NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang Itu Sudah Lama Ada di Hidupku Tanpa Aku Sadar

Zahra tidak tidur semalaman. Bukan karena overthinking soal pernikahan atau insomnia, iya juga sih soal itu, tapi lebih karena kalimat Rafandra terus berputar di kepalanya kayak lagu yang stuck dan nggak bisa di-skip.

"Kamu belum siap mendengar jawabannya."

Siapa yang ngomong gitu? Siapa yang jawab pertanyaan orang dengan kalimat sepeti itu lalu pergi begitu aja kayak udah menang debat? Zahra bahkan nggak sempet balik ngomong apa-apa karena keburu shock.

Jam tiga pagi, Zahra nyerah pura-pura tidur. Dia ambil HP, buka galeri foto lama, folder yang judulnya "Foto Keluarga Jadul" yang hampir nggak pernah dia sentuh. Dia scroll pelan-pelan. Foto lebaran, foto arisan keluarga, foto ulang tahun ayahnya yang ke empat puluh. Di sana di antara wajah-wajah yang familiar Zahra menemukannya.

Pria muda. Mungkin awal dua puluhan waktu foto itu diambil. Berdiri di sebelah ayahnya, kemeja putih lengan panjang, senyum tipis yang bahkan dari foto lama pun sudah kelihatan dingin.

Rafandra Surya Wibowo. Zahra memperbesar foto itu. Matanya menyipit.

"Ini... Om Rafa yang dulu sering ke rumah?"

Ia ingat samar-samar. Waktu Zahra masih SD, ada om-om yang sering datang ke rumah bareng ayahnya kadang bawa oleh-oleh, kadang cuma duduk ngobrol di ruang tamu sampai larut malam. Zahra nggak pernah terlalu perhatiin karena waktu itu dunianya cuma seputar kartun dan sepedaan.

Tapi sekarang, melihat foto ini...

"Pria itu sudah ada di hidupku sejak lama dan aku bahkan nggak sadar."

Zahra menutup galeri. Meletakkan HP di dada. Menatap langit-langit kamar yang gelap.

Entah kenapa, perasaan itu justru bikin semuanya terasa lebih berat.

.

.

.

Pagi harinya, Zahra turun ke dapur dengan mata sembab dan rambut berantakan. Ibunya Mama Ratih sudah ada di sana, menyeduh teh sambil sesekali mengusap ujung matanya dengan tisu.

Mereka berdua tidak langsung bicara. Zahra ambil roti tawar, duduk di kursi bar dapur, gigit ujungnya tanpa selera.

"Mama tau ini berat buat Zahra," kata ibunya akhirnya, lembut.

"Tapi tetep dilakuin, Ma." Zahra nggak bermaksud sinis, tapi keluarnya ya sinis.

Mama Ratih menghela napas. "Kamu pikir Mama nggak nangis waktu Papa bilang ini ke Mama? Kamu pikir Mama langsung setuju?"

Zahra diam.

"Mama minta waktu seminggu buat mikir." Suara ibunya bergetar tipis. "Tapi Papa jelasin semuanya. Kalau perusahaan kita beneran jatuh, Zahra... bukan cuma bisnis yang hilang. Rumah ini, tabungan pendidikan adik-adikmu, semua yang Papa bangun tiga puluh tahun habis dan Rafandra satu-satunya yang bisa nanggung semuanya."

"Tapi kenapa minta aku, Ma?" Zahra menatap ibunya. "Dari semua syarat yang bisa dia minta kenapa harus aku?"

Mama Ratih membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Ekspresi itu ragu, seperti menyembunyikan sesuatu nggak luput dari mata Zahra.

"Mama tau sesuatu yang Zahra nggak tau, ya?"

"Zahra—"

"Ma."

Ibunya menunduk. Jari-jarinya memainkan cangkir teh yang sudah dingin. "Nanti kamu akan tau sendiri. Bukan Mama yang harus cerita."

Zahra menghela napas panjang. Rotinya diletakkan. Selera makannya sudah benar-benar hilang.

"Semua orang di rumah ini menyimpan sesuatu dariku."

.

.

.

Sinta datang siang itu tanpa diundang seperti biasa, muncul di depan pintu kamar Zahra dengan plastik kresek isi es krim dua biji dan muka yang sudah siap perang.

"Oke." Sinta langsung duduk di kasur, nyodorin satu es krim ke Zahra. "Cerita dari awal. Gue mau tau semuanya."

Zahra cerita.

Dari pengumuman ayahnya, sampai pertemuan kemarin. Dari foto lama di galeri, sampai respons aneh ibunya tadi pagi. Sinta mendengarkan tanpa motong yang jelas merupakan pencapaian luar biasa buat Sinta yang biasanya nggak bisa diem lebih dari tiga menit.

Waktu Zahra selesai, Sinta duduk diam sebentar sambil menjilat es krimnya.

"Rafandra Surya Wibowo," ulangnya. "Gue pernah liat namanya di artikel Forbes. Yang di-caption 'The Ice King' itu?"

"Iya. Itu dia."

"Yang fotonya selalu kelihatan kayak lagi murka padahal lagi senyum?"

"...Itu dia."

"Dan lo mau dinikahkan sama dia."

"Dipaksa. Ada bedanya, Sin."

Sinta mengangguk pelan, serius. "Okay. Jadi lo punya pilihan: satu, kawin dan survive. Dua, kabur dan keluarga lo bangkrut. Tiga, negosiasi, minta syarat balik."

Zahra mengernyit. "Syarat balik?"

"Iya. Kalau dia bisa minta lo jadi istrinya, lo juga bisa minta sesuatu dari dia, dong." Sinta mengangkat alis.

