NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 2: Anak SD yang Tidak Boleh Salah

​Ada teori kecil yang kukembangkan sendiri di usia sembilan tahun.

​Teori itu sederhana, tidak ilmiah, dan tidak akan pernah lolos peer review jurnal internasional mana pun. Tapi bagiku waktu itu, teori ini terasa sangat masuk akal untuk menjelaskan rutinitas di rumah kami.

​Teorinya begini: cinta Ibu itu seperti cuaca Jawa Tengah.

​Tidak bisa diprediksi. Tidak selalu masuk akal. Dan kamu tidak punya kontrol apa pun atas kapan ia datang dan pergi.

​Pagi bisa cerah Ibu membangunkanku dengan suara yang hangat, sudah menyiapkan sarapan nasi goreng, dan sempat mengepang rambutku sebelum aku berangkat sekolah. Siang bisa tiba-tiba mendung aku pulang dan menemukan Ibu dengan dahi berkerut, menjawab pertanyaanku sepatah dua patah, dan suasana rumah berubah jadi setegang ruang tunggu IGD rumah sakit. Malam bisa hujan badai ada kalimat-kalimat tajam yang jatuh tanpa peringatan, mengenai tempat-tempat yang tidak kusangka.

​Dan besoknya? Cerah lagi. Seperti tidak ada yang terjadi.

​Lama-lama aku berhenti mencari tahu kenapa. Aku cukup belajar membawa "payung" ke mana-mana. Dan payung paling kokoh yang kumiliki saat itu berbentuk selembar kertas ulangan dengan angka seratus bertinta merah di pojok kanannya.

​Kelas empat SD adalah tahun yang paling aku ingat bukan karena ada kejadian luar biasa, tapi karena di situlah teori cuacaku benar-benar diuji sampai batas maksimal.

​Waktu itu ada ujian tengah semester. Mata pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, IPS, dan PKn berderet dalam satu minggu yang terasa seperti maraton neraka.

​Aku belajar. Sungguh-sungguh belajar. Meja belajarku berantakan dengan buku catatan, lembar latihan soal yang kusalin ulang, dan pensil yang ujungnya sudah tumpul karena terlalu sering dipakai. Ibu yang melihatku belajar sampai jam sembilan malam sempat bilang, "Bagus, belajar yang rajin." Aku ingat perasaan itu hangat di dada, seperti mendapat validasi yang langka. Aku pikir, kali ini aku sudah cukup siap. Aku pikir, aku sudah membeli cuaca cerah untuk satu minggu ke depan.

​Hasil ujian keluar seminggu kemudian.

​Guru kelasku, Bu Endang, membagikan kertas satu per satu dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Ada yang menerima kertasnya lalu langsung memeluk cium kertas itu, ada yang langsung melipatnya dan menenggelamkan wajah ke meja aku sudah bisa menebak dari situ siapa yang selamat dan siapa yang tidak.

​Kertasku keluar. Aku menatap angka di pojok kanan atas.

​Delapan puluh sembilan.

​Aku duduk dengan kertas itu di tangan, membaca ulang soal-soal yang kujawab salah. Ada tiga soal Matematika yang meleset karena kurang teliti, satu soal IPA, dan satu esai Bahasa Indonesia yang nilainya dipotong karena katanya kurang pengembangan.

​Delapan puluh sembilan.

​Di benakku waktu itu, angka itu terasa baik. Bukan sempurna, tapi baik. Bu Endang bahkan bilang rata-rata kelas tujuh puluh dua yang artinya aku berada jauh di atas rata-rata.

​Aku pulang dengan kertas itu di dalam tas, sedikit berharap awan di rumah tetap cerah.

​Ibu sedang melipat baju dagangan di ruang tamu ketika aku masuk. Tumpukan baju daster warna-warni menggunung di sofa. Aroma kain baru yang apek bercampur kapur barus tercium begitu aku membuka pintu. Bapak belum pulang dari sawah.

​"Ibu, Nara pulang."

​"Mm." Ibu tidak mendongak. Tangannya tetap melipat, rapi dan cepat, seperti mesin jahit pabrik yang sudah hafal jalurnya.

​Aku menaruh tas, berganti baju, lalu keluar lagi ke ruang tamu dengan kertas ujian di tangan. Jantungku berdebar sedikit lebih cepat.

​"Bu, hasil ujian udah keluar."

​Kali ini Ibu mendongak. Ia menaruh baju yang sedang dilipat, lalu mengulurkan tangan.

​Aku menyerahkan kertas itu. Hening sebentar. Ibu membaca aku tidak tahu apa yang ia baca, karena angka merah itu sudah sangat jelas di pojok kanan atas. Tapi Ibu tetap menelitinya, seolah sedang mencari dosa-dosaku di antara soal-soal yang tercetak di sana.

​Lalu ia mendengus.

​Bukan tawa. Bukan komentar. Hanya dengusan kecil dari hidung yang bobot maknanya lebih berat dari satu paragraf panjang.

​"Delapan sembilan."

​"Iya, Bu. Rata-rata kelas tujuh dua"

​"Siapa yang tanya rata-rata kelas?" potong Ibu cepat.

​Aku kicep.

​Ibu menaruh kertas itu di atas tumpukan daster, lalu kembali melipat. "Kurang di mana?"

​"Matematika tiga soal. IPA satu. Bahasa Indonesia katanya kurang pengembangan kalimat."

​"Matematika." Ibu mengulangi kata itu dengan nada yang tidak bisa kugolongkan sebagai marah tapi juga sangat jauh dari kata baik-baik saja. "Matematika itu paling gampang nilainya bagus asal kamu teliti. Kamu teliti nggak waktu ngerjain?"

​"Udah, Bu. Tapi.."

​"Tapi apa?"

​Aku tidak menjawab. Karena waktu itu aku belum tahu cara menjelaskan bahwa kata 'tapi' di sana tidak punya lanjutan yang Ibu mau dengar. Tidak ada alasan yang cukup masuk akal untuk membenarkan tiga soal Matematika yang meleset di matanya.

​"Dinda berapa?" tanya Ibu.

​Dan di situ di satu nama itu aku merasakan sesuatu yang familiar turun pelan-pelan, memberatkan perutku.

​"Nara nggak tahu, Bu."

​"Tanya dong besok." Ibu melipat baju terakhir, lalu menepuk-nepuk tumpukan yang sudah rapi. Suaranya mulai meninggi, mengambil nada ceramah yang paling kutakuti. "Kalau dia bisa bagus, Nara juga harusnya bisa. Kalian kan belajarnya sama-sama."

​(Ibu, aku dan Dinda tidak pernah belajar sama-sama. Kami bahkan tidak sekelas. Kami hanya kebetulan lahir di tahun yang sama dan tinggal di RW yang sama, dan itu sudah cukup untuk menjadikannya kompetitor abadiku.)

​"Iya, Bu," gumamku pelan.

​Ibu menghela napas panjang. Helaan napas mematikan yang selalu sukses membuatku merasa sekecil debu. "Ibu ini... tiap jam empat subuh udah bangun. Nyiapin sarapan, gelar lapak di pasar, berdiri seharian ngelayanin orang rewel. Ibu ngelakuin itu buat siapa? Buat kamu. Biar kamu sekolah yang bener. Cuma itu yang Ibu minta. Nilai segini mau jadi apa?"

​Kalimat terakhir itu bukan pertanyaan. Jadi aku tidak menjawab. Aku membiarkan kalimat itu mengendap, menggores sesuatu di dalam sana.

​Malamnya aku duduk di kamar dengan kertas ujian itu di depanku.

​Delapan puluh sembilan.

​Aku membaca ulang soal-soal yang salah. Soal pecahan yang salah karena aku terburu-buru. Soal keliling bangun datar karena aku lupa rumusnya di detik terakhir. Semua bisa diperbaiki. Semua masuk akal kenapa bisa salah.

​Tapi duduk di kamar berdinding triplek itu, mendengar suara panci Ibu dari dapur, aku tidak merasa seperti seseorang yang sekadar melakukan kesalahan yang bisa diperbaiki.

​Aku merasa seperti seseorang yang... kurang.

​Dan yang paling menyebalkan dari perasaan itu aku bahkan tidak yakin apakah aku merasa kurang karena aku memang kurang, atau karena ada seseorang yang berhasil meyakinkanku bahwa aku tidak cukup.

