NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian

Tangan kiri Chu Chen, yang dilapisi sisik hitam legam, mencengkeram leher Kapten Yan Kuang dengan kekuatan yang meremukkan tulang rawan.

Di pelataran singgah Gerbang Pemindah Ruang, puluhan ribu pelancong dan seratus prajurit Alam Inti Emas membeku bagaikan patung es. Waktu seolah berhenti berdetak. Mereka menatap pemandangan yang secara mutlak menghancurkan nalar dan tatanan alam semesta: seorang prajurit tingkat Inti Emas mengangkat tubuh seorang Raja Fana di udara.

"L-Lepas..." Mata Yan Kuang melotot, pembuluh darah di dahinya nyaris pecah.

Ia memompa seluruh sisa energi Raja Fananya, mencoba meledakkan Chu Chen dengan hawa panas dari dalam tubuhnya. Namun, setiap kali energi api keemasannya menyentuh kulit Chu Chen, energi itu langsung padam, ditelan oleh dominasi mutlak Api Teratai Merah yang bersemayam di meridian pemuda tersebut.

"Kau membual tentang mematahkan tulangku," bisik Chu Chen, wajahnya sedatar kematian itu sendiri. "Mari kita lihat seberapa rapuh tulang fana milikmu."

KRAAAAK!

Chu Chen meremas cengkeramannya sedikit saja. Tulang leher Yan Kuang berderak mengerikan. Pria bertubuh raksasa yang dikenal sebagai 'Si Penjagal Bintang' itu menjerit tertahan, air mata rasa sakit bercampur keputusasaan mengalir dari matanya.

"Di benua ini, kau mungkin seorang bangsawan," lanjut Chu Chen, matanya berubah menjadi celah naga vertikal yang menyala keemasan. "Tapi di rahangku, kau hanyalah sepotong daging segar."

Seni Kaisar Naga: Pusaran Ketiadaan!

Daya hisap gelap gulita meledak dari telapak tangan Chu Chen, menusuk lurus ke dalam Dantian sang Raja Fana.

"TIDAAAAAKK—!"

Jeritan terakhir Yan Kuang bergema membelah langit Kota Perbatasan. Saripati kehidupan, fondasi Hukum Api, dan lautan energi Raja Fana Tahap Awal ditarik paksa keluar dari setiap pori-porinya. Bersamaan dengan itu, benang-benang Niat Spiritual Chu Chen menyusup masuk ke dalam pikiran Yan Kuang, merampas ingatan, peta, dan rahasia militer kota ini secara beringas.

Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, tubuh raksasa sang Kapten menyusut drastis. Kulitnya mengendur, rambutnya memutih dan rontok. Akhirnya, ia berubah menjadi sekam kering, lalu hancur menjadi debu kelabu yang jatuh berhamburan ke atas lantai logam spiritual.

Ting.

Sebuah Cincin Penyimpanan berwarna emas jatuh dan dengan santai ditangkap oleh Chu Chen.

Dantian Chu Chen bergemuruh hebat. Menyerap seorang Raja Fana dengan kualitas Qi Benua Tengah membuat Lautan Qi Tahap Akhirnya membengkak, mendorongnya perlahan namun pasti menuju ambang Puncak Inti Emas. Ia harus segera memadatkan energi ini jika tidak ingin tubuhnya terbakar dari dalam.

"K-Kapten Yan... mati?"

Seorang prajurit Inti Emas menjatuhkan tombaknya. Suara dentingan logam itu seolah memecahkan mantra pembeku. Kepanikan mutlak meledak di pelataran.

"Makhluk buas! Dia membunuh seorang Raja Fana!"

"Lari! Peringatkan Jenderal Agung!"

Namun, sebelum barisan prajurit itu bisa bergerak mundur, sebuah tekanan spiritual yang tak terbayangkan tiba-tiba turun dari langit di atas kota yang melayang tersebut.

BUMMMMM!

