Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Kontrak dan Kata Hati
Jakarta baru saja melewati jam sibuknya, namun bagi Adrian Alfarezel dan Zevanya, kebisingan sesungguhnya baru saja dimulai di dalam batin mereka masing-masing. Setelah konferensi pers yang mengguncang publik itu, dunia seolah tidak lagi memberikan mereka ruang untuk sekadar bernapas secara privat. Di layar televisi lobi apartemen, di ponsel setiap karyawan, hingga di koran-koran pagi, wajah "Sang CEO dan Si Gadis Barbar" menjadi tajuk utama yang tak terhindarkan.
Malam itu, hening kembali merayap di lantai 50. Adrian berdiri di ruang tengah, menatap layar tabletnya yang memuat statistik sentimen publik. "Enam puluh persen negatif, tiga puluh persen netral, dan sepuluh persen mendukung," gumamnya datar.
Zeva, yang sedang duduk bersila di atas sofa sambil mengunyah kerupuk kaleng yang ia bawa dari warung Mpok Leha, menoleh. "Sepuluh persen mendukung itu lumayan, Adrian. Biasanya kalau gue lewat di depan pangkalan ojek sambil ngebut, yang dukung gue nol persen, sisanya pada nerakin."
Adrian meletakkan tabletnya dan duduk di seberang Zeva. Ia menatap gadis itu lekat-lekat. "Kau tidak takut, Zeva? Mereka menyebutmu wanita yang hanya mengincar harta. Mereka mencari tahu sekolahmu, masa lalumu, bahkan mereka mulai mendatangi warung bibimu."
Zeva berhenti mengunyah. Ekspresinya yang santai perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata yang sedikit lebih gelap. "Kalau mereka datengin gue, gue nggak takut. Tapi kalau mereka ganggu Mpok Leha... itu beda urusan. Tapi Adrian, lu tahu kenapa gue masih di sini?"
"Kenapa?"
"Karena gue liat gimana lu berdiri di depan mikrofon tadi sore. Lu nggak kelihatan kayak orang yang lagi jalanin kontrak. Lu kelihatan kayak orang yang beneran marah pas gue dihina. Dan itu..." Zeva menggantung kalimatnya, merasa pipinya tiba-tiba menghangat. "Itu bikin gue ngerasa nggak sendirian di dunia yang gila ini."
Adrian merasakan sesuatu berdesir di dadanya. Tembok es yang selama bertahun-tahun ia bangun dengan susah payah kini terasa seperti es batu yang diletakkan di bawah terik matahari Jakarta. Meleleh, perlahan namun pasti.
Tiba-tiba, bel apartemen berbunyi—sebuah kejadian langka karena hampir tidak ada yang berani datang ke tempat Adrian tanpa izin protokol yang ketat.
Adrian berjalan menuju pintu dan memeriksanya melalui kamera keamanan. Rahangnya mengeras. "Kakek," bisiknya.
Wijaya Alfarezel masuk dengan tongkat kayu jatinya, dikawal oleh dua pria berjas hitam yang tetap berjaga di luar. Sang patriark keluarga Alfarezel itu tidak tampak marah; sebaliknya, ada binar kepuasan di matanya yang sudah mulai mengeriput.
"Sebuah pertunjukan yang luar biasa, Adrian. Konferensi pers itu... sangat berisiko, tapi sangat Alfarezel," ujar Wijaya, langsung duduk di kursi utama tanpa dipersilakan.
Zeva langsung berdiri, mencoba bersikap sopan meski tangannya masih terasa berminyak karena kerupuk. "Selamat malam, Kek. Mau saya buatkan teh? Atau... kopi micin?"
Wijaya tertawa kecil. "Duduklah, Zevanya. Aku tidak butuh teh. Aku ke sini hanya ingin memastikan satu hal. Setelah kekacauan media ini, apakah kalian berdua siap untuk langkah selanjutnya? Pertunangan ini tidak bisa lagi hanya menjadi kabar burung. Minggu depan, kita akan mengadakan pesta pertunangan resmi di ballroom hotel kita."
Zeva hampir tersedak ludahnya sendiri. "Minggu depan?! Kek, itu kecepetan! Saya belum sempet diet, eh maksud saya, persiapannya gimana?"
