"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"
Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.
Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.
Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam harinya, meja makan kembali tertata rapi. Tak ada lagi sup iga atau tumis sayur segar yang dibuat dengan cinta. Di depan mereka tersedia makanan dari restoran bintang lima yang dipesan Arlan.
Arlan mencoba memotongkan daging steak untuk Maya, meletakkannya di piring istrinya dengan gerakan yang sangat perhatian ,jenis perhatian yang dulu sangat Maya dambakan, namun sekarang terasa sangat palsu.
"Makanlah. Kau terlihat sangat kurus selama pergi," kata Arlan lembut.
Maya menatap piringnya, lalu menatap Arlan. "Berapa lama kau akan melakukan ini, Mas? Menyuapiku dengan kemewahan setelah kau merampas kebebasanku? Apakah kau pikir dengan membayar biaya rumah sakit Ibuku, aku akan lupa bagaimana kau mencengkeram rahangku dan menyebutku monster?"
Arlan meletakkan pisaunya. Bunyi denting logam dengan piring keramik itu memicu trauma di kepala Maya. "Aku melakukan apa yang harus kulakukan agar kau kembali. Aku salah, Maya. Aku mengakuinya. Aku tertipu oleh Sarah. Tapi apakah satu kesalahan harus membayar seluruh sisa hidup kita dengan perpisahan?"
"Satu kesalahan?" Maya tertawa getir. "Kau tidak hanya melakukan kesalahan, Arlan. Kau menghancurkan kehormatanku sebagai istri. Kau membiarkan wanita lain memakai bajuku, tidur di kamarku, dan kau menghukumku atas dosa yang tidak kuperbuat."
Maya berdiri, matanya menatap tajam pada pria yang kini tampak terusik ketenangannya.
"Kau bilang kau ingin aku di sini meski aku membencimu? Baiklah. Aku akan tinggal. Tapi jangan pernah berharap kau akan menemukan 'istri' di rumah ini. Kau hanya akan menemukan bayangan yang akan selalu mengingatkanmu pada betapa rendahnya moralmu setiap kali kau menatap mataku."
Maya berbalik menuju tangga, menuju kamar utama yang kini terasa seperti sel penjara yang paling mewah di dunia.
Arlan tetap duduk di kursinya, mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Ia berhasil membawa raga Maya kembali, namun ia baru menyadari bahwa ia telah menciptakan musuh paling berbahaya di dalam rumahnya sendiri ,seorang wanita yang tidak lagi takut kehilangan apa pun, karena Arlan sudah menghancurkan segalanya.
Maya melangkah masuk ke kamar utama. Ruangan itu sudah kembali seperti semula, sprei sutra yang baru, aroma mawar yang segar, dan jejak-jejak keberadaan Sarah telah dihapus bersih. Namun bagi Maya, kamar ini terasa lebih pengap daripada gudang belakang yang penuh debu.
Ia tidak mengganti pakaiannya. Ia hanya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah cermin rias yang dulu sering ia gunakan untuk bersiap menyambut Arlan pulang kantor.
Pintu terbuka pelan. Arlan masuk, melepaskan dasinya dengan gerakan yang tampak lelah. Ia berjalan mendekati Maya, mencoba duduk di sampingnya, namun Maya segera bergeser menjauh ,sebuah reaksi refleks yang membuat wajah Arlan mengeras sesaat.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini, Maya?" tanya Arlan, suaranya parau. "Aku sudah menyingkirkan Sarah. Aku sudah meminta maaf. Apa lagi yang kau mau?"
Maya menoleh, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang tidak sampai ke mata. "Aku tidak mau apa-apa, Mas. Bukankah kau yang mau aku di sini? Aku sudah di sini. Inilah aku. Seorang wanita yang kau paksa pulang dengan ancaman biaya rumah sakit ibunya. Apa kau mengharapkan senyuman?"
"Aku mengharapkan kesempatan untuk memperbaiki ini!" Arlan berdiri, suaranya meninggi karena frustrasi. "Aku tahu aku salah telah mempercayai Sarah. Aku tahu aku buta karena rasa bersalah pada almarhum adikku. Tapi aku suamimu, Maya!"
