Aldi Mahendra seorang pemuda yang hidup sebatang kara, dia dari usia empat tahun hidup di jalanan. Hingga akhirnya bertemu seorang kakek yang mengangkatnya menjadi cucunya. Aldi di sekolah hingga lulus SMK, kini dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar.
Walaupun uangnya tak seberapa tapi bisa untuk makan setiap hari, apalagi pekerjaan untuk lulusan SMK itu sedikit susah. Aldi di pandang rendah oleh siapapun hingga saat ini berusia 19 tahun dia tetap berusaha hidup di setiap gempuran ombak yang besar datang di kehidupannya.
Semua berubah ketika mendapatkan sebuah cincin merah delima, kehidupannya berubah menjadi lebih baik lagi tapi sesuatu keanehan di kedua matanya membawa dia kedalam dunia yang seharusnya tidak terjadi.
Perjalanan kota maupun di desa menjadi tolak ukur bagi pengalaman Aldi menjadi lebih berani lagi, seperti bentuk tubuhnya yang tinggi dan kekar dengan wajah tegasnya mulai terlihat dalam perjalanan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salma Nempel Terus
"Salma kamu tuh," Niko berkata dengan wajah sedikit kesal.
"Sudah masuk dulu Al," lanjut Niko meminta Aldi masuk kedalam.
Aldi berjalan masuk kedalam, Salma tetap di belakang Aldi seperti mencari perlindungan kepada pemuda itu. Aldi kini melepaskan tasnya lalu duduk di sofa empuk.
Salma ikut duduk di samping Aldi dia melihat kakaknya yang masih terlihat sangat kesal kepada dirinya. Dia memegang lengan Aldi cukup erat membuat Aldi sedikit bingung ada apa dan kenapa.
"Ini adikmu Ko?," tanya Aldi.
"Iya itu adikku," balas Niko, dengan wajah kesalnya.
"Ini Kak Aldi ya?," Salma memandang wajah Aldi cukup lama lalu bertanya pelan.
"Iya," balas Aldi.
"Ternyata kak Aldi lebih tampan dari kakakku," ujar Salma, lalu melirik kakaknya.
Niko yang mendengarkan itu sangat kesal dengan adiknya, wajahnya cemberut memalingkan tidak melihat lagi mereka berdua.
"Sudah-sudah kalian berdua ini. Dari dulu sampai sekarang masih aja berantem," ucap Aldi.
"Kasih tau dia Al. Kalau makan jangan yang pedas-pedas," ujar Niko.
"Cuman dikit aja lo kak masak gak boleh sih," balas Salma.
"Gak boleh Salma, kamu tuh punya penyakit lambung kalau sakit lagi giman?," Niko berkata pelan, nadanya sedikit lembut karena khawatir dengan keadaan adik satu-satunya.
"Salma dengerin kakakmu itu, dia sangat khawatir jika kamu sakit. Bukan marah tapi dia sangat menyayangimu jadi dia sangat perhatian dalam urusan kesehatanmu," Aldi menjelaskan dengan perlahan.
Salma yang mendengarkan ucapan Aldi kini kepalanya menunduk, seperti tidak memiliki daya untuk melawan perkataan Aldi di depannya.
Air mata Salma turun, dia menangis tersedu-sedu lalu berlari memeluk kakaknya Niko. "Sudah jangan menangis," Niko membelai rambut adiknya lalu berkata pelan.
"Kak maafin Salma, Salma bakal nurut," ujar Salma, dengan tangisnya.
"Iya kakak maafin kok," balas Niko.
"Nah gitu dong kan adem aku lihatnya," ikut Aldi berkata dengan pelan, dia duduk merentangkan kedua tangannya.
Salma melepaskan pelukannya lalu beranjak pergi duduk di samping Aldi kembali. Niko yang melihat itu melototkan matanya.
Aldi sendiri sangat terkejut ketika membuka matanya melihat Salma sudah duduk di sampingnya. Dia sedikit bingung harus bagaimana meminta Salma untuk duduk di sana takut dia marah lalu liat wajah Niko yang seperti kesal menambah kebingungan Aldi.
