Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Fana dan Gulungan Hitam
Langit di atas Benua Biru Langit selalu terlihat suram, seolah-olah diselimuti oleh lapisan debu abadi yang menolak cahaya bintang untuk menembus ke bawah. Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, dan hukum alam ditentukan oleh ketajaman pedang, menjadi seorang fana tanpa bakat adalah sebuah kutukan yang lebih buruk daripada kematian itu sendiri.
Di sudut paling terpencil dari wilayah timur benua tersebut, terletak sebuah pemukiman kumuh yang dikenal sebagai Desa Daun Kering. Namanya mencerminkan nasib para penghuninya—kering, rapuh, dan hanya menunggu waktu untuk tersapu oleh angin penderitaan.
Di pelataran belakang desa yang dipenuhi oleh bebatuan cadas, terdengar suara napas yang berat dan serak, bagaikan embusan angin dari puputan pandai besi yang telah rusak.
Bruk!
Sebuah batu besar seberat lima ratus kati jatuh menghantam tanah, menciptakan kawah kecil dan menerbangkan debu ke udara. Berdiri di depan batu tersebut adalah seorang pemuda berusia lima belas tahun. Tubuhnya kurus namun dipenuhi oleh otot-otot liat yang terbentuk dari siksaan fisik bertahun-tahun. Keringat bercampur kotoran mengalir di wajahnya yang tegas, menetes dari ujung dagunya dan jatuh ke tanah yang tandus.
Pemuda itu bernama Chu Chen.
"Lagi..." gumam Chu Chen dengan gigi terkatup. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan kasar. Kedua telapak tangannya telah lecet dan berdarah, kulitnya terkelupas hingga memperlihatkan daging merah di bawahnya, namun sorot matanya sedingin es dan sekeras baja.
Ia membungkuk, mengunci jari-jarinya yang gemetar di bawah celah batu raksasa itu, dan mengerahkan seluruh tenaga di tubuh fananya. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol keluar seperti cacing hijau yang menggeliat.
Haaargh! Dengan raungan tertahan, ia mengangkat batu itu kembali hingga setinggi dada, menahan beban yang seolah ingin meremukkan tulang punggungnya.
"Lihatlah si sampah itu. Dia masih bermimpi bisa menembus Alam Penempaan Raga dengan metode barbar seperti itu? Sungguh lelucon yang menggelikan."
Sebuah suara penuh ejekan terdengar dari atas bukit kecil tak jauh dari pelataran. Tiga orang pemuda desa berpakaian rapi berdiri di sana, menatap Chu Chen dengan tatapan merendahkan, bagaikan melihat seekor serangga yang sedang berjuang di dalam kubangan lumpur.
Yang berbicara adalah Lin Bao, putra dari Kepala Desa. Di usianya yang keenam belas, ia telah menembus Lapis Kedua Alam Penempaan Raga. Di mata penduduk desa biasa, ia adalah seorang jenius masa depan, naga di antara manusia.
"Sudahlah, Tuan Muda Lin. Dia dilahirkan dengan Akar Roh Cacat. Dantiannya bagaikan ember bocor; seberapa keras pun ia mencoba menyerap Qi Langit dan Bumi, semuanya akan merembes keluar," sahut salah satu pengikut Lin Bao sambil tertawa sinis. "Seorang sampah yang bahkan tidak bisa menyimpan setetes Qi bermimpi menjadi seorang kultivator. Ini adalah penghinaan bagi jalan bela diri!"
Mendengar cemoohan itu, ekspresi Chu Chen tidak berubah sedikit pun. Ia tidak menoleh, juga tidak membalas. Ia hanya fokus mempertahankan napasnya, membiarkan otot-ototnya menjerit dalam agoni. Bertahun-tahun hidup dalam penindasan telah mengajarinya satu hukum mutlak: kata-kata adalah senjata bagi yang lemah, sedangkan kekuatan adalah kebenaran bagi yang perkasa. Menjawab mereka hanya akan membuang energi yang ia butuhkan untuk berlatih.