"Suami?" Maya berdiri, menghadapi Arlan dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Seorang suami tidak membiarkan istrinya dihina di depan kolega bisnisnya. Seorang suami tidak membiarkan anaknya hampir mati karena lebih memilih membela janda adiknya. Kau hanya seorang pria yang terobsesi dengan kendali, Arlan. Dan sekarang, kau hanya sedang berusaha memperbaiki egomu yang terluka karena aku berani meninggalkanmu."
Arlan terdiam. Kata-kata Maya menusuk tepat ke titik yang paling ia hindari. Ia maju selangkah, mencoba mencengkeram bahu Maya, namun ia berhenti saat melihat binar kebencian yang begitu murni di mata istrinya.
"Jangan sentuh aku," desis Maya. "Jika kau menyentuhku, aku akan memastikan besok pagi kamu tidak akan pernah melihat ku di rumah ini lagi."
Minggu-minggu berikutnya adalah neraka dalam bentuk lain. Maya menjalani hari-harinya layaknya hantu. Ia tetap mengurus Dion dengan kasih sayang yang tulus ,karena Dion adalah satu-satunya alasan ia tidak benar-benar hancur namun ia sama sekali tidak berbicara pada Arlan.
Setiap pagi, Maya menyiapkan sarapan tanpa sepatah kata pun. Ia meletakkan kopi di depan Arlan tanpa sedikitpun menatap wajahnya. Arlan mencoba segala cara; memberinya perhiasan mahal, tas bermerek, hingga menawarkan liburan ke luar negeri. Semuanya berakhir di pojok ruangan, tak tersentuh.
Puncaknya terjadi suatu malam saat Arlan pulang dalam keadaan mabuk ringan setelah pertemuan bisnis. Ia masuk ke kamar dan mendapati Maya sedang membaca buku di sofa kecil, bukan di ranjang bersamanya.
"Kembalilah ke tempat tidur, Maya," perintah Arlan, bicaranya sedikit tidak jelas.
"Tempat tidurmu terlalu luas untukku, Mas. Aku lebih nyaman di sini," jawab Maya dingin tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.
Arlan berjalan limbung, lalu berlutut di depan Maya. Ia menyembunyikan wajahnya di pangkuan Maya, sebuah tindakan kerentanan yang biasanya akan membuat Maya luluh. "Tolong... jangan hukum aku seperti ini. Aku rindu Maya ku yang dulu. Aku rindu kehangatanmu."
Maya meletakkan bukunya. Ia mengelus rambut Arlan dengan gerakan yang hampir mekanis, tanpa rasa. "Maya yang dulu sudah mati di gudang belakang itu, Mas. Dia mati saat kau tertawa bersama Sarah sementara ia menangis menahan lapar. Yang tersisa sekarang hanyalah hasil karyamu sendiri."
Arlan mendongak, matanya berkaca-kaca karena pengaruh alkohol dan penyesalan. "Aku akan melakukan apa saja. Katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar kau bisa mencintaiku lagi?"
Maya menatap suaminya dalam-dalam. "Lepaskan aku, Arlan. Biarkan aku pergi dan temukan kebahagiaanku sendiri. Itulah satu-satunya cara jika kau benar-benar mencintaiku."
Ruangan itu mendadak senyap. Arlan menatap Maya, lalu perlahan ia berdiri. Wajahnya yang tadinya memelas kini kembali menjadi dingin dan kaku.
"Apa pun, Maya," bisik Arlan, suaranya kembali sarat akan obsesi. "Apa pun akan kuberikan... kecuali kebebasanmu. Kau akan tetap di sini, di sampingku, sampai salah satu dari kita berhenti bernapas."
Arlan berbalik dan keluar dari kamar, mengunci pintu dari luar suara klik kunci yang bergema di lorong itu menjadi tanda bahwa sangkar emas ini kini benar-benar telah terkunci rapat. Maya bersandar di sofa, menatap rembulan dari balik jendela, menyadari bahwa ia tidak lagi butuh air mata. Ia hanya butuh waktu untuk merencanakan langkah terakhirnya.