NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riton: Penasihat Kencan untuk Korban Cintanya Sendiri

Ia harus segera mencari bala bantuan, seseorang yang dapat membantunya mengelola sandiwara gila ini, seseorang yang memiliki keahlian teknis untuk mendukung alibi Nana. Hanya ada satu orang yang bisa ia andalkan dalam kegilaan digital ini.

Ia meraih ponselnya, mencari nama di daftar kontak.

"Dimas," desisnya, menekan tombol panggil. "Aku butuh bantuanmu, sekarang juga. Aku baru saja menciptakan identitas palsu dan aku rasa aku baru saja berkencan dengan junior kita yang dulu."

Ia menunggu Dimas menjawab, jantungnya berdebar. Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu yang lebih buruk daripada Riton mencocokkan dirinya.

Ia melihat ke kalender di mejanya. Besok adalah hari di mana ia harus menghadiri rapat penting dengan klien baru di mana ia harus tampil paling profesional dan tegas.

Dan ia baru saja berbohong kepada Riton bahwa ia berada di luar kota.

Bagaimana jika Riton melihatnya?

Panggilan Dimas tersambung.

"Ekantika? Ada apa? Suaramu aneh."

Ekantika berbisik, panik. "Dimas, dengar baik-baik. Aku butuh kamu meretas seluruh feed Instagram-ku, dan aku butuh kamu menjadi alibi logistikku. Aku harus berada di kantor besok, tetapi Riton berpikir aku berada di luar kota. Dan Dimas..."

Ekantika mengambil napas yang dalam, lalu melanjutkan dengan nada yang sama sekali tidak profesional, tidak CEO, melainkan penuh hasrat membangkang.

"...Aku butuh kamu mengubah semua data metadata foto-fotoku yang lama. Aku harus terlihat seperti seorang fresh grad berusia 26 tahun yang tidak pernah punya mantan suami dan tidak pernah menjadi janda."

Di seberang telepon, Dimas terdiam.

"Ekantika, kamu gila. Apa yang sudah kamu lakukan?"

"Aku hanya sedang melakukan revolusi," jawab Ekantika, lalu tersenyum jahat saat ia melihat notifikasi lain di layar: foto Riton. "Aku baru saja mengunduh aplikasi kencan."

"Apa?!"

"Dan aku butuh kamu menghapus semua jejak bahwa aku adalah Ekantika Asna. Besok, aku adalah Nana. Dan Nana harus sempurna."

Ekantika menunggu respons Dimas, tetapi yang ia dengar hanyalah napas terkejut. Tiba-tiba, Dimas tertawa, tawa yang terdengar antara terhibur dan ketakutan.

"Baiklah, Tik. Kita akan merancang kebohongan paling epik di abad ini. Tapi, apa rencana pertamamu? Bagaimana kamu akan menghadapi Riton lusa, sebagai Nana yang 26 tahun?"

Ekantika melihat pantulan dirinya. Ia melihat Ekantika Asna, si Janda CEO, dan Nana, si fresh grad yang riang.

"Rencana pertamaku?" Ekantika menyentuh bibirnya. "Rencana pertamaku adalah mencari tahu cara berbicara bahasa Gen Z yang benar, dan membeli pakaian yang tidak membuatku terlihat seperti Tante-Tante yang sedang mengalami krisis identitas."

"Astaga, Tik. Ini akan jadi bencana."

"Mungkin," Ekantika setuju, mengambil kunci mobilnya. "Tapi setidaknya, ini bukan lagi bencana yang membosankan."

Ia memutus panggilan, mengambil tasnya, dan bergegas keluar ruangan. Ia harus segera bertemu Dimas untuk menyusun protokol sandiwara ini.

Ketika ia berjalan melewati bilik-bilik karyawan, ia mendengar bisikan samar dari Divisi Keuangan.

"Iya, Janda itu memang harusnya mencari pria yang lebih tua dan stabil. Kasihan sekali, pasti kesepian."

Ekantika tidak menoleh. Ia tersenyum pada dirinya sendiri.

Kesepian? Tidak lagi.

Ia baru saja memilih petualangan paling gila dalam hidupnya. Dan petualangan ini bernama Riton.

Ia menekan tombol lift, dan saat pintu terbuka, ia melihat Riton Wijaya berdiri di sana, di lobi kantornya, sedang berbicara dengan resepsionis.

Ekantika membeku. Dia di sini? Sekarang?

Riton menoleh. Matanya bertemu dengan mata Ekantika.

"Maaf, Bu Ekantika," sapa Riton, suaranya ramah dan profesional, sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia baru saja mengirim pesan mesra kepada 'Nana'. "Saya ada urusan sebentar dengan Pak Doni."

Ekantika hanya mengangguk kaku.

