Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Malam baru saja meluruh menjadi pagi yang berkabut, namun Anindya sudah terjaga sepenuhnya. Adrenalin di pembuluh darahnya mengalir lebih deras daripada kopi pahit yang ia sesap di balkon kamar.
Hari ini adalah hari penentuan. Ia harus bergerak sehalus mungkin, seolah ia adalah bayangan yang tidak meninggalkan jejak.
Anindya sengaja mengenakan pakaian yang sangat sederhana, sebuah tunik longgar dan celana kain lebar, jauh dari gaya glamor yang biasanya dipaksakan Kenzo padanya.
Ia tidak membawa ponsel pemberian Kenzo, tidak juga ponsel pribadinya. Benda-benda itu ia tinggalkan di laci nakas yang terkunci, sengaja ia biarkan menyala agar jika Kenzo memeriksa GPS atau mencoba menghubungi, sinyalnya tetap menunjukkan ia berada di area kamar.
Ia keluar melalui pintu belakang, melewati area jemuran yang jarang dilewati pengawal. Dengan bantuan Bi Inah yang sudah ia beri pengertian, dan sedikit uang tutup mulut.
Anindya berhasil menyelinap keluar gerbang belakang menggunakan jasa transportasi online yang ia pesan melalui ponsel Bi Inah.
"Tunggu aku di sini, Bi. Jika ada yang bertanya, katakan aku sedang tidur karena sakit kepala," bisik Anindya sebelum menghilang di balik pintu mobil yang menjemputnya.
Mobil itu membawanya ke sebuah kawasan kota tua yang dipenuhi bangunan kolonial kusam. Di sebuah gang sempit, terdapat sebuah kafe tanpa papan nama, hanya sebuah pintu kayu tua dengan aroma biji kopi yang kuat.
Di sudut paling gelap kafe itu, Bimo sudah menunggu dengan sebuah laptop dan beberapa map cokelat di hadapannya.
"Kau datang tepat waktu, Anin," sapa Bimo lirih.
Ia segera menutup layar laptopnya begitu Anindya duduk.
"Aku tidak punya banyak waktu, Bim. Bagaimana rencananya? Aku merasa Kenzo bisa muncul kapan saja dari balik pintu itu," Anindya menoleh ke sekeliling, kecemasan tergambar jelas di wajahnya.
Bimo menggenggam tangan Anindya sejenak, mencoba menyalurkan ketenangan. "Tenanglah. Aku sudah memastikan tempat ini bersih dari mata-mata keluarga Praditya. Anin, dengarkan aku baik-baik. Arlan jauh lebih cerdas daripada yang Kenzo kira."
Bimo mengeluarkan sebuah kunci apartemen berwarna perak dan sebuah map berisi sertifikat kepemilikan aset.
"Arlan memiliki sebuah usaha ekspor-impor dan sebuah apartemen mewah di Dubai. Semuanya atas nama perusahaan cangkang yang tidak terdaftar di bawah Praditya Group. Dia menyiapkan ini semua bertahun-tahun lalu, seolah dia sudah tahu bahwa suatu saat Kenzo akan mencoba merebut posisinya. Arlan memberiku surat wasiat khusus untuk mengelola ini jika terjadi sesuatu padanya, dan wasiat itu mencantumkan namamu dan Elang sebagai pewaris tunggal."
Anindya menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang. Arlan... suaminya yang lembut itu ternyata telah menyiapkan sekoci penyelamat bahkan sebelum badai itu datang.
"Aku sudah memesankan tiket penerbangan untukmu dan Elang ke Dubai. Bukan dari bandara internasional utama, tapi dari bandara kecil di luar kota untuk menghindari manifes penerbangan yang mudah dipantau Kenzo. Jadwalnya tiga hari dari sekarang, tepat saat perayaan ulang tahun perusahaan di mana semua orang akan sibuk," jelas Bimo dengan nada teknis yang mantap.
"Dubai? Tapi bagaimana dengan paspor Elang? Kenzo menyita semua dokumen kami," tanya Anindya panik.
Bimo tersenyum tipis. "Aku punya koneksi, Anin. Paspor baru dengan nama samaran untukmu dan Elang sedang diproses. Di Dubai, kau akan aman. Apartemen itu memiliki sistem keamanan tingkat tinggi, dan orang-orang di sana hanya setia pada wasiat Arlan."
Anindya menarik napas panjang. Harapan yang tadinya hanya setitik kini berkobar menjadi api yang membara. "Aku setuju, Bim. Aku akan pergi. Aku tidak akan membiarkan Elang tumbuh di bawah bayang-bayang pria gila itu."
Setelah obrolan serius itu, Anindya kembali ke rumah dengan cara yang sama, menyelinap melalui pintu belakang.
Begitu ia menginjakkan kaki di ruang tengah, ia sudah bersiap untuk menerima cacian atau interogasi dari Tuan Praditya. Ia sudah menyiapkan mental untuk dihina karena keluyuran lagi.
