Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 17 — Hancurnya Masa Depan
"Hahahaha!"
Tawa keras Qin Chukai bergema di seluruh arena yang telah tersegel dalam Formasi Segel Bumi, tawanya memecah ketegangan yang menyelimuti Keluarga Qin. Namun membuat bulu kuduk setiap orang yang mendengarnya bergidik ngeri dengan peristiwa yang terjadi saat ini.
"Kau benar, Feiyan!" seru Qin Chukai dengan seringai lebar yang menampilkan ambisi gilanya.
"Selama tujuh belas tahun kepemimpinanmu yang lemah dan terlalu berbelas kasih, klan ini telah tertinggal jauh dari keluarga lain. Hari ini, dengan tangan kita sendiri, kita akan membersihkan parasit sepertimu!"
Sembari mengucapkan kalimat itu, aura mengerikan meletus dari tubuhnya. Energi spiritualnya melonjak dan termanifestasi menjadi kobaran api merah yang menggelegar, membentuk gelombang tekanan panas yang menindas siapa pun di sekitarnya.
Namun, bukan panasnya kobaran api tersebut yang membuat Patriark Qin Feiyan menegang. Di balik punggung Qin Chukai, tepat dari barisan tetua yang mendukungnya, sesosok bayangan melangkah maju.
Seorang wanita anggun berpakaian serba hitam yang menonjolkan lekuk tubuhnya muncul dengan senyuman yang begitu manis. Akan tetapi, aura kematian yang pekat menguar dari tubuhnya. Di dahi wanita itu, terukir tato segitiga berwarna hitam pekat yang tampak memancarkan getaran aneh.
Mata Qin Feiyan menyipit. Seketika itu juga, ia merasakan bulu kuduknya bergidik. Tato tersebut tidak asing baginya.
"Sekte Segitiga Hitam...!" gumam Qin Feiyan dengan suara tertahan, kewaspadaannya mencapai tingkat maksimal.
Sebagai Patriark, ia tahu betul reputasi sekte tersebut. Wanita itu bukanlah anggota biasa; dengan tato segitiga di dahi dan aura penindasan yang ia pancarkan, posisinya di dalam organisasi tersebut pasti sangat tinggi. Menghadapi faksi Tetua Keempat saja sudah menjadi beban berat, apalagi harus berhadapan dengan kultivator dari sekte jahat.
Di sampingnya, Tetua Kelima, Qin Changin. Ia menarik napas dalam-dalam, telah mengalirkan energinya kedalam pedangnya untuk bertarung sampai mati demi melindungi Patriark.
Di sisi arena, suasana tidak kalah panas. Tetua Kedua, Qin Chong, yang masih diliputi rasa marah dan malu akibat kekalahan putranya, menunjuk ke arah Qin Xuanyu.
"Saudari Xuanyu! Jangan kira kau bisa ikut campur dan menyelamatkan bocah itu! Hari ini, hutang darah harus dibayar dengan darah!" teriak Qin Chong dengan gurat kemarahan yang meluap-luap.
Qin Xuanyu hanya bisa menghela napas panjang. Sulit untuk mengutarakan apa yang sedang ada di dalam pikirannya. Wajahnya yang dingin dan datar tampak menunjukkan kekecewaan yang mendalam terhadap kebusukan keluarganya sendiri. Perlahan, ia mencabut pedang rampingnya dari sarung, memancarkan pendar cahaya dingin yang mengiris udara.
"Kalian semua telah dibutakan oleh kekuasaan," ucap Qin Xuanyu tenang.
"Sebagai Tetua Pertama, sudah menjadi tugasku untuk menertibkan mereka yang melanggar hukum klan."
"Heh. Kau kira bisa menghalangi ku?"
Di tengah formasi segel yang mencekam, pikiran Qin Mu berkecamuk. Untuk ukuran seorang pemuda berusia 15 tahun, situasi ini terlalu berat bagi pikirannya. Namun, matanya memandang kearah podium kehormatan berada, berharap kemenangan maupun keselamatan ayahnya diatas sana.
Qin Mu dengan cepat memindai seluruh arena lapangan dimana semua orang berlarian tidak bisa mencerna situasi saat ini. Ia mengkhawatirkan ayahnya namun di sisi lain ia juga mengkhawatirkan seseorang yang terus bersamanya selama ia terus dihina sebagai sampah keluarga.
"Di mana Qin Lian?" Qin Mu segera memandang kesekitar dan melangkahkan kakinya menembus kerumunan murid yang panik.
Hingga saat tiba di dekat Qin Lian, Qin Mu merasa lega, namun matanya menangkap pemandangan yang tak terduga. Di sana, tidak jauh dari Qin Lian, sudah berdiri Qin Chen tepat disampingnya dan Qin Feng yang tergeletak mengerang di tanah.
"Ada apa ini?" tanya Qin Mu, ia mendekat cepat, menatap ke arah Qin Chen dengan alis terangkat meminta sebuah jawaban.
"Tadi dia mencoba menyerang Qin Lian dari belakang menggunakan belati secara diam-diam," jelas Qin Chen sambil menunjuk Qin Feng yang tergeletak lemah.
"Apa!"
"Untung saja aku menyadarinya lebih cepat dan langsung melayangkan tendangan sebelum dia sempat melukai Qin Lian."
Qin Lian sendiri tampak masih berusaha mencerna situasi yang berubah drastis dari upacara pengujian spiritual menjadi medan pertempuran. Ia menatap Qin Mu dengan pandangan lega namun tetap cemas.
"Terima kasih, Saudara Chen," ujar Qin Mu kepada Qin Chen.
"Haha tak perlu Saudara Mu. Kita semua adalah keluarga, sudah sepantasnya bagi keluarga untuk saling melindungi satu sama lain."
Qin Mu tidak bisa berpaling dari wajah ramah Qin Chen dan mata sipitnya itu yang tampak mencurigakan namun ia juga tak bisa untuk tidak peduli terhadap bantuannya melindungi Qin Lian.
Mata Qin Mu melirik Qin Lian, "Jika Qin Chen tidak melindunginya... Mungkin... Lian'er sudah terluka parah." batin Qin Mu kesal.
Setelah itu, ia melangkah mendekati Qin Feng yang baru saja mulai sadar dari pingsannya. Tanpa ragu dan tanpa basa-basi, Qin Mu mengayunkan kakinya, menendang area sensitif milik Qin Feng.
Bugh!
"AAARRGGHH!" pekik Qin Feng yang langsung melompat kesakitan dan kembali sadar sepenuhnya akibat rasa nyeri yang luar biasa.
Pekik kesakitan Qin Feng yang menggema di sudut arena seketika menembus hiruk-pikuk kepanikan para murid. Meski suara erangan itu mengalihkan perhatian beberapa orang, situasi di sekitar tidak mereda. Udara di dalam formasi penyegelan semakin terasa berat, seolah-olah samudra tak terlihat menindas pundak siapa pun yang bernapas di dalamnya.
Semua murid laki-laki di sekitar mereka terkejut mendengar teriakkan barusan dan mereka yang menyaksikan kejadian tersebut langsung tercekat dan meringis ngeri.
Qin Chen menelan ludah dengan susah payah, matanya masih menatap ke arah Qin Feng yang kini meringkuk seperti udang. Refleks alaminya sebagai seorang pria membuatnya sedikit bergidik ngeri.
"Saudara Mu... apa yang baru saja kau lakukan?" bisik Qin Chen dengan suara yang tertahan.
"Tentu saja aku menghapus masa depannya, Saudara Chen. Berani-beraninya dia mencoba menyakiti sesama anggota keluarga," jawab Qin Mu dingin. Matanya menatap tajam ke arah sepupunya yang masih merintih di bawah tanah.
"Sebenarnya, aku ingin menghancurkan dantiannya agar ia tidak bisa lagi memicu masalah, tetapi aku belum memahami tata cara yang tepat untuk menghancurkan inti energi seseorang. Jadi, kulakukan apa yang terlintas di pikiranku." batin Qin Mu, ia masih kesal dengan tindakan cemoohan yang dilakukan Qin Feng selama setengah tahun ini. Ia merasa ingin melakukan lebih dari sekedar menghancurkan biji zakarnya.
Mendengar jawaban itu, Qin Chen hanya bisa meringis. Ia mengalihkan pandangannya dan tanpa sadar merapatkan kedua kakinya. Sebuah naluri sebagai seorang pria untuk menjaga dua inti berharganya.
Di sisi Qin Lian ia hanya bisa tersenyum, wajah polosnya tidak tahu apa-apa. Memukul Qin Feng hingga menjerit lebih keras... Itu mungkin demi dirinya dan pelampiasan yang dikeluarkan Qin Mu salama ia dihina Qin Feng?... Bukan?