​Siang itu aku menghukum diriku sendiri dengan tidak makan siang. Malamnya aku lewatkan dengan dalih sudah ngantuk. Di usia sembilan tahun, menahan lapar adalah satu-satunya bentuk kendali yang kumiliki atas rasa bersalahku. Aku menutup kertas ujian itu, menaruhnya di laci paling bawah, dan membuka buku materi untuk besok.

​Keesokan harinya, aku turun dari kamar untuk berangkat sekolah. Perutku perih bernyanyi.

​Di meja makan, sudah ada sepiring nasi hangat, sayur bayam, dan aku berhenti sebentar ketika melihatnya sebungkus risoles dari warung Bu Tini di ujung gang.

​Risoles itu lauk kesukaanku. Jajanan yang agak mewah untuk ukuran kami. Ibu tidak selalu membelinya, hanya di hari-hari tertentu yang tidak bisa kuprediksi polanya.

​Ibu sedang menyiapkan termos di dapur. Ia menoleh ketika mendengar langkahku. Cuacanya... cerah?

​"Sarapan dulu, nanti kesiangan."

​Aku duduk. Membuka plastik bening risoles itu dengan ragu. "Bu, ini..."

​"Makan aja. Beli tadi pagi di Bu Tini mumpung masih anget."

​Aku memakannya. Dan risoles itu enak, seperti biasa. Kulitnya renyah tipis, isinya wortel dan bihun yang gurih. Ibu duduk di seberangku, meminum tehnya, sesekali mengingatkanku supaya tidak makan terburu-buru agar tidak tersedak.

​Tidak ada yang dibicarakan soal ujian.

​Tidak ada kata maaf, tidak ada kata 'kemarin Ibu terlalu keras' tapi juga tidak ada kelanjutan dari rentetan kekecewaan semalam. Seolah semua sudah di-reset. Halaman baru. Hari baru.

​Dan aku seperti yang sudah kulakukan berkali-kali sebelumnya mengikuti reset itu.

​Aku memakan risolesnya sampai habis meski rasa manisnya bercampur dengan rasa enek di tenggorokanku. Aku menjawab pertanyaan Ibu soal jadwal pelajaran hari ini. Aku pamit dengan mencium tangannya sebelum berangkat.

​Di jalan menuju sekolah, aku berpikir bahwa mungkin memang begini caranya. Mungkin ini normal. Mungkin semua ibu di dunia ini memang begitu marah, lalu baik lagi, lalu marah, lalu baik lagi. Sebuah siklus yang tidak ada awal dan akhirnya. Mungkin aku yang terlalu sensitif.

​Bertahun-tahun kemudian, aku akan mengerti bahwa itu bukan sensitif. Itu adalah gaslighting emosional level amatir yang sangat efektif.

​Tapi di usia sembilan tahun, aku belum sampai ke sana.

​Yang aku sampai ke sana, waktu itu, adalah satu kesimpulan yang kukembangkan diam-diam di sepanjang perjalanan menuju gerbang SD.

​Kalau delapan puluh sembilan tidak cukup, maka aku harus mendapat lebih dari itu. Bukan karena aku ingin membuktikan sesuatu. Bukan karena aku terinspirasi oleh kata-kata Ibu semalam. Tapi karena aku menemukan sesuatu yang lebih sederhana dari semua itu:

​Nilai bagus tidak bisa diperdebatkan.

​Nilai bagus adalah deretan fakta. Dan fakta adalah satu-satunya pelindung yang tidak bisa dibalikkan oleh satu helaan napas kecewa.

​Jadi mulai hari itu, aku belajar lebih keras. Aku berubah menjadi mesin. Bukan demi Ibu. Bukan demi bayang-bayang nama Dinda. Tapi demi satu-satunya hal yang kurasa bisa kukontrol di dunia yang cuacanya terlalu sering berubah tanpa permisi.

​Ujian Akhir Semester datang dua bulan kemudian.

​Kali ini aku tidak keluar dari meja belajar sampai semua materi benar-benar masuk. Aku membuat rangkuman sendiri, mengerjakan soal latihan sampai buku LKS-ku kucel, aku bahkan meminjam buku catatan Reni yang duduk di depanku untuk membandingkan materi.

​Ketika kertas hasil ujian dibagikan, aku menerimanya dengan tangan yang jauh lebih tenang dari biasanya. Aku membukanya.

​Sembilan puluh delapan.

​Bukan seratus. Dua poin lagi dari sempurna ada satu soal esai IPS yang sepertinya kurang lengkap kujawab.

