NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 Kemesraan Tanpa Batas

Di atas sofa luas ruang tamu, Dean Junxian duduk dengan santai sambil bercanda dengan si bungsu, Sonika, yang nyaman bersandar di pelukannya. Di sampingnya, Zhiyi Pingkan menempel dengan begitu alami pada tubuh Dean, seolah mereka bertiga memang tak terpisahkan.

Pemandangan itu menyergap pikiranku dengan kenangan lama momen beberapa tahun yang lalu, ketika kami baru saja dikaruniai anak pertama, Dariel. Tepat seperti yang kulihat sekarang: keluarga yang harmonis, pasangan yang seirama, dan anak-anak yang menggemaskan. Sebuah lukisan kebahagiaan yang nyaris sempurna, membuat dadaku bergetar tanpa bisa kuhindari.

Tiba-tiba, suara pecahan menggema: mangkuk obat di tanganku terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi ‘prang!’ hancur berkeping-keping.

Tiga pasang mata di sofa langsung menoleh ke arahku. Zhiyi Pingkan bereaksi lebih cepat dari yang kuharap; dia berdiri secepat kilat dan berlari menghampiriku.

“Nyonya! Kenapa Anda turun ke sini? Saya baru saja ingin mengambilkan mangkuk obat untuk Anda… Jangan bergerak! Hati-hati, nanti kaki Anda bisa tertusuk serpihannya!” ucapnya dengan nada yang tenang, tetapi penuh perhatian.

Sikapnya begitu alami, seolah kemesraan yang barusan kulihat hanyalah interaksi biasa antar anggota keluarga yang sudah lama saling mengenal, tanpa sedikit pun rasa sungkan atau canggung. Aku terdiam, kehilangan kata-kata. Sejak kapan rumah ini bisa terasa begitu “harmonis,” sampai sedetail ini?

Dean Junxian segera berdiri, menggendong Sonika di pelukannya, wajahnya penuh kecemasan. “Sayang, jangan bergerak! Kak Zhiyi, cepat bersihkan itu!” serunya, suaranya tegang namun terkontrol. Tatapannya menajam pada pecahan di lantai, seakan takut serpihan itu akan melukaiku.

Apakah yang kulihat tadi hanya imajinasiku? Atau memang interaksi mereka berdua sudah sebiasa, sedekat itu, sampai tak terasa alami?

Zhiyi Pingkan segera mengambil sapu dan menyingkirkan serpihan dengan cepat, sambil berulang kali meminta maaf dengan sikap rendah hati yang membuatku tersentak. Aku tetap berdiri mematung, mencoba mencerna keseluruhan adegan yang baru kulihat.

Hanya ketika Zhiyi Pingkan selesai, dan Dean Junxian mendekat merangkulku, aku tersadar dari lamunan panjangku. Tatapanku kosong menempel pada wajahnya. Semua rindu yang menggebu, ketergantungan yang menyesakkan dada, perlahan sirna. Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan yang menghantui: Bukankah mereka seharusnya memberiku penjelasan?

"Mau penjelasan?"

Dean Junxian merangkulku yang masih terpaku lemas, lalu menyerahkan bayi di pelukannya kepada Zhiyi Pingkan. Tangan kecil Sonika yang putih dan lembut segera melingkari leher wanita itu, wajah mungilnya menempel manja ke pipi Zhiyi Pingkan, menggosok-gosokkan kulitnya dengan polos.

Perasaanku langsung memuncak. Dengan cepat aku mendorong Dean menjauh dan meraih anakku dari dekapan Zhiyi. Dalam hati, aku menggerutu, Ini anakku! Kalian pikir dia cuma properti dalam sandiwara kalian?

Tubuh Zhiyi Pingkan menegang, wajahnya berubah serba salah, matanya menatapku dengan ketakutan dan kebingungan. "Nyonya, saya…" Suaranya terdengar tersendat, tak tahu harus berkata apa.

Aku menelan amarah yang memuncak. Sejujurnya, hasrat untuk menamparnya muncul begitu saja, tetapi melihat bayi di pelukanku, aku menahan diri dengan susah payah. Napasku kutata, mencoba menenangkan diri. Tenang… Tetap tenang… Jangan biarkan amarah menguasaimu.

"Pergilah siapkan makan malam," perintahku dingin, hampir tanpa emosi. Zhiyi Pingkan mengangguk pelan, wajahnya masih penuh rasa bersalah, lalu berbalik menuju dapur dengan langkah yang berat.

Aku menatap Dean Junxian dengan sorot mata penuh selidik, mencoba menembus ketenangan yang sengaja ia bangun. "Suamiku… bukannya kamu bilang sore ini harus ke pameran dan baru pulang nanti malam?"