Setelah menahan batu itu selama separuh dupa terbakar, batas fisiknya akhirnya tercapai. Pandangannya menggelap, dan batu itu terlepas dari genggamannya, menghantam tanah dengan suara dentuman keras. Chu Chen jatuh terduduk, terbatuk hebat hingga sedikit darah segar merembes dari sudut bibirnya. Tubuhnya telah didorong jauh melampaui batas yang bisa ditanggung oleh manusia biasa.
Melihat Chu Chen tersungkur, Lin Bao mendengus jijik, kehilangan minat. "Ayo pergi. Berada terlalu dekat dengan sampah bisa membawa kesialan pada aliran Qi-ku." Ketiga pemuda itu pun berlalu, meninggalkan Chu Chen yang masih berusaha menenangkan napasnya di pelataran yang sunyi.
Chu Chen mengusap darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan. Ia mendongak menatap langit malam yang mulai turun, menutupi Benua Biru Langit dengan jubah kegelapan.
"Akar Roh Cacat..." bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya serak namun dipenuhi keengganan yang mendalam. "Apakah Surga benar-benar telah menetapkan takdirku untuk merangkak di tanah seumur hidup? Tidak... Aku tidak akan menyerah. Bahkan jika aku harus menelan penderitaan ribuan kali lipat, aku akan memaksakan jalanku sendiri!"
Chu Chen bangkit dengan susah payah, menyeret tubuhnya yang memar kembali ke gubuk reotnya yang terletak di ujung desa. Gubuk itu sangat sederhana, hanya memiliki satu ranjang kayu lapuk dan sebuah meja kayu yang kakinya tidak rata.
Setelah menutup pintu, Chu Chen merogoh bagian dalam jubahnya yang lusuh. Dari pelindung dadanya yang terbuat dari kulit binatang usang, ia mengeluarkan sebuah benda yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi, seolah benda itu lebih berharga dari nyawanya sendiri.
Itu adalah sebuah gulungan. Bukan terbuat dari kertas atau sutra, melainkan dari sejenis material yang menyerupai sisik hitam pekat, dingin saat disentuh, dan memancarkan aura kuno yang sangat pekat. Tidak ada fluktuasi energi spiritual sedikit pun dari gulungan itu. Di mata kultivator mana pun, benda ini tak lebih dari sepotong sampah peninggalan zaman dulu yang tak berharga.
Chu Chen tidak tahu dari mana asalnya. Sejak ia ingat, sejak seorang kakek tua misterius meninggalkannya di Desa Daun Kering saat ia masih bayi, gulungan ini sudah berada di dalam bedungnya. Kakek itu telah lama meninggal, tidak meninggalkan warisan apa pun selain benda mati ini dan sebuah pesan samar: "Jaga ini dengan nyawamu. Ketika darah dan keputusasaan menyatu, jalan yang terlarang akan terbuka."
Chu Chen mencoba membuka gulungan itu ratusan kali, menggunakan tenaga fisik, membakarnya dengan api, hingga mencoba mengalirkan jejak Qi yang sangat tipis yang berhasil ia kumpulkan sebelum bocor dari Dantiannya. Semuanya sia-sia. Gulungan itu tetap tertutup rapat, membisu seperti batu nisan.
Malam semakin larut. Chu Chen meletakkan gulungan itu di dadanya dan menutup mata, membiarkan kelelahan ekstrem menariknya ke dalam tidur yang gelisah.
Namun, kedamaian malam itu hanyalah ilusi singkat sebelum badai neraka tiba.
DUUUUMMM!!
Tepat di pertengahan malam, sebuah ledakan dahsyat mengguncang seluruh Desa Daun Kering. Bumi bergetar hebat seolah-olah seekor naga tanah sedang membalikkan tubuhnya. Dinding gubuk Chu Chen retak, dan debu berjatuhan dari atap rumbia.
Chu Chen tersentak bangun, matanya langsung terbuka lebar. "Apa yang terjadi?!"
Jeritan ngeri yang merobek malam segera menjawab pertanyaannya. Diikuti oleh suara derak kayu yang patah, bangunan yang runtuh, dan bau amis darah yang tiba-tiba menyengat udara.
