Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Sore menjelang malam, gedung perkantoran mulai sepi. Kyra membereskan peralatan kerjanya, memastikan semua sudah rapi sebelum ia pulang. Amel dan Arya sudah pamit lebih dulu, meninggalkan Kyra.
Ia berjalan menuju area parkiran. Lampu-lampu sudah mulai menyala, menerangi halaman luas itu. Kyra meraih ponselnya dari tas, hendak mengecek notifikasi, namun dering telepon masuk membuatnya kaget.
Nama Bu Lilis terpampang di layar.
“Halo, Bu?” suara Kyra terdengar biasa, tapi langsung berubah tegang ketika mendengar jawaban di seberang.
“Kyra… kamu bisa pulang sekarang?” suara Bu Lilis terdengar panik. “Aldian dari tadi badannya panas sekali. Saya sudah kasih kompres, tapi suhunya makin tinggi. Saya takut dia kenapa-kenapa.”
Wajah kyra langsung pucat " astaga, ini kyra segera pulang Bu"
" iya, cepat ya. Aldian panasnya tinggi sekali"
Setelah menutup telpon, kyra langsung tancap gas dan mengendarai kretanya lebih cepat dari biasanya.
“Ya Allah, lindungi Aldian… jangan biarkan terjadi apa-apa pada anakku,” doanya lirih, mata berkaca-kaca.
Akhirnya, setelah perjalanan yang terasa jauh lebih panjang dari biasanya, Kyra memasuki gang rumah kontrakannya. Ia memutar gas lebih kencang, lalu berhenti mendadak di depan rumah.
“Bu Lasmi,!” panggilnya terburu-buru sambil melepaskan helm.
" Aldian dimana Bu"
" untunglah kamu pulang cepat, Aldian ada dikamar badannya panas sekali, saran ibu mending bawa dia kerumah sakit saja agar dapat penanganan"
Kyra langsung berlari masuk ke dalam rumah, langkahnya tergesa. Begitu sampai di kamar, hatinya terasa diremas kuat-kuat.
Aldian terbaring gelisah di ranjang, wajahnya merah padam, keringat bercucuran di pelipisnya. Bibir mungilnya terlihat kering, napasnya cepat.
“Aldian…” suara Kyra bergetar saat ia duduk di tepi ranjang. Tangan dinginnya menyentuh dahi anak itu panas sekali. Jauh lebih panas dari pagi tadi.
“Bunda…” gumam Aldian lemah, matanya hanya terbuka sedikit.
“Ya sayang, Bunda di sini. Kamu kuat ya, Nak. Kita ke rumah sakit biar cepat sembuh.” Kyra mengusap lembut rambut anaknya, menahan air mata yang hampir jatuh.
Tanpa pikir panjang, ia meraih jaket tipis, menyelimuti tubuh kecil itu. Dengan hati-hati, ia mengangkat Aldian ke pelukannya. Bocah itu meringkuk, kepala bersandar lemah di bahu bundanya.
Bu Lasmi yang mengikuti dari belakang ikut cemas. “Kyra, kamu kuat bawa sendiri? Perlu saya temani?”
Kyra menggeleng cepat. “Tidak usah, Bu. Tolong doakan saja. Saya bawa Aldian ke rumah sakit sekarang juga.”
Ia segera meraih ponsel, memesan taksi online dengan tangan gemetar. Beruntung, dalam hitungan menit sebuah mobil berhenti di depan rumah.
“kyra, hati-hati ya,” pesan Bu Lasmi sebelum Kyra masuk.
Kyra mengangguk sambil menggendong Aldian ke dalam taksi. “Terima kasih banyak, Bu. Saya kabari nanti.”
“Rumah Sakit Permata… cepat, Pak. Tolong cepat…” jawab Kyra, suaranya nyaris pecah.
Mobil pun melaju kencang, menembus jalanan yang mulai padat. Kyra hanya bisa memeluk erat putranya, menempelkan pipinya ke kening Aldian.
