Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Jerat untuk Serigala
Kantor Satreskrim Jakarta Pusat berbau tinta printer dan mesin fotokopi tua. Dina memimpin Aditya melewati koridor yang dipenuhi tumpukan berkas dan papan pengumuman yang sudah menguning. Beberapa polisi menatap mereka dengan alis terangkat, tapi tidak ada yang bertanya. Mungkin mereka mengira Aditya adalah tersangka.
"Kantor Bramasta di ujung," bisik Dina. "Dia selalu datang jam delapan. Sekarang dia pasti sedang minum kopi sambil baca koran, seperti biasa."
"Kau sudah kasih tahu dia soal Jaka?"
"Sudah. Tadi pagi lewat telepon. Dia bilang akan menanganinya sendiri."
"Artinya dia akan menghubungi dalang di belakang Jaka," Aditya menyeringai. "Pasang perangkap sebelum serigala sadar dia diburu."
Mereka berhenti di depan pintu kayu dengan plakat "Kompol Bramasta S."—huruf emas di atas kayu jati mahal. Terlalu mahal untuk gaji seorang Kompol.
Aditya menyentuh gagang pintu. "Tunggu di sini. Beri aku 10 menit."
"Kau yakin? Dia bisa berbahaya."
"Aku tidak akan sendirian." Aditya menyentuh dadanya—liontin itu berdenyut pelan.
Ia masuk tanpa mengetuk.
Kompol Bramasta adalah pria gempal dengan kumis tebal dan mata bengkak—mata seorang pemabuk yang sudah bertahun-tahun menenggelamkan hati nuraninya. Seragamnya rapi, penuh bintang jasa. Tapi di balik meja kayunya yang megah, tersimpan laci besi kecil dengan kunci digital.
"SIAPA KAU?!" Bramasta menggebrak meja. "Ini ruangan pribadi! Mana sopan santunmu?!"
Aditya duduk di kursi depan meja tanpa diundang. Gerakannya tenang, matanya lurus menatap mata Bramasta.
Tiga detik.
All-Seeing Eye Teraktivasi.
Nama: Kompol Bramasta Soediro
Jabatan: Kepala Satreskrim Jakarta Pusat
Kekuatan: 12
Kecerdasan: 19
Rahasia: Menerima total Rp 2,3 miliar dari "Kartel Lotus" sejak 2020. Bukti tersimpan di brankas pribadi (kode: 19-08-77).
Kelemahan: Fobia gelap, anak tunggal dirawat di rumah sakit jiwa, terlilit utang judi 800 juta ke rentenir.
Status Emosi: Panik 63%, Marah 42%, Takut 57%
"Saya Aditya Pratama, asisten Presiden Direktur Pradipa Group. Dan saya tahu tentang uang Rp 2,3 miliar itu."
Wajah Bramasta berubah pucat dalam sekejap. "A-apa maksudmu?!"
"Kartel Lotus. Transfer berkala sejak 2020. Kode brankas 19-08-77." Aditya menyandarkan punggung. "Tanggal lahir istri Anda, kan?"
"Kau... kau..."
"Saya belum selesai. Anda melindungi Klan Malam karena mereka alat Kartel Lotus. Tapi Anda tahu apa yang terjadi kemarin? Jaka Sembung—pemimpin Klan Malam—tertangkap. Dan dia mulai bicara."
Bramasta bangkit dari kursinya. Keringat mengucur di pelipisnya. Tangannya bergerak ke laci meja—mungkin ke arah pistol.
"Sebaiknya jangan lakukan itu, Kompol. Inspektur Dina menunggu di luar dengan dua anggota Provost. Kalau saya tidak keluar dalam lima menit, mereka akan masuk."
Itu gertakan. Tapi Bramasta tidak tahu.
Pria gempal itu ambruk kembali ke kursinya. Bahunya melorot. "Apa maumu? Uang? Jabatan?"
"Saya cuma ingin satu nama."
"Nama siapa?"
"Penghubung Anda di Kartel Lotus. Siapa yang memberi perintah untuk melindungi Klan Malam?"
Bramasta menutup wajahnya. "Kalau aku kasih tahu, mereka akan membunuhku."
"Kalau tidak kasih tahu, Anda masuk penjara malam ini. Kartel tidak akan melindungi orang yang sudah tertangkap. Bahkan mungkin mereka yang akan membunuh Anda di dalam sel."
Detik-detik berlalu. Dinding ruangan terasa menyempit.