"Semua sudah diatur," kata Wijaya dingin namun tegas. "Tapi ada satu syarat. Sebelum pesta itu, Zevanya harus tinggal di rumah keluarga besar selama tiga hari untuk menjalani 'pembekalan' sejarah keluarga. Aku ingin dia tahu apa yang dia wakili saat dia memakai cincin Alfarezel."
Adrian langsung berdiri memprotes. "Kakek, itu tidak perlu. Zeva sudah belajar banyak di sini bersamaku."
"Dia belajar cara makan mi instan bersamamu, Adrian. Itu bukan pembekalan," balas Wijaya tajam. "Jika dia benar-benar wanita yang kau pilih untuk melawan dunia, maka biarkan dia membuktikan dia bisa bertahan di rumah keluarga tanpa perlindunganmu."
Zeva melihat ketegangan di antara kakek dan cucu itu. Ia tahu Adrian mencoba melindunginya dari keluarga Alfarezel yang dikenal licin dan penuh intrik. Tapi Zeva adalah Zeva; ia tidak pernah suka bersembunyi di balik punggung orang lain.
"Oke, Kek. Saya terima tantangannya," ujar Zeva mantap.
"Zeva, kau tidak tahu apa yang kau katakan," bisik Adrian panik.
"Tenang, Adrian. Gue udah pernah ngadepin preman pasar yang bawa parang. Masa ngadepin keluarga lu yang cuma bawa sendok perak gue takut?" Zeva memberikan kedipan mata yang membuat Wijaya tersenyum puas.
Setelah Wijaya pergi, suasana apartemen berubah menjadi tegang dengan cara yang berbeda. Adrian berjalan mondar-mandir di ruang tengah.
"Zeva, rumah itu bukan sekadar rumah. Di sana ada bibi-bibiku, sepupu-sepupuku yang haus harta, dan mereka semua akan mengulitimu hidup-hidup. Mereka tidak seperti Kakek yang menghargai kejujuran. Mereka hanya menghargai status," ujar Adrian dengan nada cemas yang sangat tulus.
Zeva mendekati Adrian, menghentikan langkah pria itu dengan memegang kedua lengannya. "Adrian, liat gue."
Adrian berhenti, menatap mata cokelat Zeva yang jernih.
"Selama ini gue hidup di jalanan. Gue tahu kapan orang mau nusuk dari belakang, dan gue tahu gimana caranya gigit balik. Lu jangan ngerendahin gue dengan mikir gue bakal kalah cuma gara-gara disindir soal merk tas. Gue di sini buat bantu lu, kan? Ini bagian dari kontrak gue."
"Ini bukan lagi soal kontrak, Zeva," sahut Adrian tanpa sadar. Suaranya rendah dan serak. "Aku tidak ingin kau terluka karena ambisi pribadiku."
Jarak mereka kini sangat dekat. Bau parfum kayu cendana Adrian bercampur dengan bau sabun mandi Zeva yang sederhana. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Adrian perlahan menggerakkan tangannya, menyentuh pipi Zeva yang lembut. Ini bukan sentuhan untuk membersihkan jelaga seperti sebelumnya; ini adalah sentuhan seorang pria pada wanita yang mulai ia sayangi.
Zeva menahan napas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Adrian bisa mendengarnya. "Adrian... kita ini pura-pura, inget?" bisik Zeva, namun ia tidak menjauh.
"Iya, kita pura-pura," jawab Adrian, wajahnya semakin mendekat. "Tapi terkadang, kepura-puraan adalah cara terbaik untuk menyembunyikan kebenaran yang terlalu menakutkan untuk diakui."
Hampir saja bibir mereka bersentuhan ketika ponsel Zeva tiba-tiba berbunyi nyaring. Bunyi nada dering dangdut koplo yang sangat keras memecah suasana romantis itu dengan seketika.
“Onde-onde... onde-onde...”
Zeva melompat mundur dengan wajah semerah tomat. "E-eh, Mpok Leha telepon! Pasti mau nanya soal berita tadi!"
Adrian berdeham, memalingkan wajahnya dan merapikan kemejanya yang tidak berantakan. "Ya, silakan diangkat. Saya... saya akan memeriksa laporan keamanan lagi."
