Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Awal
"Aku tidak peduli apa kata ibumu, Dom! Tubuhku adalah asetku. Sekali aku hamil, kontrakku dengan Vogue dan Paris Fashion Week hancur. Kau mau aku jadi ibu rumah tangga yang membosankan dan kehilangan bentuk tubuh?" Suara Clara melengking tajam seperti belati yang menyayat keheningan ruang kerja itu.
Clara berdiri di tengah ruangan, masih mengenakan gaun sutra merah darah yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Tidak ada gurat keibuan di sana, hanya ambisi yang menyala-nyala.
Dominic tidak bergeming dari kursi kebesarannya. Ia menyesap wiski di gelas kristalnya, matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah istrinya.
"Lima tahun, Clara. Lima tahun aku memberimu ruang untuk mengejar ambisimu. Tapi ibuku benar, sebuah imperium tanpa pewaris hanyalah menunggu waktu untuk runtuh."
"Oh, jadi sekarang kau mulai mendengarkan ocehan wanita tua itu?" Clara tertawa sinis, lalu melangkah mendekat dan menopang tangannya di meja kerja Dominic. "Ibumu hanya ingin boneka baru untuk dididik menjadi monster sepertimu. Aku bukan pabrik bayi, Dom!"
Prak!
Gelas di tangan Dominic menghantam meja dengan keras. Isinya muncrat ke atas dokumen-dokumen penting, tapi ia tidak peduli.
Dominic berdiri, membuat Clara refleks mundur selangkah karena intimidasi yang terpancar dari tubuh tegap pria itu.
"Jangan pernah menyebut ibuku seperti itu lagi," desisnya sembari melangkah memutari meja, menyudutkan Clara hingga punggung wanita itu menabrak rak buku. "Kau tahu persis siapa aku saat kau menerima cincin ini. Kau tahu bahwa dalam duniaku, kesetiaan dan keturunan adalah mata uang tertinggi. Kau menikmati fasilitas sebagai istri seorang Dominic, kau menikmati perlindungan namaku, tapi kau menolak kewajibanmu?"
Clara mendongak, mencoba mempertahankan harga dirinya meski napasnya mulai memburu.
"Aku istrimu, bukan pelayanmu! Karirku sedang di puncak, Dom. Aku baru saja terpilih menjadi brand ambassador internasional. Kau pikir aku akan membuang semua itu hanya untuk muntah-muntah di pagi hari dan perut buncit?"
"Lalu sampai kapan aku harus menunggu?" tanya Dominic, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Clara. "Sampai kau keriput dan tidak ada lagi kamera yang mau melirik mu? Saat itu mungkin rahimmu sudah terlalu tua untuk memberi apa yang aku butuhkan."
"Kalau begitu cari saja wanita lain untuk melakukannya!" Clara berteriak, frustrasi. "Sewa rahim, atau tidur dengan siapa pun yang kau mau. Aku tidak peduli, asal jangan ganggu hidupku!"
Dominic menatap Clara dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara penghinaan dan kekecewaan yang mendalam.
"Kau baru saja memberikan izin yang tidak akan bisa kau tarik kembali, Clara," ucap Dominic tenang. Terlalu tenang, dan itu jauh lebih menakutkan daripada kemarahannya.
"Apa maksudmu?"
Dominic tidak menjawab. Ia berbalik, mengambil ponselnya di meja. "Pergilah. Aku ada pertemuan yang harus diselesaikan."
"Kita belum selesai bicara!"
"Aku bilang pergi!" bentak Dominic.
Clara tersentak, matanya berkaca-kaca karena marah, tapi ia tahu kapan harus berhenti sebelum Dominic benar-benar meledak.
Dengan geraman rendah, ia menyambar tasnya dan keluar dari ruangan itu, membanting pintu hingga getarannya terasa sampai ke tulang.
Dominic menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak menyangka pernikahan yang awalnya ia kira akan menjadi aliansi yang kuat justru menjadi beban yang menyesakkan.
Pikirannya beralih pada ibunya yang tadi sore kembali menelpon, menangis, memohon agar ia segera memberikan cucu karena kesehatannya yang mulai menurun.
Tok! Tok!
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.
"Masuk " perintah Dominic.
