NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: tamat
Genre:CEO / Fantasi Wanita / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Persiapan Perang

​"Ganti. Ini baju kurang bahan atau dimakan rayap?"

​Elena melempar gaun champagne kembali ke arah Beny, stylist langganan Kairo yang wajahnya sudah pucat pasi.

​Beny gemetar memegang gantungan baju. Dia sudah mengeluarkan lima gaun terbaik. Versace, punggung terbuka, belahan paha tinggi. Tipe baju yang biasa dipakai Sora untuk menarik perhatian suami.

​"Ta... tapi Bu Sora, ini koleksi terbaru," cicit Beny putus asa. "Pak Kairo pesan khusus supaya Ibu terlihat... stunning. Seksi. Menggoda."

​"Seksi bukan berarti telanjang, Beny," potong Elena tajam, berdiri di depan cermin hanya dengan jubah mandi sutra. "Kita mau bertemu Mr. Chen, investor tua dari Tiongkok yang konservatif. Kalau aku pakai jaring ikan, dia kira Kairo bawa wanita penghibur, bukan istri sah."

​Elena menyusuri deretan gaun di lemari gantung. Jarinya menelusuri kain mahal dengan cepat.

​"Terlalu pink. Rumbai-rumbai. Bulu angsa? Mau pesta kostum?"

​"Ibu biasanya suka yang heboh..."

​"Sora yang itu sudah pensiun."

​Tangan Elena berhenti di ujung lemari. Tempat baju-baju "salah beli". Dia menarik dust bag abu-abu. Aroma kapur barus samar tercium.

​Dia mengeluarkan isinya. Sebuah Cheongsam atau Qipao modern.

​Bukan merah menyala. Hitam pekat. Midnight black. Bahannya beludru premium yang jatuh indah. Tanpa payet norak, hanya bordiran naga samar warna abu-abu gelap di punggung yang terlihat jika terkena cahaya.

​"Ini," mata Elena berbinar. "Ini baju perangnya."

​Beny melongo horor. "Itu? Bu, itu baju tua! Oleh-oleh nenek Pak Kairo dari Shanghai! Ibu pernah bilang kayak baju dukun! Hitam, Bu! Nanti dikira melayat!"

​"Diam dan bantu pasang resleting," perintah Elena dingin. "Hitam itu warna kekuasaan, Beny. Warna otoritas. Malam ini aku butuh otoritas, bukan belas kasihan."

​Lima belas menit kemudian.

​Kairo berdiri di lobi bawah, mengetukkan sepatu kulit ke lantai marmer. Dia gagah dengan jas navy double-breasted.

​"Lama sekali," gerutunya melihat jam. "Reza, susul ke atas. Bilang kalau dua menit belum siap, aku tinggal."

​"Baik, Pak."

​Reza baru melangkah ketika suara langkah kaki terdengar. Pelan. Tenang. Berirama.

​Tak. Tak. Tak.

​Kairo mendongak. Napasnya tercekat.

​Di puncak tangga, Elena berdiri.

​Dia tidak memakai gaun seksi berbelahan dada rendah. Dia tertutup rapat dari leher sampai mata kaki. Tapi demi Tuhan, Kairo belum pernah melihat istrinya seberbahaya ini.

​Gaun Qipao hitam beludru itu memeluk tubuh Elena sempurna, mencetak lekuk pinggang dan pinggul tanpa terlihat murahan. Kerah tingginya memberi kesan angkuh. Lengan panjang hanya memperlihatkan pergelangan tangan ramping.

​Rambut hitamnya digelung modern dengan tusuk konde perak tajam menyerupai senjata. Wajah dirias minimalis, bibir dipulas warna merlot gelap misterius.

​Saat Elena melangkah turun, belahan gaun di sisi kanannya terbuka tinggi hingga paha tengah. Kaki jenjang putih mulus kontras dengan kain hitam pekat. Setiap langkah adalah godaan terukur. Tertutup, tapi mematikan.

​Kairo merasa mulutnya kering. Imajinasinya liar membayangkan apa di balik kain beludru itu.

​Elena berhenti di anak tangga terakhir. Aroma sandalwood dan jasmine elegan menguar, menggantikan parfum permen karet Sora.

