NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka dan Penyesalan dari masa depan

Ayyara melangkah terburu-buru menyusuri koridor, matanya berpendar mencari sosok Siska. Begitu bertemu, Siska langsung menghampirinya dengan wajah heran.

​"Ra, ke mana saja sih? Aku SMS berkali-kali tidak dibalas," omel Siska.

​Ia meraba saku roknya. Kosong. Jantungnya mencelos. "Siska, HP-ku tidak ada!"

​"Wah, gawat! Sini, pakai HP-ku saja, mumpung ada bonus telepon ke semua operator," tawar Siska sigap.

​Ia semakin panik. Ia ingat betul tadi meminjam jaket Rain, dan ponsel jadulnya pasti tertinggal di saku jaket itu. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengambil alih ponsel Siska dan mulai men-dial nomornya sendiri.

​Di pinggir lapangan basket yang riuh, Rain merasakan getaran di saku jaketnya. Ia merogohnya dan menemukan sebuah ponsel batang kuno lengkap dengan headset yang melilit. Rain ragu sejenak, namun akhirnya menekan tombol terima tanpa suara.

​"Halo... maaf, saya pemilik HP ini. Bisakah saya mengambilnya?" Suara nya terdengar formal dan penuh kecemasan di seberang sana.

​Rain menyebutkan posisinya di tribun barat. Siska, yang berdiri di samping ara, mulai bertanya-tapa dengan nada menggoda tentang siapa yang menemukan ponsel itu.

​"Entahlah, Sis. Kata yang angkat, dia mahasiswa tamu. Ayo kita ambil," jawab nya datar, berusaha mematikan api kecurigaan Siska.

​Rain menatap ponsel jadul itu dengan senyum tipis. Sangat kontras dengan smartphone canggih di tangan satunya. Ia menyimpan nomornya di hp ayara dan mencoba melakukan panggilan ke nomornya sendiri, namun nihil; pulsa hp itu kosong melompong. Akhirnya, ia mengecek nomor manual dan menyimpan nomor ayyara di smarthphone miliknya sebelum kembali fokus pada pertandingan basket di depannya.

​Dari kejauhan, Ayyara melihat sosok Rain. Ia menarik napas panjang, berusaha berjalan sealami mungkin. Ia adalah tipe wanita yang paling anti dengan drama romansa di sekolah, apalagi jika harus berurusan dengan mahasiswa dari luar kota.

​"Permisi, Kak," ucap nya pelan saat sudah berada di depan Rain. Ia menunduk formal, menyembunyikan rasa canggungnya. Rasanya aneh luar biasa harus memanggil "Kakak" pada pria yang di masa depan ia panggil "Pak Rain". "Apa benar Kakak yang menemukan HP, saya yang menelfon tadi?"

​Rain sedikit terkejut dengan akting Ayyara yang begitu total, namun ia segera mengimbangi.

Ia menyerahkan ponsel itu dengan sikap sopan. Siska yang menyusul di belakang langsung menimpali, "Wah, HP ini memang pembawa keberuntungan ya, Ra. Bisa ditemukan kakak mahasiswa, mana tinggi lagi orangnya. Rambutnya berantakan aja keliatan ganteng."

​Ayyara hanya tersenyum tipis, lalu bergegas mengajak Siska kembali ke kelas sebelum situasi menjadi semakin canggung.

​Namun, di sudut tribun, sepasang mata tajam memperhatikan mereka. Naila, mantan kekasih Rain, berdiri dengan tangan bersedekap. Ia sempat memergoki Rain tersenyum-senyum sendiri saat mengutak-atik ponsel jadul tadi.

Dan kini, melihat gadis SMA cantik dengan riasan tipis yang sangat pas di wajahnya itu menghampiri Rain, rasa cemburu mulai membakar hatinya.

​"Wah, sepertinya sudah ada incaran baru," sindir Naila saat Ayyara sudah menjauh.

​Rain tidak menjawab.

Wajahnya hanya menampilkan ekspresi lelah yang dalam. Naila muda tentu tidak paham. Baginya, Rain yang sekarang adalah orang asing. Rain yang dulu ia kenal adalah pemuda 18 tahun yang ceria dan hangat.