"Tuh Al dia dari tadi nanyain lu," ujar Niko, dengan wajah kesalnya.
"Ngapain nyariin aku?," tanya Aldi bingung.
"Gak taulah aku, coba tanya aja dia," balas Niko.
Aldi kemudian memandang wajah Salma yang sedang memeluk dirinya.
"Kenapa nyariin aku Salma?," tanya Aldi.
"Pengen tau aja kak, sudah lama gak bertemu jadi kangen," jawab Salma.
"Hmmm begitu. Sekarang kamu sudah besar ya!," ujar Aldi.
"Iya dong kak, makin cantik kan aku?," balas Salma.
"Huekkk...," celetuk Niko mendengarkan perkataan adiknya.
Salma memandang kakaknya dengan wajah sedikit kesal.
"Ish kak aku lagi tanya sama kak Aldi," ujar Salma, lalu memalingkan wajahnya.
"Sudah-sudah kalian ini mulai lagi. Ko anterin aku beli ponsel bisa gak?," Aldi berkata pelan lalu meminta tolong kepada Niko.
"Bisa, nanti aja sekalian jalan-jalan sebentar sebelum pulang," balas Niko.
Salma tetap menempel pada Aldi, membuat Aldi mengedipkan matanya kepada Niko harus bagaimana menghadapi adiknya itu. Niko tertawa kecil melihat wajah kebingungan Aldi, Niko tidak masalah jika dekat Aldi memang terkenal baik.
Niko pergi meninggalkan keduanya, dia naik keluar melihat keseluruhan kostan yang akan segera di buka. Niko meminta adiknya berjaga sambil berkuliah dikota agar nanti penghasilannya masuk langsung kebutuhan sehari-hari.
Aldi sendiri masih diam merentangkan kedua tangannya walaupun Salma masih memeluk dirinya. Salma sendiri entah mengapa enggan melepaskan pelukannya dia merasa sangat nyaman berada di dekat sahabat kakaknya ini.
Kemudian Salma melepaskan pelukannya. "Kak Al, emang mau beli ponsel apa?," tanya Salma dia penasaran.
"Aku juga gak tau apa yang bagus," jawab Aldi.
"Hmmm.. beli iPhone saja kak yang lima belas promax," ujar Salma, dengan berbicara seimut-imutnya depan Aldi.
"Mahal itu Salma, cari yang murah tapi baterai banyak kualitas bagus," balas Aldi.
"Kalau begitu rog aja kak," ucap Salma.
"Seperti apa ponselnya?," tanya Aldi.
"Sebentar kak aku ambil ponselku dulu," balas Salma.
Salma pergi kedalam kamarnya untuk mengambil ponsel.
Aldi berdiri melihat kost-an sekaligus rumah milik Niko dan Adiknya, namun Aldi terpaku pada salah satu sudut ruangan seperti terlalu gelap. Padahal ini masih siang hari, dia memfokuskan pengelihatannya.
Di sudut ruangan ternyata ada mahluk tak kasat mata, sosok itu seperti pria bungkuk dengan lidahnya begitu panjang turun kebawah. Mata merah besar terlihat begitu menyeramkan dengan kuku panjang terlihat jelas.
"Kau bisa melihatku anak muda?," sosok itu bertanya kepada Aldi yang sangat fokus.
Aldi yang mendengarkan suara mahkluk itu bulu kuduknya berdiri seketika, dia tidak menyangka akan ketahuan oleh mahluk itu.
"Ngapain kamu disini?," suara Aldi sedikit bergetar karena ketakutan namun dia berusaha bertanya secara langsung.
"Ini rumahku," balas mahkluk astral.
"Bukan rumahmu ini, kau sudah beda alam jangan mengganggu usaha temanku," ujar Aldi, dia sedikit tidak melihat sosok itu.
"Dasar mana rendahan, lebih baik kau diam saja," suara mahkluk astral itu sedikit meninggi.