Zeva berlari ke kamarnya dengan langkah seribu, menyisakan Adrian yang berdiri sendirian di tengah ruangan, mengumpat pelan pada dirinya sendiri karena hampir saja melanggar aturan paling dasar dalam kontrak mereka: Jangan pernah jatuh cinta.
Di dalam kamarnya, Zeva menyandarkan punggung ke pintu, jantungnya masih berpacu. Ia mengangkat telepon dari Mpok Leha dengan tangan gemetar.
"Halo, Mpok? Iya, Zeva di sini."
"ZEVA! ITU DI TV BENERAN? LU JADI TUNANGAN CEO? WARUNG KITA DIDATENGIN WARTAWAN, ZEV! MPOK SAMPAI JUALAN GORENGAN PAKAI KACAMATA HITAM BIAR KAYAK ARTIS!" teriak Mpok Leha di seberang sana.
Zeva tertawa kecil, sedikit lega karena keceriaan bibinya bisa mengalihkan pikirannya dari momen panas dengan Adrian tadi. "Iya, Mpok. Tapi Mpok jangan ngomong aneh-aneh ya ke wartawan. Bilang aja Zeva lagi kerja."
"Kerja jadi tunangan ya? Aduh, kalau gitu tiap hari Mpok doain lu jadi beneran kawin sama dia! Orang ganteng begitu, kalau jadi keponakan Mpok, bisa Mpok pajang di depan warung buat narik pelanggan!"
Zeva hanya bisa menggelengkan kepala. "Udah dulu ya, Mpok. Zeva capek."
Setelah menutup telepon, Zeva menatap dirinya di cermin. Ia melihat wanita yang berbeda. Ada binar di matanya yang tidak pernah ada sebelumnya. Ia menyentuh bibirnya sendiri, membayangkan apa yang hampir terjadi tadi.
"Gila lu, Zev. Jangan baper. Dia itu CEO, lu itu cewek barbar. Dunia kalian beda," bisiknya pada bayangannya sendiri.
Sementara itu, di ruang kerjanya, Adrian tidak bisa fokus. Ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil berwarna beludru hitam. Di dalamnya ada sebuah cincin berlian peninggalan ibunya. Cincin itu seharusnya diberikan pada wanita yang paling ia cintai.
Ia awalnya berencana menggunakan cincin replika untuk pesta pertunangan nanti, tapi sekarang ia ragu. Melihat keberanian Zeva, melihat bagaimana gadis itu tidak takut pada kakeknya, Adrian merasa Zeva layak mendapatkan yang asli—meski hanya untuk sementara.
Ia teringat hari pertama mereka bertemu. Helm pink yang menghantam mobilnya kini terasa seperti simbol keberuntungan, bukan kesialan. Goresan di mobilnya bisa hilang, tapi goresan yang dibuat Zeva di hatinya kini telah membentuk pola yang indah.
Namun, ia juga tahu tantangan di depan akan semakin berat. Bagian 2 dari perjalanan mereka bukan lagi soal belajar cara makan atau cara bicara. Ini adalah soal bertahan hidup di tengah intrik keluarga besar Alfarezel dan serangan dari Clarissa yang pasti tidak akan tinggal diam.
Adrian berdiri, mematikan lampu ruang kerjanya. "Besok, semuanya akan berubah," gumamnya.
Keesokan paginya, matahari terbit dengan cahaya keemasan yang menembus kaca apartemen. Zeva keluar dari kamarnya dengan ransel besarnya, siap untuk "pembekalan" di rumah keluarga besar.
Adrian sudah menunggunya di depan lift. Ia tidak mengatakan apa pun tentang kejadian semalam, tapi cara ia menatap Zeva terasa jauh lebih hangat.
"Siap, Gadis Barbar?" tanya Adrian.
Zeva memakai helm bogo pink-nya, meski ia sedang tidak naik motor. "Siap, Bos Robot. Tapi kalau gue nggak balik dalam tiga hari, laporin ke polisi ya!"
Adrian tertawa, lalu secara mengejutkan, ia menarik Zeva ke dalam pelukan singkat yang erat. "Kembalilah dalam keadaan utuh. Aku akan menunggumu di sini."
Pintu lift tertutup, membawa Zeva turun menuju babak baru dalam hidupnya.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan