Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Akhir Pekan dan Rahasia di Balik Rak Buku
Hari Sabtu tiba dengan suasana yang berbeda. Tidak ada deru mesin mobil Adrian yang berangkat pagi-pagi sekali, juga tidak ada aroma kopi pahit yang biasanya memenuhi dapur sebelum matahari benar-benar tinggi. Rumah itu terasa lebih sunyi, namun anehnya, kesunyian itu tidak lagi terasa mengancam bagi Arumi.
Arumi terbangun dengan perasaan segar. Ia mengenakan kaus longgar dan celana kain selutut, membiarkan rambutnya dikuncir kuda asal-asalan. Rencananya hari ini sederhana: mencuci baju, merapikan tanaman di taman kecil mereka, dan tentu saja, menulis.
Saat ia melangkah ke dapur, ia terkejut menemukan Adrian sudah di sana. Pria itu tidak memakai kemeja kaku atau dasi. Ia hanya mengenakan kaus polos abu-abu yang memperlihatkan bahunya yang lebar dan celana pendek olahraga. Ia sedang berdiri di depan pemanggang roti, tampak sedikit bingung dengan tombol-tombolnya.
"Butuh bantuan, Mas?" tanya Arumi sambil menahan senyum.
Adrian menoleh, sedikit terkejut. "Mesin ini... sepertinya rusak. Rotinya tidak mau turun."
Arumi mendekat, tangannya menyentuh tangan Adrian saat ia menggeser tuas kecil yang tersangkut. Klik. Roti pun masuk ke dalam pemanggang.
"Hanya perlu sedikit perasaan, Mas. Tidak bisa dipaksa seperti negosiasi bisnis," ujar Arumi jahil.
Adrian berdeham, sedikit salah tingkah karena jarak mereka yang dekat. "Terima kasih. Aku biasanya hanya minum kopi di kantor."
"Hari ini Mas tidak ke kantor?"
"Sabtu adalah hari tenang. Aku akan bekerja dari rumah," jawab Adrian sambil mengambil piring.
"Tapi sepertinya aku akan menghabiskan waktu di perpustakaan kecil di lantai dua. Kamu bisa menggunakan ruang tengah sepuasmu."
Setelah sarapan bersama yang diisi dengan obrolan ringan mengenai berita pagi, mereka berpencar. Arumi mulai menyirami tanaman di taman tengah. Ia menyukai aroma tanah basah, itu selalu memberinya inspirasi. Sementara itu, Adrian menghilang ke lantai atas.
Siang harinya, rasa penasaran Arumi memuncak. Ia tahu ada sebuah ruangan di lantai dua yang disebut Adrian sebagai perpustakaan, namun ia belum pernah masuk ke sana. Dengan alasan ingin mengantarkan jus jeruk dingin, Arumi menaiki tangga.
Ia mengetuk pintu kayu jati itu pelan. "Mas? Aku bawakan minum."
"Masuklah."
Saat pintu terbuka, Arumi terpana. Ruangan itu penuh dengan rak buku setinggi langit-langit.
Ribuan buku tertata rapi, mulai dari literatur bisnis, sejarah, hingga fiksi klasik yang sampulnya sudah memudar. Di tengah ruangan, terdapat meja kayu besar dan sebuah kursi kulit yang tampak sangat nyaman.
Adrian duduk di sana, dikelilingi oleh tumpukan berkas, namun di tangannya bukan dokumen kontrak, melainkan sebuah buku tua.
"Wah... Mas punya koleksi sebanyak ini?" Arumi meletakkan gelas jus di meja, matanya berbinar menatap deretan buku itu.
Adrian menutup bukunya. "Warisan dari kakekku. Beliau seorang kolektor. Aku hanya merawatnya."
Arumi berjalan mendekati rak buku fiksi.
Jemarinya menelusuri punggung buku satu per satu. "Ada Wuthering Heights, Pride and Prejudice... Mas membaca ini juga?"
"Beberapa kali. Saat aku merasa dunia bisnis terlalu logis dan tidak masuk akal," jawab Adrian dengan nada bercanda yang jarang ia tunjukkan.
