NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:320
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: ASCENSION - LINI PERAKITAN MAUT

Gerbang besar Menara Welder menutup di belakang mereka dengan dentuman yang menggetarkan fondasi jembatan. Seketika, kesunyian yang mencekam menyelimuti Haidar. Di dalam sini, udara tidak lagi membeku seperti di Sektor Pendinginan, melainkan terasa lembap, berat, dan dipenuhi bau uap oli serta sisa pembakaran logam yang menyengat.

​Haidar menatap ke atas. Interior menara ini nampak seperti labirin vertikal yang tak berujung. Pipa-pipa gas sebesar tubuh manusia menjalar di dinding-dinding layaknya urat nadi yang berdenyut, mengalirkan cairan frekuensi panas menuju lantai-lantai di atas.

​"Kita berada di dasar Lini Produksi," suara Sersan bergema, langkah kakinya di atas lantai besi terdengar sangat solid. "Di dunia nyata, tempat ini mungkin hanya memproduksi komponen kendaraan. Tapi di Baron, setiap suku cadang yang dibuat di sini adalah bagian dari tubuh musuh-musuhmu."

​Haidar melangkah mendekati sebuah ban berjalan raksasa yang sedang berhenti. Di atasnya, berjajar ribuan blok mesin yang masih setengah jadi. Ia menyentuh permukaan logam yang kasar itu, dan seketika, sebuah sensasi familiar menghantam sarafnya. Ia teringat sebuah bengkel kecil di sudut kota, tempat yang penuh dengan aroma bensin dan oli samping, tempat yang dulu sering ia datangi untuk mencari suku cadang terbaik agar motor kesayangannya selalu prima.

​Ia teringat betapa ia sangat menjaga mesin itu, memastikan setiap baut terpasang kencang hanya demi satu tujuan: menjemput Kinaya tepat waktu agar janji mereka tidak meleset. Namun, di tempat ini, suku cadang yang ia lihat nampak terdistorsi menjadi komponen mesin pembunuh.

​"Tempat ini... rasanya sangat akrab, Sersan. Tata letak pilar-pilar ini, deretan mesin bubut ini... ini seperti pabrik produksi sparepart motor yang dulu sering kulewati," bisik Haidar. Mata biru kristalnya mulai berkedip, memproses data yang bercampur dengan rasa sesak di dadanya.

​"Niskala selalu mengambil bentuk dari fragmen memorimu, Haidar. Tapi jangan biarkan nostalgia membunuhmu. Di sini, mesin-mesin ini tidak bekerja untuk manusia," sahut Sersan sambil menunjuk ke arah kegelapan di depan mereka.

​Tiba-tiba, lampu-lampu neon di langit-langit berkedip merah. Suara sirine yang melengking memecah kesunyian. Dari balik bayangan mesin-mesin raksasa, muncul penghuni lantai pertama: The Forged Slaves.

​Mereka adalah sosok-sosok yang mengenaskan. Dulunya mungkin mereka adalah jiwa-jiwa yang tersesat, namun kini tubuh mereka telah dipaksa menyatu dengan alat-alat produksi. Tangan mereka digantikan oleh tang las yang masih memercikkan api, dan kaki mereka diganti dengan roda gerigi yang berderit kasar di atas lantai. Mata mereka merah padam, menandakan bahwa kesadaran mereka telah sepenuhnya diambil alih oleh frekuensi The Welder.

​"Analisis, Haidar! Berikan aku jalur eksekusinya!" teriak Sersan sambil menghunuskan pedangnya yang berpendar merah.

​Haidar memejamkan mata sejenak, membiarkan Cryo-Core di dalam dadanya berdenyut. Saat ia membuka mata, pandangannya telah berubah menjadi spektrum data biru yang jernih. Ia melihat "benang" frekuensi yang menghubungkan setiap budak mesin itu ke langit-langit—sebuah sistem kontrol pusat yang mengatur gerakan mereka secara kolektif.

​"Mereka dikendalikan oleh kabel transmisi di atas pilar C-14 dan B-9. Jika kita memutus aliran di sana, sistem pergerakan mereka akan overload!" lapor Haidar. Suaranya kini terdengar sangat teknis, efek dari integrasi es yang mulai mengikis emosinya.

​"Bagus! Bersihkan jalur bawah, aku akan mengurus konektornya!"

​Sersan melesat, berlari secara vertikal di dinding menara dengan ketangkasan yang mustahil. Sementara itu, Haidar dikepung oleh belasan Forged Slaves. Salah satu dari mereka, yang memiliki tangan berupa gerinda raksasa, mengayunkan senjatanya ke arah leher Haidar.

