Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 14
Deru mesin jet pribadi Gulfstream G650 milik Alexander Group terdengar halus, membelah lautan awan putih di atas Laut Jawa.
Yvone duduk meringkuk di kursi kulit yang empuk, pandangannya kosong menatap ke luar jendela. Langit pagi memancarkan semburat jingga keemasan yang indah, namun pikiran wanita itu masih terjebak dalam teror semalam. Percobaan pembunuhan ayahnya. Serangan Nadia. Pengkhianatan Kevin. Semuanya terjadi begitu cepat hingga Yvone merasa seolah ia sedang ditarik ke dalam pusaran badai tanpa pelampung.
Sebuah selimut kasmir hangat tiba-tiba tersampir menutupi bahunya.
Yvone sedikit terkesiap dan menoleh. Dylan berdiri di samping kursinya. Pria itu sudah menanggalkan setelan jas kaku khas Jakarta-nya. Ia mengenakan kemeja linen berwarna biru gelap dengan lengan digulung dan kerah yang dibiarkan terbuka, dipadukan dengan celana chinos. Penampilan kasual itu entah bagaimana justru membuat ketampanannya terlihat lebih mengintimidasi, liar, dan... mendominasi.
"Minum ini," ucap Dylan datar, menyodorkan secangkir teh hangat beraroma peppermint. "Kau belum tidur sedetik pun sejak kita meninggalkan penthouse."
Yvone menerima cangkir itu dengan kedua tangan yang masih sedikit gemetar. "Bagaimana keadaan Ayah? Apakah pemindahannya berjalan lancar?"
Dylan mengambil tempat duduk tepat di seberang Yvone. Ia menyilangkan kaki panjangnya dan menatap wanita itu dengan tatapan intens yang menenangkan.
"Tim taktisku sudah memindahkannya pukul tiga pagi tadi. Beliau sekarang berada di fasilitas medis bawah tanah berkeamanan maksimum milik Alexander Group di pinggiran Bogor. Hanya aku, Marco, dan kepala dokter yang tahu lokasinya. Menteri Hadi bisa membongkar seluruh rutan, tapi dia tidak akan menemukan ayahmu."
Mendengar konfirmasi itu, bahu Yvone yang sejak tadi menegang akhirnya mengendur. Air mata kelegaan kembali menggenang, namun ia buru-buru mengerjapkannya. "Terima kasih, Dylan. Aku... aku berutang nyawa padamu."
"Simpan ucapan terima kasihmu. Ini perangku, dan ayahmu adalah bagian dari pertahanan kita," balas Dylan, kembali ke nada bisnisnya yang kaku. Pria itu mengambil tabletnya. "Kita akan mendarat di Bali dalam dua puluh menit. Tim keamananku sudah menyisir seluruh perimeter resor pribadi kita di Uluwatu. Mulai detik ini, tidak ada satu pun orang luar yang bisa mendekatimu."
Yvone menyesap tehnya, merasakan kehangatan menjalar ke dadanya. "Lalu bagaimana dengan proyek kerjaku bersama Rangga? Aku baru saja menandatangani kontraknya."
"Kau tetap mengerjakannya. Asistenmu sudah mengirimkan semua sampel material dan blueprint ke kargo jet ini tadi malam," Dylan menatap Yvone di atas layar tabletnya, matanya sedikit menyipit saat nama arsitek itu disebut. "Kau akan berkoordinasi secara virtual. Aku sudah memasang jaringan komunikasi terenkripsi di vila. Arsitek itu bisa melihat sketsamu, tapi dia tidak akan tahu dari mana kau mengirimkannya."
Yvone menunduk, menyembunyikan senyum tipis. Dylan benar-benar memikirkan segalanya. Pria ini memindahkannya ribuan kilometer jauhnya untuk mengurungnya dari bahaya, namun tetap memastikan sayap Yvone tidak sepenuhnya dipatahkan.
Begitu pintu jet terbuka di terminal VIP Bandara Ngurah Rai, udara tropis Bali yang hangat dan sarat akan aroma laut langsung menyapa wajah Yvone.
Empat SUV hitam pekat dengan kaca anti-peluru sudah menunggu di landasan. Penjagaan di sini jauh lebih ketat daripada di Jakarta. Para pengawal berbadan tegap memakai kacamata hitam dan earpiece, wajah mereka siaga mendeteksi setiap ancaman.
Perjalanan menuju Uluwatu memakan waktu sekitar empat puluh menit. Saat mobil akhirnya berbelok memasuki jalan pribadi yang membelah hutan kecil, Yvone bisa melihat gerbang besi raksasa yang dijaga oleh petugas bersenjata. Gerbang itu terbuka, membawa mereka menyusuri jalan menanjak yang berakhir di tepi tebing.
"Selamat datang di Villa Karang Putih," ucap Dylan saat mobil berhenti.
Yvone melangkah turun dan seketika kehilangan kata-kata.