​Tapi sembilan puluh delapan.

​Bu Endang menyebut namaku di depan kelas sebagai nilai tertinggi di angkatan semester ini. Beberapa teman menoleh. Ada yang menganga dan bilang "Wah" pelan-pelan. Aku duduk tegak dan berusaha tidak terlihat terlalu berlebihan.

​Sore itu aku pulang dengan kertas ujian di tangan. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, langkah kakiku terasa ringan. Bukan karena harapan akan dipuji tapi karena aku membawa sesuatu yang solid, sesuatu yang tak bisa dibantah.

​Ibu sedang menjaga toko ketika aku sampai rumah. Bapak belum pulang dari sawah.

​Aku menaruh tas, mengambil minum, lalu duduk di kursi meja makan dengan kertas ujian di depanku. Menunggu.

​Ibu pulang hampir jam lima sore. Rasa capek terlihat jelas dari cara ia menaruh tasnya agak dijatuhkan ke lincak, bukan diletakkan.

​"Nara sudah pulang?"

​"Udah, Bu. Dari tadi."

​"Makan belum?"

​"Belum, nunggu Ibu."

​Ibu mengangguk, lalu berjalan menuju dapur. Aku ikut berdiri, mengambil kertas ujian, dan membawanya menyusul Ibu ke dapur.

​"Bu."

​"Mm?"

​"Ujian akhir semester udah keluar."

​Ibu menoleh dari depan kompor. Aku mengulurkan kertasku.

​Kali ini aku tidak menunduk menatap lantai sambil menunggu. Aku menatap Ibu menatap ekspresi yang bergerak di wajahnya ketika ia membaca angka merah di pojok kanan atas. Aku melihat dahi yang tadinya berkerut lelah itu perlahan mengendur.

​Ibu diam sebentar. Sangat lama.

​Lalu untuk pertama kalinya yang kuingat ia mendongak dan menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kugolongkan sebagai kecewa.

​"Sembilan delapan."

​"Iya, Bu. Tertinggi di kelas."

​Hening dua detik. Ibu menaruh kertas itu di meja dapur, lalu berbalik kembali ke kompor.

​"Bagus."

​Satu kata. Hanya satu kata.

​Tapi dari mulut Sri Wahyuni, kata "Bagus" terasa seperti pidato penghargaan yang sangat panjang.

​Aku berbalik sebelum Ibu bisa melihat sudut bibirku yang naik tanpa bisa ditahan.

​Malam itu, cuacanya sangat cerah. Ibu memasak sop ayam.

​Bukan karena aku memintanya. Bukan karena ada alasan khusus yang ia sebutkan. Ia memasak sop ayam dengan potongan wortel, kentang, dan irisan bakso yang melimpah, lalu menaruhnya di meja tanpa komentar apa-apa.

​Kami makan bertiga. Bapak yang sudah pulang mandi, duduk di ujung meja dengan wajah lelahnya yang biasa, sesekali mengunyah dan sesekali menyeruput kuah sop yang mengepul.

​"Nara nilai ujiannya bagus," kata Ibu tiba-tiba di tengah makan.

​Bapak mendongak. Menatapku.

​"Sembilan delapan," sambung Ibu. "Tertinggi di kelas."

​Bapak mengangguk pelan. "Bagus," katanya. Sama seperti Ibu tadi sore, satu kata yang tidak banyak tapi cukup untuk membuat sesuatu di dadaku terasa mekar dan hangat.

​Lalu Bapak kembali ke sup ayamnya, dan makan malam berlanjut seperti biasa.

​Tidak ada perayaan pesta. Tidak ada pelukan besar. Tidak ada kata-kata menyentuh yang akan diingat bertahun-tahun kemudian. Tapi sop ayam itu terasa luar biasa lezat. Ibu tidak menyebut nama Dinda malam itu. Dan Bapak duduk menemaniku di meja makan sampai makanannya habis sebelum pergi merokok ke teras.

​Dan untuk anak berumur sembilan tahun itu sudah lebih dari cukup.

​Itu yang paling menyulitkan dari masa kecilku, sebenarnya.

​Luka terbesarku bukan tercipta ketika Ibu bersikap keras. Bukan ketika kalimat-kalimatnya mengenai tepat di titik kelemahanku.