Dean tampak santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan ia sama sekali tidak melirik Zhiyi. Ia kembali merangkulku dan mengajakku duduk di sofa, senyumnya hangat, menenangkan.

Apakah mungkin dia benar-benar tidak menyadari gerakan 'pendekatan' Zhiyi tadi? Atau… jangan-jangan, tanpa disadari, ia malah menganggap wanita itu hanyalah bagian dari dunianya, seolah aku tidak ada?

Dean menatapku dengan tenang, suaranya lembut tapi yakin. "Ya, aku pulang. Kebetulan tadi searah untuk mengambil sampel, jadi aku pikir sekalian mampir sebentar untuk melihatmu dan ikut makan. Eh, baru saja masuk, si kecil ini langsung menempel padaku!"

Alasannya terdengar masuk akal, terlalu masuk akal. Ia tidak menyinggung apa pun tentang kejadian barusan, seolah semuanya memang tidak pernah terjadi.

Apakah aku terlalu sensitif? Atau… saat aku tertidur lelap, kedekatan seperti ini sudah menjadi hal yang biasa di antara mereka?

Sonika menggeliat di pelukanku, tangannya yang mungil meraih Dean sambil mengoceh, memanggil, "Ibu…!"

Dean mengulurkan tangannya, senyum hangat menghiasi wajahnya. "Sini, biar aku saja yang gendong! Dia sekarang berat sekali!"

Aku menatapnya, hati ini campur aduk antara lega dan waswas. Ada ketenangan dalam gesturnya, tetapi bayangan kedekatan mereka sebelumnya terus menghantui pikiranku, menimbulkan pertanyaan yang tak kunjung hilang: Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?

Hatiku terasa begitu pahit, seakan ada rasa getir yang menumpuk di setiap sudut dadaku. Panggilan Niang-niang itu… seharusnya ditujukan untukku, namun kini malah diarahkan kepada anak ini, yang seolah sama sekali tidak memiliki ikatan emosional denganku. Sejak melahirkannya, tubuhku jatuh sakit. Aku terus-menerus tertidur lelap, hingga waktu terasa menguap begitu saja. Setiap kali terbangun, kepalaku masih berputar, rasa pusing dan linglung menenggelamkanku, membuatku benar-benar tak berdaya mengurusnya.

Itulah sebabnya, sejak bayi, perawatan anak itu sepenuhnya dipercayakan pada Zhiyi Pingkan.

Semenjak aku jatuh sakit, si sulung, Dariel, dikirim ke sekolah asrama bergengsi dan hanya kembali setiap Sabtu. Si tengah, Elvin Baz, dibawa neneknya untuk dirawat, sehingga hanya si bungsu, Sonika, yang tetap berada di rumah bersama kami.

Sambil menatap kosong ke arah Dean Junxian dan anak itu, pikiran gelap menghantamku: Mungkinkah sejak awal Zhiyi Pingkan sudah menyabotase obat-obatanku? Apa sebenarnya yang dia rencanakan? Mengincar suamiku mungkin masih bisa kupahami, tapi… apakah dia juga berniat mengambil anakku dari tanganku?

Wanita ini sungguh mengerikan. Semakin kupikirkan, bulu kudukku merinding, rasa takut dan waswas bercampur menjadi satu.

Tidak boleh. Hatiku menegaskan sendiri. Dia tidak bisa dibiarkan terus merusak keluargaku. Aku tidak akan memberikan kesempatan sedikit pun padanya untuk mengganggu keharmonisan rumah tangga ini.

Dengan tekad itu, aku segera menarik kembali lamunanku dan menoleh ke arah Dean Junxian. Ia tampak begitu tenggelam dalam dunianya sendiri, menciumi Sonika yang berada di pelukannya. Kasih sayangnya sebagai seorang ayah terpancar jelas dari setiap gerakan lembutnya, setiap sapuan tangannya di punggung si kecil.

Melihat interaksi hangat itu, rasa bersalah tiba-tiba menyelimuti hatiku. Bagaimana mungkin seorang suami yang sehangat dan sepeduli itu bisa terlibat dalam konspirasi dengan seorang pengasuh? Rasanya mustahil.

Namun, niat busuk Zhiyi Pingkan sudah terlalu jelas. Masalah ini harus segera dihadapi, sebelum berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar.

Setelah membulatkan tekad, aku memutuskan untuk memancing reaksi Dean Junxian. Dengan suara yang tegas namun sedikit bergetar, aku membuka mulut, "Dean…"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!