“Bunda ada di sini, Nak. Kamu jangan tinggalin Bunda ya… sebentar lagi kita sampai rumah sakit. Kamu pasti sembuh…” bisiknya berulang-ulang, seolah meyakinkan diri sendiri.
Tak lama, mobil berhenti tepat di depan pintu IGD Rumah Sakit Permata.
“Sudah sampai, Bu.”
“Terima kasih, Pak!” Kyra buru-buru membuka pintu dan menggendong Aldian. Tubuh kecil itu terasa panas sekaligus lemah dalam pelukannya.
“Anak saya demam tinggi, Dok! Dari sore panasnya makin naik…” ucap Kyra dengan suara gemetar.
“Baik, Ibu. Tenang dulu, biar kami periksa dulu kondisinya.” Dokter jaga langsung memberi instruksi pada tim medis.
Kyra berdiri di sisi ranjang, menunduk, air matanya tak henti jatuh.
Tanpa ia sadari, tak jauh dari sana, seseorang berdiri terpaku.
Bagas.
Ia baru saja turun dari lantai atas setelah menengok ibunya yang dirawat. Niatnya ingin membeli minum di kantin rumah sakit. Tapi langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal.
Kyra.
Bukan hanya itu—perempuan itu menggenggam erat tangan seorang bocah kecil yang terbaring dengan wajah pucat.
Waktu seakan berhenti bagi Bagas. Dadanya bergemuruh, matanya sulit berpaling. Ada sesuatu yang membuat napasnya tercekat. Seseorang yang dia gendong, Bocah itu…
“Apa mungkin…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Bagas mengambil satu langkah maju, tapi langsung berhenti. Tubuhnya kaku, seolah ada yang menahannya.
Bagas mendekat, langkahnya pelan. Ia bahkan tak peduli pada keramaian sekitar.
“Kyra?” suaranya terdengar rendah namun jelas.
Kyra yang sedang menunduk kaget, buru-buru menoleh. Begitu melihat Bagas berdiri di pintu ruangan itu , matanya membulat.
“Pak Bagas…?” ucapnya tak percaya. Ia langsung berdiri, tubuhnya kaku. “Kenapa… Bapak ada di sini?”
Bagas menghela napas, menatapnya dalam. “Kebetulan… Ibu saya sedang dirawat di rumah sakit ini. Saya tadi keluar sebentar… lalu lihat kamu di sini.”
Kyra tercekat, bibirnya bergetar. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan ekspresi terkejutnya. “Saya… saya hanya… anak saya sedang sakit, Pak. Tadi panasnya sangat tinggi, jadi saya langsung bawa ke rumah sakit.”
Bagas mengalihkan pandangannya pada bocah yang terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya terlihat pucat. Bagas menatapnya lebih lama, lalu bergantian menatap Kyra " jangan bilang......dia anakku?"
Pertanyaan itu membuat wajah Kyra langsung pucat. Ia menggeleng cepat, hampir tergesa. “Bukan, Pak. Dia… bukan anak Anda.” Suaranya bergetar, jelas terlihat ia berusaha menutupi sesuatu.
Mendengar itu Bagas tidak langsung percaya. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah kyra.
“Jangan bohongi, Kyra,” ucapnya dingin tapi menekan
Kyra menelan ludah, air matanya nyaris jatuh. “Tidak, Pak Bagas. Saya sudah bilang, Aldian bukan anak Anda, dia anak saya bersama pria lain” jawabnya dengan suara gugup,
" ohh benarkah, dimana pria itu sekarang apa dia menelantarkanmu atau kau sendiri yang meninggalkannya" sindirnya seolah mengungkit masa lalu mereka.
" kamu tidak pandai berbohong kyra, apa saya melakukan tes DNA untuk membuktikannya hm"
Kyra langsung menggeleng cepat "jangan pak, saya mohon. Tolong jangan ganggu kehidupan saya lagi" ucapnya dengan suara bergetar.