NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:694
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Lantai di depan poliklinik ortopedi itu terasa sangat dingin, sedingin berita yang baru saja didengar Agus melalui ponsel Lukman. Suara bising di lobi rumah sakit langkah kaki yang terburu-buru, suara mesin pemanggil antrean , hingga tangisan bayi di kejauhan. Agus merasa seolah-olah waktu sedang melambat, mengunci dirinya dalam sebuah ruang hampa di mana hanya ada rasa sakit di kaki dan rasa sesak di dadanya.

Ia menatap kayu penyangganya yang bersandar di kursi besi. Kayu itu sudah mulai retak di bagian ujung bawahnya, sama seperti hidupnya yang kini terasa hancur berkeping-keping. Pemutusan kerja. Kalimat itu terus bergema di kepalanya, menghantam setiap inci kesadarannya. Bagi orang lain, kehilangan pekerjaan sebagai kuli panggul mungkin bukanlah hal yang besar, namun bagi Agus, pekerjaan di gudang material itu adalah satu-satunya urat nadi yang menyambung hidup ke dua orang tuanya.

"Gus... kamu dengar aku?" Lukman menepuk pundak Agus, membuyarkan lamunan pahit temannya itu. "Pak RT bilang kamu harus ke gudang sekarang kalau mau ambil sisa upah dan surat keterangan kerja. Kalau tidak, mereka anggap kamu mengundurkan diri sepihak tanpa hak apa pun."

Agus mendongak, menatap Lukman dengan mata yang memerah dan hampa. "Ke gudang? Lihat kakiku ini, Man. Untuk berdiri saja aku harus bertaruh nyawa. Bagaimana aku bisa ke sana sekarang?"

Lukman menghela napas panjang, ia ikut duduk di samping Agus, membiarkan beberapa pengunjung rumah sakit menatap mereka dengan pandangan terganggu karena bau debu semen yang masih menguap dari baju Agus. "Aku tahu, Gus. Tapi kalau kamu tidak datang, sisa upahmu minggu ini tidak akan keluar. Kamu butuh uang itu buat makan Ibu dan buat biaya tambahan Bapak di sini."

Agus mengepalkan tangannya di atas lutut. Ia merasa sangat terhina. Ia telah memberikan seluruh tenaganya di gudang itu, memikul ribuan sak semen hingga pundaknya lecet dan kakinya hancur, namun hanya karena ia mengurus ayahnya yang sekarat selama satu malam, mereka langsung membuangnya seperti sampah. Inilah kejamnya dunia yang ia tinggali, dunia di mana tenaga manusia hanyalah angka yang bisa digantikan oleh mesin kapan saja.

"Nomor antrean 45, silakan menuju ruang periksa satu," suara mesin pemanggil antrean bergema.

Agus melihat ke arah tiket antreannya yang sudah sedikit basah oleh keringat tangannya. Nomor 48. Tinggal tiga orang lagi dan ia akan diperiksa oleh dokter. Ia butuh pemeriksaan ini. Ia takut jika kakinya benar-benar rusak, ia tidak akan pernah bisa bekerja berat lagi seumur hidupnya. Namun, di sisi lain, bayangan sisa upahnya di gudang yang mungkin hanya sekitar dua ratus ribu rupiah itu terasa sangat besar di saat ia tidak punya satu rupiah pun di dompet.

Ia teringat kembali pada Nor Rahma. Wanita itu baru saja mengirimkan dua juta rupiah untuk nyawa bapaknya. Jika Agus kehilangan pekerjaannya, bagaimana ia bisa membuktikan pada Rahma bahwa ia punya rencana masa depan? Bagaimana ia bisa membayar hutang itu jika kakinya cacat dan ia menjadi pengangguran?

"Man... tolong ambilkan kayu penyanggaku," ucap Agus tiba-tiba.

"Mau ke mana? Sebentar lagi namamu dipanggil, Gus," protes Lukman.

"Kita ke gudang. Sekarang," tegas Agus. Suaranya terdengar sangat rendah namun penuh dengan keputusasaan yang dipaksakan menjadi keberanian.

"Kamu gila! Kakimu harus dirontgen dulu! Lihat itu, bengkaknya sudah sampai ke tulang kering!" Lukman menunjuk kaki Agus yang tampak mengerikan, warnanya kini sudah ungu kebiruan yang gelap.

"Uang rontgennya tidak ada, Man. Sisa uang dari Pak RT tadi cuma cukup buat bayar pendaftaran dan bensin motor kita. Kalau aku diputus kerja, aku harus ambil uang itu buat Ibu makan besok pagi. Bapak masih butuh obat-obatan yang tidak ditanggung puskesmas nanti. Aku tidak punya pilihan!" Agus bicara dengan nada yang sedikit meninggi, menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.

Agus mencoba berdiri. Ia memaksakan kaki kirinya menyentuh lantai. Rasa nyeri yang luar biasa langsung menyengat hingga ke pangkal paha, membuat pandangannya sempat memutih selama beberapa detik. Ia mencengkeram kayu penyangganya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin langsung membanjiri dahinya, menetes melewati pipinya yang kusam.

"Gus, jangan dipaksakan..." Lukman memegang lengan Agus, mencoba menahan.

"Ayo, Man. Antar aku. Aku tidak mau mati kelaparan di rumah sakit ini hanya karena menunggu dokter yang belum tentu bisa menyembuhkanku tanpa uang," Agus menyeret kakinya selangkah demi selangkah menuju pintu keluar lobi rumah sakit.

Setiap langkah Agus adalah siksaan yang lambat. Ia harus melewati koridor yang panjang, melewati orang-orang berpakaian rapi yang menjenguk kerabat mereka dengan membawa buah-buahan dan bunga. Agus merasa seperti sebuah anomali. Ia merasa bau debu semen di bajunya kini bercampur dengan bau obat-obatan, menciptakan aroma penderitaan yang sangat pekat.

