti bakar namun tidak benar-benar menikmatinya. Pikirannya terbagi antara kenyamanan duduk di dekat Nala dan ketidaknyamanan melihat betapa akrabnya Satria dengan gadis itu.
Satria tiba-tiba menyodorkan ponselnya ke arah Nala untuk menunjukkan sesuatu. Mereka berdua mendekat, kepala mereka hampir bersentuhan saat melihat layar yang sama. Arga mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa panas menjalar di dadanya, sebuah perasaan cemburu yang coba dia tekan sekuat tenaga.
Rara yang menyadari perubahan raut wajah Arga segera berdehem keras. Dia menyenggol lengan Nala secara halus, mencoba memberikan kode agar sahabatnya itu lebih peka terhadap lingkungan sekitar.
"Nala, bukankah kau bilang tadi ada yang ingin kau tanyakan pada Arga tentang daftar barang logistik?" tanya Rara dengan nada yang sengaja dikeraskan.
Nala seolah tersadar dari dunianya sendiri. Dia menjauhkan diri dari Satria dan menatap Arga dengan wajah yang sedikit memerah. Dia tampak kikuk sejenak sebelum memperbaiki posisi duduknya.
"Ah, benar juga. Arga, apa daftar kebutuhan untuk panggung utama sudah selesai kau periksa?" tanya Nala dengan nada bicara yang kembali formal.
Arga berdehem untuk menjernihkan suaranya yang tiba-tiba terasa serak. Dia menatap Nala dengan tatapan yang mendalam, mencoba mencari sisa-sisa kenangan masa kecil mereka di dalam mata bening itu.
"Sudah aku selesaikan tadi sebelum kita ke sini. Aku akan mengirimkan berkasnya lewat pesan singkat nanti malam," jawab Arga singkat namun jelas.
Suasana di meja itu mendadak menjadi agak kaku. Dimas yang merasa bertanggung jawab untuk mencairkan suasana segera melontarkan lelucon konyol tentang salah satu guru olahraga mereka. Gelak tawa kembali pecah, namun Arga tetap pada posisinya sebagai pengamat yang setia.
Dia memperhatikan bagaimana Nala tertawa. Dia memperhatikan bagaimana jemari Nala memainkan ujung sedotan minumannya. Segala hal kecil tentang gadis itu masih terekam dengan sangat baik dalam ingatan Arga, seolah delapan tahun perpisahan mereka tidak pernah terjadi.
Namun, Arga juga sadar akan kehadiran Satria di sana. Satria adalah sosok yang nyata di masa kini, seseorang yang bisa memberikan kebahagiaan secara langsung tanpa bayang-bayang masa lalu yang rumit. Arga merasa seperti sebuah buku tua yang berdebu di antara deretan novel baru yang sampulnya mengilap.
Saat hari mulai semakin gelap, lampu-lampu di Kedai Selaras mulai dinyalakan. Cahaya kekuningan yang temaram memberikan kesan melankolis pada pertemuan sore itu. Arga bangkit dari duduknya, merasa bahwa dia sudah cukup berada di sana.
"Aku harus pulang sekarang," ujar Arga sambil menyampirkan tasnya.
"Lho, buru-buru sekali, Ga?" tanya Satria dengan nada yang terdengar ramah, namun entah mengapa terasa seperti sebuah kemenangan bagi Arga.
"Ibuku sudah menunggu di rumah," jawab Arga singkat tanpa melihat ke arah Satria.
Nala ikut berdiri. Ada keraguan di wajahnya seolah dia ingin menahan Arga lebih lama. Namun, dia hanya diam dan memperhatikan Arga yang mulai melangkah menjauh.
"Hati-hati di jalan, Ga!" seru Nala cukup keras hingga langkah kaki Arga terhenti sejenak.
Arga tidak menoleh. Dia hanya mengangkat tangan kanannya sebentar sebelum melanjutkan langkah menuju parkiran motor. Dia tahu bahwa melarikan diri bukan solusi, namun untuk saat ini, dia hanya butuh ruang untuk bernapas tanpa harus melihat Nala bersama orang lain.
Dimas memperhatikannya dari kejauhan dengan tatapan prihatin. Dia tahu Arga masih terjebak dalam janjinya sendiri, sebuah janji yang mungkin sudah dianggap angin lalu oleh waktu. Arga melajukan motornya membelah kemacetan kota, membawa serta perasaan yang masih sama, perasaan yang tetap tertuju pada satu orang setelah bertahun-tahun lamanya.