Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Arka sampai di Ciputat menjelang siang. Matahari tepat di atas kepala, panasnya menyengat. Jalanan kampung sempit, hanya cukup untuk satu mobil. Dia memarkir motornya di depan mushola, lalu berjalan kaki menyusuri gang.
Rumah Pratama berada di ujung gang, dikelilingi pohon rambutan yang rindang. Pagar besi rendah, cat hijau mulai mengelupas. Dari luar, rumah ini tampak seperti rumah biasa. Tidak ada tanda bahwa penghuninya dulu adalah anggota Kopassus yang bertugas di daerah konflik.
Arka mengetuk tiga kali.
Pintu terbuka. Seorang pria berdiri di ambang, tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter, bahu lebar, rambut pendek. Usianya mungkin empat puluhan, tapi wajahnya terlihat lebih tua. Bekas luka di pelipis kiri, garis tipis yang memanjang hingga ke alis. Matanya tajam, seperti orang yang terbiasa mengamati.
“Mas Arka?” suaranya datar.
“Iya. Pak Pratama?”
“Panggil saja Tama.” Dia membuka pintu lebar-lebar. “Masuk.”
Ruang tamu sederhana. Sofa tua berbalut sarung batik. Rak buku berisi novel-novel tebal dan beberapa majalah militer. Di dinding, foto seorang wanita dengan senyum lebar. Mungkin istrinya. Tidak ada foto anak.
“Sendirian?” tanya Arka sambil duduk.
“Istri saya di kampung. Anak sudah besar, kerja di Bandung.” Pratama duduk di hadapannya, tangan menyilang di dada. “Langsung saja. Telepon Anda kemarin agak misterius.”
Arka tidak membawa amplop hari ini. Dia sudah belajar bahwa orang seperti Pratama tidak tertarik pada uang di awal. Mereka butuh alasan.
“Saya bangun hotel di pusat kota. Hotel kecil, tiga lantai. Tapi di bawahnya ada bunker.”
Pratama tidak terkejut. Alisnya hanya terangkat sedikit. “Bunker?”
“Dinding baja setebal empat meter. Sistem ventilasi mandiri. Pintu hidrolik. Stok makanan dan obat-obatan untuk dua tahun.”
“Ini hotel atau benteng?”
“Dua-duanya.”
Pratama menatap Arka dengan seksama. “Anda bekas militer?”
“Bukan. Saya cuma orang biasa yang kebetulan tahu apa yang akan terjadi.”
“Apa yang akan terjadi?”
Arka mengambil napas. Ini adalah bagian yang sulit. Dia tidak bisa mengatakan “zaman es” tanpa terdengar gila. Tapi dia juga tidak bisa berbohong.
“Pak Tama pernah dengar Grand Solar Minimum?”
Pratama mengerjap. “Penurunan aktivitas matahari? Saya baca di koran beberapa minggu lalu. Ilmuwan bilang tidak perlu panik.”
“Itu yang mereka katakan sekarang. Tapi dalam beberapa bulan, suhu akan turun drastis. Eropa sudah mulai membeku. Indonesia akan menyusul.”
Pratama tidak langsung menjawab. Dia menatap Arka dengan mata yang sulit dibaca. Lalu dia berdiri, berjalan ke rak buku, mengambil satu map cokelat. Dia membuka map itu di meja.
“Saya tidak tahu Anda ini orang gila atau orang yang punya informasi dalam. Tapi saya punya kebiasaan, Mas. Saya kumpulkan semua berita tentang perubahan iklim setahun terakhir.” Dia menunjukkan tumpukan kliping koran dan print out artikel. “Penurunan suhu di Eropa. Gagal panen di Amerika Utara. Laut membeku di tempat yang tidak biasa. Semua ini terjadi sebelum berita Grand Solar Minimum keluar.”
Arka membaca beberapa judul. Semua sesuai dengan ingatannya.
“Saya sudah bertanya-tanya sejak tiga bulan lalu,” lanjut Pratama. “Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan. Saya hanya pensiunan tentara dengan tabungan pas-pasan.” Dia menutup map, menatap Arka. “Lalu Anda datang. Dengan bunker dan stok dua tahun.”
“Saya butuh orang yang bisa memimpin tim pengamanan. Orang yang paham taktik, yang tidak panik saat keadaan genting, yang bisa dipercaya.”
“Dan Anda pilih saya?”
“Saya dengar nama Anda dari beberapa orang. Mereka bilang Anda orang yang tepat.”
Pratama tersenyum kecil. Senyum pertama yang Arka lihat darinya. “Saya tidak tahu apakah saya orang yang tepat. Tapi saya tahu satu hal: jika apa yang Anda katakan benar, maka tidak ada waktu untuk ragu-ragu.”
Dia mengulurkan tangan. Arka menjabatnya.
Dari Ciputat, Arka tidak langsung pulang. Dia punya satu lagi tempat yang harus dikunjungi. Sebuah toko elektronik kecil di kawasan Pasar Minggu. Toko itu tutup akhir-akhir ini, tapi pemiliknya masih sering datang untuk mengambil barang.
