Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Pagi yang seharusnya cerah di kantor Nasution Property Group mendadak terasa mendung bagi Sheila Maharani. Ia berdiri di depan meja Nilam dengan tas ransel kecil dan sepatu kets—setelan standar untuk meninjau proyek bangunan—namun wajahnya memancarkan keraguan yang luar biasa.
"Nilam? Kamu beneran nggak ikut survei lapangan hari ini?" tanya Sheila, suaranya sedikit berbisik karena beberapa karyawan lain sudah mulai berdatangan.
Nilam yang sedang sibuk memulas lip balm menoleh dengan dahi berkerut. "Enggak, Shei. Aku nggak diperintah sih. Hari ini jadwal aku kelarin laporan input data bulanan. Emang kenapa? Kamu disuruh ke mana?"
Sheila meremas tali tasnya. "Tadi HRD telepon, katanya semua karyawan baru divisi properti harus ikut survei ke proyek Sentul pagi ini jam tujuh. Aku kira kita barengan, kan kita sama-sama di divisi ini."
"Ya agak aneh sih, aku kan baru kok sudah disuruh survei," gumam Sheila lagi, lebih kepada dirinya sendiri. "Biasanya kan ada masa orientasi di dalam kantor dulu seminggu, baru dilepas ke lapangan."
Nilam menghentikan aktivitasnya, matanya membelalak jenaka. "Tunggu, Shei. 'Semua karyawan baru'? Setahuku, angkatan kita yang masuk divisi properti bulan ini cuma kamu sama... bentar, si Doni kan lagi izin sakit karena tipes. Berarti cuma kamu dong?"
Jantung Sheila mencelos. "Loh? Tadi katanya sama karyawan lain kok?"
Belum sempat Nilam menjawab, suara bariton yang sangat familiar—dan sangat tidak ingin didengar Sheila sepagi ini—menggelegar dari arah lorong lift eksekutif.
"Sudah siap, Sheila Maharani?"
Jeremy Nasution muncul dengan penampilan yang jauh dari kesan CEO formal. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya digulung hingga siku, celana jeans gelap, dan sepatu boots lapangan. Kacamata hitam tersampir di kerah bajunya. Ia tampak segar, tampan, dan tentu saja... menyebalkan.
"Pak Jeremy? Mana karyawan yang lain?" tanya Sheila, mencoba tetap tenang meski hatinya sudah mulai was-was.
Jeremy melirik jam tangan Rolex-nya dengan gaya teatrikal. "Oh, karyawan lain? Maksudmu staf ahli dan kontraktor? Mereka sudah di lokasi sejak subuh. Kita menyusul sekarang. Ayo, jangan buang waktu. Time is money, Sheila."
"Tapi Pak, Nilam bilang dia tidak dapat perintah..."
"Nilam punya tugas lain. Kamu adalah staf yang aku pilih secara khusus untuk membantuku mencatat beberapa detail teknis di sana. Kenapa? Kamu keberatan?" Jeremy menaikkan satu alisnya, memberikan tatapan menantang yang membuat Sheila tidak punya pilihan selain mengangguk kaku.
"Baik, Pak. Aku ambil buku catatan dulu."
Sheila mengikuti langkah lebar Jeremy menuju parkiran khusus VIP. Di sana, mobil SUV hitam berukuran besar yang tampak gagah sudah menunggu. Jeremy membukakan pintu penumpang depan dengan gerakan yang sangat sopan—terlalu sopan untuk ukuran seorang bos kepada karyawan baru.
"Silakan masuk, Tuan Putri," goda Jeremy sambil sedikit membungkuk.
"Terima kasih, Pak. Tapi aku bisa buka sendiri," jawab Sheila pendek, ia masuk dan segera memasang sabuk pengaman, duduk setegak mungkin seolah sedang menghadapi ujian nasional.
Sepanjang perjalanan menuju Sentul, suasana di dalam mobil terasa begitu kontras. Jeremy menyalakan musik jazz instrumental yang lembut, sementara Sheila terus-menerus mengecek ponselnya, membalas pesan dari Malik yang menanyakan apakah ia sudah sampai di kantor.
“Malik, aku harus ke lapangan pagi ini. Ternyata bareng CEO. Doakan lancar ya,” ketik Sheila cepat.