Vila itu tidak seperti penthouse Jakarta yang dingin dan kaku. Bangunan ini adalah mahakarya arsitektur tropis modern. Didominasi oleh material kayu ulin, batu alam, dan kaca lebar yang langsung menghadap ke hamparan Samudra Hindia yang tak bertepi. Kolam renang infinity pool membentang di tepi jurang, airnya menyatu dengan warna laut di kejauhan. Angin laut berhembus menyegarkan, membawa aroma bunga kamboja yang bermekaran di halaman.
Di sini, tidak ada hiruk-pikuk ibu kota. Tidak ada polusi. Hanya ada suara debur ombak yang menghantam karang di bawah sana.
"Bos," seorang pria bule bertubuh besar dengan luka sayat di alisnya kepala keamanan vila menghampiri Dylan dengan wajah serius. "Perimeter ring satu hingga tiga sudah aman. Tidak ada pelacak GPS atau drone yang terdeteksi dalam radius lima kilometer."
"Bagus," angguk Dylan. "Pastikan sistem jammer sinyal aktif untuk semua komunikasi yang tidak terdaftar."
"Ada satu masalah teknis, Bos," kepala keamanan itu berdeham pelan. "Karena evakuasi ini dipercepat, kami harus melakukan penyisiran ulang di Sayap Timur dan Sayap Barat vila. Sistem pendingin dan keamanan di kamar-kamar tamu sedang dikonfigurasi ulang untuk mengantisipasi penyadapan siber. Sayap-sayap itu harus disegel selama empat puluh delapan jam ke depan."
Langkah Dylan terhenti. "Maksudmu, tidak ada kamar tamu yang bisa dipakai?"
"Hanya Master Suite di bangunan utama yang sistem keamanannya sudah seratus persen aktif dan diisolasi, Bos," pria itu menunduk apologetis. "Untuk keselamatan Nyonya, beliau tidak boleh tidur di area yang belum dienkripsi."
Jantung Yvone berdegup kencang. Ia menoleh ke arah Dylan, matanya membelalak panik.
"Satu kamar?" desis Yvone pelan, hanya agar didengar oleh pria itu. Di Jakarta, apartemen raksasa mereka memiliki banyak kamar, sehingga mereka bisa hidup seperti dua orang asing. Namun di sini?
Dylan menatap kepala keamanannya dengan wajah datar, sama sekali tidak terlihat terkejut atau keberatan. "Kerjakan secepatnya. Bawa koper kami ke Master Suite."
"Dylan!" Yvone memprotes setengah berbisik saat mereka berjalan memasuki lobi vila yang terbuka. "Kau tidak mungkin bermaksud agar kita... tidur di ruangan yang sama?"
"Kau dengar laporannya, Yvone. Ini soal protokol keamanan," Dylan membalas tanpa menoleh, terus melangkah menyusuri lantai kayu menuju lantai dua.
"Tapi pasti ada sofa, atau ruangan lain! Vila ini sangat besar!"
Dylan berhenti di depan sebuah pintu ganda kayu berukir dan mendorongnya terbuka. Ia berbalik menatap Yvone, memblokir jalan masuk dengan tubuhnya yang menjulang.
"Di Jakarta, musuh kita bermain dengan kata-kata dan hukum. Di sini, jika ada pembunuh bayaran yang disewa Nadia berhasil menyusup, mereka bermain dengan pisau dan peluru," suara Dylan terdengar mematikan, menyadarkan Yvone kembali pada realitas ancaman.
Pria itu mencondongkan wajahnya, tatapannya menembus pertahanan Yvone. "Jika terjadi sesuatu di tengah malam, aku harus bisa mencapaimu dalam waktu kurang dari dua detik. Karena itu, kau akan tidur di ruangan ini bersamaku. Suka atau tidak."
Yvone menelan ludah, tidak bisa mendebat logika bertahan hidup itu. Dengan enggan, ia melangkah masuk ke dalam kamar.
Ruangan itu sangat masif dan menakjubkan. Jendela kaca raksasa di satu sisi dinding menampilkan panorama lautan yang spektakuler. Di tengah ruangan, terdapat ranjang king-size bertiang empat dengan kelambu tipis berwarna putih. Kasur itu begitu besar, namun tetap saja... itu hanya satu kasur.
"Kamar mandinya ada di sebelah kiri. Lemari pakaianmu sudah diatur oleh pelayan. Silakan bersihkan dirimu," ucap Dylan, melemparkan ponselnya ke atas meja nakas. Pria itu kemudian membuka tiga kancing teratas kemejanya, mengekspos tulang selangka dan kulit dadanya yang sedikit kecokelatan.
Yvone buru-buru memalingkan wajah, pipinya memanas. "A-Aku akan mandi duluan."
Ia setengah berlari menuju kamar mandi, mengunci pintunya rapat-rapat, dan menyandarkan punggungnya pada pintu kayu tersebut. Dadanya naik turun. Ia menyentuh dadanya sendiri, merasakan jantungnya yang berdebar tak karuan.