​Yang paling menyulitkan adalah momen-momen seperti ini. Sop ayam, satu kata 'bagus', dan Bapak yang duduk menemaniku sampai selesai. Karena momen-momen serpihan kasih sayang inilah yang selalu membuatku berpikir, mungkin semuanya baik-baik saja. Mungkin ini cukup. Mungkin aku yang terlalu banyak minta.

​Dan pikiran itu tanpa aku sadari waktu itu adalah jebakan yang paling rapi yang pernah kubangun untuk diriku sendiri. Aku belajar puas dengan remahan roti, dan lupa bagaimana rasanya makan sepotong roti yang utuh.

​Kelas empat berlalu.

​Kelas lima datang, lalu kelas enam. Aku terus belajar dengan cara yang sama: keras, konsisten, dan dengan motivasi yang kurang tepat tapi sangat efektif. Nilai-nilaiku selalu stabil. Nama Dinda masih sesekali disebut sebagai pembanding, tapi frekuensinya berkurang jauh ketika angka-angkaku mengunci posisi di atas sembilan puluh.

​Ibu tidak pernah bilang ia bangga padaku secara langsung. Tapi ia membeli risoles kesukaanku lebih sering dari sebelumnya. Dan aku bodohnya belajar menerjemahkan bahasa risoles itu sebagai sesuatu yang cukup mirip dengan kata bangga.

​SD berakhir dengan aku meraih ranking satu di semester terakhir.

​Bu Endang memanggil namaku di acara perpisahan sekolah. Ibu hadir, duduk di barisan orang tua, mengenakan baju batik cokelat yang selalu ia sisihkan khusus untuk acara-acara penting keluarga.

​Ketika aku turun dari panggung kayu dengan sebuah piagam kelulusan di tangan, Ibu sudah berdiri di pinggir barisan, menungguku. Ia mengambil piagam itu, melihatnya sebentar, lalu melipatnya rapi dan memasukkannya ke dalam tas selempangnya.

​"Fotonya nanti di rumah aja ya, Ra. Ibu bawa HP-nya tadi, eh habis baterai lupa dicas," katanya sambil menggandengku keluar barisan.

​"Iya, Bu," jawabku patuh.

​Tidak pernah ada foto di rumah pada akhirnya. Ibu mungkin lupa, atau memang tidak sempat setelah lelah membuka toko, aku tidak yakin mana yang benar. Dan aku tidak pernah berani menagihnya.

​Piagam itu aku simpan sendiri di laci meja belajar, tertumpuk di bawah buku-buku yang tidak lagi kupakai.

​Terkadang aku mengeluarkannya, melihatnya sebentar, meraba huruf namaku yang dicetak tebal, lalu menaruhnya lagi. Bukan karena aku butuh validasi dari kertas itu. Tapi karena benda itu adalah satu-satunya bukti konkret yang aku punya bahwa setidaknya ada satu hal dalam hidupku yang cukup bahkan ketika ukuran kecukupan itu terpaksa aku tentukan sendiri, bukan ditentukan oleh orang lain.

​Masa SD mengajariku banyak hal.

​Bahwa nilai delapan puluh sembilan bisa terasa sekecil biji jagung di tangan yang salah. Bahwa semangkuk sop ayam mungkin adalah cara Ibuku mengatakan sesuatu yang lidahnya tak sanggup ucapkan. Bahwa Bapak yang menemaniku di meja makan adalah keajaiban yang tidak selalu bisa dijadwalkan.

​Tapi pelajaran yang paling bertahan lama dari semuanya pelajaran yang menempel kuat di tulang punggungku sampai jauh ke depan, sampai ke sebuah ruang meeting di gedung pencakar langit yang belum pernah kubayangkan sebelumnya adalah ini:

​Kamu tidak akan pernah bisa mengontrol bagaimana orang lain menerima usahamu. Tapi kamu bisa mengontrol seratus persen seberapa keras kamu berusaha.

​Dan kadang, saat kamu tidak punya siapa-siapa... hanya itu satu-satunya hal yang tersisa yang benar-benar milikmu.

​Waktu itu, di usiaku yang ke-dua belas, aku pikir itu sudah cukup.

​Ternyata tidak.

​Tapi untuk benar-benar mengerti kenapa itu tidak cukup, aku masih perlu membentur tembok selama belasan tahun lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!