Namun, suasana rumah justru terasa sangat sunyi. Hanya ada suara langkah kaki pelayan yang sedang membersihkan vas bunga.
"Bi Inah, di mana Papa?" tanya Anindya saat berpapasan di lorong.
"Tuan Besar sudah berangkat ke kantor sejak jam tujuh pagi tadi, Nyonya. Katanya ada rapat mendadak yang sangat penting. Para asisten dan pengawal inti juga dibawa semua ke kantor," jawab Bi Inah.
Anindya mengernyit. Rapat mendadak? Biasanya Tuan Praditya selalu menyempatkan diri untuk memantau keberadaannya sebelum berangkat.
Ia segera berjalan menuju taman belakang. Di sana, ia melihat Elang sedang asyik bermain bola plastik bersama Siska. Tawa Elang terdengar lepas, memecah kesunyian rumah yang kaku itu.
"Ibu! Ibu sudah bangun?" teriak Elang sambil berlari memeluk kakinya.
Anindya berjongkok, mendekap Elang dengan perasaan haru yang luar biasa. 'Tahan sedikit lagi, Sayang. Sebentar lagi kita akan pergi jauh dari sini,' batinnya.
"Siska, apa tidak ada telepon dari Tuan Besar atau Tuan Kenzo selama aku tidur tadi?" tanya Anindya pada babysitter itu.
"Tidak ada, Nyonya. Hanya saja tadi Tuan Besar terlihat sangat terburu-buru. Katanya ada masalah di bursa saham yang melibatkan Praditya Group," jawab Siska polos.
Anindya bernapas lega. Ini adalah kesempatan emas. Dengan absennya Tuan Praditya dan kesibukan di kantor pusat, ia punya waktu untuk mulai memilah barang-barang penting yang bisa ia bawa tanpa menimbulkan kecurigaan.
~~
Malam harinya, Anindya berada di kamar, berpura-pura sedang membaca buku saat ponsel pemberian Kenzo bergetar. Ia menatap layar itu dengan rasa jijik yang mendarah daging sebelum mengangkatnya.
"Ada apa?" tanya Anindya ketus.
Di layar, Kenzo tidak lagi berada di kantor. Ia tampak sedang berada di dalam sebuah mobil yang melaju kencang, cahaya lampu kota London berkelebat di belakangnya.
Wajahnya terlihat tegang, rahangnya mengeras dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kau terdengar sangat santai, Anindya. Apa kau tahu bahwa ayahku baru saja kehilangan salah satu kontrak terbesar kita karena ada bocoran data?" Kenzo bertanya dengan nada yang mengancam.
"Aku tidak peduli dengan urusan kantormu, Kenzo. Aku hanya seorang istri yang kau kurung di rumah ini, ingat?" sahut Anindya tenang.
"Jangan bermain-main denganku! Aku tahu kau keluar rumah kemarin tanpa pengawal. Aku tahu kau bertemu seseorang di pantai," Kenzo berteriak, suaranya pecah di speaker ponsel. "Siapa dia, Anin? Siapa pria yang berani menyentuh milikku?"
Anindya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sengaja ia buat untuk memancing amarah Kenzo. "Dunia ini luas, Kenzo. Tidak semua orang takut padamu."
"Aku akan pulang," desis Kenzo. "Persetan dengan urusan di sini. Aku akan pulang lusa. Dan saat aku sampai, aku akan memastikan pria itu mati di depan matamu, dan kau... kau tidak akan pernah melihat sinar matahari lagi."
Kenzo mematikan telepon secara sepihak.
Anindya tertegun. Jantungnya berpacu hebat. Lusa? Kenzo akan pulang lusa, sedangkan rencana pelariannya dengan Bimo adalah tiga hari lagi.
Ini adalah perlombaan melawan waktu. Jika Kenzo sampai lebih dulu, maka Dubai hanya akan menjadi mimpi yang terkubur. Anindya segera mengambil ponsel rahasianya dan mengetik pesan darurat kepada Bima.
"Kenzo pulang lusa. Kita harus bergerak besok malam. Tidak ada waktu lagi."
Anindya menatap Elang yang tertidur lelap di sampingnya. Ia harus kuat. Ia harus menjadi lebih cerdik dari iblis bernama Kenzo Praditya.
Malam itu, di bawah rembulan yang tertutup awan, Anindya mulai memasukkan dokumen-dokumen penting ke dalam tas kecilnya, siap untuk melakukan pertaruhan terakhir dalam hidupnya.
Ketegangan memuncak! Kenzo memutuskan pulang lebih cepat karena cemburu dan curiga. Mampukah Anindya dan Bimo mempercepat rencana pelarian mereka sebelum sang tiran menginjakkan kaki di Jakarta? Jangan lewatkan episode selanjutnya!
...----------------...
To Be Continue ....