NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Balqis Bertanya Tentang Surga

Pagi itu, matahari bersinar cerah melalui celah gorden kamar. Balqis bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di tepi kasur, memeluk lututnya, lalu menatapku yang sedang menyiapkan sarapan sederhana: roti tawar dan teh hangat.

“Ayah,” ucapnya tiba-tiba, suaranya polos namun penuh pertanyaan besar. “Ibu di mana sekarang?”

Aku terdiam. Roti di tanganku hampir jatuh. Pertanyaan itu selalu datang di saat aku paling tidak siap. Tapi kali ini, aku tidak akan menghindar.

“Ibu… di surga, Nak,” jawabku pelan, sambil duduk di sampingnya. “Di tempat yang sangat indah. Di sana tidak ada sakit, tidak ada lapar, tidak ada sedih. Hanya kebahagiaan.”

Balqis mengangguk perlahan, matanya berbinar. “Kalau begitu, kenapa Ibu nggak pulang? Aku kangen Ibu…”

Hatiku remuk. Bagaimana menjelaskan pada anak sekecil itu tentang kematian tanpa membuatnya takut? Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membelai rambutnya.

“Ibu nggak bisa pulang, sayang. Tapi Ibu selalu lihat kita dari sana. Setiap kali kamu shalat, Ibu senyum. Setiap kali kamu dapat nilai bagus, Ibu tepuk tangan. Setiap kali kamu tertawa, Ibu ikut senang.”

Balqis menatapku lekat-lekat. “Jadi… Ibu tahu kalau aku nangis malam tadi?”

“Iya, Nak. Ibu tahu. Dan Ibu bilang, ‘Jangan nangis ya, Balqis. Ayah butuh kamu kuat.’”

Air mata mulai menggenang di mata Balqis. Tapi ia tidak menangis. Ia justru memelukku erat-erat, kepala kecilnya menempel di dada saya.

“Ayah juga kangen Ibu,” bisikku, suara serak menahan isak. “Tapi kita harus kuat. Karena Ibu pasti senang lihat kita saling menjaga.”

Kami duduk diam sekian lama, hanya terdengar suara angin yang berembus pelan melalui jendela. Lalu Balqis bertanya lagi, kali ini dengan nada lebih ringan:

“Ayah, kalau Ibu di surga, apakah Ibu bisa baca cerita Ayah?”

Aku tersenyum. “Pasti bisa, Nak. Bahkan, Ibu mungkin jadi pembaca pertama setiap bab yang Ayah tulis.”

“Wah… berarti Ibu tahu kalau Bab 6 tadi bikin Ayah nangis lagi?” tanya Balqis polos.

Aku tertawa kecil, meski hati masih perih. “Iya, Ibu tahu. Dan Ibu pasti bilang, ‘Bagus, sayang. Teruslah menulis. Ceritamu bikin banyak orang semangat.’”

Balqis melepaskan pelukan, lalu melompat dari kasur. “Aku mau bantu Ayah nulis Bab 7! Aku jadi ide!”

Aku tertawa lepas. Anak ini memang anugerah terbesar dari Allah. Di tengah kesedihan, ia justru menjadi sumber cahaya.

“Baiklah, Bu Ide,” kataku sambil mengusap kepalanya. “Apa ide Bu Ide untuk Bab 7?”

Balqis berpikir sejenak, lalu berkata dengan serius: “Ceritain tentang ayah yang pergi ke pasar pakai kursi roda, terus ketemu teman lama yang kasih uang buat beli susu!”

Aku terkejut. “Dari mana kamu dapat ide itu?”

“Dari mimpi tadi malam,” jawabnya santai. “Aku mimpi Ayah ketemu Pak Hendra lagi. Terus Pak Hendra kasih uang banyak. Lalu kita beli susu, beras, dan mainan buat aku!”

Aku tersenyum haru. Mimpi anak kecil ternyata bisa jadi inspirasi besar.

“Oke, Bu Ide,” kataku sambil membuka laptop. “Bab 7 akan berjudul: ‘Balqis Bertanya Tentang Surga’. Dan di akhir bab, Ayah akan sisipkan adegan ke pasar — sesuai ide Bu Ide!”

Balqis bertepuk tangan girang. “Asyik! Nanti aku jadi karakter penting di novel Ayah!”

Aku mengangguk. “Kamu bukan cuma karakter penting, Nak. Kamu adalah alasan utama Ayah terus menulis.”

Malam itu, setelah Balqis tidur, aku duduk kembali di depan layar HP. Jari-jariku menari lagi di atas layar.

Saya harus menulis bab ini.

Saya harus menceritakan tentang pertanyaan-pertanyaan polos Balqis yang justru menyembuhkan luka-luka terdalam.

Supaya dunia tahu, bahwa di balik setiap air mata seorang ayah, ada senyum kecil yang membuatnya bangkit lagi.

Satu bab lagi selesai.

Tujuh bab sudah tayang (atau segera tayang).

Target 20 bab semakin dekat.

Aku tidak sendirian.

Kita tidak sendirian.

1
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!