Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Budi mundur pelan sambil menutup hidungnya. Bau amis darah dan asam lambung membuat perutnya mual. Bang Zain dan Kapten Andi pakai tongkat kayu buat geledah perut ular yang masih menggelembung. Mereka harus konfirmasi identitas korban. Polisi biasa lihat mayat, tapi kali ini beda ini mayat teman, saudara, orang yang dikenal.
Tak lama, tim bantuan datang ikut jalur yang sudah dibabat. Mereka kaget liat ular raksasa, tapi langsung tenang pas tahu udah mati. Mas Aji yang kakinya patah dibawa turun duluan. Sebelum pergi, dia nengok Budi dari jauh dengan tatapan campur aduk sedih, bingung, dan mungkin malu.
Budi nggak punya urusan lagi di situ.
Beberapa orang bisik-bisik sama Kapten Andi dan Bang Zain. Lalu mereka pakai sarung tangan karet, masukin mayat-mayat ke kantong plastik transparan, dan bawa turun bukit.
Mbak Jeni diem aja lama banget. Mukanya linglung, jaga jarak dari Budi. Awalnya Budi pengen ngomong, tapi liat ekspresinya, dia mundur. Mungkin dia butuh waktu sendiri setelah kejadian tadi.
Jalan pulang mulus, nggak ada bahaya lagi. Pas sampai kantor polisi, Budi ganti baju biasa, tukeran nomor HP sama Kapten Andi, minta dihubungi kalau identitas mayat udah pasti. Lalu dia naik taksi online pulang.
Pas masuk kota, Budi liat jam baru jam 3 sore. Dia turun di depan Bank BRI, masuk ke dalam.
Gaji salesnya nggak gede, baru kerja kurang dari setahun, tabungan cuma cukup buat hidup sehari-hari. Tapi dia masih punya sekitar empat ratus juta di rekening warisan jual rumah orang tua setelah kecelakaan. Belum ada kompensasi dari pelaku sampai sekarang.
Di papan pengumuman, suku bunga deposito naik jadi 15%. Angka segitu cuma pernah ada pas krisis ekonomi 90-an. Budi yang lulusan ekonomi tahu ini nggak normal.
Dia ke teller, mau tarik dua ratus juta, tapi cuma bisa seratus juta karena belum booking. Sisanya dia tarik lewat ATM di luar empat puluh juta lagi.
Bawa duit segitu, dia telepon rental mobil, sewa pick-up kecil. Langsung ke supermarket terdekat, beli apa aja yang kepikiran: air mineral galon, mie instan kartonan, sereal, beras karung, makanan kaleng, minyak goreng, sabun, pasta gigi, obat-obatan dasar, bahkan pakaian dalam cadangan. Sampai pick-up penuh, dia baru berhenti.
Pas sampai kontrakan, ruang tamu dan gudang kecil penuh barang. Setengah kamar tidur ditumpuk karung beras. Budi liat semuanya, baru ngerasa tenang sedikit.
Pepatah bilang: rumah punya stok makanan cukup, orang nggak panik. Kalau dunia beneran kiamat, dengan stok segini dia bisa bertahan lama. Plus suku bunga naik, duit di bank bakal berkembang sendiri.
Dia nyalain laptop. Forum dan berita online rame soal tanaman tumbuh cepet dan hewan mutasi. Ada warga desa posting orang hilang tiap hari, bikin panik. Tapi komentarnya sepi orang kayak udah mati rasa, atau nggak percaya karena belum ngerasain sendiri.
Budi termasuk yang mati rasa sekarang. Setelah kejadian ular tadi, dia ngerasa beda. Kayak bukan Budi yang dulu lagi.
Dia cari berita soal TNI. Biasanya tersembunyi di antara ribuan postingan. Ketemu beberapa petunjuk: pangkalan militer lagi sibuk banget. Kata-kata “latihan” dan “pemindahan” muncul terus.
Lalu dia nemu berita dari Brasil, umur 10 hari lalu.
“Karena perubahan iklim, ekspor kayu Brasil terhenti!”
Budi langsung kaget. Dia cari lagi soal Brasil negara itu kayak hilang dari berita. Nggak ada update baru selain postingan 10 hari lalu.