Arumi mengambil sebuah buku kecil bersampul kain biru tua yang tampak sangat tua. Saat ia membukanya, sebuah foto jatuh dari selipan halaman. Arumi membungkuk untuk mengambilnya.
Foto itu memperlihatkan Adrian yang masih remaja, mungkin usia tujuh belas tahun, sedang tertawa lebar bersama seorang wanita paruh baya yang sangat mirip dengannya. Di belakang mereka, ada taman bunga yang indah.
"Itu... Mas Adrian?" tanya Arumi lembut, menunjukkan foto itu.
Ekspresi Adrian berubah. Kelembutan sesaat muncul di matanya sebelum kembali datar. "Itu ibuku. Di taman belakang rumah lama kami, sebelum beliau sakit."
Arumi terdiam. Ia baru menyadari bahwa ia tidak tahu banyak tentang masa lalu Adrian. Nyonya Sofia yang ia temui kemarin adalah ibu tiri Adrian—wanita yang sangat baik, namun tetap saja, Adrian telah kehilangan ibu kandungnya.
"Beliau sangat cantik," puji Arumi tulus. "Mas punya senyum yang sama dengan beliau di foto ini."
Adrian mengambil foto itu dari tangan Arumi, menatapnya sejenak sebelum menyimpannya kembali ke dalam buku. "Dulu aku sering tersenyum. Sebelum aku sadar bahwa dunia tidak selalu ramah pada orang yang terlalu banyak menunjukkan perasaan."
Arumi merasakan denyut simpati di dadanya. "Dunia mungkin tidak ramah, Mas. Tapi rumah seharusnya menjadi tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri."
Adrian menatap Arumi cukup lama. Ada keheningan yang berbeda kali ini—bukan keheningan yang dingin, melainkan keheningan yang penuh dengan sesuatu yang tak terucap.
"Lalu, bagaimana denganmu, Arumi?" tanya Adrian tiba-tiba. "Kenapa kamu selalu mengalah pada Siska? Aku tahu kamu yang mengerjakan tugas-tugas kuliahnya dulu. Aku tahu kamu yang selalu menyiapkan keperluannya setiap kali kita akan kencan."
Arumi terkejut. "Mas... Mas tahu?"
"Aku tidak buta, Arumi. Aku hanya... terlalu sibuk meyakinkan diriku bahwa Siska adalah pilihan yang tepat untuk citra keluarga. Tapi aku melihatmu di balik pintu, aku melihatmu membawa tas-tasnya. Kenapa kamu membiarkan dirimu diperlakukan seperti itu?"
Arumi menunduk, memainkan ujung tuniknya. "Karena dia kakakku. Dan karena orang tuaku sangat bangga padanya. Jika Siska bahagia, mereka bahagia. Dan jika mereka bahagia... aku merasa tugasku selesai."
"Itu pemikiran yang sangat melelahkan," gumam Adrian. Ia berdiri dan berjalan mendekati Arumi.
"Kamu tidak perlu menjadi pengganti selamanya, Arumi. Di rumah ini, kamu adalah Arumi. Bukan bayangan Siska."
Kata-kata itu membuat mata Arumi berkaca-kaca.
Selama bertahun-tahun, ia terbiasa menjadi nomor dua, menjadi cadangan. Baru kali ini ada orang yang memberitahunya bahwa ia berhak menjadi dirinya sendiri.
"Terima kasih, Mas," bisik Arumi.
Suasana haru itu pecah ketika ponsel Arumi di saku celananya bergetar hebat. Ia melihat layar ponselnya dan jantungnya seolah berhenti berdetak.
Kak Siska Calling.
Arumi menatap Adrian dengan panik. Adrian melihat nama di layar itu dan rahangnya mengeras.
"Angkat," perintah Adrian singkat. "Gunakan loudspeaker."
Arumi menekan tombol hijau dengan tangan gemetar.
"Halo? Arumi?" suara Siska terdengar dari seberang sana. Suaranya tidak lagi ceria seperti biasanya. Ada nada cemas dan isak tangis yang tertahan.
"I-iya, Kak?"
