Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Dibalik Kesunyian
Malam itu, gubuk kecil keluarga Vandermir terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Arlan berbaring di atas tempat tidur kayu yang hanya dilapisi oleh selembar kain tipis. Setiap kali dia mencoba mengubah posisi tidurnya, otot-otot di sekujur tubuhnya menjerit kesakitan. Hantaman bahu yang dia lakukan pada Julian tadi sore ternyata memberikan efek timbal balik yang cukup parah pada tulang belikatnya sendiri. Tubuh anak berusia tujuh tahun ini benar-benar belum siap untuk menampung tekanan energi dari Gerbang Pertama dalam waktu yang lama.
Arlan menatap atap gubuk yang bocor di beberapa bagian. Pikirannya tidak sedang berada di dunia ini. Dia kembali teringat pada kehidupannya yang dulu sebagai Adit. Di dunia itu, saat dia mengalami masalah, dia bisa menyelesaikannya dengan uang, pengacara, atau koneksi politik. Namun di sini, di dunia yang kejam ini, satu-satunya pengacara yang dia miliki adalah kepalan tangannya sendiri. Kesadaran itu membuat Arlan semakin yakin bahwa dia tidak boleh lagi memiliki celah sedikit pun dalam hidupnya.
Pintu kamar terbuka dengan suara derit yang pelan. Elena masuk sambil membawa sebuah lampu minyak kecil dan semangkuk air hangat. Wajah wanita itu tampak sangat kuyu, matanya sembap karena terlalu banyak menangis. Dia duduk di pinggir tempat tidur Arlan dan mulai mengompres luka-luka di tubuh anaknya dengan kain basah.
"Kenapa kamu harus melakukan itu, Arlan?" tanya Elena dengan suara yang hampir berbisik. "Tuan Muda Julian adalah bangsawan dari ibu kota. Jika dia merasa terhina, dia bisa saja mengirim pasukan untuk meratakan tempat ini."
Arlan memejamkan mata, merasakan sensasi dingin dari kain basah di kulitnya. "Jika aku membiarkannya menghinaku hari ini, besok dia akan melakukan hal yang lebih buruk padamu, Ibu. Orang-orang seperti mereka tidak akan berhenti menindas hanya karena kita bersikap baik. Mereka hanya berhenti saat mereka merasa takut."
Elena mengusap rambut Arlan dengan lembut. "Tapi kamu masih sangat kecil. Kamu seharusnya bermain dengan anak-anak lain, bukan bertaruh nyawa seperti ini. Ibu merasa gagal melindungimu."
Arlan membuka matanya dan menatap Elena dengan tatapan yang sangat dewasa. "Ibu tidak gagal. Dunia ini yang gagal memberikan kita keadilan. Karena itu, aku akan mengambil keadilan itu dengan tanganku sendiri. Dalam tiga bulan, aku harus pergi ke akademi kerajaan untuk mengikuti ujian itu."
Mendengar kata Akademi Kerajaan, tangan Elena gemetar. "Itu adalah tempat yang berbahaya bagi keluarga kita. Mereka akan mencarimu, Arlan. Mereka akan menyudutkanmu di sana."
"Aku tahu," jawab Arlan tenang. "Tapi itu juga satu satunya cara agar kita bisa keluar dari status pengkhianat ini secara sah. Aku akan membuktikan bahwa nama Vandermir bukan lagi sebuah noda, melainkan sebuah ancaman bagi siapa pun yang berani memfitnah kita."
Elena hanya bisa terdiam. Dia melihat tekad yang begitu besar di mata anaknya. Dia menyadari bahwa Arlan bukan lagi bayi yang dia timang beberapa tahun lalu. Ada jiwa yang sangat kuat dan keras di dalam tubuh kecil itu. Elena tidak tahu dari mana kekuatan itu berasal, namun dia memilih untuk mempercayainya.
Keesokan paginya, Arlan bangun sebelum matahari terbit. Meskipun rasa sakit di ototnya belum sepenuhnya hilang, dia memaksakan diri untuk berdiri dan melakukan beberapa gerakan peregangan ringan. Dia harus menjaga tubuhnya tetap bergerak agar aliran energinya tidak tersumbat. Setelah mencuci wajahnya dengan air dingin dari sumur, Arlan mengambil kantong daging serigala dan inti mana yang dia dapatkan kemarin.
Dia berniat menjual barang-barang itu ke pasar desa. Dia butuh uang untuk membeli obat obatan dan beberapa perlengkapan latihan. Namun, saat Arlan sampai di area pasar, suasana mendadak berubah menjadi aneh. Para pedagang yang biasanya sibuk menawarkan barang dagangannya langsung terdiam saat melihat Arlan lewat.
Arlan mendatangi sebuah toko yang biasa membeli bahan-bahan dari hutan. "Aku ingin menjual inti mana serigala taring perak ini," ucap Arlan sambil meletakkan batu biru kecil itu di atas meja kayu pedagang tersebut.
Pedagang itu, seorang pria tambun dengan kumis tebal, menatap inti mana itu dengan penuh minat. Namun, saat dia melihat wajah Arlan, dia segera menarik tangannya kembali seolah olah inti mana itu beracun.
"Aku tidak bisa membelinya, bocah," ucap pedagang itu sambil membuang muka.
Arlan mengerutkan kening. "Kenapa? Ini adalah barang berkualitas tinggi. Kamu tahu harganya cukup mahal."
"Masalahnya bukan pada barangnya, tapi pada pemiliknya," bisik pedagang itu dengan suara rendah agar tidak terdengar orang lain. "Kepala desa Gort memberikan perintah tegas. Siapa pun yang melakukan transaksi dengan keluarga Vandermir akan dikenakan denda besar dan tokonya akan ditutup. Maafkan aku, tapi aku harus memberi makan keluargaku."
Arlan mengambil kembali inti mana miliknya dengan gerakan tenang. Dia tidak marah, dia sudah menduga hal semacam ini akan terjadi. Gort tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan, jadi dia menggunakan kekuasaannya untuk memutus jalur hidup keluarga Arlan. Ini adalah taktik ekonomi yang sangat mendasar dalam dunia bisnis, dan Arlan sangat memahaminya.
Arlan berkeliling ke beberapa toko lain, namun hasilnya tetap sama. Semua orang menolaknya. Beberapa bahkan melemparinya dengan kata-kata kasar agar dia segera pergi dari pasar.
"Pergilah, anak pengkhianat! Kamu hanya akan membawa sial bagi kami!" teriak seorang penjual gandum.
Arlan berjalan keluar dari pasar dengan tangan hampa. Dia berdiri di pinggir jalan desa, menatap orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Di kehidupan lamanya, Adit pernah merasakan hal yang sama saat semua mitra bisnisnya memutus kontrak dalam semalam. Rasa kesepian dan keterasingan ini bukan hal baru baginya.
"Kamu ingin menjual barang itu?"
Sebuah suara serak terdengar dari atas sebuah pohon peneduh di pinggir jalan. Kakek tua itu sedang berbaring santai di dahan pohon sambil memakan apelnya. Dia melompat turun dengan sangat ringan, mendarat tepat di depan Arlan tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
"Orang-orang di sini terlalu pengecut karena takut pada Gort," kakek itu terkekeh. "Jangan buang waktumu di desa ini. Ikutlah denganku. Ada kota kecil di balik hutan utara. Di sana hukum desa tidak berlaku, dan kamu bisa menjual apa saja selama barangnya bagus."
Arlan menatap kakek itu. "Apakah kakek akan mengantarku ke sana?"
"Tentu tidak," jawab kakek itu sambil tertawa. "Aku bukan pelayanmu. Aku akan pergi ke sana untuk minum arak, dan jika kamu cukup cepat mengikutiku, kamu mungkin tidak akan tersesat dan dimakan binatang buas. Tapi sebelum itu, kamu harus belajar satu hal penting."
Kakek itu menyentuh kening Arlan dengan jarinya. "Gerbang Kedua, Gerbang Istirahat, bukan berada di ototmu, tapi berada di sistem sarafmu. Untuk membukanya, kamu harus bisa membuat tubuhmu merasa sedang tidur meskipun kamu sedang bergerak. Jika kamu tidak bisa melakukan itu, kamu akan mati kelelahan dalam perjalanan nanti."
Arlan terdiam, mencoba mencerna instruksi yang terdengar sangat abstrak itu. "Tidur saat bergerak? Bagaimana mungkin?"
"Manusia biasa membagi hidupnya menjadi dua: saat sadar dan saat tidur," kakek itu menjelaskan sambil berjalan menuju arah hutan. "Seorang praktisi Taijutsu sejati harus bisa menggabungkan keduanya. Kamu harus bisa mengistirahatkan bagian tubuh yang tidak digunakan secara bergantian. Saat kaki kananmu melangkah, saraf di kaki kananmu harus merasa rileks seolah sedang tidur, sementara kaki kirimu bekerja. Begitu seterusnya."