​Sementara dalam ingatan Rain, mereka telah menjalani hubungan selama sebelas tahun. Ia telah setia menunggu Naila menempuh studi di luar negeri, bersabar dengan jarak, dan menyiapkan segala hal untuk pernikahan mereka. Namun, tepat sebulan sebelum hari bahagia itu, Naila menghancurkan dunianya.

​Lini Waktu Asli – Satu Bulan Menuju Pernikahan

​"Rain, kita harus bicara," suara Naila bergetar di ujung telepon malam itu.

​Rain yang sedang sibuk mengecek daftar tamu undangan tersenyum. "Ada apa, Sayang? Mau tambah menu katering?"

​"Aku tidak bisa, Rain. Aku tidak bisa meneruskan ini," Naila terisak. "Selama ini aku membohongi diriku sendiri. Aku pikir rasa nyaman karena kamu selalu ada adalah cinta. Tapi ternyata... orang yang sebenarnya aku butuhkan saat aku rapuh di luar negeri, orang yang selalu ada di pikiranku setiap aku bangun tidur... itu Zayn. Bukan kamu."

​Ponsel di tangan Rain nyaris jatuh. "Zayn? Sahabat kita, Nai? Sebelas tahun kita bersama, dan kamu baru menyadarinya sekarang? Saat undangan sudah disebar?!"

​"Maafkan aku, Rain. Zayn selalu ada di sisiku setiap aku kesulitan di sini, sementara kamu... kamu hanya suara di telepon. Aku mencintainya. Aku tidak bisa menikah denganmu sementara hatiku miliknya."

​Malam itu, Rain merasakan dunianya runtuh. Amarah, kekecewaan, dan luka dikhianati oleh dua orang terdekatnya membuat sifat cerianya mati seketika. Ia tenggelam dalam pekerjaan, menutup diri, dan membiarkan hatinya membeku.

​Kembali ke tahun 2012, Naila menatap Rain dengan benci. "Kamu mutusin aku sepihak lewat telepon, Rain! Dua tahun kita pacaran, dan kamu berubah jadi monster dingin begini hanya dalam semalam? Kenapa?! Apa karena anak SMA itu?"

​Rain menghela napas, menatap lapangan basket dengan pandangan kosong. Ia tidak paham apakah terlemparnya ia ke masa ini adalah hadiah untuk memperbaiki hidupnya, atau hukuman untuk melihat kembali orang-orang yang pernah menghancurkannya.

​"Naila," ucap Rain dingin tanpa menoleh. "Kadang, ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan. Anggap saja kita memang sudah selesai. Gadis yang baru saja, aku juga gak kenal sebelumnya". 

Hari berganti, dan suasana sekolah kembali ke ritme normalnya yang menjemukan. Hari ini jadwal pelajaran terisi penuh, seolah-olah tumpukan tugas berusaha mengubur hiruk-pikuk turnamen basket yang masih berlangsung di lapangan utama.

Sorak-sorai penonton sesekali terdengar sampai ke dalam kelas, namun aku memilih untuk menutup telinga.

​Usai bel pulang berdentang, kakiku melangkah menuju taman sekolah yang sepi. Di pelukanku, bertumpuk buku-buku Fisika kelas berat hasil pinjamanku dari perpustakaan. Penjaga perpustakaan memberikan izin istimewa untuk membawanya keluar selama beberapa jam, mungkin karena beliau masih terkesan dengan "citra intelektual" yang sering dipinjam Bian atas namaku.

​Aku duduk di bangku semen yang dingin, membuka halaman demi halaman tentang teori relativitas, lubang cacing, hingga mekanika kuantum. Aku mencari jawaban atas kegilaan yang menimpa kami, mencari celah logika yang bisa menjelaskan mengapa raga kami terseret mundur tujuh belas tahun.

​"Percuma. Tidak akan ada jawabannya di sana."

​Sebuah suara  yang tenang memecah konsentrasiku. Aku mendongak dan mendapati Rain berdiri di dekat pohon peneduh. Ia menatap tumpukan bukuku dengan tatapan yang sulit diartikan, perpaduan antara simpati dan kepasrahan.

​"saya sudah memeriksa seluruh koleksi di perpustakaan kampus di kota. Hasilnya nihil," lanjutnya sembari duduk di ujung bangku. "Ilmu pengetahuan di zaman ini belum sanggup mengejar apa yang kita alami."

