NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Mie Ayam Pangsit dan Deklarasi Perang

Aroma kaldu ayam yang gurih berpadu dengan wangi daun bawang langsung menguar begitu dua mangkuk mie ayam komplit mendarat di atas meja kayu yang sedikit reyot. Warung Mie Ayam Pakde Kumis di pinggiran Wana Asri sore itu tidak terlalu ramai, memberikan ruang privasi yang cukup bagi Rama dan Nayla setelah aksi heroik mereka melumpuhkan sang pengkhianat OSIS.

Nayla tanpa basa-basi langsung menuangkan tiga sendok penuh sambal cabai rawit ke dalam mangkuknya, mengaduknya hingga kuah yang tadinya bening berubah menjadi merah menyala yang mengerikan. Rama yang duduk di seberangnya hanya bisa meringis ngilu melihat adegan barbar tersebut.

"Lo itu punya dendam apa sih sama lambung lo sendiri? Tadi pagi sarapan keripik micin, sorenya makan mie kuah lahar. Kalau lo usus buntu, gue nggak mau ya disuruh repot-repot nganterin lo ke rumah sakit," omel Rama sambil memisahkan daun sawi dari mangkuknya sendiri, sebuah kebiasaan kecil yang diam-diam diperhatikan oleh Nayla.

Gadis berjilbab ungu itu meniup mienya yang masih mengepul, lalu menyuapkannya dengan nikmat sebelum membalas ucapan Rama. "Bawel lo, Babu. Sambal itu sumber endorfin. Sehabis senam jantung ngadepin si Raka yang mukanya kayak mau nangis tadi, gue butuh asupan kebahagiaan instan. Lagian, lo sendiri makannya pilih-pilih amat kayak anak TK. Sawi aja disingkirin."

"Gue nggak suka teksturnya. Pahit," elak Rama datar, mulai mengunyah pangsit rebusnya.

"Bohong. Lo cuma gengsi aja ngaku kalau lo pemilih makanan," ledek Nayla, matanya menyipit dengan tawa tertahan. "Bos geng motor paling ditakuti se-Yogyakerto, yang kalau berantem bisa matahin tulang orang, ternyata musuh bebuyutannya adalah sayur sawi rebus. Kalau Kobra Besi tahu, besok mereka nggak bawa pentungan, tapi bawa seiket sayur hijau ke aspal."

Rama nyaris tersedak kuah mie ayamnya sendiri. Ia buru-buru meraih gelas es teh manisnya, menenggaknya rakus, lalu menatap Nayla dengan tatapan membunuh yang sayangnya sama sekali tidak mempan pada gadis itu.

"Diam lo. Makan aja yang benar. Kalau kuah lo yang nyiprat ke baju gue, lo yang gue suruh nyuci," ancam Rama, meski ujung bibirnya tanpa sadar sedikit terangkat.

Suasana di warung itu terasa begitu hangat dan mengalir apa adanya. Jauh dari tekanan nilai seratus, jauh dari ekspektasi ayahnya, dan jauh dari deru mesin aspal yang menuntut kemenangan. Rama menyandarkan punggungnya di kursi plastik, memperhatikan Nayla yang sedang sibuk mengunyah dengan pipi menggembung lucu. Di bawah sinar matahari sore yang menerobos dari celah terpal warung, gadis itu terlihat begitu nyata dan menenangkan.

Rama menyadari satu hal yang berbahaya. Sandiwara babu dan majikan ini awalnya hanyalah sebuah keterpaksaan untuk menjaga rahasia. Namun kini, rutinitas menemani Nayla makan, mendengarkan celotehan tak masuk akalnya, dan melindunginya dari marabahaya, perlahan berubah menjadi candu baru yang menggeser obsesinya pada balapan malam.

"Udah ah ngelihatin guenya, naksir baru tahu rasa lo," celetuk Nayla tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangannya dari mangkuk mie.

Rama langsung memalingkan wajahnya, berdehem canggung hingga telinganya terasa panas. "Siapa yang ngelihatin lo? Kepedean banget. Gue cuma nungguin lo selesai makan biar gue bisa cepat-cepat cabut ke bengkel. Anak-anak The Ghost butuh pengarahan malam ini."