"Rum... aku... aku di Jakarta. Aku di hotel kecil dekat bandara. Laki-laki itu... dia meninggalkanku, Rum. Dia membawa semua uangku dan perhiasanku. Aku tidak tahu harus ke mana. Ayah dan Ibu pasti akan membunuhku kalau aku pulang sekarang. Tolong aku, Rum..."
Arumi melirik Adrian. Wajah suaminya itu tampak seperti batu karang yang diterjang ombak—dingin dan tak tergoyahkan.
"Kenapa Kakak meneleponku?" tanya Arumi, suaranya lebih berani dari yang ia duga.
"Karena kamu adikku! Kamu selalu membantuku, kan? Tolong bicara pada Adrian. Katakan padanya aku minta maaf. Katakan padanya aku ingin kembali. Aku... aku bersedia menikah dengannya sekarang. Kita bisa tukar posisi lagi, kan? Tolonglah, Rum..."
Arumi merasakan sesak di dadanya. Setelah semua yang terjadi, setelah Arumi dikorbankan, Siska dengan mudahnya meminta posisi itu kembali seolah-olah Arumi adalah barang yang bisa ditukar tambah.
Sebelum Arumi sempat menjawab, Adrian merebut ponsel itu dari tangan Arumi.
"Dengar, Siska," suara Adrian menggelegar di ruangan perpustakaan itu. "Pernikahan bukan permainan petak umpet. Kamu sudah memilih untuk pergi, dan pintu itu sudah tertutup selamanya."
Hening di seberang sana. Siska tampaknya terkejut mendengar suara Adrian.
"A-Adrian? Sayang, dengarkan aku—"
"Jangan panggil aku seperti itu," sela Adrian tajam. "Arumi adalah istriku sekarang. Secara hukum dan di depan semua orang yang aku kenal. Jika kamu butuh uang untuk makan, asistenku akan mengirimkannya ke hotelmu. Tapi jangan pernah berani menampakkan wajahmu di depan Arumi atau keluargaku lagi. Mengerti?"
Adrian mematikan sambungan telepon itu tanpa menunggu jawaban. Ia mengembalikan ponsel itu ke Arumi.
Arumi menatap Adrian dengan mata lebar.
"Mas... Mas mengusirnya?"
"Aku tidak mengusirnya. Aku hanya menegaskan posisinya," ujar Adrian, napasnya sedikit memburu karena amarah. Ia menatap Arumi, dan perlahan amarah itu meredup, digantikan oleh kekhawatiran. "Kamu baik-baik saja?"
Arumi mengangguk pelan. Ia merasa aneh. Ada rasa sedih untuk kakaknya, namun ada rasa lega yang jauh lebih besar. Untuk pertama kalinya, seseorang membelanya di depan kakaknya sendiri.
"Mas benar-benar tidak ingin dia kembali?" tanya Arumi ragu.
Adrian mendekat, memegang kedua bahu Arumi. "Arumi, dengarkan aku baik-baik. Siska mungkin adalah wanita yang aku pilih karena logika bisnis.
Tapi kamu... kamu adalah wanita yang membuat rumah ini terasa seperti rumah dalam waktu seminggu."
Adrian melepaskan bahu Arumi dan kembali ke mejanya, tampak sedikit malu karena pengakuannya sendiri. "Sekarang, kembalilah menulis. Aku punya banyak dokumen yang harus diselesaikan."
Arumi tersenyum, kali ini senyum yang sangat lebar. Ia keluar dari perpustakaan dengan langkah ringan. Konflik dengan Siska mungkin baru saja dimulai, namun Arumi tidak lagi merasa takut. Ia tahu ia tidak berdiri sendirian.
Di ruang tengah, Arumi membuka laptopnya. Ia mulai mengetik dengan cepat. Judul novelnya masih sama, namun isinya kini bukan lagi tentang kesedihan seorang pengganti, melainkan tentang bagaimana seorang pengganti menemukan tempat yang sebenarnya.
Malam itu, saat mereka makan malam bersama lagi, suasananya terasa jauh lebih hangat. Siska memang bayangan masa lalu, namun cahaya yang mulai muncul di antara Arumi dan Adrian jauh lebih terang.