Arlan mulai mengikuti langkah kakek itu masuk ke dalam hutan yang gelap. Dia mencoba mempraktikkan apa yang dikatakan kakek tersebut. Dia mencoba mengendurkan otot lengannya saat berjalan, mencoba mengatur napasnya agar jantungnya berdetak lebih lambat meskipun dia sedang melakukan aktivitas fisik.
Perjalanan itu sangat melelahkan. Hutan utara jauh lebih berbahaya dan medannya jauh lebih terjal daripada hutan tempat Arlan biasa berlatih. Mereka harus memanjat tebing batu, menyeberangi sungai kecil yang licin, dan menghindari wilayah kekuasaan binatang sihir tingkat tinggi. Sepanjang jalan, kakek itu terus menambah kecepatannya, memaksa Arlan untuk terus memacu fisiknya hingga ke batas maksimal.
"Fokus, Arlan!" teriak kakek itu tanpa menoleh. "Jangan biarkan pikiranmu mengendalikan rasa lelahmu. Biarkan tubuhmu yang mengatur dirinya sendiri. Bayangkan darahmu mengalir seperti air sungai yang tenang, tidak terburu buru namun tidak pernah berhenti."
Arlan berkonsentrasi penuh. Dia mulai merasakan sesuatu yang aneh. Setelah berjalan selama empat jam tanpa henti, rasa lelah yang biasanya sangat menyiksa perlahan lahan mulai memudar. Bukan karena rasa sakitnya hilang, tapi karena dia mulai bisa memisahkan kesadarannya dari rasa sakit tersebut. Dia merasa seolah olah dia sedang menonton tubuhnya sendiri yang sedang berjalan dari sudut pandang orang ketiga.
Ini adalah tahap awal dari pembukaan Gerbang Kedua.
Saat mereka hampir mencapai puncak sebuah bukit yang membatasi wilayah hutan, Arlan tiba-tiba berhenti. Telinganya menangkap suara desingan sesuatu di udara. Dengan insting yang sudah terasah, dia menarik kepalanya ke belakang tepat saat sebuah anak panah berujung perak melesat di depan wajahnya.
Takk!
Anak panah itu menancap di batang pohon di samping Arlan.
Kakek tua itu berhenti berjalan dan menoleh. Dia tidak tampak terkejut, justru wajahnya terlihat bosan. "Yah, sepertinya Gort tidak cukup sabar untuk menunggumu di akademi. Dia mengirim pembunuh bayaran untuk mengurusmu di tengah hutan."
Dari balik pepohonan di sekitar mereka, muncul tiga orang pria mengenakan pakaian serba hitam dengan topeng yang menutupi wajah mereka. Mereka tidak membawa senjata besar, melainkan belati dan busur kecil. Aura mereka jauh lebih berbahaya daripada para pengawal desa. Mereka adalah tentara bayaran profesional yang terbiasa membunuh tanpa suara.
Arlan mengatur kuda kudanya. Dia merasa tubuhnya sangat ringan akibat latihan tidur saat bergerak tadi. Meskipun dia kelelahan, energinya justru terasa lebih terpusat.
"Kakek tidak akan membantuku lagi?" tanya Arlan tanpa menoleh.
"Aku akan membantumu dengan satu cara," jawab kakek itu sambil duduk di atas sebuah batu besar. "Aku akan menonton dan mengoreksi jika teknikmu salah. Jika kamu mati, aku akan menggunakan inti manamu untuk membeli arak di kota nanti. Jadi, cobalah untuk tetap hidup, bocah."
Arlan mendengus kecil. Dia menatap tiga pembunuh di depannya. Matanya yang biru kini berkilat dengan cahaya dingin. Dia tidak merasa takut. Sebaliknya, dia merasa ini adalah kesempatan yang sempurna untuk menguji sejauh mana Gerbang Kedua miliknya mulai terbuka.
"Tiga orang dewasa melawan satu anak kecil," ucap Arlan sambil mengepalkan tangannya. "Kalian benar-benar sangat meremehkanku."
Para pembunuh itu tidak menjawab. Mereka langsung melesat maju dengan koordinasi yang sempurna. Pertarungan hidup dan mati di tengah hutan utara ini akan menjadi saksi bisu bagi lahirnya monster baru yang tidak akan pernah bisa dijinakkan oleh siapa pun.