Langit yang tadinya cerah mendadak menggelap. Awan-awan tersibak secara paksa. Udara di pelataran itu tidak hanya menjadi berat, melainkan memadat seperti balok besi yang menghimpit dada setiap makhluk hidup.

Ribuan orang langsung terjerembab ke lantai, memuntahkan darah. Bahkan para prajurit Inti Emas yang terlatih tidak mampu berdiri, tulang lutut mereka patah karena paksaan dari langit.

Chu Chen, yang baru saja mencerna energi Yan Kuang, merasakan bahunya seolah tertimpa gunung raksasa. Zirah Tulang Naga Hitam di balik kulitnya berderit nyaring, memancarkan pendaran gelap untuk menolak tekanan yang merusak nalar tersebut.

"Siapa yang berani menumpahkan darah pejabat Kekaisaran Matahari Suci?!"

Suara itu tidak datang dari satu arah, melainkan bergema dari awan, angin, dan logam di sekitar mereka. Itu adalah suara yang menyatu dengan hukum alam.

Mata Bai yang sedang berlutut di tanah melebar dipenuhi kengerian mutlak. "Penyatuan Langit... Chu Chen! Seorang Jenderal Penyatuan Langit datang! Kita harus pergi sekarang atau jiwa kita akan dihapus dari siklus samsara!"

Chu Chen menggertakkan giginya. Ia bukanlah orang bodoh yang dikuasai keangkuhan buta. Membunuh seorang Raja Fana Tahap Awal adalah batas tertingginya saat ini. Melawan ahli Penyatuan Langit—keberadaan yang bisa merobek dimensi dan mengendalikan hukum alam secara mutlak—sama saja dengan menyerahkan nyawanya dengan cuma-cuma.

Tunggu sampai aku memadatkan Istana Jiwaku, kau anjing tua, batin Chu Chen dengan senyum buas.

Menggunakan ingatan yang baru saja ia rampas dari Yan Kuang, Chu Chen seketika mengetahui tata letak kota raksasa ini. Di bawah pilar-pilar batu yang menopang pelataran atas yang megah ini, terdapat sebuah lorong sesat kumuh tempat para budak, penjahat, dan pengungsi dibuang. Kawasan Bawah. Tempat di mana aliran Qi sangat kacau dan Niat Spiritual tingkat tinggi pun sulit menembusnya.

Chu Chen menancapkan kakinya ke lantai logam.

CRAAAT!

Jubah di punggungnya robek. Sepasang Sayap Tulang Naga berwarna hitam legam menembus keluar, membentang lebar hingga lima tombak. Aura purba dan Niat Pedang yang mematikan meledak, memotong ruang yang memadat di sekitarnya dan membebaskan Meng Fan serta Bai dari tekanan ahli Penyatuan Langit.

Chu Chen mengulurkan kedua tangannya, meraih kerah belakang jubah Meng Fan dan lengan Bai secara bersamaan.

"Pegangan," perintah Chu Chen singkat.

Sebelum Bai sempat memprotes, Chu Chen mengepakkan sayap tulang hitamnya dengan tenaga ledakan penuh.

WUUUUUSSSSH!

Lantai logam di bawah kakinya hancur membentuk kawah. Dengan kecepatan yang melampaui batas kelajuan angin, Chu Chen melesat bagaikan bintang jatuh berwarna hitam, menukik lurus dari ujung pelataran singgah ke arah lautan awan emas di bawahnya.

"TIDAAAAAK!" Meng Fan menjerit histeris saat mereka terjun bebas dari ketinggian ribuan tombak, perutnya terasa tertinggal di atas pelataran.

Hanya berselang dua tarikan napas setelah Chu Chen menembus awan dan menghilang dari pandangan, seberkas cahaya emas raksasa menghantam pelataran yang baru saja ia tinggalkan.

Lantai logam spiritual selebar seratus tombak meleleh dalam sekejap. Sesosok pria paruh baya mengenakan zirah perang bertahtakan sembilan matahari mendarat di tengah kawah. Matanya memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Ini adalah Jenderal Kekaisaran, seorang ahli Penyatuan Langit Tahap Awal.

