Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Apa yang membuat garnisun bagian dalam istana sedikit berisik akhir-akhir ini?
Semua penghuni istana mempertanyakan hal tersebut setiap kali melewati area garnisun. Mereka akan mendengar betapa semangatnya para prajurit bercerita tentang latihan tanding antara anak pertama dan anak kedua Valgard. Alhasil, apa yang terjadi hari itu segera tersebar lalu Theron menjadi perbincangan hangat di antara penghuni istana serta kalangan bangsawan.
Ini menyenangkan.
Ilyar bersandar manja pada punggung sofa sembari selonjorkan kaki di atas meja. Melihat itu, Hestia geleng-geleng kepala dan meminta Ilyar untuk bersikap layaknya bangsawan yang tahu etika.
Entah dari mana kebiasaan buruk itu mulai terbentuk dan Hestia sudah lelah menegurnya.
"Permaisuri jadi begitu berisik. Dia mengatakan jika Anda terlalu keras dalam latih tanding," lapor Toran.
Pftt...
"Apa dia tidak tahu seberapa buruk putranya?"
Toran diam karena sesuai cerita yang beredar, Theron menggunakan ener untuk menciptakan aura pedang. Tindakannya dianggap sangat berbahaya apalagi saat itu lepas kendali dan niat membunuhnya jelas karena hal tersebut segelintir orang menyayangkan sikap Theron. Meski seorang Valgard terkenal keras dan bengis, mereka tidak akan bertindak sembrono seperti itu.
"Apa Kakak ada di dalam?"
Suara lembut yang terdengar merdu segera menyapa indera pendengar Ilyar. Tanpa menunggu lama, Ilyar melesat untuk membuka pintu dan di hadapannya Iselda berdiri canggung, mengenakan gaun kuning sederhana dengan sedikit perhiasan yang melekat pada leher juga pergelangan tangan.
"Apa Kakak sibuk?" Iselda bertanya seraya melirik ke dalam ruangan. Bersitatap dengan Toran dan Hestia.
"Tidak."
Jujur saja, ini terasa canggung bagi Ilyar apalagi delapan tahun mereka tidak bertemu.
"Kalau begitu bagaimana jika kita pergi ke istana ayah? Kupikir kita bisa menghabiskan waktu sambil sedikit bercerita," kata Iselda agak malu-malu.
Ilyar diam sejenak lalu menjulurkan tangan untuk menepuk puncak kepala gadis itu sembari melangkah lebih dulu dan berkata, "Kalau begitu kita segera ke sana."
Sepasang mata Iselda melebar, senyumnya tertahan tatkala memandangi punggung Ilyar cukup lama sebelum akhirnya mengekori kakaknya itu seperti anak itik yang terbirit-birit mengikuti sang induk berenang di danau.
Istana Penguasa, Agor Thorn Valgard.
Di tengah pelataran taman indah pada kediaman pribadi penguasa, Agor tampak bersantai menikmati waktu di siang hari pada gazebo ditemani dua putrinya, yakni Ilyar dan Iselda.
Saat pelayan datang membawa ketel berisi teh, Ilyar menyeduhnya secara pribadi kemudian dicicipi terlebih dahulu, takut-takut jika ada racun lagi di dalamnya. Melihat tingkah telaten Ilyar, senyum Agor terulas. Ada sedikit kesedihan di matanya.
"Pasti sulit bagimu berada di Dakrossa." Agor memecah keheningan setelah mereka duduk manis di kursi masing-masing.
Ilyar tersenyum tipis. Bagaimana cara dia bersikap saat ini sama seperti dulu. Tenang dan terlihat seperti wanita bangsawan pada umumnya. Tampak terpelajar dan anggun.
"Ya, di saat seperti ini aku harus bersikap manis seperti dulu agar ayah tidak perlu mencemaskan kepribadian lainku."Ilyar membatin sembari menunjukkan senyum bersahaja.
"Aku mendapat banyak pengalaman di sana.
Rasanya tidak buruk, seperti mengikuti kelas khusus tertutup selama di luar istana," jawab Ilyar sembari mengedikkan bahu acuh tak acuh.
Pergerakan mengangkat cangkir Iselda terhenti.
Gadis itu menunduk dengan raut wajah mengerut getir.
"Kudengar Iselda terpilih sebagai pemimpin muda Mensiar. Sungguh pencapaian luarbiasa di usia semuda ini!" Ilyar menyengir sambil menopang wajah.
Iselda tersentak, buru-buru angkat kepala dengan semburat merah muda menghias wajahnya.
"Dari mana Kakak tahu?"
Ilyar terkekeh seiring mata mengerling untuk menggoda adiknya, "Semua orang membicarakan betapa hebatnya Putri Iselda."
"I ... itu bukan apa-apa. Ka-kakak lebih keren karena bisa menaklukkan Vyr!" Iselda mengepalkan tangan di udara. Sepasang matanya berbinar-binar.
Mensiar adalah tempat berkumpulnya para penyihir. Setiap kerajaan memiliki satu bangunan Mensiar yang terletak di ibukota, menampung para penyihir. Peran mereka sama seperti prajurit, tetapi punya tugas khusus yang tidak dapat dipenuhi prajurit. Seperti meramal cuaca, membangun perisai sihir di atas kerajaan Tyraven, mendeteksi monster, dan sebagainya.
Mensiar terbesar terletak di Myrval dan biasanya penyihir terbaik dari setiap kerajaan yang berada di bawah kekuasaan kekaisaran Eldrath akan dikirim ke sana untuk menyampaikan laporan bulanan. Entah itu terkait situasi magis di wilayah mereka, laporan penelitian atau eksperimen, kebutuhan sumber daya terkait sihir, atau hal lainnya termasuk bantuan.
