NovelToon NovelToon
Rekah Rasa Di Ambang Senja

Rekah Rasa Di Ambang Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:137k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.

Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.

***

Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.

Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?

~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"

"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Sosok Afif

Lova baru saja turun dari ojek online. Namun kedatangannya itu sudah disambut oleh tatapan menusuk dari pemilik mata kelam dengan bingkai alis tebal, Afif.

Hufffttt! Hulk ngambek deh tuh, ijo-ijo deh tuh kulit, gumam Lova berbisik pada dirinya sendiri seraya berjalan cepat masuk ke dalam halaman dengan tatapan yang setengah takut setengah gugup.

"Assalamu'alaikum, ustadz..." Lova menunduk tak berani menatap langsung sorot mata Afif.

"Wa'alaikumsalam." Afif melirik arloji di balik pergelangan tangan kemeja panjangnya.

"Waktu saya ngga banyak Lova, kalau bukan karena ayah dan bundamu adalah teman orangtua saya, bukan orang yang sering membantu abi dan keluarga saya dulu...saya tak mau menjadi guru mengaji. Maka saya mohon, bekerja samalah..."

Jelas bukan uang yang dikejar Afif untuk mengajar Lova, mengingat profesi Afif adalah seorang dosen di salah satu universitas islam negri. Dan mata kuliah yang ia kuasai adalah Sejarah Peradaban Islam.

"Maaf ustadz..."

"Kalo gitu cepat masuk. Ganti bajumu, jangan biarkan mata kaum adam yang bukan mahram mu melihat auratmu...berkali-kali saya sudah bilang, Lova." Dengan segera Afif melengos masuk duluan.

Lova mengernyit, "dia juga kan kaum adam? Maksudnya kaum adam tuh dia bukan? Atau dia tuh cuma kaum oompa---loompa.." gadis itu melirik kanan kiri sebelum akhirnya masuk dan segera naik ke lantai dua dengan kebingungannya.

Afif sudah berdecak berkali-kali, bahkan kopi buatan mbak Astri sudah hampir habis diteguknya dalam kondisi yang sudah dingin.

Ia memijit tengkuk dimana garis rambut belakangnya segaris rapi di atas kerah kemeja koko. Nampak betul kedewasaan dalam balutan kepribadian yang senantiasa bersih nan rapi.

"Keterlaluan." Decaknya kesal, jengkel, jenuh bercampur menjadi satu. Untung saja siang ini, ia membawa serta tugas makalah anak didiknya kesini, setidaknya...waktunya tak terbuang percuma sambil nungguin murid kurang aj ar satu ini belajar ngaji. Dimana wesse nyamperin orang mau be rak? Sampe nungguin pula. (kiasan)

Ia masih bersila di bawah kursi, dengan kaos kaki hitam masih membalut kaki-kaki besarnya saat mbak Astri kembali menghampirinya dengan nampan kosong, "ngapunten mas ustadz, mau nambah lagi ta kopinya?" tawar mbak Astri menunjuk cangkir kopi Afif dengan jempolnya sopan.

"Oh, ngga usah mbak. Matur nuwun sanget nggih..." jawabnya, mungkin hanya dengan mbak Astri lah, Afif dapat bercengkrama bahasa tanah kelahiran di rumah ini, sebab keluarga Lova adalah penduduk asli Vrindafan, yang kadang kalo si gadis manja nan menyebalkan itu mengumpatinya dengan bahasa daerahnya ia tak begitu paham, padahal ia cukup lama tinggal di kota ini.

"Nggeh, kalo gitu ta tinggal dulu mas...monggo," pamitnya kembali.

Map berwarna-warni cukup rapi tersusun di samping kopi dan sebagiannya sudah ia periksa serta ia nilai.

Bahkan, sudah cukup bosan Afif meneliti seisi rumah om Agas, dimana pojok ruangan tamu yang sedang ia duduki ini terdapat guci setinggi pa hanya berisikan bunga kering hiasan. Lalu meja kayu jati yang diisi oleh tissue dan toples kecil permen. Tak ada foto keluarga yang ditampakan disini, mungkin om Agas hanya ingin menjaga privasi keluarganya untuk tamu, apalagi jika tamu itu tak begitu ia kenal.