​"Tutup mulutmu, Kairo. Nanti lalat masuk," tegur Elena datar.

​Kairo tersentak, berdehem keras berusaha mengembalikan wibawa.

​"Kau... pakai baju apa ini?" suaranya serak. "Aku suruh pilihkan gaun malam. Kenapa pakai baju Imlek versi gotik?"

​"Ini diplomasi budaya, Pak CEO," jawab Elena santai, membetulkan clutch hitam. "Mr. Chen orang lama. Dia menghargai tradisi. Kalau aku pakai gaun pamer dada, dia anggap kau pria lemah yang tak bisa atur istri. Tapi dengan baju ini..."

​Elena menyentuh kerah tingginya.

​"...aku tunjukkan hormat, sekaligus tunjukkan kita bukan pengemis. Hitam itu elegan, Kairo."

​Logika itu masuk akal, tapi Kairo enggan mengakuinya. Jantungnya masih berpacu melihat leher jenjang Elena.

​"Terserah," gumam Kairo, mengulurkan tangan. "Ayo jalan. Kita telat."

​Elena tidak menyambut uluran tangan itu. Dia menengadahkan telapak tangan terbuka di depan wajah Kairo.

​"Mana?"

​"Mana apanya?"

​"Kunci," jawab Elena singkat. "Kunci akses apartemen Kuningan. Aku sudah temukan kebocoran dana Pak Haryo dan mendandani diriku untuk selamatkan mukamu. Mana DP kerja kerasku?"

​Kairo menatap mata Elena yang tak kenal takut. Wanita ini benar-benar transaksional. Semuanya bisnis.

​"Nanti setelah acara. Aku harus pastikan kau tidak mengacau."

​"Sekarang, Kairo," desak Elena, melipat tangan di dada. "Atau aku ganti daster dan tidur. Kau negosiasi sendiri pakai bahasa isyarat."

​Ancaman nyata. Kairo menggeram kesal.

​Dengan kasar, dia merogoh saku jas, mengeluarkan kartu akses magnetik putih polos dan menghempaskannya ke tangan Elena.

​"Ambil. Akses lift pribadi dan penthouse. Puas?"

​Elena menggenggam kartu itu erat. Senyum kemenangan terukir di bibirnya.

​"Sangat puas. Senang berbisnis dengan Anda."

​Dia memasukkan kartu ke clutch, lalu mengaitkan lengannya ke lengan Kairo dengan gerakan luwes seolah pasangan paling harmonis.

​"Ayo, Suamiku. Jangan biarkan uang kita menunggu."

​Mereka berjalan menuju Rolls Royce. Reza membukakan pintu, takjub sesaat sebelum menunduk karena tatapan tajam Kairo.

​Di dalam mobil kedap suara, suasana hening tegang. Kairo duduk di sebelah Elena, matanya terus melirik belahan gaun istrinya yang tersingkap saat menyilangkan kaki. Kain beludru hitam membuat kulit Elena bersinar di bawah lampu jalanan.

​Kairo merasa sangat terganggu. Kehadiran wanita ini terlalu overwhelming. Dia perlu mengambil kendali.

​"Dengar," Kairo memecah keheningan dengan suara berat otoriter. Dia menoleh, menatap Elena tajam.

​Elena menaikkan satu alis. "Ya?"

​"Mr. Chen itu sulit. Dia seksis. Dia benci wanita banyak bicara di meja makan, apalagi soal bisnis," Kairo memperingatkan. "Dia memegang prinsip patriarki kuno. Istri baginya cuma pajangan. Hiasan meja."

​Kairo mencondongkan tubuh, mengurung Elena dengan tatapannya.

​"Jadi tugasmu malam ini cuma satu: Duduk manis. Tuang wine. Senyum cantik. Makan anggun. Jangan bicara sepatah kata pun kecuali ditanya."

​Dia menekankan setiap kata.

​"Paham? Jangan sok pintar. Satu kesalahan dari mulutmu, investasi batal, Haryo lolos. Kau tidak mau itu terjadi, kan?"

​Elena menatap Kairo tenang, tidak tersinggung disebut pajangan. Dia memiringkan kepala, anting berliannya berkilau.

