"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 Menyusup Markas Musuh, Darah Mengalir Seperti Sungai
Malam itu, kabut di Kota Kabut Merah menjadi semakin tebal dan pekat. Namun di balik kabut itu, tersembunyi sebuah bahaya yang jauh lebih mengerikan daripada monster apa pun.
Li Yao kini berada di area terlarang, tepat di bawah tembok tinggi Benteng Naga Hitam.
Benteng ini bukan sekadar bangunan, melainkan sebuah kota pertahanan yang dilengkapi dengan ribuan penjaga elit, jebakan mematikan, dan aura jahat yang menyelimutinya.
Namun bagi Li Yao, tembok setinggi ratusan meter itu hanyalah seperti pagar taman.
Wush!
Dengan gerakan yang tak terdengar sama sekali, ia melompat tinggi menembus kabut, tangannya mencengkeram ujung tembok batu dengan mudah. Ia memanjat dan bergerak menyusuri dinding seperti seekor kumbang, menyatu dengan bayangan.
Di atas tembok, puluhan penjaga sedang berpatroli dengan waspada. Mereka memegang obor dan senjata, mata mereka mengawasi kegelapan.
"Ada apa nih? Kenapa suasana terasa aneh sekali?" tanya salah satu penjaga sambil menggaruk kepalanya. "Dada rasanya sesak sekali."
"Mungkin karena kabutnya terlalu tebal," jawab temannya. "Tapi tenang saja. Di sini adalah tempat teraman di dunia. Siapa berani masuk? Kecuali dia punya nyawa tujuh."
"HAHAAHA! Betul juga..."
Tawa mereka terhenti mati di tenggorokan.
Seketika, obor di tangan mereka padam satu per satu. Tidak ada angin, tidak ada suara. Saat mereka mau berteriak... mereka menyadari bahwa leher mereka sudah terasa hangat dan basah.
Byur! Byur!
Satu per satu tubuh itu rubuh tanpa suara.
Di tengah bayangan, Li Yao berdiri dengan pedang yang masih meneteskan darah segar. Matanya tanpa emosi.
"Terlalu berisik," bisiknya dingin. Ia melangkah melewati mayat-mayat itu dan masuk lebih dalam ke wilayah inti.
Sejak saat itu, neraka benar-benar terlepas dari rantainya.
Li Yao tidak lagi bersembunyi. Ia berjalan lurus menuju aula utama, membunuh siapa saja yang berani menghalangi jalannya. Setiap langkah kakinya diiringi dengan percikan darah dan nyawa yang melayang.
"AAAAHHHH!! ADA PENYUSUP!! IBILIS DATANG!!"
"BUNUH DIA!! CEPAT BUNUH DIA!!"
Teror terjadi di mana-mana. Para ahli bela diri yang sombong, para komandan yang kejam, dan para penyihir gelap... mereka semua tidak ada apa-apanya di hadapan kekuatan Puncak Qi Naga milik Li Yao.
Wush! Sret! Brak!
Setiap kali pedang Li Yao bergerak, pasti ada nyawa yang melayang. Ia menebas tanpa ampun, tanpa ragu. Darah musuh membasahi seluruh tubuhnya dan jubah hitamnya, membuatnya terlihat seperti dewa perang yang baru keluar dari sungai darah.
Di koridor utama, lantai marmer yang putih bersih kini berubah warna menjadi merah gelap yang mengerikan. Darah mengalir deras melalui selokan-selokan kecil, menciptakan pemandangan yang menyeramkan sekaligus indah bagi mata seorang pembalas dendam.
"Lihat ini, Qingyu..." Li Yao berbicara pada dirinya sendiri saat ia menebas dua orang sekaligus. "Darah mereka... mengalir seperti sungai. Ini adalah balasan untuk air mata yang pernah kita tumpahkan."
"MONSTER!! KAU INI MONSTER SUNGGUHAN!!" teriak seorang komandan tingkat tinggi dengan wajah pucat pasi melihat rekan-rekannya tewas dalam sekejap.
"AKU ADALAH MALAIKAT MAUT YANG KALIAN PANGGIL SENDIRI!" jawab Li Yao singkat dan padat.
BRAKK!!
Dengan satu tendangan keras, ia menghancurkan gerbang besi tebal yang menghalangi jalannya, masuk ke halaman dalam yang lebih luas.
Di sana, sudah menunggu ratusan prajurit elit yang siap dengan formasi perang. Namun melihat kondisi rekan-rekan mereka yang datang sebelumnya hancur lebur dan melihat sosok Li Yao yang berdiri di tengah lautan darah... jantung mereka berhenti berdetak.
Ketakutan yang luar biasa menyelimuti hati mereka.
Li Yao berdiri tegak di tengah pintu masuk. Tubuhnya penuh darah, matanya merah menyala, dan pedangnya masih meneteskan cairan merah yang tak henti-henti.
Ia tersenyum miring, menatap ribuan musuh di hadapannya.
"Permainan kucing dan tikus sudah selesai. Sekarang... saatnya membersihkan lantai ini dari sampah-sampah kalian."
"MARI KITA LIHAT, BERAPA BANYAK LAGI YANG HARU MATI SEBELUM AIR SUNGAI DARAH INI MELUAP DAN MEMBANJIRI SELURUH ISTANA KALIAN!!"