Cukup dibuat jengkel oleh lamanya Lova bersiap, Afif hanya bisa melanjutkan pekerjaannya.

Namun di tengah kejengkelannya, suara langkah sandal rumah turun dengan tergesa menuruni anak tangga.

"Mbak, ayah sama bunda ada bilang mau pulang telat engga?" teriaknya seraya mencari-cari buku dan Al-Qur'an dari rak dengan membungkuk, "ihhh, mana sih?!" ujarnya kini berjongkok.

"Iya neng Lovee. Pulang sore, mau ketemu tamu penting dulu katanya, partner bisnisnya bapak kalo ngga salah denger..." Jawab mbak Astri tak kalah berteriak dari dapur.

Afif merotasi bola matanya, apakah penghuni disini pindahan penghuni hutan? Yang sukanya teriak-teriak? Tak bisakah mereka saling menghampiri terlebih dahulu? Suara keduanya bahkan terdengar dari Bandung ke ujung Sumatra.

Kini gadis yang tadi memakai seragam ketat itu datang sudah dengan kain penutup kepala, bahkan baju rumahan bermotif love-love kecil yang ia pakai cukup menutupi tangan dan kakinya. Namun----

"Bentar tadz, ini...jilbab aku belum bener..." hebohnya mencekal kedua ujung pashmina, lilit sana lilit sini, ujung-ujungnya ia buka kembali lalu pasang kembali dirasa belum pas.

Ia begitu hectic dan heboh memakai jilbab pashmina yang sepertinya baru ia tarik dari lemari sang ibu.

Afif menghela nafas berat, sabarnya mesti seluas samudra demi menghadapi Dealova, kalo di warung-warung atau minimarket sabar itu dijual, mungkin Afif sudah memborongnya.

Jelas Afif tak sedang menunggu Lova siap, buktinya ia sudah membuka kitab suci itu di halaman yang sebelumnya mereka pelajari.

"Sampai di ayat berapa kemarin?" tanya Afif, sementara Lova masih diribetkan dengan kerudungnya, ck! Pashmina bunda ngeselin banget, licin! Ini jilbab apa belut?!

Over all, ia menghentikan pemasangan itu dan membuka kitab miliknya, "ayat 35, tadz."

Alis Afif langsung mengangkat sebelah, "maunya kamu! Ayat 30 saja masih banyak salahnya."

Lova tertawa renyah, niatnya korupsi ayat ketahuan juga, "iya kah? Kok aku lupa ya, ustadz kaya alarm nih...pengingat!" pujinya dengan wajah seolah tanpa dosa, sementara Afif sudah hampir menjitak kepala gadis ini jika saja ia tak ingat itu adalah tindak kekerasan.

"Oke, a'udzu----" Lova sudah memulainya. Namun kini...justru Afif lah yang tak siap.

"Sebentar." Potong Afif membuat Lova mendongak, "kenapa, tadz?"

"Astagfirullah...Lova. Itu jilbabmu gimana?" tunjuk Afif kebingungan mencari alat untuk menunjuk helaian rambut yang keluar dari pinggiran garis wajahnya.

"Apanya?"

Afif menemukan penggaris milik Lova yang biasa dipakainya untuk menggebrak meja jikalau Lova keliru, kemudian ia menunjuk dimana titik-titik helaian rambut Lova yang mencuat keluar terutama di bagian poninya.

"Astagfirullah, kamu pakai tren apa itu?" datarnya galak. Lova yang tak terima keningnya di colok-colok dengan penggaris langsung menepisnya, bolong deh mukanya nanti! Ngga cantik lagi nanti! Lagipula, apa pula lelaki satu ini! Toh tak sedikit teman-temannya yang begitu, keliatan rambut dikit kan justru bikin manis!

"Apa sih, ahhh ustadz lebay! Ngga tau tren!" sergahnya praktis memancing decakan Afif.

"Tren apa? Tren boneka santet? Yang rambutnya semrawut?" tembak Afif lagi.

"Boneka santet?"

Lova justru tergelak dengan julukan ustadz Afif, yang benar saja...kalau ia boneka santet lantas ustadz Afif sendiri apa? Dukunnya?

Lova terdiam sejenak, wajah judes yang sedang kesal itu...mengingatkannya pada seseorang yang baru saja menorehkan luka di hati.

