NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyergapan

Di halaman luas istana, deru napas kuda dan denting zirah prajurit memenuhi udara. Raja Indra berdiri tegak, namun guratan di wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa duka yang mendalam.

"Aku masih belum bisa percaya Seno sudah tiada.." gumam Raja Indra, suaranya berat dan serak. Ia menatap ke arah utara, tempat sahabat lamanya pernah bertahta.

"Hari ini kita berangkat. Aku ingin memberi penghormatan terakhir di kediamannya. Pastikan semua persiapan tidak ada yang kurang."

Suhita yang berdiri di samping Raja ,sambil merapikan jubah kebesarannya, menoleh dengan tatapan menyelidik. "Lalu bagaimana dengan kursi singgasanamu, Suamiku? Kau tidak bisa membiarkan istana ini tanpa nakhoda saat seluruh keluarga inti pergi berduka."

Mendengar celah itu, Julian langsung melangkah maju. Ia memasang wajah paling meyakinkan yang ia miliki.

"Ampun, Ayahanda." potong Julian dengan nada rendah yang dibuat-buat sopan.

"Jika Ayahanda mengizinkan, biarkan aku yang tinggal dan menjaga istana. Aku berjanji akan memastikan semuanya tetap tenang sampai Ayahanda kembali."

Raja Indra mengalihkan pandangannya, menatap Julian dengan tatapan yang seolah bisa menembus tulang.

"Pangeran Julian... bukankah tugasmu saat ini adalah mengejar Sedra? Bukankah dia sedang mengobrak-abrik wilayah Selatan saat ini, tapi kau malah ingin bersantai di atas takhta? Begitukah ?"

Julian tersentak kecil. Sudut matanya berkedut, sebuah tanda kegugupan yang coba ia tekan habis-habisan.

"Tentu saja tidak Ayah ." jawab Julian cepat, berusaha menstabilkan suaranya.

"Hanya saja... aku sudah mengatur segalanya. Aku jamin Sedra tidak akan berani muncul untuk sementara waktu. Pasukan cadangan sudah kukerahkan untuk memperketat penjagaan di perbatasan."

Raja Indra menaikkan sebelah alisnya, tampak tidak puas. "Kau bicara seolah-olah punya kendali atas pembunuh itu Julian. Bagaimana bisa kau begitu yakin dia akan diam?"

Suasana mendadak tegang. Julian menelan ludah, otaknya berputar mencari alasan yang masuk akal sebelum kecurigaan ayahnya semakin dalam. Beruntung baginya, Suhita segera masuk ke dalam percakapan.

"Sudahlah Raja.." sela Suhita dengan nada yang lebih santai, seolah pembicaraan itu tidak seserius kelihatannya.

"Biarkan saja Julian yang mengurus istana kali ini. Dia butuh kesempatan untuk membuktikan tanggung jawabnya, bukan?"

Ia mengedikkan bahu ke arah luar gerbang. "Lagi pula, putra kesayanganmu , Pangeran Cakra juga belum kembali . Tidak ada salahnya jika untuk sementara pangeran Julian yang mengambil alih istana . Dia itu juga putramu bukan orang asing ."

Raja Indra menghela napas panjang, tampak letih untuk berdebat lebih jauh. "Baiklah. Julian, istana ini ada di tanganmu. Tapi ingat satu hal ! "

Raja Indra mendekat, membisikkan kata-kata yang membuat Julian kaku. "Jangan sampai aku pulang dan menemukan istana ini dalam keadaan kacau karena kau terlalu sibuk dengan urusan pribadimu."

Julian membungkuk sangat dalam, menyembunyikan senyum sinis yang mulai merayap di wajahnya. "Tentu, Ayahanda. Akan kujaga dengan... sangat baik."

***

Bau debu dan kayu lapuk menusuk hidung. Cakra memberi kode dengan dua jari, lalu melesat ke balik bayangan peti-peti besar. Riu mengikuti tepat di belakangnya, nyaris tanpa suara.

"Di sana, Riu!" bisik Cakra, suaranya sedingin es. "Jangan sampai ada suara yang keluar. Sekali kita ketahuan, seluruh tikus ini akan lari ke lubangnya."

Di tengah ruangan, cahaya obor menari-nari di wajah Raja Galuh. Ia duduk dengan kaki bertumpu di atas meja, sementara para pejabat istana Selatan yang biasanya sok suci, kini berdiri membungkuk seperti pengemis di hadapannya.

"Ampun, Raja Galuh." keluh salah satu pejabat sambil menyeka keringat dingin di lehernya.

"Kehadiran Raja Indra di festival benar-benar di luar kendali. Siapa yang sangka si tua Bangka itu akan muncul tiba-tiba di tengah pesta."

"Benar, Baginda." timpal pejabat lain dengan nada dongkol. "Gara-gara itu, kita gagal menyeludupkan semua emas emasnya . Padahal jalurnya sudah bersih!"

Raja Galuh mendengus, lalu tertawa mengejek sampai kumis tebalnya bergetar. Ia menuangkan anggur ke cawan emas, terlihat sangat arogan.

"Kalian ini cuma sekumpulan pecundang yang gampang panik!" cibir Raja Galuh.

"Kalian pikir aku buang-buang uang di pesta itu hanya untuk memberi makan rakyat kelaparan? Atau untuk menghibur si tua bangka Indra? Cih, jangan naif."

Raja Galuh meneguk anggurnya sekali habis. "Pesta itu hanyalah umpan. Supaya mata semua orang tertuju ke sana, sementara kita dapat dengan bebas bergerak sesuai rencana . Tapi semuanya gagal karena indra sialan itu !"

Di balik persembunyian, tubuh Cakra bergetar hebat. Cengkeramannya pada gagang pedang begitu kuat hingga terdengar suara gesekan kulit sarung pedangnya. Matanya merah menahan amarah yang hampir meledak.

"Berani-beraninya dia..." desis Cakra, suaranya sangat rendah namun penuh ancaman maut.

Riu langsung mencengkeram bahu Cakra, menekan pangeran itu agar tetap di posisinya. "Pangeran, tahan! Jangan terpancing!" bisik Riu mendesak.

"Dia menghina ayahku, Riu! Dia merendahkan rakyatku di depan muka para pengkhianat itu!" Cakra menoleh ke arah Riu, tatapannya tajam seolah ingin menebas siapapun yang menghalanginya.

"Aku tahu! Aku juga ingin merobek mulutnya." balas Riu dengan bisikan yang sangat tegas.

"Tapi kalau kau keluar sekarang, kau hanya dapat kepalanya. Kita butuh daftar nama semua pengkhianat ini agar Selatan bisa bersih sampai ke akar-akarnya pangeran . Biarkan mereka bicara sedikit lagi. Biarkan mereka menggali kuburannya sendiri lebih dalam."

Cakra membuang muka, mencoba mengatur napasnya yang menderu. Ia kembali mengintip ke arah Raja Galuh dengan tatapan predator.

"Baiklah ! " gumam Cakra. "Tapi aku pastikan akan membuat bedebah itu sangat menderita nanti. "

Cakra menunggu beberapa saat lagi hingga akhirnya kini dia telah mengantongi setiap nama pejabat yang keluar dari mulut lancang Raja Galuh , sebuah daftar kematian bagi para pengkhianat.

"Cukup Riu..." desis Cakra, suaranya terdengar seperti gesekan logam yang tajam.

 "Aku sudah mengantongi semua nama tikus yang terlibat. Tidak perlu menunggu lebih lama lagi."

Riu mengangguk, lalu memberikan isyarat peluit rendah yang hanya bisa didengar oleh telinga terlatih.

Cakra menghela napas panjang. Rasa muak yang sedari tadi ditahannya kini berganti menjadi senyum dingin yang mematikan. Ia beranjak dari balik peti, melangkah keluar ke area yang diterangi cahaya obor. Jaga jarak yang aman, namun tatapannya lurus menghujam ke arah Raja Galuh.

"Raja Galuh !" panggil Cakra, suaranya terdengar datar namun berwibawa, kontras dengan penampilan kumuhnya.

"Bicara soal tua bangka dan Raja sialan, sepertinya kau sangat ahli ya? Mungkin kau lupa, mulutmu itu bisa jadi lubang kuburanmu sendiri."