Di dalam lift, Agus bersandar pada dinding besi yang dingin. Ia melihat pantulan dirinya di cermin lift. Wajahnya terlihat sangat tua untuk usianya yang baru dua puluh tahunan. Matanya cekung, rambutnya penuh debu putih, dan kemeja birunya yang kemarin ia banggakan kini sudah lusuh tak berbentuk. Ia teringat percakapannya dengan Ibu Farida, ibu Rahma. Wanita itu benar. Hidup dengan laki-laki seperti dirinya adalah sebuah perjudian besar yang kemungkinan besar akan berakhir dengan penderitaan.

Saat mereka sampai di parkiran, matahari sudah mulai menyengat. Lukman membantu Agus naik ke atas motor tuanya. Perjalanan menuju gudang material memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Sepanjang jalan, Agus hanya terdiam. Ia memejamkan matanya, menahan hantaman angin yang membawa debu jalanan. Di dalam benaknya, ia menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan pada Pak Jono. Ia ingin marah, tapi ia tahu ia tidak punya posisi untuk marah. Orang miskin sepertinya tidak punya hak untuk memiliki harga diri yang terlalu tinggi jika perutnya masih kosong.

Sesampainya di gerbang gudang material, suasana tampak berbeda. Sebuah ekskavator besar sudah terparkir di area belakang, mesinnya menderu-deru meratakan tanah tempat biasanya Agus dan teman-temannya beristirahat. Pak Jono berdiri di depan kantor kecilnya dengan mengenakan topi proyek berwarna kuning. Wajahnya tampak sangat tidak bersahabat saat melihat motor Agus masuk ke halaman.

Agus turun dari motor dengan bantuan Lukman. Ia berjalan terpincang-pincang mendekati Pak Jono. Rasa panas di pergelangan kakinya kini terasa seperti dibakar bara api, namun ia terus melangkah.

"Oh, datang juga kamu, Gus. Saya pikir kamu sudah menyerah jadi kuli dan mau jadi orang kaya setelah dapat pinjaman dua juta itu," ucap Pak Jono dengan nada sarkasme yang tajam.

Agus tertegun. Dari mana Pak Jono tahu soal dua juta itu? Ia menoleh ke arah teman-teman kulinya yang sedang beristirahat di bawah pohon. Rupanya, kabar tentang wanita cantik yang datang ke puskesmas sudah sampai ke telinga orang-orang gudang melalui mulut Lukman atau tetangga lainnya.

"Pak Jono... saya minta maaf soal kemarin siang. Bapak saya benar-benar kritis," Agus mencoba memulai pembicaraan dengan tenang.

"Alasan itu sudah basi, Gus. Atasan di pusat sudah lihat laporan kemarin. Pekerjaan terbengkalai, truk terlambat berangkat satu jam. Manajemen memutuskan untuk mempercepat pengurangan tenaga manual. Karena kamu yang paling banyak bermasalah minggu ini, nama kamu yang pertama keluar," Pak Jono menyodorkan sebuah amplop cokelat kecil. "Ini sisa upahmu dan uang pesangon ala kadarnya. Tanda tangani surat ini, lalu silakan pergi."

Agus menerima amplop itu. Isinya tipis. Ia bisa merasakannya hanya dengan memegang permukaannya. Ia melihat surat pemutusan hubungan kerja di depannya. Matanya memanas. Bukan karena takut tidak bisa makan, tapi karena ia merasa seluruh martabatnya sebagai pekerja keras baru saja diinjak-injak dan dihargai dengan selembar kertas dan beberapa lembar uang sepuluh ribuan.

"Pak Jono... saya sudah kerja di sini dua tahun. Tidak pernah saya bolos kalau tidak darurat," suara Agus bergetar.

"Dua tahun itu sudah lewat, Gus. Sekarang zamannya mesin. Mesin tidak perlu ijin kalau bapaknya sakit. Mesin tidak perlu libur kalau kakinya bengkak," jawab Pak Jono dingin. "Sudah, jangan buang waktu saya. Tanda tangan sekarang."

Agus menatap pulpen di tangan Pak Jono. Ia melirik ke arah teman-temannya yang hanya bisa menatapnya dengan iba tanpa berani membantu. Ia merasa dunianya benar-benar runtuh. Harapan untuk memberikan bukti pada Rahma kini terasa seperti mimpi siang bolong yang paling konyol.

Dengan tangan yang gemetar, Agus menandatangani surat itu di atas kap mobil bak terbuka milik gudang. Setelah itu, ia berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak ingin Pak Jono melihat air matanya jatuh di tempat itu.

Saat ia menyeret kakinya kembali ke motor, Lukman memegangi pundaknya. "Sabar, Gus. Masih ada jalan lain."

Agus tidak menjawab. Ia masuk ke dalam dunianya sendiri. Ia merogoh ponselnya di dalam saku, lupa bahwa ponselnya sudah mati total. Ia ingin menghubungi Rahma, ia ingin mendengar suara wanita itu, namun ia segera sadar, laki-laki pengangguran yang kakinya cacat dan berhutang dua juta rupiah sepertinya tidak punya hak untuk mengharapkan suara dari seorang bidadari.

Matahari siang itu terasa membakar kulitnya, namun di dalam hati Agus, musim dingin yang paling gelap baru saja dimulai. Ia membawa amplop tipis itu dengan perasaan hancur, kembali menuju rumah sakit di mana bapaknya masih bertarung dengan nyawa, dan di mana ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia kini benar-benar tidak memiliki apa-apa lagi selain sisa harga dirinya yang sudah compang-camping.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!