"Lagi lapor ke 'Jangkar Ketulusan' itu?" tanya Jeremy tiba-tiba, matanya tetap fokus ke jalan raya yang mulai padat.
Sheila tersentak. "Namanya Malik, Pak."
"Iya, Malik. Si pemilik motor matic legendaris," Jeremy terkekeh, tangannya memutar kemudi dengan lihai. "Aku heran, Sheila. Kamu itu cantik, kalem, dan pintar. Kenapa seleramu... sangat sederhana?"
"Karena kebahagiaan itu sederhana, Pak Jeremy. Tidak semua hal harus diukur dengan merek mobil atau jabatan di kartu nama," balas Sheila telak.
Jeremy terdiam sejenak. Seringainya menghilang, digantikan oleh tatapan yang sedikit lebih serius. "Mungkin kamu benar. Tapi kesederhanaan nggak akan melindungimu dari kerasnya dunia ini. Kadang, kamu butuh seseorang yang punya kuasa untuk memastikan kamu selalu aman. Seperti... aku."
Sheila memilih untuk tidak membalas. Ia berpaling ke jendela, menatap deretan pohon yang mulai terlihat saat mereka memasuki area Sentul.
Begitu sampai di lokasi proyek—sebuah lahan luas yang akan dibangun kompleks perumahan elit—Sheila langsung turun. Ia bersiap untuk bertemu dengan rombongan kontraktor yang katanya sudah menunggu. Namun, sejauh mata memandang, hanya ada beberapa pekerja bangunan yang sedang meratakan tanah di kejauhan. Tidak ada tenda pertemuan, tidak ada rombongan staf ahli.
"Pak? Mana tim yang lain?" tanya Sheila, mulai merasa ada yang tidak beres.
Jeremy turun dari mobil, memakai kacamata hitamnya dengan tenang. "Oh, mereka sedang meninjau sisi utara lahan, sekitar satu kilometer dari sini. Kita akan menyusul mereka setelah aku menunjukkan sesuatu padamu."
Jeremy berjalan mendahului Sheila menuju sebuah bukit kecil yang menghadap ke lembah hijau. Sheila, dengan perasaan curiga yang semakin besar, tetap mengikuti. Kakinya yang mengenakan kets sedikit kesulitan mendaki jalan tanah yang tidak rata.
"Hati-hati, Sheila. Sini, pegang tanganku," Jeremy mengulurkan tangannya.
"Tidak perlu, Pak. Aku bisa sendiri," tolak Sheila halus. Namun, malang tak dapat ditolak, ujung sepatunya tersangkut akar pohon, membuatnya terhuyung ke depan.
Dengan sigap, Jeremy menangkap pinggang Sheila, menariknya masuk ke dalam pelukannya agar gadis itu tidak jatuh ke tanah. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Sheila bisa mencium aroma parfum kayu cendana Jeremy yang sangat dekat, sementara Jeremy menatap mata Sheila dengan intensitas yang membuat napas Sheila tertahan.
"Tuh kan, baru dibilang sudah mau jatuh saja," bisik Jeremy, suaranya terdengar jauh lebih rendah dan berat. Ia tidak segera melepaskan tangannya dari pinggang Sheila.
"Lepaskan, Pak. Nanti dilihat orang," Sheila mencoba mendorong dada Jeremy dengan lembut.
"Biar saja. Biar mereka tahu kalau asisten pribadiku ini memang butuh pengawasan ekstra," Jeremy tersenyum tengil lagi, akhirnya melepaskan rangkulannya namun tetap berdiri sangat dekat.
"Pak Jeremy, sebenarnya... survei ini cuma akal-akalan Bapak saja kan supaya bisa berduaan denganku?" tanya Sheila berani, matanya menatap tajam ke arah sang CEO.
Jeremy tertawa terbahak-bahak, tawaran suaranya menggema di perbukitan itu. "Wah, kamu makin pintar menebak ya? Tapi Sheila, aku memang ingin membangun proyek di sini. Dan aku ingin kamu yang mendampingiku merancangnya dari nol. Anggap saja ini... investasi masa depan. Untukku, dan untukmu."
Sheila membuang muka, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya. Jeremy benar-benar berbahaya. Ia bukan hanya mengejarnya dengan klakson mobil, tapi kini ia menggunakan kekuasaan kantor untuk mengurung Sheila dalam dunianya.