Lalu Bramasta berbisik: "Jenderal bintang dua. Aku tidak tahu namanya—kami hanya komunikasi lewat surat dan perantara. Tapi pangkatnya Jenderal. Dia yang mengendalikan semua operasi Kartel di Jakarta."
Aditya menyipitkan mata. All-Seeing Eye menunjukkan Bramasta tidak bohong—angka "Kejujuran" bertuliskan 91%.
"Baik. Sekarang kau akan tulis semua yang kau tahu. Nama, alamat, nomor rekening, jadwal pertemuan. Semuanya."
"A-apa?"
"Itu satu-satunya kesempatanmu untuk keringanan hukuman. Bekerjasama dengan penyidik." Aditya berdiri. "Dan satu saran sebagai sesama manusia: serahkan dirimu sebelum mereka sadar kau sudah terbongkar."
Ia keluar ruangan.
Dina menunggu di koridor dengan dua polisi Provost sungguhan—ternyata bukan gertakan. Wajah inspektur itu tegang. "Jadi?"
"Tulis semua pengakuannya. Dia akan kasih nama-nama." Aditya melangkah melewatinya. "Dan jangan lupa, kode brankasnya 19-08-77."
---
DING!
Misi Selesai: Identifikasi Pengkhianat di Kepolisian.
Hadiah: 400 Koin, Skill Book: Silent Step (Level 1).
Bonus Tersembunyi: Menyelamatkan Inspektur Dina dari upaya pembunuhan terjadwal (+200 Koin).
Total Koin: 960.
Aditya berhenti di tangga darurat. "Upaya pembunuhan terjadwal?"
Ia membalikkan badan dan berlari kembali ke koridor.
"Dina!"
Inspektur itu menoleh. "Ada apa?!"
"Mereka akan membunuhmu. Hari ini."
Dina terkejut. "Siapa?"
"Orang yang sama yang menyuruh Bramasta menutup kasus-kasusmu. Mereka sudah menjadwalkan eksekusi untukmu—mungkin karena kau terlalu dekat dengan kebenaran."
Dina menggertakkan gigi. "Jadi begitu. Pantas aku selalu dapat tugas berbahaya sendirian akhir-akhir ini."
"Mulai sekarang jangan bergerak sendiri. Selalu ada rekan." Aditya menatap dua polisi Provost yang masih berdiri di dekat pintu Bramasta. "Dan pecat setiap orang yang tidak bisa kau percayai."
"Kau bicara seperti komandanku."
"Maksudku hanya mengingatkan."
Dina tersenyum tipis. "Kopinya masih kurang enak, ya?"
"Bubuknya terlalu murah." Aditya balas tersenyum. "Sampai ketemu lagi, Inspektur."
---
Malamnya, Aditya duduk di lantai kamar kosnya. Skill Book "Silent Step" terbuka di tangannya—sebuah gulungan digital yang hanya bisa ia lihat melalui panel sistem.
Silent Step (Level 1):
· Efek: Mengurangi jejak suara sebesar 70% selama 10 detik.
· Cooldown: 5 menit.
· Syarat belajar: Fokuskan energi ke telapak kaki. Visualisasikan melangkah di atas air tanpa menimbulkan riak.
Aditya memejamkan mata. Mencoba merasakan aliran energi di tubuhnya—energi yang menurut sistem sudah ada sejak ia menelan Pil Pemurnian, tapi belum pernah ia sadari.
Satu menit. Dua menit. Lima menit.
Lalu ia berdiri. Melangkah.
Hening.
Langkahnya tidak bersuara. Sama sekali.
Aditya tersenyum lebar. Level 1 memang masih kalah jauh dari milik Jaka yang bisa menghilang total. Tapi ini adalah skill pertamanya. Skill yang ia pelajari sendiri.
"960 koin," bisiknya menatap panel. "Tinggal 2040 lagi untuk Pil Pemulihan Jiwa."
Pintu kosnya tiba-tiba diketuk. Tiga kali. Cepat.
Aditya menegang. Siapa yang datang jam segini?
"Pratama! Buka! Ini penting!"
Suara Maya.
Aditya membuka pintu. Sang kapten keamanan berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang. Seragamnya basah oleh keringat.
"Ada apa?"
"Mereka menyerang Villa Keluarga. Satu jam yang lalu." Suara Maya bergetar—sesuatu yang tidak pernah Aditya dengar sebelumnya. "Nyonya Alesha ada di dalam."