Nama pemiliknya Wawan. Usia tiga puluhan, lulusan teknik elektro, dulu kerja di perusahaan panel surya sebelum perusahaan itu bangkrut. Sekarang dia jualan pulsa dan aksesoris HP di toko kecil yang hampir tidak pernah buka.
Arka menemukannya sedang duduk di depan toko, merokok sambil menatap ponsel.
“Mas Wawan?”
Wawan menoleh. “Iya. Siapa?”
“Saya Arka. Ada yang mau saya bicarakan.”
Percakapan tidak berlangsung lama. Arka bilang dia butuh orang yang paham panel surya dan sistem kelistrikan off-grid. Wawan bilang dia sudah lama tidak kerja di bidang itu. Arka bilang gaji tiga kali lipat dari perusahaan sebelumnya. Wawan langsung setuju.
“Tapi saya tidak punya peralatan,” kata Wawan.
“Saya sudah beli panel surya dan baterai. Tinggal pasang.”
“Di mana?”
“Di hotel yang sedang saya bangun di pusat kota.”
Wawan mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin dia sudah terbiasa dengan klien aneh. Atau mungkin dia hanya butuh uang.
Arka pulang saat matahari mulai condong ke barat. Di jalan, dia menghitung dalam hati. Umar mekanik, Dewi perawat, Pratama keamanan, Wawan listrik. Empat orang. Masih kurang satu. Ahli hidroponik. Orang yang paham menanam sayuran tanpa tanah, dengan lampu buatan, di ruang tertutup.
Dia sudah punya calon. Seorang wanita lulusan pertanian IPB yang dulu pernah magang di perusahaan hidroponik. Sekarang dia menganggur, tinggal di Depok. Arka akan menemuinya besok.
Malam itu, Arka duduk di kamar kos-kosan. Laptop terbuka dengan daftar belanja yang terus bertambah. Bukan saham. Bukan emas. Tapi barang-barang nyata yang akan dia butuhkan.
Beras. Satu ton. Cukup untuk sepuluh orang satu tahun.
Minyak goreng. Lima puluh liter.
Gula. Seratus kilogram.
Garam. Lima puluh kilogram.
Mie instan. Seratus dus.
Sarden, kornet, susu kental manis. Sebanyak mungkin.
Obat-obatan. Antibiotik, pereda nyeri, antiseptik, perban. Dia sudah punya kontak di apotek besar yang bersedia menjual dalam jumlah banyak tanpa resep.
Senjata. Ini yang paling sulit. Pistol dan amunisi tidak bisa dibeli di toko biasa. Tapi Arka sudah punya rencana. Di kehidupan pertama, dia tahu ada oknum TNI yang menjual senjata sitaan ke pasar gelap. Dia tidak perlu banyak. Cukup untuk pertahanan.
Arka menutup laptop. Di luar, suara azan Isya mulai terdengar. Dia mengambil sajadah, shalat, lalu duduk di balkon dengan kopi hitam di tangan.
Langit Jakarta masih gelap. Tapi tidak sepenuhnya gelap. Lampu-lampu kota membuatnya berwarna oranye pucat. Di bawah, gang depan kos-kosan sepi. Anak-anak yang biasanya bermain kejar-kejaran sudah pulang. Warung Bu Atun sudah tutup.
Arka menyesap kopinya. Sudah lima minggu sejak dia kembali ke masa lalu. Lima minggu yang dia habiskan untuk membangun sesuatu dari nol. Bunker mulai berdiri. Tim inti mulai terbentuk. Stok logistik mulai dikumpulkan.
Tapi dia tahu ini baru awal. Yang lebih berat masih di depan.
Dia membuka ponsel. Aplikasi berita menampilkan headline utama.
“Suhu terendah dalam sejarah tercatat di Norwegia. Pemerintah setempat mengumumkan keadaan darurat.”
“Gagal panen meluas di Amerika Serikat. Harga gandum melonjak tiga puluh persen.”
“Ilmuwan Australia prediksi gelombang dingin akan mencapai khatulistiwa dalam hitungan bulan.”
Arka membaca semua berita itu dengan tenang. Dia sudah tahu. Dia sudah tahu sejak awal.
Yang tidak dia tahu adalah seberapa cepat semuanya akan bergerak. Apakah prediksi masa lalunya masih akurat? Atau apakah dunia bergerak lebih cepat dari ingatannya?
Ponsel bergetar. Pesan dari Hadi.
“Mas, besok pemasangan dinding baja dimulai. Saya akan di lokasi jam 7. Mohon hadir jika ada waktu.”
Arka membalas.
“Ok.”
Dia mematikan ponsel, menyesap kopi terakhir, lalu berdiri.
Besok adalah hari lain. Hari lain untuk membangun. Hari lain untuk mempersiapkan. Hari lain untuk memastikan bahwa ketika es datang, dia tidak akan menjadi korban.
Dia masuk ke kamar, mematikan lampu, dan berbaring di tempat tidur.
Di luar, angin malam bertiup lebih kencang dari biasanya. Arka merasakannya meskipun jendela tertutup. Angin yang dingin. Angin yang membawa sesuatu yang tidak bisa dia lihat, tapi bisa dia rasakan.
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