Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Srak! Srak!
Suara gesekan kain bulu beruang di lantai kayu gubuk yang kasar adalah satu-satunya hal yang bisa kudengar pagi itu. Tubuhku masih kaku. Rasanya seperti setiap sendiku telah disemen secara permanen oleh es dari air terjun kemarin. Aku mencoba menggerakkan jari kelingkingku, tapi butuh usaha seolah-olah aku sedang mengangkat bongkahan batu besar.
"Bangun, Bocah Malas! Matahari sudah mengintip, artinya air terjun sudah menunggumu untuk sarapan!"
Brak!
Pintu gubuk ditendang terbuka. Cahaya pagi yang pucat menusuk mataku. Ki Kusumo berdiri di ambang pintu, memegang ember kayu berisi air yang... Ah, tidak.
Byuuuur!
"Dingiiiinnn!" aku berteriak, melompat dari alas tidurku. Air itu bukan air biasa; ada potongan es kecil-kecil yang ikut mengguyur kepalaku. Sialan, dia benar-benar tidak memberi jeda sedetik pun untukku bernapas.
"Hahaha! Bagus, refleksmu meningkat. Kemarin kau butuh lima detik untuk berteriak, sekarang cuma dua detik," Ki Kusumo nyengir, lalu melemparkan sepotong ubi rebus yang sudah dingin ke arahku. "Makan itu sambil jalan. Kita ke Guntur Es sekarang."
Aku mengunyah ubi itu dengan malas. Rasanya seperti mengunyah tanah, tapi aku butuh tenaganya. Kakiku melangkah keluar gubuk, menembus kabut pagi yang masih tebal. Setiap langkah terasa nyeri, kulit bahuku yang robek kemarin sudah mengering dan terasa ketat, seperti ditarik-tarik setiap kali aku menggerakkan lengan kiri.
Sesampainya di pinggir kolam Air Terjun Guntur Es, nyaliku menciut lagi. Gemuruhnya terdengar lebih ganas dari kemarin. Uap dinginnya seolah-olah membentuk tangan-tangan hantu yang siap menyeretku ke dasar kolam.
"Ki... apa benar aku harus melakukan ini setahun? Kulitku bisa mengelupas semua," gumamku, menatap pantulan diriku di air yang jernih namun mematikan.
"Mengelupas? Bagus! Biarkan kulit bayimu yang lembek itu mengelupas dan digantikan oleh kulit baru yang lebih keras," Ki Kusumo duduk di batu "singgasana"-nya, mulai mengasah belati karatan dengan batu kali. Sret... sret... "Dengar, Qinar. Ujian Kulit Besi ini bukan cuma soal menahan dingin. Ini soal memaksa Qi-mu untuk melindungi setiap pori-pori tubuhmu. Kalau kau cuma pasrah, kau akan mati membeku. Tapi kalau kau 'memerintah' energimu untuk melawan, kau akan melampaui batas manusia biasa."
Aku tidak punya pilihan. Dengan satu tarikan napas panjang, aku menceburkan diri.
Byuur!
Dinginnya hari kedua ini terasa berbeda. Jika kemarin rasanya seperti ditusuk jarum, hari ini rasanya seperti tulang-tulangku sedang diremuk oleh tang besi. Aku merangkak menuju titik jatuhnya air. Begitu sampai di bawah kucuran deras itu—Bhuuagh!—pandanganku langsung gelap sejenak. Tekanan airnya terasa dua kali lebih berat karena tubuhku masih lebam-lebam.
"Konsentrasi!" teriak Ki Kusumo di antara deru air. "Jangan cuma diam seperti patung pajangan! Putar Qi-mu! Rasakan panas di perutmu, alirkan ke permukaan kulit! Jadikan kulitmu sebagai perisai!"
Aku memejamkan mata. Aku mencoba memanggil bola api di perutku. Tapi hari ini, bola api itu terasa enggan bekerja. Tubuhku terlalu lelah. Dinginnya air mulai menyusup ke paru-paru, membuat napas setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan kaca.
Uhuk! Uhuk!
Aku tersedak air es. Dadaku sesak. Rasa sakit di bahu kiriku kembali berdenyut hebat. Luka yang kemarin belum sembuh total kini terbuka lagi karena hantaman air terjun yang konstan. Darah kembali mengalir, encer terbawa arus.