Mendengar kata 'bengkel' dan 'The Ghost', pergerakan tangan Nayla terhenti. Raut wajah cerianya perlahan memudar, digantikan oleh gurat kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan. Gadis itu meletakkan sumpitnya, menatap Rama dengan tatapan serius.

"Raka udah kita urus, Ram. Teror di sekolah harusnya udah berhenti," ucap Nayla pelan. "Lo masih mau nyamperin masalah ke sarang Tora? Lo nggak bisa nahan diri dulu buat nggak turun ke aspal beberapa hari ini? Tora itu licik, dia pasti udah nyiapin rencana cadangan kalau dia tahu pionnya di sekolah udah gagal."

Rama membalas tatapan itu dengan ketegasan mutlak. Ia mencondongkan tubuhnya melintasi meja, suaranya memberat. "Justru karena Tora udah berani masuk ke ranah pribadi gue, Nay. Dia berani ngirim stiker kobra ke loker gue, tempat di mana gue ngebangun citra gue selama bertahun-tahun. Kalau gue diam aja, Tora bakal mikir gue pengecut. Dia bakal makin ngelunjak dan mungkin target selanjutnya bukan loker gue, tapi nyawa orang-orang di sekitar gue. Termasuk elo."

Nayla menggigit bibir bawahnya, menunduk menatap sisa kuah di mangkuknya. Ia benci mengakuinya, tapi logika berandalan Rama masuk akal. Di dunia jalanan, diam berarti menyerah. Dan menyerah berarti mati.

"Janji sama gue, lo nggak bakal bertindak gegabah sendirian. Lo bawa anak-anak lo, lo atur strategi yang benar, dan jangan nekat kayak pas balapan di Tikungan Setan waktu itu," tuntut Nayla, suaranya sedikit bergetar.

Rama tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sukses meluluhkan kecemasan di hati gadis itu. "Gue janji. Lagian, gue masih punya utang nyelesain naskah drama misteri picisan lo itu. Mana mungkin gue mati sebelum dapat nilai A dari Pak Budi."

Malam harinya, udara di bengkel Sakti Jaya terasa jauh lebih pekat dan panas dari biasanya. Musik dangdut koplo yang biasa menghentak dari speaker butut kini dimatikan. Puluhan anggota The Ghost berkumpul membentuk lingkaran di tengah area garasi, wajah mereka tegang dan serius. Di tengah-tengah mereka, Rama berdiri tegap dengan jaket kulit kebesarannya, matanya menyorotkan aura kepemimpinan yang dingin dan tak terbantahkan.

"Gue kumpulin kalian semua malam ini bukan buat nongkrong atau bahas modif mesin," suara serak Rama memecah keheningan, menggema di dinding-dinding seng bengkel. "Kobra Besi udah ngelewatin batas. Tora nggak cuma motong kabel rem motor gue kemarin, dia juga nyewa orang dalam buat neror kehidupan gue di luar jalanan aspal ini."

Gumaman marah dan umpatan kasar langsung meledak dari mulut anak-anak The Ghost. Galang, yang berdiri di barisan paling depan, mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Bangsat bener si Tora! Dia pikir Wana Asri ini tempat bermain dia?!" geram Galang. "Kita serang markas mereka malam ini juga, Bos! Kita bakar habis tempat tongkrongan Kobra Besi di daerah utara!"

"Nggak," potong Rama tajam, mengangkat sebelah tangannya untuk menenangkan pasukannya. "Kalau kita serang markas mereka membabi buta, kita sama aja bodohnya sama mereka. Tora mau mancing emosi kita biar kita ngelakuin kesalahan. Kita bakal serang titik buta mereka."

Rama menatap Cakra, sang mekanik jenius. "Cak, Kobra Besi punya gudang penyimpanan motor taruhan sama suku cadang selundupan di perbatasan kota, kan? Tempat yang biasa dijaga sama preman bayaran mereka."

Cakra mengangguk cepat. "Iya, Ram. Gudang tua dekat pabrik tekstil yang udah tutup. Itu urat nadi keuangan mereka buat modal taruhan."