Jenderal itu menatap tumpukan abu kelabu yang tersisa dari Yan Kuang, lalu memicingkan matanya menembus awan tebal di bawah pelataran.

"Sayap Tulang hitam... Fisik yang bisa menahan tekanan Penyatuan Langit..." gumam sang Jenderal, Niat Spiritualnya mencoba melacak ke arah Kawasan Bawah, namun langsung terhalang oleh lapisan gas beracun dan jutaan tumpukan aura manusia kotor di sana.

"Seekor tikus dengan garis keturunan binatang buas purba telah menyusup ke kotaku," sang Jenderal mengepalkan tangannya, membuat ruang di sekitarnya retak. "Segel Kawasan Bawah! Kirimkan Pasukan Pemburu Bayangan Matahari! Bawa kepala anak itu padaku dalam tiga hari!"

...

Di kedalaman Kawasan Bawah Kota Perbatasan.

Tempat ini sama sekali tidak mendapat cahaya matahari. Diterangi oleh jamur-jamur berpendar hijau dan limbah Qi cair yang menetes dari kota atas, Kawasan Bawah adalah sebuah lorong sesat yang terbuat dari rongsokan kapal terbang, saluran pembuangan raksasa, dan gubuk-gubuk batu kumuh.

BAM!

Chu Chen mendarat di atas atap sebuah saluran pembuangan raksasa, kakinya menciptakan bunyi derak logam. Ia segera menarik sayap tulangnya kembali ke bawah kulit, lalu menjatuhkan Meng Fan dan Bai ke lantai besi berkarat.

Meng Fan langsung berguling dan memuntahkan seluruh isi perutnya, pusing akibat terjun bebas menembus kecepatan tinggi.

Bai mengatur napasnya, mencoba menstabilkan rambutnya yang berantakan. Ia menatap Chu Chen, yang kini menyandarkan punggungnya ke dinding besi. Wajah pemuda itu memerah, dan kulitnya memancarkan uap panas. Menyerap energi Raja Fana tanpa waktu untuk mencernanya dengan tenang mulai memberikan dampak pada meridian Chu Chen.

"Kau gila," desis Bai, nada suaranya dipenuhi oleh rasa takjub dan ngeri. "Kau benar-benar membunuh seorang kapten di jantung pelataran mereka dan melarikan diri dari ahli Penyatuan Langit! Seluruh kota ini akan memburumu!"

"Biarkan mereka turun ke selokan ini jika mereka berani," Chu Chen menyeringai tipis, mengusap setetes darah kotor dari sudut bibirnya.

Ia memejamkan mata, memusatkan Niat Spiritualnya ke dalam ingatan yang ia curi dari Yan Kuang. "Kawasan Bawah ini adalah kawasan buta hukum. Hukum Kekaisaran tidak berlaku di sini, karena tempat ini dikuasai oleh Perkumpulan Naga Hitam dan serikat pembunuh bayaran. Jika kita bisa berbaur, Jenderal itu tidak akan bisa menemukan kita tanpa menghancurkan fondasi kota atasnya sendiri."

"Apa rencanamu sekarang?" tanya Bai, menyadari bahwa nyawanya kini sepenuhnya bergantung pada siasat pemuda ini.

"Mencerna makananku," jawab Chu Chen pelan, matanya terbuka dan memancarkan cahaya emas redup. "Energi Raja Fana ini sudah cukup untuk mendorong Lautan Qi-ku ke ambang Puncak. Aku akan mencari tempat sembunyi, memadatkan fondasiku, dan bersiap menerobos Alam Istana Jiwa. Begitu aku memadatkan Istana Jiwa Nagaku..."

Chu Chen menatap ke arah langit-langit logam yang menutupi mereka dari kota atas.

"...kita akan kembali ke atas sana, dan aku akan merobek kepala Jenderal Penyatuan Langit itu dari lehernya."

1
black swan
...
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!