Mendadak Lova kembali terdiam murung, bahkan keceriaan yang baru saja ia tunjukan seketika sirna hanya karena melihat wajah Afif dengan mata hatinya.

Tuh kan! Sakit lagi!

"Lova!!!" bentakan itu menyentak kesadaran Lova yang kemudian kembali pada pelajaran mengaji hari ini bersama Afif.

/

Subhanallah, astagfirullah....berkali-kali mulut Afif sudah komat-kamit demi mendapati Lova yang hilang konsentrasi.

Berkali-kali Lova juga mengalami kekeliruan, entah itu makhraj hurufnya, ataukah hukum tajwidnya hingga membuat Afif hilang kesabaran.

Baru kali ini Afif dapati, Lova begini. Padahal biasanya Lova cukup bisa dianggap pintar.

"Stop."

Afif menyetop bacaan Lova yang menurutnya semakin ngaco, "kita lanjutkan saja di pertemuan selanjutnya. Sepertinya kamu sudah terlalu lelah. Atau justru sedang ada masalah?" kini sorot mata itu mendadak melembut.

Dan demi apapun, Lova hanya ingin segera menyudahi ini. Jujur saja, semakin kesini...kebersamaannya dan ustadz Afif hanya memperparah luka hatinya.

Entahlah! Melihat ustadz Afif itu seperti melihat----

"Engga."

"Ya udah, tadz. Kalo gitu Lova duluan ke atas...makasih buat hari ini." Tanpa berbasa basi seperti biasanya, Lova langsung melengos begitu saja membuat Afif dibuat keheranan, karena memang tak biasanya Lova seperti ini.

Afif membereskan barang-barangnya dan memasukan itu ke dalam mobil miliknya. Ia ingat hari ini memiliki jadwal mengantar umi kontrol ke rumah sakit di jam 4 sore.

Setelah pamit pada mbak Astri dan menitipkan salam untuk om Agas dan tante Desi, ia menatap sejenak ke atas rumah Lova, dimana jika tak salah....disitulah kamar Lova berada. Jendelanya tertutup rapat, begitupun tirai putih menerawangnya, sama sekali tak menunjukan kehidupan di dalamnya.

.

.

.

.

1
Miss F
ustadz Afif ayokk bobok🤣🤣🤣
Fitria Syafei
wow sabar ya mas Afif .. eksekusi nya di Jogja ajaa .. moment nya pas 😁 KK cantik dan baik hati terimakasih 😘 kereen 😘
Shee_👚
sabar bentar lagi mas afif buka kado istimewa saat lova lulus atau jangan² di kasih kejutan pas di Jogja kan tak ada yang tau🤭🤭
Shee_👚
🤣🤣🤣🤣
itu baru dalemanya va, kalau isinya gimana 🤭
Icka Soesan
cukup bikin geregetan
Siti
good the best lah pokoknya
Ney Maniez
enknya pacaran halal...
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
Ney Maniez
alhamdulilah,, bersyukur ya Va
Ney Maniez
ihhh soo sweett 🥰🫰
Ney Maniez
nahh gituuu va,,CPT move-on karna ad yg halal...
jujur kpn va tentang Afnan ny
Ney Maniez
KLO tau BKN buat Afif gmn,nyesekkk GK sihhh
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny
Trituwani
asikk bener kalian nonton,berasa abg lagi ya mas...tp ya tahan nafas jg klo depan belakang samping kiri kanan ad yg slonong boy gitu berasa milik berdua..... berasa pengen bilang "woee halalin dululah sebelum kecap kecup kemat kemut"jiwa meronta ya va pengen nyakar 😅
Trituwani
cupidnya baru dateng dikala kamu patah, diwaktu yg tepat bgt va
Trituwani
yahhh bunga biasa va...q kira bunga bank sekalian va 😂😂
Trituwani
cieeeeeeeeeeeeee q nganan va ihh 😄
Trituwani
lebih lebihh mantabsnya va... lebihh yahudh pula
Trituwani
jatuh cinta berjuta rasanya...
Rita
Va aduhhh bs dilepas dulu ngga kertas minyaknya pgn romantis buyar gr2 kertas nempel di mukamu😂
Rita
berasa jadul😂
Rita
😂😂😂😂😂😂😂i fell u Va
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!