​Aku menghela napas panjang, menutup buku tebal di pangkuanku dengan suara ber-debam. "Jadi, kita benar-benar terjebak dalam anomali, pak?"

​Rain tidak menjawab langsung. Ia menatap ke arah lapangan basket yang mulai sepi.

"Saya datang untuk berpamitan. Saya  harus pulang lebih awal sore ini."

​"Pulang? Turnamennya belum selesai, kan?"

​"Nenek saya, dirumah sendirian" ucapnya singkat, matanya menerawang jauh. "Saya harus segera kembali, mungkin esok atau lusa dia butuh kehadiran cucunya." Ucap rain, kami kembali ke mode formal.

​Aku terdiam. Sebagai sesama "penjelajah waktu", aku tidak perlu bertanya lebih detail. Aku memahami getaran di suaranya.

Kita semua kembali ke masa ini dengan membawa luka dan penyesalan masing-masing.

Jika aku berjuang membebaskan orang tuaku dari belenggu tanah warisan dan kemiskinan, maka Rain mungkin sedang berpacu dengan waktu  untuk situasi neneknya.

​"Semoga selamat sampai tujuan, Pak Rain," ucapku tulus. Aku memaksakan sebuah senyum tipis.

" kalau kita sudah kembali ke masa depan nanti, atau entah di mana kita akan berakhir,  gantian saya  yang traktir  es kopi. Ya ?"

​Rain terkekeh pelan, tawa pertamanya yang terdengar tulus sejak pertemuan kami di sekolah ini. "Baik lah, sampai jumpa lagi Bu 'ayyara."

​Ia bangkit berdiri, merapikan jaket almamaternya, lalu melangkah pergi meninggalkan taman. Aku memperhatikannya hingga punggungnya hilang di balik gerbang sekolah. Di dunia yang berjalan mundur ini, kami adalah dua jiwa yang sedang berusaha menjahit kembali robekan takdir, satu langkah demi satu langkah.

Hari-hari berikutnya bergulir dalam hening yang produktif. Fokusku tersedot sepenuhnya pada tumpukan buku pelajaran dan selembar demi selembar kertas yang kini telah menjelma menjadi cetak biru masa depanku. Tak terasa, sudah hampir enam minggu aku menghuni raga tujuh belas tahun ini.

​Di bawah pendar lampu kamar yang remang, aku menyusun timeline hidupku di beberapa buku catatan berbeda. Di lini masa yang asli, aku menghabiskan dua tahun bekerja serabutan setelah lulus SMA sebelum akhirnya bisa menyentuh bangku kuliah. Namun kali ini, aku akan merombak urutannya.

​Rencanaku sudah matang: begitu ujian selesai, aku akan langsung bertolak ke kota besar. Aku akan mencari pekerjaan sekaligus mendaftar kuliah di gelombang terakhir. Ada jeda dua bulan yang krusial sebelum ijazah keluar, dan satu bulan tambahan untuk mendaftar ke universitas tempat Rain berada. Aku sudah menyiapkan skenario untuk "merengek" kepada Ibu, meminjam biaya hidup untuk satu bulan pertama sampai gaji pertamaku turun.

​Aku menyusun setiap detailnya dengan sangat rapi, hampir seperti instruksi manual. Aku melakukannya demi sebuah kemungkinan yang menakutkan: bagaimana jika tiba-tiba jiwaku ditarik kembali ke tahun 2029?

​"Kalau aku pergi," gumamku sambil menatap tulisan tanganku sendiri, "pikiranku yang berusia tujuh belas tahun harus bisa mengerti semua panduan ini."

​Aku menuliskan nasihat-nasihat praktis, peringatan tentang orang-orang yang harus dihindari, hingga strategi keuangan yang harus ia jalankan. Aku berjaga-jaga demi kenyamanan diriku yang muda. Aku tidak ingin dia kebingungan dan kembali terjatuh ke lubang yang sama jika keajaiban ini berakhir secara tiba-tiba.

​Setiap malam, sebelum menutup mata, aku memastikan buku-buku itu tersimpan aman. Aku sedang membangun jembatan antara masa kini dan masa depan, memastikan bahwa siapa pun yang menghuni tubuh ini nanti, entah Ayyara si wanita karier atau Ayyara si gadis SMA, dia akan memiliki panduan untuk menaklukkan dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!