Berada di ruangan yang sama dengan Dylan Alexander Hartono di Jakarta sudah cukup menguras emosinya. Namun berada satu kamar, satu ranjang, dengan pria itu di pulau tropis yang terisolasi? Ini adalah jenis ujian yang berbeda. Tembok pertahanan yang Yvone bangun untuk membenci pria manipulatif itu perlahan mulai runtuh sejak malam pria itu menyelamatkan ayahnya. Dan kini, kedekatan fisik ini mengancam akan menghancurkan sisa akal sehatnya.
Setengah jam kemudian, Yvone keluar dari kamar mandi dengan perasaan jauh lebih segar. Ia mengenakan slip dress sutra sederhana berwarna champagne yang panjangnya mencapai pertengahan betis.
Dylan sedang berdiri di balkon kamar yang menghadap ke laut. Pria itu sedang menelepon, berbicara dengan nada rendah yang memerintah.
Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Dylan mematikan panggilannya dan berbalik. Angin laut meniup rambut hitam pria itu, membuatnya terlihat sedikit berantakan dan liar. Tatapan kelamnya menyapu sosok Yvone yang berdiri canggung di dekat ranjang.
Untuk sepersekian detik, Yvone bisa melihat kilat kelaparan yang sangat maskulin di mata pria es itu, sebelum Dylan kembali memasang raut wajah datarnya.
Dylan berjalan masuk ke dalam kamar, menutup pintu kaca balkon. Suara debur ombak teredam seketika, menyisakan keheningan yang intim dan menegangkan di antara mereka.
"Kau terlihat lebih baik," komentar Dylan, melangkah mendekati lemari pakaian untuk mengambil pakaian gantinya sendiri.
"Hanya karena aku berhasil menghapus sisa kepanikan dari wajahku," gumam Yvone, berjalan menuju tepi ranjang dan duduk dengan kaku. Ia menatap selimut sutra berwarna putih bersih itu. "Di mana batasnya?"
Langkah Dylan terhenti. Pria itu menoleh. "Batas apa?"
"Batas di kasur ini," Yvone menunjuk tepat ke tengah ranjang raksasa itu. "Aku akan tidur di sisi kiri. Kau di sisi kanan. Tidak ada yang boleh melewati garis tengah imajiner ini. Sepakat?"
Alih-alih marah, sebuah senyum tipis sangat tipis hingga hampir tak terlihat terbit di sudut bibir Dylan. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, bersandar pada pintu lemari, dan menatap Yvone dengan geli yang disembunyikan.
"Garis imajiner?" Dylan mendengus pelan, nada suaranya berubah menjadi serak dan menggoda. "Kita sudah menikah secara sah, Yvone. Di mata hukum, dan di mata negara. Aku bisa mengklaim seluruh sisi ranjang ini, beserta isinya, jika aku mau."
Yvone mendongak tajam, wajahnya merona hebat. "Kontrak kita dengan jelas menyatakan tidak ada kewajiban pemenuhan hak conjugal secara privat!"
Dylan perlahan melangkah mendekat, layaknya predator yang sedang mengukur reaksi mangsanya. Ia berhenti tepat di depan Yvone yang sedang duduk, menjulang tinggi di atas wanita itu.
"Kontrak itu dibuat saat kita berada di Jakarta. Saat kita bermain politik," bisik Dylan, suaranya merendah satu oktaf, menggetarkan udara di antara mereka. Pria itu menunduk, menempatkan kedua tangannya di sisi tubuh Yvone, mengurung wanita itu di tepi ranjang.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Yvone bisa mencium aroma laut, peppermint, dan maskulinitas yang pekat dari tubuh suaminya. Napas Yvone tertahan, ia tidak bisa memundurkan tubuhnya lagi.
Mata kelam Dylan menatap bibir Yvone sejenak, lalu perlahan naik menatap kedua bola mata wanita yang melebar itu.
"Di Bali, tidak ada politik, Yvone," bisik Dylan, suaranya seperti beludru yang menyelimuti akal sehat Yvone. "Hanya ada kau, dan aku. Dan jika kau menantangku soal batas di ranjang ini... kau mungkin akan terkejut dengan betapa mudahnya garis imajinermu itu kuhancurkan."
Tubuh Yvone meremang, hawa panas menjalar dari ujung kaki hingga ke wajahnya. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia yakin Dylan bisa mendengarnya. Ia ingin mendorong dada bidang pria itu, namun tangannya mengkhianatinya, mencengkeram erat seprai sutra di bawahnya.
Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, mereka terkunci dalam tatapan yang sarat akan gairah yang tertahan, batas antara musuh dan kekasih mengabur hingga tak bersisa.
Lalu, Dylan menarik napas perlahan, menegakkan tubuhnya, dan menjauh.
"Sisi kanan milikku," ucap Dylan datar seolah konfrontasi panas barusan tidak pernah terjadi. Pria itu meraih handuknya dan berjalan menuju kamar mandi. "Tidurlah. Kau aman di sini."
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Yvone membuang napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Kakinya terasa lemas. Ia menjatuhkan diri ke atas bantal, menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangan.