NovelToon NovelToon
Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:142
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Perhatian Rion pada Zinnia.

Zinnia berlari sekuat tenaga, entah kemana tujuannya, dia sendiri tak tahu. Pikiran dan hatinya kacau balau, semua perasaan kesal, bingung, sakit hati dan marah bercampur jadi satu memenuhi dadanya. Air mata terus mengalir deras tanpa henti, dia menangis terisak-isak seolah tak ada lagi esok hari. bahkan beberapa orang yang lewat memandangnya dengan tatapan heran dan penasaran, tapi dia sama sekali tak peduli.

Di tengah larinya, kakinya tersandung sesuatu. BRAK! tubuhnya jatuh ke permukaan jalan yang keras, lutut dan telapak tangannya langsung terasa perih dan sakit, kulitnya lecet sampai keluar darah. Tapi Zinnia tak perduli, dia menyeka air matanya dengan kasar, bangkit kembali dan terus berlari seolah rasa sakit itu tak ada artinya.

Di dalam hatinya dia terus menggerutu dan menangis.

" Kenapa? Kenapa semua laki-laki sama saja?

Semua hanya ingin memilikiku, hanya ingin mengambil apa yang mereka inginkan dariku, tapi tak pernah mau bertanya apa yang aku rasakan, apa yang aku mau, apa yang aku takutkan... Apa aku cuma barang? Apa aku cuma mainan? Menyebalkan... semuanya menyebalkan... "

Dia terus berjalan dan berlari sampai akhirnya berhenti di depan sebuah gedung perkantoran tinggi yang megah, kaca-kaca gedungnya memantulkan cahaya matahari yang membuatnya silau. Dia menengok kanan kiri, melihat deretan gedung dan jalanan yang sama sekali tak dikenalnya. Dia tersesat, tak tahu dimana dia berada dan bagaimana cara pulang.

" Dimana ini?? Sepertinya aku terlalu jauh berlari.. " Pikirnya berusaha mencari arah dimana tadi ia datang.

Saat dia masih berdiri bingung dan linglung, tubuhnya terhuyung ke depan. BRUK! dia bertabrakan dengan sesuatu yang keras dan kokoh, hampir membuatnya tersungkur jatuh lagi, tapi sepasang tangan besar dan kuat langsung menangkap serta menopang tubuhnya dengan cepat dan pasti.

" Zinnia.. "

Suara itu lembut, dalam dan sudah sangat dikenalnya. Seketika seluruh tubuh Zinnia menegang, dia perlahan mengangkat wajah yang basah oleh air mata, dan di hadapannya... berdiri Rion.

Rion yang sedang bergegas hendak keluar gedung untuk menemui klien penting, berhenti seketika, saat dirinya melihat sosok yang tiba-tiba menabraknya. Dan saat matanya melihat wajah gadis itu, melihat air mata yang terus mengalir, melihat mata yang merah dan bengkak, semua rencana dan janji pentingnya lenyap begitu saja dari pikirannya.

" Pak Herman batalkan pertemuan saat ini. Bilang saja aku ada urusan yang lebih penting saat ini. " Ucap Rion pada pak herman yang jadi orang kepercayaannya itu dengan nada tegas dan tak mau di bantah.

" Tapi.. Bu Mara orang yang keras kepala bahkan saat kita batalkan jadwal di minggu yang lalu dia.. "

" Itu urusanmu.. aku serahkan semuanya padamu. "

" Ba.. Baiklah. " Balas Pak Herman tampak pasrah sekaligus frustasi, tapi dia tahu bosnya itu bukan tipe orang yang bisa di bantah. Sekali bilang tidak ya tidak.

Fokus Rion kembali pada Zinnia, Dan Tanpa banyak tanya, dia langsung mendekat, tangan besarnya mengelus-elus rambut dan punggung Zinnia dengan lembut penuh perhatian, berusaha menenangkan gadis yang terus menangis terisak itu.

Dengan satu gerakan cepat, Rion mengendong tubuh Zinnia dan mengangkatnya masuk ke dalam gedung. Para staf dan karyawan yang melihatnya langsung menunduk hormat, tapi tak ada yang berani bersuara atau bertanya apapun.

Rion membawa Zinnia masuk ke dalam ruangan kerjanya yang luas dan mewah, lalu meletakkan tubuh gadis itu perlahan di atas permukaan meja kerjanya yang besar dan rapi. Baru setelah itu dia mulai melihat keadaan Zinnia dengan jelas, dan alisnya langsung berkerut kuat saat melihat lutut putih gadis itu ada memar biru dan luka lecet yang masih basah, jelas bekas terjatuh.

Dia langsung berbalik mengambil kotak P3K dari dalam laci, lalu kembali berjongkok di depan Zinnia, dengan hati-hati dan teliti mulai membersihkan serta mengobati luka-luka itu.