Hutan Amazon paru-paru dunia sebagian besar ada di Brasil. Tutupan pohonnya jauh lebih padat daripada bukit kecil di Muara Teweh. Kalau bukit 200 meter aja bisa sembunyiin ular 10 meter, gimana hutan Amazon? Pasti lebih parah. Nggak ada berita berarti berita buruk.
Budi merinding sendiri mikirin itu.
Tiba-tiba pintu depan berderit nggak dikunci. Budi nengok jam: hampir jam 5 sore. Pasti Rina pulang.
“Mas Budi… Mas Joko udah pulang belum?”
Budi buka pintu kamar. Rina keliatan lebih khawatir dari pagi tadi. Matanya sembab, rambut acak-acakan.
Budi nggak tahu harus bilang apa. Kabar ini bakal hancurin dia. Mereka udah tunangan, udah beli rumah buat nikah di Tahun Baru. Sekarang harus bilang pacarnya mati, badannya nggak dikenali lagi.
Dia bakal tahu juga nanti, tapi mungkin bisa ditunda sebentar.
Budi ragu, lalu bilang, “Kayaknya sebentar lagi pulang.”
Muka Rina agak pucet. Dia gumam sendiri, “Dia ngapain sih? Kenapa nggak angkat telepon? Ini nggak biasanya dia.”
“Mungkin lagi nemuin sesuatu,” usul Budi.
“Apa dia selingkuh?” tanya Rina tiba-tiba.
“Bukan tipe dia. Jangan mikir macem-macem. Lagian gajinya kan buat kamu semua. Aku mau makan dulu,” Budi ganti topik, langsung keluar.
“Ayo makan bareng. Aku masak!” ajak Rina sopan. Dia keliatan agak baikan setelah ngobrol sama Budi.
“Nggak apa-apa, aku nggak enak makan gratisan terus,” jawab Budi sambil jalan keluar. Dia nggak tenang. Bohong ke Rina bikin dada sesak.
Warung kecil di pintu masuk kompleks. Budi langganan, jadi bosnya ramah.
Hari ini capek banget, dia pesen dua lauk tambahan.
Pas lagi makan setengah, HP berdering.
Budi liat nama: Kapten Andi. Dia tahu ini soal apa. Dia angkat.
Dari seberang, suara Kapten Andi berat. “Budi, siap-siap ya. Ada kabar buruk.”
Dia diam sebentar, kasih waktu Budi napas, lalu lanjut, “Hasilnya udah keluar. Salah satu mayat kakak iparmu. Maaf banget.”
Budi udah tahu, jadi nggak kaget. “Makasih, Pak. Saya udah nebak dari sore tadi. Udah hubungi adik ipar saya?”
“Udah saya suruh orang dari unit lain hubungin. Karena jenazahnya udah nggak dikenali lagi dan mulai membusuk, saran saya keluarga menguburkan secepatnya setelah liat terakhir,” kata Kapten Andi.
“Oke, Pak. Nanti saya bicara sama dia.”
“Orang mati nggak balik lagi, Budi. Turut berduka ya. Sampai jumpa.”
Budi tutup telepon. Dia diem lama. Lalu buru-buru bayar, langsung pulang.
Begitu buka pagar, bau gosong langsung nyengat hidung.
Budi lari ke dapur. Rina duduk lemas di lantai, spatula di tangan, asap mengepul dari wajan di kompor gas kayak kebakar.
Budi cepet matiin gas, ambil mangkuk isi air, tuang ke wajan.
Air menguap dengan suara mendesis.
Lalu dia nengok Rina. Dia linglung, nggak gerak sama sekali meski Budi masuk. Pasti lagi shock berat.
“Mau mati ya? Hampir kebakar rumah! Ada apa sih?” bentak Budi. Dia tahu nggak guna hibur sekarang.
Rina nengok Budi kosong, lalu tiba-tiba nangis. Tangisnya pecah, sakit banget, bikin dada Budi ikut nyeri.
“Nggak apa-apa… nangis aja,” Budi jongkok, tepuk bahunya pelan. “Bagus nangis.”
Rina peluk Budi erat, nangis lebih kenceng.
“Mati… Dia mati… Mas Joko mati… Kemarin pagi masih hidup… Aku marah-marah ke dia… Ini salahku… Semua salahku…”
“Bukan, bukan salah kamu. Ini hidup. Kalau dia nggak ke Muara Teweh, mungkin nggak gini,” hibur Budi pelan.