Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Setelah obrolan singkat yang terasa buntu, akhirnya Bima memilih untuk pulang. Tidak ada gunanya memaksakan sesuatu yang jelas-jelas belum siap diterima. Aira masih terlalu tegang, terlalu terluka, atau mungkin terlalu marah untuk diajak bicara dengan kepala dingin.
Bima menghela napas panjang saat memasukkan kunci ke mobilnya.
“Membujuknya sekarang cuma akan memperburuk keadaan,” gumamnya pelan.
Ia tahu Aira bukan tipe yang bisa ditekan. Semakin didesak, semakin ia akan menjauh. Jadi, untuk sementara, Bima memilih mundur. Memberi ruang. Memberi waktu.
“Mungkin nanti… saat dia sudah sedikit tenang.”
---
Keesokan harinya, suasana kantor berjalan seperti biasa. Suara ketukan keyboard, dering telepon, dan percakapan ringan antar karyawan memenuhi ruangan. Bima tengah fokus menatap layar laptopnya ketika pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan.
Ia langsung mengernyit.
Pandu.
Ekspresi Bima seketika berubah dingin.
“Aku sudah bilang,” ucapnya tajam tanpa basa-basi, “aku tidak mau melihatmu lagi.”
Pandu mendengus pelan, wajahnya masih menyisakan bekas kesal—dan mungkin sedikit luka dari perkelahian kemarin.
“Kira-kira aku juga mau datang?” balasnya santai. “Aku cuma disuruh Ayah menyerahkan berkas ini.”
Ia meletakkan map tebal di atas meja Bima dengan sedikit lebih keras dari yang seharusnya.
“Urusan kerja, bukan urusan pribadi.”
Bima menatap map itu sekilas, lalu kembali menatap Pandu dengan sorot mata yang tidak bersahabat.
“Sudah selesai? Keluar.”
Namun Pandu tidak bergerak. Ia justru menyandarkan tubuhnya ke kursi tamu, seolah-olah tempat itu memang miliknya.
“Kenapa?” tanyanya, nada suaranya mulai berubah. “Aku benar-benar tidak mengerti.”
Bima diam.
“Kita berteman sejak kecil, Bim,” lanjut Pandu, suaranya kini lebih serius. “Dari dulu. Dari waktu kita bahkan belum tahu dunia ini sekejam apa.”
Tidak ada respons.
“Lalu sekarang?” Pandu menatap lurus. “Kamu jadi seperti ini… hanya karena Aira?”
Kalimat itu seperti pemantik.
Bima akhirnya bersuara, pelan tapi tajam.
“Kamu sudah melewati batas.”
Pandu tertawa kecil, namun tawanya hambar.
“Aku tahu,” katanya. “Apa yang aku lakukan ke Aira memang buruk.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah.
“Tapi waktu kuliah dulu… aku pernah melakukan yang lebih buruk.”
Bima tetap diam, wajahnya tidak menunjukkan reaksi.
“Dan waktu itu,” Pandu menatapnya, “kamu bahkan tidak semarah ini.”
Ruangan terasa semakin berat.
Bima akhirnya bersandar di kursinya.
“Aku masih menghargai Om Taufik,” ucapnya dingin. “Sahabat Ayahku.”
Kalimat itu jelas. Bukan soal masa lalu. Bukan soal kesalahan kecil. Ini tentang batas yang sudah dilanggar terlalu jauh.
Pandu menghela napas panjang, lalu duduk lebih santai.
“Jadi…” ia menatap Bima dengan sedikit senyum miring, “Aira itu spesial, ya?”
Bima tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis.
“Itu bukan urusanmu.”
Nada suaranya datar, tapi jelas penuh penegasan.
“Sekarang,” lanjutnya, “keluar… atau kita selesaikan ini di lantai atas.”
Pandu mengangkat alis.
“Masih mau berkelahi?”
Bima menatapnya tanpa berkedip.
“Kalau kamu kalah lagi,” katanya tenang, “aku lempar kamu dari atas.”
Pandu terdiam beberapa detik, lalu tertawa pelan.
“Serius juga kamu.”
Ia menggeleng, lalu bersandar.
“Aku tidak benar-benar menyukai Aira,” katanya tiba-tiba.
Bima tidak bereaksi.
“Aku cuma… main-main.”
Hening.
“Sama seperti dulu,” lanjut Pandu, “perempuan-perempuan di kampus. Mereka juga cuma main-main denganku.”
Nada suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih jujur.
“Aku pernah jatuh cinta,” katanya. “Satu kali. Dan hasilnya?” Ia tersenyum pahit. “Aku cuma jadi mainan.”
Bima tetap diam, tapi matanya sedikit berubah.
“Jadi aku pikir…” Pandu mengangkat bahu, “tidak salah kalau aku juga melakukan hal yang sama.”
Ia menatap Bima lagi.
“Tapi sekarang… rasanya berbeda.”
“Kenapa?” tanya Bima akhirnya.
Pandu menghela napas.
“Karena gara-gara itu… aku hampir kehilangan satu-satunya teman yang benar-benar berarti.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Bima tersenyum kecil.
