Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Setelah Sorotan Redup
Elora tidak langsung bisa tidur setelah malam itu berakhir. Bukan karena lelah yang belum hilang, tapi karena kepalanya terasa terlalu penuh untuk benar-benar diam. Setiap kali ia memejamkan mata, yang muncul bukan lagi wajah orang-orang di acara tadi atau kilatan kamera yang tidak berhenti mengikuti mereka, melainkan cara Arshaka berdiri di sampingnya sepanjang malam itu—terlalu dekat, terlalu konsisten, terlalu… berbeda dari awal mereka memulai semuanya.
Dan hal yang paling mengganggu bukan karena Arshaka melanggar sesuatu secara jelas. Tapi karena tidak ada satu pun dari semua itu yang bisa lagi ia jelaskan hanya sebagai “kontrak kerja”.
Pagi berikutnya datang dengan lebih tenang di luar jendela, tapi tidak di dalam kepala Elora. Ia duduk di tepi ranjang hotelnya cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk bangun, menatap layar ponsel yang sudah penuh dengan berita baru sejak dini hari. Foto mereka dari acara semalam kembali tersebar, kali ini dengan narasi yang lebih berani, lebih yakin, seolah publik sudah memutuskan sendiri bahwa hubungan itu bukan lagi sekadar pencitraan.
Dan yang membuat Elora berhenti bukan judul-judulnya.
Tapi komentar orang-orang yang mulai menyebut nama Arshaka dengan cara yang berbeda.
Bukan lagi hanya CEO dingin yang “terlibat”.
Tapi seseorang yang terlihat… terlalu menjaga.
Ketukan pintu terdengar sebelum Elora sempat benar-benar keluar dari pikirannya. Kali ini tidak terburu-buru seperti kemarin. Lebih tenang, lebih terukur, seperti seseorang yang tahu bahwa kehadirannya sudah diizinkan bahkan sebelum mengetuk.
Arshaka masuk tanpa banyak bicara.
Seperti biasa.
Tapi Elora langsung menangkap sesuatu yang berbeda dari cara pria itu berdiri di ambang pintu kamar. Tidak ada jarak seperti kemarin. Tidak ada dinding dingin yang biasanya ia pasang di antara dirinya dan dunia luar. Hanya tatapan yang tetap stabil, tapi lebih dalam dari sebelumnya.
“Kita harus pindah hotel,” kata Arshaka akhirnya.
Elora mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Media sudah tahu lokasi kita.”
Jawaban itu singkat. Terlalu singkat.
Tapi Elora tidak perlu penjelasan lebih jauh untuk mengerti maksudnya.
“Ini mulai jadi berlebihan,” kata Elora pelan sambil berdiri, menatap Arshaka lebih jelas sekarang. “Kita cuma kesepakatan, Arshaka. Bukan tahanan.”
Arshaka tidak langsung menjawab.
Tapi langkahnya bergerak lebih dalam ke dalam ruangan. Pelan. Stabil. Seperti biasanya.
“Kamu bisa menyebutnya apa pun,” katanya akhirnya, “tapi situasinya sudah berubah.”
Elora tertawa kecil, tapi bukan karena lucu. Lebih karena lelah. “Atau kamu yang mengubahnya?”
Kalimat itu membuat Arshaka berhenti sejenak.
Tidak lama.
Tapi cukup untuk Elora sadar bahwa itu menyentuh sesuatu yang tidak biasa ia sentuh.
“Kalau aku tidak ikut campur,” suara Arshaka turun sedikit, “kamu sudah diserang lebih jauh dari ini.”
Elora menatapnya cukup lama. “Kamu terlalu percaya diri dengan asumsi itu.”
Arshaka tidak membantah.
Tapi kali ini, ia juga tidak mundur.
Dan itu yang membuat suasana di antara mereka terasa berbeda.
Lebih sempit.
Lebih dekat.
Beberapa menit keheningan berlalu sebelum Elora akhirnya mengalihkan pandangan, berjalan ke arah jendela. Di luar, kota terlihat berjalan seperti biasa, seolah tidak ada kehidupan yang sedang berubah di balik satu ruangan kecil ini.
“Aku nggak suka cara kamu mulai ngatur semuanya,” katanya pelan tanpa menoleh.
“Aku tidak mengatur semuanya.”
Elora menoleh sedikit. “Kelihatannya seperti itu.”
Arshaka tidak langsung menjawab.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya ketika ia berkata,
“Aku cuma memastikan kamu tetap di sini.”
Elora terdiam.
Karena kalimat itu tidak terdengar seperti bagian dari strategi.
Tapi juga bukan pengakuan.
Lebih seperti sesuatu yang terlalu jujur untuk seseorang seperti Arshaka.
Ponsel Elora bergetar lagi di meja.
Satu pesan dari manajernya.
Lalu satu lagi.
Lalu berita baru yang kembali muncul di layar.
—Arshaka Bhumisvara terlihat semakin protektif terhadap Elora Kirana di balik layar—apakah ini masih sekadar kontrak.
Elora membaca itu sekilas, lalu menutup layar ponselnya tanpa bicara.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak langsung tahu harus merasa apa.
Di belakangnya, Arshaka masih berdiri di tempat yang sama.
Tidak mendekat.
Tidak menjauh.
Tapi cukup hadir untuk membuat ruangan itu tidak lagi terasa seperti milik Elora sepenuhnya.
Dan Elora mulai menyadari satu hal yang perlahan menjadi semakin jelas.
Bukan dunia luar yang paling sulit ia kendalikan sekarang.
Tapi cara pria di belakangnya itu mulai bertingkah seolah “menjaga” dan “memiliki kendali” adalah dua hal yang perlahan mulai saling tumpang tindih.
⸻
Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌
See you di bab selanjutnya...