​"Tentu, Pak Bos," jawab Elena halus.

​Lalu dia menyunggingkan senyum miring yang membuat Kairo tidak nyaman. Senyum yang menyimpan rahasia.

​"Aku akan diam," lanjut Elena dengan nada geli tersembunyi. "Tapi kalau situasi berubah jadi bencana... jangan salahkan aku kalau pajanganmu ini tiba-tiba hidup."

​"Apa maksudmu?" Kairo menyipitkan mata.

​"Kita lihat saja nanti," bisik Elena, kembali menatap jendela.

​Mobil berbelok masuk lobi hotel bintang lima.

​Kairo merasakan firasat buruk. Dia sadar baru saja membawa bom waktu cantik ke kandang harimau, dan dia tidak punya remote control-nya.

1
Eni Listia
Bukannya kairo di kantor ya? kok tiba-tiba di rumah
Rossa Miati
aku sampai ngakak 🤣 bacanya, tapi keren author, Krn aku suka dng cewek gigih dan berani, ga bucin dan mewek 🤭😄
Khalistata 1984
keren ceritanya,sy suka😍
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒎𝒂𝒏𝒕𝒂𝒑 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂 👍👍👍👏👏👏😘😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑬𝒍𝒗𝒂𝒏𝒐 𝒕𝒉𝒆 𝒃𝒆𝒔𝒕 👍👍😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒃𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒏𝒈𝒂𝒌𝒂𝒌 𝒂𝒋𝒂 𝑬𝒍𝒗𝒂𝒏𝒐 𝒊𝒏𝒊 😅😅😅
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒂𝒚𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂 𝑯𝒂𝒎𝒊𝒍 𝒅𝒆𝒉 😏
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑬𝒍𝒗𝒂𝒏𝒐 𝒑𝒆𝒓𝒔𝒊𝒔 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒆𝒕 𝑺𝒐𝒓𝒂 😅😅
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒏𝒖𝒓𝒖𝒏 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒆𝒕 𝒏𝒊𝒉 😱😱😅
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒆𝒎𝒆𝒏𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒖𝒕𝒍𝒂𝒌 👍👍
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒕𝒉𝒆 𝒃𝒆𝒔𝒕 👍👍👍
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑽𝒊𝒄𝒕𝒐𝒓 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒉𝒂𝒏𝒄𝒖𝒓 𝒔𝒌𝒓𝒏𝒈 😏😠
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒓𝒖𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂𝒏𝒚𝒂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒊𝒓𝒂𝒊𝒏 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝑺𝒐𝒓𝒂 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒋𝒖𝒋𝒖𝒓 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑲𝒂𝒊𝒓𝒐
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒋𝒖𝒋𝒖𝒓 𝒔𝒂𝒋𝒂 𝑺𝒐𝒓𝒂 𝒃𝒊𝒂𝒓 𝑲𝒂𝒊𝒓𝒐 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒕𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒂𝒏𝒕𝒖 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒌𝒂𝒍𝒂𝒉𝒊𝒏 𝑽𝒊𝒄𝒕𝒐𝒓
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑲𝒂𝒊𝒓𝒐 𝒈𝒆𝒈𝒂𝒃𝒂𝒉 𝒏𝒊𝒉
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒈𝒐𝒐𝒅 𝒋𝒐𝒃 𝑲𝒂𝒊𝒓𝒐 👍👍
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒏𝒂𝒉 𝒈𝒊𝒕𝒖 𝑲𝒂𝒊𝒓𝒐 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒉𝒓𝒔 𝒑𝒊𝒏𝒕𝒂𝒓 👍👍
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒍𝒂𝒘𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒕𝒓𝒂𝒖𝒎𝒂 𝒎𝒖 𝑬𝒍𝒆𝒏𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝑲𝒂𝒊𝒓𝒐 𝒃𝒌𝒏 𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒂𝒏𝒕𝒖 𝒎𝒂𝒂𝒉 𝒃𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒑𝒖𝒚𝒆𝒏𝒈 𝒂𝒋𝒂 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒕𝒆𝒓𝒏𝒚𝒂𝒕𝒂 𝒑𝒓𝒐𝒚𝒆𝒌 𝒕𝒊𝒕𝒂𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌 𝑬𝒍𝒆𝒏𝒂 😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!