“Kamu memang teman terbaikku,” katanya.
Pandu sedikit terkejut, tapi tidak menyela.
“Tapi untuk yang satu ini,” lanjut Bima, “aku tidak bisa menoleransi apa yang kamu lakukan.”
Nada suaranya tidak marah. Justru lebih dingin.
Lebih tegas.
Pandu mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
Namun kemudian ia menyeringai.
“Tapi aku tidak akan pergi sebelum kamu cerita tentang Aira.”
Bima memejamkan mata sejenak, jelas sudah mulai muak.
“Kamu keras kepala.”
“Kamu juga.”
Bima akhirnya berdiri.
“Kalau begitu,” katanya, “ayo.”
Pandu mengernyit.
“Mau ke mana?”
“Tempat biasa.”
---
Atap gedung.
Angin siang berhembus cukup kencang, membawa suara kota dari kejauhan. Tempat itu sepi, jauh dari hiruk-pikuk kantor di bawah.
Pandu berhenti di dekat pintu, ragu.
“Kamu serius?”
Bima berjalan santai ke tepi pagar, lalu bersandar.
“Tenang saja,” katanya. “Kalau mau melemparmu, aku tidak perlu jauh-jauh ke sini.”
Pandu mendengus, tapi tetap mendekat.
“Kamu hampir membuatku percaya.”
Bima mengeluarkan rokok, menyalakannya, lalu melempar satu batang ke arah Pandu.
Refleks, Pandu menangkapnya.
“Masih ingat?” tanya Bima.
Pandu menyalakan rokok itu, lalu tersenyum kecil.
“Dari dulu,” katanya, “tempat ngobrol terbaik kita memang di sini.”
Beberapa saat mereka hanya diam, menikmati asap rokok dan angin yang berhembus.
Akhirnya, Bima mulai bicara.
“Aku pernah pacaran dengan Aira.”
Pandu langsung menoleh.
“Serius?”
“Waktu kelas dua SMA.”
Pandu bersiul pelan.
“Tidak kelihatan.”
“Karena memang tidak banyak yang tahu,” jawab Bima.
Ia menatap jauh ke depan.
“Kami putus… semester dua kelas tiga.”
“Kenapa?” tanya Pandu.
Bima menghela napas.
“Aku sendiri tidak benar-benar tahu kenapa aku bisa menyukainya,” katanya jujur. “Tapi setiap kali dia ada di dekatku… rasanya berbeda.”
Ia tersenyum kecil.
“Aku selalu ingin berada di dekatnya. Ingin melihat dia tertawa.”
Pandu menyimak tanpa menyela.
“Tapi,” lanjut Bima, “nilainya mulai turun.”
“Nilainya?” Pandu mengernyit.
“Dia minta putus.”
Hening.
“Dia bilang aku mengganggu fokusnya,” lanjut Bima. “Dan dia tidak mau masa depannya rusak hanya karena hubungan.”
Pandu tertawa kecil.
“Masuk akal.”
Bima menatapnya tajam.
“Bagi dia, mungkin.”
Ia kembali menatap ke depan.
“Tapi bagiku… itu seperti dibuang begitu saja.”
Nada suaranya datar, tapi jelas ada sesuatu yang tertahan di dalamnya.
“Aku tidak bisa menerima itu,” katanya. “Aku marah. Tapi dia…”
“Menjauh?” tebak Pandu.
Bima mengangguk pelan.
“Seolah-olah aku tidak pernah berarti.”
Angin kembali berhembus.
Beberapa detik berlalu.
“Setelah itu?” tanya Pandu.
“Aku mencoba melupakan,” jawab Bima. “Pacaran dengan orang lain.”
Ia tersenyum tipis, tapi tidak ada kehangatan di sana.
“Tapi tidak pernah berhasil.”
“Kenapa?”
Bima menatap rokok di tangannya.
“Karena Aira berbeda.”
Pandu mengangkat alis.
“Berbeda bagaimana?”
Bima terdiam sejenak, seperti mencari kata yang tepat.
“Apa adanya,” katanya akhirnya. “Polos. Tidak dibuat-buat.”
Ia tersenyum kecil.
“Dia tidak pernah mencoba menjadi orang lain untuk menyenangkan siapa pun.”
Pandu tertawa pelan.
“Selera kamu aneh juga.”
Bima langsung menatapnya tajam.
“Aneh?”
“Iya,” kata Pandu santai. “Di luar sana banyak yang lebih… menarik.”
Bima tidak tersenyum.
“Bagi kamu, mungkin.”
Ia menghisap rokoknya, lalu membuang asap perlahan.
“Tapi bagiku…”
Ia berhenti sejenak.
“Aira adalah wanita terbaik dalam hidupku.”
Kalimat itu keluar tanpa ragu.
Tanpa bercanda.
Tanpa penyesalan.
Pandu menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “aku benar-benar sudah melakukan kesalahan besar.”
Bima tidak menjawab.
Karena kali ini, tidak ada yang perlu dijawab lagi.