"Lo pikir lo nggak punya posisi tawar? Lo yang dia minta, Zah. Itu artinya lo punya nilai di mata dia, entah apapun alasannya."

Zahra menatap sahabatnya itu lama.

Kadang Sinta ngomong hal-hal yang kedengarannya gila tapi sebenarnya... masuk akal.

"Gue harus ketemu dia lagi," kata Zahra pelan.

"Yap." Sinta manggut. "Dan kali ini, jangan cuma tanya. Minta jawaban."

.

.

.

Kesempatan itu datang dua hari kemudian. Ayahnya membawa Zahra ke kantor Rafandra gedung kaca empat puluh lantai di jantung Jakarta yang bahkan lobi bawahnya bikin Zahra merasa underdressed padahal dia udah pakai dress polos yang lumayan bagus.

"Ini berlebihan banget sih," batin Zahra sambil menatap langit-langit lobi yang tingginya kayak katedral.

Mereka naik lift ke lantai tiga puluh delapan. Ruang kerja pribadi Rafandra ada di ujung koridor pintu kayu gelap, namanya terukir di plat emas kecil di samping pintu.

Sekretarisnya, wanita paruh baya yang kelihatan efisien dan tidak ramah mempersilakan mereka masuk setelah sebentar menelepon ke dalam.

Rafandra ada di balik meja kerjanya yang lebar. Laptop terbuka, dokumen tersebar rapi, telepon diletakkan miring. Dia tidak langsung mendongak waktu mereka masuknmenyelesaikan satu kalimat dulu di laptopnya, baru menekan tombol, baru menatap ke arah pintu.

Matanya singgah sebentar di Pak Hendra, lalu ke Zahra. Datar. Seperti biasa.

"Hendra. Silakan duduk." Ia berdiri, menjabat tangan ayah Zahra. Satu anggukan singkat ke arah Zahra bukan jabat tangan, bukan senyum. Cuma anggukan.

"Sopan tapi dingin. Konsisten sekali, ya."

Zahra duduk di kursi tamu, tangan dilipat di pangkuan, sementara ayahnya dan Rafandra mulai bicara soal dokumen pernikahan dan hal-hal administratif yang bikin Zahra ngantuk sekaligus mual.

Lima belas menit berlalu.

Zahra sudah hampir menyerah dan memutuskan untuk diam saja, waktu Pak Hendra tiba-tiba permisi keluar katanya mau ke toilet, tapi Zahra curiga ini skenario yang sudah diatur supaya mereka berdua bisa ngobrol berdua.

"Papa emang gitu. Halus tapi mau menang sendiri."

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sunyi.

Rafandra tidak langsung bicara. Menutup satu folder dokumen, meletakkannya ke samping, lalu menyeduh kopi dari termos kecil di mejanya tanpa menawarkan ke Zahra.

Zahra mengamatinya.

"Om Rafa."

"Hm."

"Gue mau minta jawaban." Zahra memilih kata-katanya dengan hati-hati, tapi suaranya stabil. "Yang kemarin Om bilang gue belum siap denger. Sekarang gue siap."

Rafandra menaruh cangkir kopinya. Menatap Zahra.

"Kamu yakin?"

"Nggak." Zahra jujur. "Tapi gue tetap mau tau."

Sesuatu di mata Rafandra bergerak samar, cepat, susah dibaca. Lalu dia bersandar ke kursinya, jari-jari tangan dikaitkan di depan dada.

"Aku menikahi kamu bukan semata karena bisnis," katanya. Datar. Langsung. Tanpa basa-basi. "Alasan bisnisnya ada, tapi itu bukan satu-satunya."

Zahra menunggu.

"Sisanya belum waktunya kamu tahu."

"Itu—" Zahra menahan napas. "Om nggak bisa jawab setengah-setengah terus. Itu sama aja kayak nggak jawab."

"Aku tahu."

"Terus kenapa?"

Rafandra menatapnya sebentar. Lama. Dengan ekspresi yang Zahra tak bisa baca sama sekali.

"Karena ada hal-hal yang harus kamu temukan sendiri," jawabnya akhirnya. "Bukan karena aku tidak mau bilang. Tapi karena kalau aku yang bilang sekarang, kamu tidak akan percaya."

Pintu terbuka. Pak Hendra masuk kembali, segar, pura-pura tidak tahu situasi yang baru saja terjadi.

Zahra menelan semua pertanyaan yang tersisa di tenggorokannya.

Tapi satu hal yang dia yakini sekarang, pria di balik meja itu menyimpan sesuatu. Sesuatu yang besar dan entah kenapa, Zahra merasa hidupnya tidak akan tenang sampai dia tahu apa itu.

.

.

.

Malam sebelum akad nikah, Zahra duduk di depan cermin kamarnya.

Besok. Semuanya terjadi besok.

Dia menatap bayangannya sendiri gadis dua puluh satu tahun dengan mata yang terlalu lelah untuk usianya. Kamar ini, kasur ini, foto-foto di dinding ini semuanya akan ditinggalkan besok.

HP bergetar. Nomor tidak dikenal. Zahra mengangkat dengan ragu.

"Halo?"

"Tidur yang cukup." Suara rendah. Berat. Langsung masuk tanpa salam. "Besok hari yang panjang."

Zahra membeku.

"Rafandra."

Sebelum dia sempat bilang apa-apa, sambungan terputus. Zahra menatap layar HP-nya lama sekali.

Zahra tak tahu apakah itu bentuk perhatian atau sekadar instruksi dari seseorang yang terbiasa memerintah. Tapi satu yang pasti jantungnya berdegup lebih cepat dari yang seharusnya. Dan itu justru yang paling membuatnya takut.

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!