Riton berjalan melewatinya, dan Ekantika hanya bisa melihat punggung juniornya yang kini tampak begitu dominan dan karismatik.

Ekantika segera masuk ke lift, menekan tombol B (basement). Jantungnya berdebar kencang, bukan karena ketegangan profesional, tetapi karena ketegangan romansa fiktif.

Saat pintu lift hampir tertutup, Riton memanggilnya.

"Bu Ekantika!"

Ekantika menoleh, menahan napas. "Ya, Riton?"

"Saya dengar Ibu baru saja bercerai. Saya turut prihatin. Semoga Ibu bisa segera move on." Riton tersenyum sopan.

Ekantika membalas dengan senyum yang sama sopannya, tetapi di dalam hatinya, ia menjerit. Move on? Aku akan move on denganmu!

"Terima kasih, Riton," jawab Ekantika.

Pintu lift tertutup. Ekantika bersandar ke dinding metal, menarik napas lega. Ia berhasil lolos.

Namun, saat ia memeriksa ponselnya, sebuah pesan baru dari Dimas masuk, tepat setelah ia memutus panggilannya tadi.

Dimas: Tik, aku baru cek. Riton itu mantan kekasih cewek manipulatif yang lebih tua darinya. Hati-hati. Dia punya trauma.

Ekantika membaca pesan itu. Trauma? Wanita lebih tua?

Ia menatap ponselnya, lalu teringat pada pesan terakhir Riton di aplikasi kencan: Aku penasaran sama kamu.

Ekantika menyadari bahwa ia tidak hanya berbohong tentang usia dan statusnya. Ia berbohong tentang siapa dirinya kepada pria yang traumanya didasarkan pada kebohongan dan manipulasi wanita yang lebih tua.

Ini bukan lagi permainan. Ini adalah bom waktu.

Ia membuka aplikasi kencan itu lagi. Ia harus menghapus Riton. Sekarang.

Jempolnya melayang di atas tombol Unmatch.

Ddrrttt!

Pesan baru dari Riton. Bukan melalui aplikasi kencan, tetapi melalui akun LinkedIn profesional Ekantika.

Riton: Bu Ekantika, jika Ibu ingin saran tentang aplikasi kencan, saya bisa bantu. Saya baru saja bertemu seseorang di sana, dia sangat unik. Mungkin Ibu juga bisa mencoba. Aplikasi ini sangat bagus untuk bertemu orang baru dan melupakan masa lalu.

Ekantika membaca pesan itu, tangannya gemetar.

Ia tidak bisa menghapus Riton. Ia tidak bisa Unmatch. Jika ia melakukannya, Riton akan curiga.

Ia harus melanjutkan sandiwara ini. Ia harus menjadi Nana.

Ia menghela napas, menutup aplikasi LinkedIn-nya, dan kembali ke aplikasi kencan. Ia melihat foto Riton, wajahnya yang tampan, matanya yang jujur.

"Baiklah, Riton," bisiknya. "Kau ingin Nana? Kau akan mendapatkan Nana."

Ia mengetik pesan kepada Dimas, mengabaikan peringatan trauma.

Ekantika: Dimas, batalkan semua rencanaku besok. Aku akan berpura-pura berada di luar kota. Kita harus bertemu hari ini. Aku butuh filter usia yang lebih kuat, dan aku butuh rencana cadangan kalau-kalau Riton melihat mobilku. Dan satu hal lagi: Aku butuh kamu menjadi mentor karir palsuku jika Riton bertanya. Aku akan menjebakmu lebih dalam.

Ekantika menekan tombol kirim. Ia tahu ia sedang meluncur ke jurang.

Dan ia menyukai sensasinya.

Ia melihat kembali ke pesan Riton di aplikasi kencan: Aku penasaran sama kamu.

Ekantika tersenyum, senyum yang kini mengandung bahaya.

"Tentu, Riton. Kau akan penasaran. Karena aku adalah Ekantika Asna yang bercerai, 35 tahun, yang akan berpura-pura menjadi Nana, 26 tahun, kekasihmu. Dan aku akan membiarkanmu jatuh cinta pada kebohongan terbesarku."

Ia membuka feed Nana lagi, dan melihat profil Riton lagi, dan ia melihat notifikasi:

Riton telah mengirimkan Anda pesan baru.

Ekantika menekan untuk membuka, dan membaca pesan itu. Pesan itu hanya terdiri dari satu kata:

"Nana?"

Ekantika menatap layar ponselnya, jantungnya berpacu seperti drum yang dipukul tergesa-gesa. Ini bukan lagi soal match yang ironis, tetapi sebuah interaksi langsung yang menuntut respons yang cepat dan, yang paling penting, riang.

“Dimas, kamu masih di sana?” bisiknya, suaranya tercekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!