Raja Galuh tersedak anggurnya, batuk-batuk kecil sejenak sebelum menatap Cakra dengan tatapan meremehkan. Ia mengusap kumis tebalnya, meneliti sosok di hadapannya yang mengenakan jubah lusuh dan wajah yang kotor terkena debu coklat.

"Siapa kau? Dasar gelandangan lancang ! " ejek Raja Galuh, tawanya kembali meledak kasar.

"Berani-beraninya seekor tikus selokan sepertimu mengganggu pembicaraan para raja? Pengawal! Seret bajingan ini keluar dan beri dia cambuk!"

Para pejabat korup di sekelilingnya ikut tertawa, meremehkan sosok yang mereka kira hanyalah gelandangan yang tersesat.

"Benar, Baginda! Lancang sekali dia!" seru salah satu pejabat dengan nada culas.

Cakra tidak bergeming. Ia justru terkekeh pelan, sebuah kekehan yang membuat bulu kuduk Riu merinding. "Pengawalmu? Maksudmu orang-orang yang sudah tertidur pulas di luar sana?"

Raja Galuh menghentikan tawanya, matanya menyipit curiga. "Apa maksudmu?"

"Maksudku..." Cakra mengangkat tangannya, lalu dengan santai mengusap wajahnya yang kotor dengan jubah lusuhnya. Sedikit demi sedikit, debu coklat yang menyamarkan identitasnya menghilang, memperlihatkan kulit yang bersih dan rahang yang tegas.

Mata Raja Galuh membelalak sempurna saat mengenali wajah di balik kotoran itu. "P-pangeran... Cakra?!" suaranya tercekat di tenggorokan, cawan anggur di tangannya jatuh berdentang ke lantai.

Para pejabat korup di sekelilingnya langsung jatuh lemas, wajah mereka sepucat kapas. "T-tidak mungkin... Pangeran Cakra..."

Cakra tersenyum miring, senyum predator yang telah mengunci mangsanya. "Terima kasih atas daftar namanya, Galuh. Kau baru saja mempermudah tugasku untuk membersihkan kotoran di istanaku sendiri."

Seketika, Riu yang kini sudah berdiri di samping Cakra dengan pedang terhunus memberikan komando. "Prajurit ! "

Dari kegelapan di sudut-sudut gudang, belasan prajurit elit Selatan muncul secara serentak dengan busur panah yang sudah terbentang.

"Jangan ada yang bergerak satu inci pun!" bentak Riu. "Atau panah ini yang akan menembus kepala Kalian !"

Suasana menjadi riuh. Para prajurit Cakra yang sudah mengepung area itu bergerak dengan taktis, meringkus para pejabat, mengikat tangan mereka dengan rantai besi, dan menyumpal mulut mereka yang masih mencoba merengek minta ampun.

Raja Galuh mencoba mencabut belati kecil di balik jubahnya, namun Riu dengan sigap menghantam pergelangan tangannya dengan gagang pedang hingga terdengar suara tulang yang retak.

"Arghhh!" Raja Galuh mengerang kesakitan, jatuh berlutut di hadapan Cakra.

"Bawa dia paling depan!" perintah Cakra dingin pada prajuritnya. "Aku ingin seluruh rakyat di perbatasan melihat bagaimana rupa seorang Raja yang mencoba mencuri masa depan mereka."

Saat para tawanan diseret keluar menuju kereta penjara yang sudah menunggu di luar, Riu mendekati Cakra.

"Semua nama di daftar tadi sudah diamankan, Pangeran. Pasukan kita juga sudah bergerak untuk menyegel rumah-rumah pejabat itu sebelum keluarga mereka sempat menyembunyikan bukti . " lapor Riu.

Cakra menatap ke arah langit malam yang mulai memudar, menyongsong fajar. "Bagus. Biarkan Raja Galuh tetap hidup untuk sementara. Aku ingin dia melihat sendiri bagaimana rencana besarnya hancur berkeping-keping di tangan si tua bangka yang dia remehkan."

Bersambung....

🍓🍓🍓🍓

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!