"Bagus," Rama menyeringai, sebuah senyuman mematikan yang membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya berdiri. "Bagas, kumpulin dua puluh anak yang paling jago berantem tangan kosong. Galang, lo siapin bensin sama flare. Kita nggak akan nyentuh Tora malam ini, tapi kita bakal hancurin gudang suku cadang mereka. Kita bikin Kobra Besi miskin dan nggak punya modal buat turun ke lintasan bulan ini."

Sorak-sorai penuh semangat dan sorot mata haus pertempuran langsung menyala di wajah setiap anggota geng. Rencana bos mereka selalu tak terduga dan mematikan. Dengan menghancurkan gudang logistik, The Ghost akan memberikan pukulan telak pada mental Kobra Besi tanpa harus membuang banyak tenaga di jalanan.

"Siap, Bos! Perintah lo adalah hukum buat kita," tegas Galang, menepuk dada kirinya penuh kebanggaan.

Setengah jam kemudian, puluhan motor The Ghost meraung membelah malam Yogyakerto, bergerak layaknya bayangan yang tak kasat mata menuju perbatasan kota. Rama memimpin di barisan paling depan, angin malam menghantam kaca visor helmnya. Detak jantungnya stabil, fokusnya tajam.

Pertarungan di gudang tua itu berlangsung cepat dan brutal. Penjaga bayaran Kobra Besi yang tak siap dengan serangan dadakan The Ghost tumbang dalam hitungan menit. Rama tak perlu banyak turun tangan; pasukannya bekerja dengan sangat rapi dan beringas. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, gudang berisi suku cadang ilegal itu sudah diobrak-abrik. Kaca-kaca pecah, dan beberapa motor taruhan dihancurkan mesinnya oleh Cakra.

Sebagai penutup, Galang melemparkan sebuah flare merah menyala tepat ke tengah-tengah tumpukan ban bekas, menciptakan asap tebal dan kobaran api kecil yang cukup untuk memicu alarm kebakaran dan kepanikan.

"Cabut!" teriak Rama memberikan komando.

Mereka melesat pergi meninggalkan kekacauan itu, kembali menyatu dengan kegelapan malam sebelum ada siapa pun yang menyadari kedatangan mereka. Pesan telah dikirim. Wana Asri tidak akan pernah tunduk pada ular berbisa.

Menjelang tengah malam, Rama akhirnya merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk di kamarnya yang mewah. Kaus hitamnya bau asap dan keringat, buku-buku jarinya sedikit lecet, tapi ada kepuasan luar biasa yang mengalir di nadinya. Ia telah mengamankan wilayahnya. Tora butuh waktu berminggu-minggu untuk memulihkan kerugian malam ini, yang berarti kehidupan siangnya di sekolah, dan tentu saja Nayla, akan aman untuk sementara waktu.

Rama meraih ponsel khususnya dari saku jaket yang tergeletak di lantai. Layar ponsel itu menyala, menampilkan satu notifikasi pesan yang masuk sekitar sepuluh menit yang lalu.

Nayla (Majikan Rese): Woy babu. Lo masih hidup kan? Jangan lupa besok pagi bagian lo ngetik naskah drama. Kalau lo mati di jalan, arwah lo gue suruh ngetik.

Membaca pesan bernada ketus namun sarat akan kekhawatiran itu, Rama tak bisa menahan tawa pelannya di tengah kesunyian kamar. Jemarinya bergerak cepat membalas pesan tersebut.

Rama: Masih utuh. Nyawa gue terlalu mahal buat diserahin ke preman kelas teri. Tidur lo.

Nayla (Majikan Rese): Dih, sombong. Yaudah, bagus deh. Besok gue mau dibeliin bubur ayam lagi, kerupuknya banyakin. Night, preman aspal.

Rama menatap layar ponselnya lama. Kata night yang diketik gadis itu terasa seperti mantra yang menenangkan seluruh badai di kepalanya. Di antara gemerlap piala di lemarinya dan dinginnya rantai motor di aspal, Rama akhirnya menyadari satu hal yang tak bisa ia hindari lagi.

Ia, Rama Arsya Anta, sang Hantu Wana Asri yang tak pernah mengenal rasa takut, telah jatuh sedalam-dalamnya pada pesona seorang gadis yang hobinya mengancam dan menyuruhnya membeli bubur ayam. Dan gila nya, Rama benar-benar menikmati setiap detik kejatuhannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!