Chu Chen menyambar gulungan hitamnya, menyembunyikannya kembali di balik jubah, dan menendang pintu gubuknya hingga terbuka. Begitu ia melangkah keluar, pemandangan yang tersaji di depan matanya membuat aliran darah di tubuhnya terasa membeku.
Desa Daun Kering, tempat ia tumbuh besar meskipun dipenuhi hinaan, kini telah berubah menjadi lautan api penyucian.
Di udara, melayang belasan sosok berjubah merah darah. Mereka berdiri di atas pedang terbang yang memancarkan cahaya merah crimson, atau menunggangi serigala-serigala iblis berukuran raksasa dengan mata semerah saga. Aura yang memancar dari tubuh mereka sangat menakutkan, menekan udara hingga terasa padat. Itu adalah fluktuasi energi dari kultivator sejati—bukan hanya Alam Penempaan Raga, tetapi ahli di Alam Lautan Qi!
"Ahli kultivasi... Mengapa mereka menyerang desa fana?!" Jantung Chu Chen bergemuruh liar.
Di tengah langit, memimpin kelompok itu, berdiri seorang pria paruh baya dengan bekas luka melintang di wajahnya. Jubah merahnya berkibar tertiup angin panas dari desa yang terbakar. Di dadanya, terdapat lambang kepala serigala yang sedang melolong.
"Sekte Serigala Darah!" Chu Chen mengenali lambang itu. Itu adalah sekte kultivasi aliran hitam yang menguasai wilayah puluhan ribu mil di sekitar daerah ini, terkenal karena kekejaman mereka yang membantai tanpa ampun demi sumber daya.
"Dengar, kalian semut-semut fana!" Suara pria berbekas luka itu menggelegar, bergema di telinga setiap penduduk desa dan membuat gendang telinga mereka berdarah. "Kami menerima laporan bahwa sebuah Pusaka Kuno tersembunyi di pemukiman kotor ini. Serahkan benda itu dalam waktu setengah dupa, atau malam ini, tidak akan ada satu anjing pun yang tersisa hidup di Desa Daun Kering!"
Di pelataran tengah desa, Kepala Desa Lin—seorang lelaki tua yang biasanya sombong—kini berlutut di tanah, tubuhnya gemetar hebat. Darah mengalir dari dahinya yang membentur tanah berulang kali. "Yang Mulia Kultivator! Kami hanyalah fana rendahan! Kami tidak tahu apa-apa tentang pusaka kuno! Saya mohon, ampuni nyawa—"
SRAAT!
Bahkan sebelum Kepala Desa Lin menyelesaikan kalimatnya, pria berbekas luka itu mendengus dingin dan menjentikkan jarinya. Seberkas cahaya merah darah melesat seperti kilat.
Kepala Desa Lin terdiam. Detik berikutnya, kepalanya terpisah dari lehernya, darah menyembur tinggi ke udara bagaikan air mancur. Mayat tanpa kepala itu ambruk ke tanah.
Jeritan histeris meledak dari para penduduk desa. Kepanikan total melanda. Lin Bao, si jenius desa yang arogan, kini terkencing-kencing di celananya, merangkak mundur dengan wajah pucat pasi.
"Membunuh semut sungguh membosankan," ucap pria itu dengan nada bosan. "Bantai mereka semua. Geledah setiap mayat dan setiap inci tanah. Benda itu pasti ada di sini."
"Sesuai perintah, Penatua!"
Belasan murid Sekte Serigala Darah tertawa bengis bak iblis yang lepas dari neraka. Mereka menukik turun layaknya burung pemangsa. Pedang berkelebat, sihir darah meledak. Pria, wanita, orang tua, hingga anak-anak ditebas tanpa ampun. Tubuh-tubuh fana meledak menjadi kabut darah di bawah kekuatan kultivator Alam Lautan Qi.
Mata Chu Chen memerah hingga meneteskan darah melihat pembantaian brutal itu. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya menancap ke dalam telapak tangannya. Kemarahan, kebencian, dan rasa tidak berdaya yang absolut bercampur menjadi racun yang membakar jiwanya.