" Kenapa kamu bisa berada disini? Kakimu juga terluka, apa terjadi sesuatu sebelumnya? Katakan saja padaku. " Tanya Rion, wajahnya terlihat datar dan tak terbaca, tapi jantungnya berdegup kencang dan di dalam hatinya kekhawatiran meluap-luap tak terbendung.

" Tidak ada yang terjadi, aku hanya jatuh saat berlari tadi. Dan Aku tersesat tak tahu jalan.. tapi sudahlah.. aku sendiri saja bingung. " Jawab Zinnia dengan suara parau dan lemah, matanya masih kosong dan bingung.

" Ah.. Pelan.. pelan.. sakit. " Rintih Zinnia saat kapas berisi cairan antiseptik menyentuh luka terbukanya.

" Maaf, aku akan lebih lembut. " Jawab Rion langsung, suaranya melunak seketika, gerakan tangannya jadi jauh lebih hati-hati dan perlahan.

" Lalu kenapa kamu menangis? " Tanya Rion masih penasaran. Bicara dengan suara yang begitu lembut.

" Jangan tanya !! Aku malas menjelaskan nya.. " Teriak Zinnia tak sadar dia sedikit membentak. Tapi hal itu tak membuat Rion marah atau kesal, dia masih bersikap lembut pada gadis itu.

" Baiklah aku tak akan tanya lagi. "

" M.. Maaf.. Aku.. membentakmu.. "

" Jangan terlalu di pikirkan. "

Setelah selesai mengobati dan menutup luka dengan plester, Rion berdiri kembali di hadapan Zinnia. Jemarinya terangkat, menyeka sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi dan sudut mata gadis itu, usapannya lembut seolah sedang menyentuh barang paling berharga di dunia.

" Mau cerita? Atau mau ku buatkan sesuatu? " Tanya Rion memberi pilihan, dia siap melakukan apapun, mendengar apapun, asalkan gadis di hadapannya ini berhenti sedih dan menangis.

Zinnia menatap wajah Rion, otaknya masih kacau tapi hatinya terasa jauh lebih tenang sejak bertemu lelaki ini. Dia tersenyum kecil, lalu bertanya dengan nada polos, hanya bercanda saja.

" Kalau mau manja sama kamu gimana? "

Tapi candaan sederhana itu, ternyata berdampak besar sekali pada Rion.

Seketika wajah dingin dan serius lelaki itu berubah total, terukir senyum manis yang jarang sekali orang lain bisa melihat, senyum yang hangat dan penuh rasa bahagia. Dia menatap mata Zinnia dalam-dalam, lalu menjawab dengan tegas dan pasti.

" Tentu saja boleh. "

Mendengar jawaban itu, sifat manja dan nakal Zinnia langsung muncul. Dia menggerakkan kakinya sedikit, mengerutkan dahi seolah kesakitan.

" Kakiku terasa di pukul paku, sakit sekali.. "

Begitu mendengarnya, Rion langsung berjongkok kembali di lantai tepat di depan meja, menatap lutut yang sudah diobati tadi.

" Mau coba aku pijat? "

" Ya.. " jawab Zinnia cepat.

Rion mengangkat bahu, sedikit tersenyum miring.

" Sayangnya aku bukan tukang pijat jadi mungkin pijatannya kurang enak. "

Mendengar itu, alis Zinnia langsung berkerut, mulutnya manyun cemberut dan dia langsung memalingkan wajah.

" Yasudah kalau gak mau aku gak maksa. "

Melihat sikap manja Zinnnia, Rion tak bisa menahan tawa kecil keluar dari mulutnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, tangannya terulur membuka tali sepatu Zinnia, melepaskannya lalu mulai memijat telapak kaki dan betis gadis itu dengan perlahan dan hati-hati, berusaha sebaik mungkin meski dia memang tak punya keahlian sama sekali soal ini.

Di dalam hati Rion sendiri, dia sempat tersenyum getir. Kalau orang-orang melihat ini, pasti tak ada yang percaya. Dia adalah Riondra Andreas Putra Rajasa, orang yang namanya saja sudah membuat orang gemetar ketakutan, bos besar perusahaan raksasa yang disegani, ditakuti dan dihormati oleh seluruh kalangan bisnis, orang yang jarang sekali tersenyum dan tak pernah mau menunduk di hadapan siapapun.

Tapi sekarang? Dia berjongkok di lantai, melepas sepatu, memijat kaki dan menuruti setiap kemauan gadis di hadapannya ini, seolah dia cuma pelayan atau mainan yang bisa diperintah dan digunakan sesuka hati.

Dan anehnya... dia sama sekali tak merasa rendah atau terhina. Sebaliknya, dia merasa bahagia, merasa berguna dan merasa puas.

Ya... di hadapan Zinnia, dia memang bukan apa-apa. Dia cuma milik gadis itu, dia cuma apa saja yang gadis itu inginkan. Dan dia menerima itu dengan sepenuh hati.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!