Marco, tangan kanan sekaligus orang kepercayaannya, melangkah masuk dengan raut wajah serius. Ia memegang sebuah map tipis.
"Tuan, ada masalah di klab malam milik keluarga nona Clara," lapor Marco singkat.
Dominic menaikkan sebelah alisnya. Ia jarang berurusan dengan keluarga tiri istrinya yang ia anggap parasit. "Apa urusannya denganku?"
"Mereka mencoba menjebak seseorang untuk menutupi hutang kasino mereka. Seseorang yang tampaknya punya nilai jual tinggi di pasar gelap. Namanya nona Keyla."
Dominic terdiam sejenak. Nama itu asing, namun instingnya bereaksi. "Keyla? Siapa dia?"
"Adik tiri nona Clara. Yang selama ini mereka sembunyikan di rumah belakang."
Dominic menyandarkan punggungnya, lalu menyalakan sebatang cerutu. "Kirim orang ke sana. Aku bosan dengan drama Clara malam ini. Mungkin melihat kekacauan di keluarganya bisa menjadi hiburan tersendiri untukku."
"Baik, Tuan."
Dominic tidak tahu, bahwa keputusannya untuk melihat kekacauan itu akan membawanya pada pertemuan dengan seorang gadis yang akan mengubah seluruh rencananya.
*
*
"Tolong, Ibu... Aku mohon, jangan lakukan ini. Aku akan kerja apa saja, cuci piring, bersih-bersih klub setiap hari, tolong jangan jual aku!" tangis gadis itu pecah dan terdengar menyesakkan dada.
Ia bersimpuh di lantai, meremas ujung gaun merah pendek yang dipaksa melekat di tubuhnya.
Gaun itu terlalu terbuka, memamerkan kulit beningnya yang kini gemetar hebat.
Siska, ibu tirinya, hanya menyesap rokok tipis di jemarinya sambil menatap Keyla dengan pandangan jijik.
"Kerja apa? Gaji cuci piring tidak akan cukup membayar hutang kasino keluargamu, Keyla. Tubuhmu itu aset, satu-satunya hal berharga yang kamu punya."
"Ayah... Ayah, tolong Keyla..." mata sembab Keyla beralih pada sosok pria paruh baya yang berdiri mematung di sudut ruangan.
Pria itu, ayahnya sendiri, hanya menunduk dalam. Tangannya mengepal, tapi mulutnya terkunci rapat. Ia tak berani menatap mata putrinya.
"Jangan berharap pada ayahmu. Dia sudah setuju," potong Siska dingin. Ia memberi isyarat pada dua pria berbadan besar di belakangnya. "Pegang dia!"
"Tidak! Kumohon!" Keyla meronta, namun lengannya dicengkeram kuat hingga memerah.
Siska mendekat, membawa sebuah gelas berisi cairan bening dengan aroma alkohol yang tajam. Di dalamnya, sebuah pil kecil sudah melarut sempurna.
"Minum ini. Biar kau tidak terlalu tegang saat melayani tamu spesial kita nanti," ucap Siska dengan senyum iblis.
"Nggak mau... tolong, jangan... hiks... aku mohon..." Keyla menggeleng kuat, air matanya membanjiri pipi.
"Buka mulutnya!" bentak Siska.
Salah satu pria menjambak rambut Keyla ke belakang, memaksa wajahnya mendongak sementara pria lain menjepit rahangnya hingga terbuka.
Keyla terdesak, napasnya tersengal karena ketakutan yang luar biasa.
"Telan atau keluargamu akan kupastikan membusuk di penjara malam ini juga!" ancam Siska tepat di depan wajah Keyla.
Cairan pahit dan panas itu dipaksa masuk ke kerongkongan Keyla. Ia terbatuk-batuk hebat saat rasa panas mulai menjalar dari tenggorokan menuju perutnya.
"Bagus. Sekarang kunci dia di kamar 404. Sebentar lagi tamunya datang," perintah Siska tanpa perasaan.
Kesadaran Keyla mulai hilang. Rasa panas yang tidak wajar pun membakar dadanya, membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
"Kalian semua jahat..." isak Keyla saat pintu kamar tertutup rapat, meninggalkannya seorang diri.