Dan, lusa adalah kali pertama Iselda menjadi perwakilan menyampaikan laporan ke Myrval. Tadinya dia sangat gugup dan tidak percaya diri, tapi mendapati reaksi Ilyar terhadap pencapaiannya membuat dia cukup berbangga diri.
Melihat keakraban kedua putrinya, Agor tak bisa menahan senyum sembari menyesap teh hangat. Jika saja Anelle bisa akur seperti keduanya, pasti suasana minum teh di sekarang akan jauh lebih hangat.
Sementara itu, di kediaman permaisuri yang terletak di sayap timur istana kerajaan.
Sejak kabar kekalahan menyedihkan putranya dalam latih tanding bersama Ilyar tersebar, Ravena agak kehilangan muka untuk berkeliaran di luar kediaman meski segelintir orang tidak percaya jika Theron kalah telak di latih tanding meski telah menggunakan aura pedang.
"Sekarang dia di mana?" tanya Ravena pada pelayan pribadinya, Tiare.
"Pangeran menghabiskan lebih banyak waktu di ruang latihan sejak itu," jawabnya pelan, was-was jika jawabannya bisa kembali membuat Ravena melayangkan sebuah benda ke dinding.
"Tsk! Dia tahu apa yang harus dilakukan."
Ravena berdecak lalu berdiri di dekat jendela.
"Kamu sudah menghubungi mereka?" tanya
Ravena tanpa menoleh ke belakang.
Pelayan itu mengangguk. Sudut bibir yang dihias tahi lalat kecil tersebut tersungging. Dia adalah wanita sama yang datang ke Dakrossa atas perintah Ravena untuk membunuh Ilyar melalui Efra dan Morvak lalu kali ini, nyonyanya itu meminta dia mendatangi serikat pembunuh bayaran serta sekelompok bandit agar menghabisi Iselda yang akan berangkat ke Myrval, ibukota kekaisaran Eldrath.
Selain tersadarnya Agor dan kembalinya Ilyar dari Dakrossa, hal yang paling membuat Ravena gusar adalah pencapaian anak bungsu Valgard, yakni Iselda.
Entah apa yang membuat gadis itu bersemangat menjadi kuat juga cara apa yang digunakan sampai bisa bersembunyi segitu lama dari pandangannya? Ravena tidak tahu apa pun, maka dari itu, sebelum tunas tersebut semakin tumbuh kokoh, dia akan menghancurkannya!
Lagi pula Iselda hanya anak selir. Tidak punya dukungan sama sekali kecuali perhatian kecil dari Agor. Menyingkirkannya tidaklah sulit. Terlebih, ini pertama kalinya gadis itu meninggalkan Tyraven. Tewas akibat kecelakaan atau serangan bandit adalah kejadian biasa ketika menempuh perjalanan jauh. Terlebih saat tahu targetnya adalah orang kaya atau bangsawan.
***
Mengenakan seragam gaun serba putih khas penyihir, Iselda bersiap meninggalkan istana menggunakan kereta kuda. Dia seharusnya membawa empat pengawal terbaik, tapi keberadaannya belum sekuat itu untuk mendapat perlakuan demikian. Padahal bagaimana pun dia adalah seorang putri kerajaan, tapi memang begitulah kenyataannya.
Dia hanya anak seorang selir tanpa kerabat.
Namanya baru-baru ini melejit setelah berhasil menjadi pemimpin muda Mensiar di Tyraven. Butuh waktu dan usaha dalam menarik lebih banyak perhatian para orang berkoneksi untuk menaruh dukungan untuknya.
"Sudah mau berangkat?" Ilyar tiba-tiba muncul di belakang kereta kuda.
"Kakak?!"
Ilyar menyengir seiring rambut merah yang dikepang berayun pelan saat menelengkan kepala dari sana.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku jika mau pergi ke Myrval?"
"Ah, itu ... "
Tanpa banyak bicara, Ilyar segera memasuki kereta kuda. Sejujurnya, dia baru tahu dari Hestia semalam. Cukup mengejutkan mendapati tidak ada satupun kesatria atau pengawal yang akan menemani Iselda padahal jelas-jelas hendak melakukan perjalanan keluar Tyraven. Ini semua pasti ulah Ravena. Jika ayahnya tahu, istana akan jadi sedikit berisik. Makanya, sebelum mendatangi Iselda, Ilyar telah menemui ayahnya, membicarakan hal ini.
Baik dulu maupun sekarang, Iselda selalu saja diabaikan. Anak itu berjuang sendiri hingga bisa sampai ke titik ini. Jauh lebih hebat dari yang dia bayangkan.
Apa alasannya?
Ilyar menyandar sembari melipat tangan depan dada, menatap lekat Iselda yang telah duduk berhadapan di kursi seberangnya dalam kabin.
"Padahal Kakak tidak perlu repot-repot apalagi ini waktu yang tepat memulihkan kehormatan dan mendapat kepercayaan semua orang untuk memperkuat posisi pewaris." Iselda berkata seiring nada bicara semakin melemah ke ujung kalimat. Dia mengatakannya dengan sedikit rasa bersalah dan kecanggungan.
Ilyar tersenyum seraya melempar pandang ke jendela kecil dekat kepalanya. "Aku sudah memikirkan semua itu, jadi Iselda tidak perlu terbebani atau cemas. Lagi pula, kapan lagi bisa pergi ke Myrval sebagai pengawal adikku?" Ilyar mengakhiri kalimat dengan sedikit gurauan.
Iselda menunduk seperkian detik sebelum akhirnya mengangkat wajah dan menunjukkan senyum lebar sampai mata besarnya menyipit seperti bulan sabit menelungkup.
"Terima kasih, Kakak!"