Pusaka Kuno? Apakah yang mereka cari adalah... gulungan hitam ini?
Tiba-tiba, seorang murid Sekte Serigala Darah mendarat tak jauh dari Chu Chen. Pedangnya yang berlumuran darah baru saja menebas seorang ibu yang berusaha melindungi bayinya. Murid itu menoleh, menatap Chu Chen yang berdiri kaku, lalu menyeringai lebar.
"Oh? Ada tikus kecil yang belum lari di sini," kekeh murid itu. Ia melangkah maju perlahan, mempermainkan pedangnya. "Mati dengan tenang, Nak. Setidaknya kau menjadi tumbal untuk kejayaan Sekte Serigala Darah."
Chu Chen tidak mundur. Sebaliknya, ia mencabut sebilah pedang besi berkarat dari tumpukan kayu bakar di dekatnya. Tubuhnya gemetar hebat di bawah tekanan aura spiritual musuh, namun ia mengangkat pedangnya, mengarahkannya tepat ke wajah sang kultivator.
"Binatang buas... Kalian bahkan lebih hina dari anjing liar!" raung Chu Chen, suaranya pecah oleh kemarahan.
Murid itu tertegun sejenak, lalu meledak dalam tawa yang meremehkan. "Seekor semut cacat tanpa setetes Qi pun berani mengangkat senjata padaku? Menarik. Aku akan memastikan matimu sangat lambat!"
Dalam sekejap mata, murid itu menghilang dari pandangan Chu Chen. Tingkat kultivasi mereka terpisah oleh jurang surga dan bumi.
BUGH!
Sebuah tendangan berlapis energi spiritual yang tebal menghantam dada Chu Chen dengan kekuatan ribuan kati. Suara tulang rusuk yang patah terdengar nyaring. Chu Chen terlempar ke udara sejauh belasan meter bagaikan layang-layang putus tali, menghancurkan dinding batu sebelum akhirnya jatuh terbanting ke tanah berlumpur.
"Ukh... Bleurgh!" Chu Chen memuntahkan darah segar bercampur serpihan organ dalamnya. Pandangannya langsung mengabur. Rasa sakit yang merobek jiwa menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tidak bisa merasakan tangan dan kakinya.
Ia sekarat. Hanya dengan satu pukulan kasual, nyawa fananya telah berada di ujung tanduk.
Murid sekte itu berjalan santai mendekati tubuh Chu Chen yang terkapar di genangan darahnya sendiri. "Bahkan tidak kuat menahan satu sentuhan. Sampah tetaplah sampah." Murid itu mengangkat pedangnya, bersiap untuk memberikan tebasan terakhir ke leher Chu Chen.
Di ambang batas kesadarannya yang mulai memudar, Chu Chen merasakan hawa dingin yang menusuk. Apakah ini akhirnya? Mati sebagai sampah yang tak berdaya? Surga... Kau sungguh buta...
Darah segar dari dada Chu Chen terus mengalir deras, merembes menembus pakaiannya yang robek, dan akhirnya membasahi gulungan hitam pekat yang tersimpan di balik dadanya.
Tepat ketika pedang murid sekte itu mengayun turun untuk memenggal kepala Chu Chen...
Deg.
Sebuah detak jantung yang sangat kuno, berat, dan purba bergema dari dalam dada Chu Chen. Suaranya tidak terdengar di udara, melainkan beresonansi langsung di dalam jiwa.
Deg!
Tiba-tiba, gulungan hitam yang terkena darah fana Chu Chen meledak dengan cahaya merah keemasan yang menyilaukan mata. Kutukan berusia jutaan tahun yang mengunci garis keturunannya akhirnya mencicipi syarat mutlaknya: Darah, Keputusasaan, dan Keinginan Membunuh Surga.
Waktu seolah membeku. Pedang murid sekte itu terhenti di udara, tertahan oleh sebuah perisai energi yang tidak kasat mata, sementara dari dalam tubuh Chu Chen yang sekarat, auman naga yang berasal dari awal mula penciptaan perlahan-lahan merobek keheningan malam.