​Haidar tidak panik. Dengan Mata Niskala Biru, gerakan gerinda itu nampak sangat lambat. Ia menunduk rendah, lalu dengan satu gerakan halus, ia menghujamkan belati hitamnya ke lantai besi tepat di bawah roda musuh tersebut.

​KRAK!

​Gelombang es menjalar dari titik hantaman belati, membekukan roda gerigi robot itu secara instan. Logam yang membeku itu langsung retak saat dipaksa berputar, menyebabkan robot itu terjungkal dan meledak menjadi serpihan baja.

​Haidar terus bergerak. Ia tidak lagi bertarung dengan amarah yang meledak-ledak. Setiap tebasan belatunya dilakukan dengan perhitungan matematis. Ia membekukan sendi lutut, mematahkan lengan hidrolik, dan menghancurkan sensor visual musuh dengan presisi seorang ahli bedah.

​Namun, di tengah hiruk-pikuk logam yang beradu, sebuah suara distorsi kembali muncul di kepalanya. Suara itu bukan berasal dari menara, melainkan suara statis seperti frekuensi radio yang terganggu.

​“Tekanan darah menurun... siapkan jalur infus!”

​Haidar tersentak. Langkahnya goyah. Sebuah tang las raksasa nyaris menghantam dadanya. "Apa... suara apa itu?"

​"Haidar! Fokus pada musuhmu!" suara Sersan terdengar dari atas, dibarengi dengan ledakan besar saat Sersan berhasil memutus kabel transmisi utama di langit-langit.

​Seketika, sisa-sisa Forged Slaves di lantai itu mendadak kaku. Gerakan mereka menjadi kacau, saling bertabrakan satu sama lain sebelum akhirnya tumbang karena kehabisan pasokan energi.

​Haidar terengah-engah, uap dingin keluar dari mulutnya dalam gumpalan besar. Ia menyentuh dadanya yang terasa sangat dingin. Bayangan sebuah ruangan putih yang steril kembali melintas sekejap, membuat kepalanya terasa berdenyut hebat.

​"Suara tadi... Sersan, kau mendengarnya? Ada yang bicara tentang medis," ucap Haidar, mencoba mencari penjelasan rasional.

​Sersan mendarat di samping Haidar dengan mulus. Ia menatap Haidar dengan mata yang tajam namun tetap dingin. "Itu hanyalah residu frekuensi dari Sektor Pendinginan yang belum terbilas sempurna dari otakmu. Kau baru saja menggabungkan es ke dalam sarafmu, wajar jika kau mendengar gangguan sinyal. Jangan biarkan ilusi itu menghentikan langkahmu jika kau ingin keluar dari sini."

​Haidar terdiam, menatap tangannya yang mulai pucat kebiruan. Ia ingin percaya pada Sersan, tapi perasaan bahwa ada sesuatu yang "salah" dengan dirinya terus tumbuh. Ia merasa seolah-olah ia sedang tidur, dan dunia Niskala ini adalah mimpi yang terlalu nyata—atau mungkin sebaliknya.

​"Kita harus segera naik ke lantai berikutnya," ucap Sersan sambil menunjuk ke arah poros lift barang di ujung lini produksi. "Lantai ini baru permulaan. Di atas sana, lini perakitan mesin akan jauh lebih berbahaya. The Welder tidak akan senang melihat lini produksinya dikacaukan oleh penyusup."

​Haidar mengangguk pelan. Ia menyarungkan belatinya, merasakan beban boneka beruang di sakunya sebagai satu-satunya jangkar yang membuatnya tetap bertahan. Ia tidak tahu apa yang menantinya di puncak menara, tapi ia tahu ia harus terus naik untuk menemukan portal yang dijanjikan.

​"Ayo, Sersan. Aku ingin segera menyelesaikan ini," ucap Haidar datar.

​Mereka masuk ke dalam lift barang yang terbuka. Saat lift itu mulai bergerak naik dengan sentakan kasar, membawa mereka menjauh dari dasar pabrik yang penuh dengan rongsokan budak mesin, Haidar menatap ke arah pintu lift yang menutup. Di sana, di antara karat dan debu, ia melihat bayangan wajahnya sendiri—wajah pria yang lelah, yang hanya ingin pulang untuk memberikan sebuah hadiah kecil.

​Lift itu terus mendaki, menembus kegelapan menara, menuju lantai produksi selanjutnya di mana maut telah menunggu dalam bentuk besi dan api biru yang siap mencairkan es di nadinya.

1
Suparni
rekomend👍👍👍
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!