Namun beberapa saat kemudian mahkluk itu melihat siluet energi yang cukup pada pada cincin yang Aldi pakai, seperti energi itu memaksa mahluk lidah panjang untuk pergi segera.
Belum sempat mengatakan sesuatu mahkluk itu seperti terlempar cukup keras menghilang seketika dari pandangan Aldi. Kini Aldi kebingungan kemana sosok itu menghilang, dia celingak-celinguk mencari keberadaan mahkluk tadi.
...🌟 UNTUK SEMUANYA 🌟...
...Selamat datang di karya pertamaku disini....
...Terima kasih sudah mau membaca karya pertama saya. Semoga semuanya bisa menikmati karya saya ini, dalam hubungan yang rumit sekaligus penuh horor misteri....
...Saya mau menyampaikan bahwa cerita ini hanya fiksi belaka jika ada nama yang sama, tempat, atau peristiwa apapun itu ketidaksengajaan semata....
...📍PENTING...
...Novel ini khusus untuk yang sudah dewasa 18+. Untuk semuanya mohon bijak dalam membaca dan pastikan usia kalian mencukupi, semoga kalian nyaman dan suka....
...Jika ada keliru dalam penerapan tanda baca dan lainnya mohon di maklumi karena saya memang baru terjun kedunia penulis, tapi saya juga akan belajar lebih giat lagi....
...💌💌...
...Dukung karya saya dengan meninggalkan jejak di setiap babnya, Like, Comment, dan jangan lupa follow 😊....
...🚧🚧...
...Info penting, bacalah di setiap babnya agar bisa memahami alurnya seperti apa. Jika melompati bab akan mempengaruhi alur cerita dan retensi tentang buku ini. Semoga kalian bisa menikmati karya saya ini, semoga pesan saya ini bermanfaat....
...🌟 Selamat membaca dan nikmatilah setiap penampakan mahkluk yang tak kasat mata, semoga kalian terhanyut dalam ceritanya 🌟...
...By: D.P. Auzora....
°°
"Kak lagi ngapain?," Salma bertanya.
Aldi terkejut mendengarkan pertanyaan tiba-tiba Salma, dia melompat pelan lalu menoleh ke Salma.
"Astaga Salma bikin kaget aja kamu ini," balas Aldi, dengan napasnya tersengal-sengal.
"Hhehe maaf kak, salah sendiri ngapain diem disini," ujar Salma.
"Pengen lihat-lihat aja tadi," balas Aldi.
"Sini kak aku kasih lihat," ajak Salma, menarik perlahan lengan Aldi untuk duduk kembali di tempat tadi.
Salma memperlihatkan semua ponsel yang bagus-bagus dan menjelaskan apa itu rog, Salma juga memutarkan video di setiap ponsel yang di tanya Aldi hingga Niko datang kembali.
Niko tidak ingin menganggu obrolan mereka dia pergi ke kamarnya sendiri. Salma terus menjelaskan kepada Aldi dengan penuh perhatian, pandangan Salma tak bisa lepas ketika Aldi fokus melihat video tentang ponsel.
"Pilih yang mana kak?," tanya Salma.
"Ternyata harganya lumayan juga ya. Oppo A6 pro 5G itu aja kayaknya bagus," ujar Aldi, dia sangat tertarik pada ponsel baterai yang cukup banyak.
"Aku nanti boleh ikut gak kak?," tanya Salma.
"Gak boleh," Niko menjawabnya dari kejauhan sambil membawa berkas-berkas yang dia butuhkan.
"Ish kakak ini. Aku tanya kak Aldi bukan kakak," Salma berkata dengan kesal.
"Sudah ko biarkan dia ikut juga," ucap Aldi.
"Tuh kak boleh ikut," Salma memandang wajah kakaknya dengan penuh kemenangan.
Niko tersenyum masam lalu dia duduk di dekat Aldi.
Mereka bersantai sambil menonton televisi. Sedangkan Salma masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan dirinya, karena ingin ikut jalan-jalan bersama kakaknya.
°°°°°
Ceritanya udah bagus, hanya tinggal memperbaiki peletakkan tanda baca.