"Aku... aku tidak kuat, Ki..." bisikku. Suaraku hilang ditelan gemuruh.
Pikiranku mulai kacau. Kenapa aku di sini? Di mana ayahku? Di mana ibuku? Bayangan seorang wanita cantik dengan wajah pucat yang memanggil namaku—Qinar... Cahaya yang kuat...—muncul sekilas di benakku. Itu memori atau cuma halusinasi karena hipotermia?
Tiba-tiba, rasa hangat yang sangat kuat meledak dari dalam dadaku. Bukan dari perut, tapi dari dadaku. Rasanya seperti amarah yang murni bercampur dengan keinginan untuk hidup. Tanda merah di pergelangan tanganku mendadak berdenyut panas, memancarkan cahaya redup yang tak terlihat di bawah air terjun.
Ssssshhh...
Uap mengepul dari tubuhku secara masif. Air es yang menyentuh kulitku tiba-tiba menguap sebelum sempat membekukan darahku. Aku merasakan sensasi aneh; kulitku terasa menebal, menjadi padat, dan sedikit demi sedikit, rasa sakit akibat hantaman air mulai berkurang.
"Hah... Hah..." aku mengatur napas.
Aku membuka mata. Aku bisa melihat tetesan air yang jatuh seolah-olah bergerak lebih lambat. Aku bisa merasakan setiap aliran Qi merayap di bawah permukaan kulitku, menutup luka, dan memperkuat jaringan otot. Ini bukan lagi sekadar menahan diri, aku mulai "menelan" tekanan air terjun itu.
Ki Kusumo yang sedari tadi mengasah belati, tiba-tiba berhenti. Ia berdiri dan menyipitkan mata ke arahku. "Walah... bocah ini benar-benar monster kecil. Dia memicu energi asalnya di hari kedua?" gumamnya lirih, yang tentu saja tidak terdengar olehku.
Tak!
Tiba-tiba sebutir batu kecil melayang cepat dan menghantam dahiku.
"Aduh! Apa lagi, Ki?!" protesku tanpa bergeser dari posisi dudukku. Anehnya, batu itu tidak membuat kepalaku bocor. Hanya terasa seperti disentil jari biasa.
"Jangan sombong dulu! Itu baru batu kecil. Besok, aku akan melempar kayu-kayu besar ke arahmu saat kau mandi!" Ki Kusumo tertawa jahat. "Dan jangan lupa, ini baru bulan pertama. Masih ada sebelas bulan lagi. Kalau kau bisa bertahan, kulitmu akan sekeras perunggu!"
Aku tidak menjawab. Aku kembali memejamkan mata, membiarkan air terjun menghantamku sesuka hatinya. Aku mulai menikmati sensasi panas yang berperang dengan dingin ini. Di tengah siksaan ini, aku merasa seolah-olah aku sedang lahir kembali. Bukan sebagai pangeran yang dibuang, tapi sebagai sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Malam harinya, saat kami kembali ke gubuk, aku melihat tanganku di depan api unggun. Kulitku tidak lagi seputih dulu. Ada rona kemerahan dan teksturnya terasa lebih kenyal namun keras saat ditekan.
"Ki," panggilku sambil mengunyah sisa ubi. "Setelah setahun ini selesai, apa ujian selanjutnya?"
Ki Kusumo menenggak araknya sampai habis, lalu menatapku dengan seringai licik. "Ujian kedua? Hmm... kau suka ketinggian, Qinar? Karena ujian kedua akan membuatmu berharap kau punya sayap untuk terbang."
Aku menelan ludah. Baru hari kedua saja aku sudah hampir mati. Sembilan belas ujian lagi? Aku menatap tanda merah di tanganku yang kini sudah tenang kembali. Apapun yang terjadi, aku tidak akan mati di gunung ini. Aku akan tumbuh besar, dan suatu hari nanti, aku akan mencari pria berjubah megah itu untuk bertanya: Kenapa kau membuangku?
"Sudah, tidur! Besok aku akan bangunkan kau dengan cara yang lebih meriah!" Ki Kusumo menendang pantatku pelan agar aku segera masuk ke dalam kain bulu.
Aku tertidur dengan suara gemuruh Guntur Es yang masih terngiang-ngiang di telinga. Esok akan lebih berat, tapi aku tahu, apiku tidak akan padam.